Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Kunci ruko itu terasa lebih berat dari yang Anindya bayangkan.
Bukan karena logamnya. Hanya sebuah kunci kuningan biasa dengan gantungan plastik berwarna pudar, yang diserahkan pemiliknya, seorang bapak berpeci dengan kumis tipis, setelah tiga kali tawar-menawar dan satu kali nyaris batal. Tapi ketika jari-jarinya menutup di sekeliling benda kecil itu, Anindya merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan saat menerima gaji: kepemilikan.
"Satu tahun, ya, Mbak," kata Pak Haji Darto sambil mengusap kumisnya. "Dibayar dimuka enam bulan."
"Baik, Pak. Tapi saya minta tiga bulan dimuka dulu, sisanya cicil. Dan atap bocor di bagian belakang, Bapak perbaiki dulu sebelum saya masuk."
"Wah, Mbak ini nawar apa ngatur?"
"Dua-duanya, Pak," jawab Anindya sambil tersenyum sopan. "Saya bayar tepat waktu, Bapak punya penyewa yang nggak merepotkan. Sama-sama untung."
Bu Heni, yang duduk di bangku sebelahnya dengan tas di pangkuan, menahan senyum sambil menatap langit-langit ruko yang berjamur. Pak Haji Darto menatap Anindya lama, lalu terkekeh dan mengulurkan tangan.
"Deal. Atapnya saya perbaiki minggu ini."
Anindya menjabat tangannya dengan mantap, dan di balik telapak yang kapalan itu, jari-jarinya sedikit gemetar. Bukan karena takut. Hanya karena akhirnya ia berdiri di depan pintu yang ia buka sendiri. Pintu yang tidak bisa ditutup oleh siapa pun, kecuali dirinya.
---
Ruko itu kecil, hanya dua belas meter persegi, dengan lantai keramik retak dan dinding yang catnya mengelupas di beberapa tempat. Bekas tempat fotokopi masih meninggalkan noda hitam di sudut-sudut ruangan, dan dari plafon, sebuah kabel menjuntai seperti akar yang kehilangan pohon.
Tapi Anindya berdiri di tengahnya selama beberapa menit, dan yang ia lihat bukan retakan.
Ia melihat meja kayu panjang di sisi kiri, tempat nasi dan lauk ditata. Dua rak di dinding belakang untuk rantang dan bahan. Sebuah dapur kecil di pojok dengan dua kompor dan bak cuci dalam. Tiga meja lipat di depan untuk yang mau makan di tempat, dan di sudut paling terang, dekat jendela, satu meja kecil dengan tanaman di atasnya.
"Neng," kata Bu Heni pelan, "Ibu bisa bantu apa?"
"Cat dindingnya, Bu. Yang warna krem. Saya nggak mau putih. Putih terlalu dingin."
"Krem, oke."
"Dan satu hal lagi." Anindya menatap bak cuci di pojok. "Bak cucinya harus yang tinggi. Biar yang nyuci nggak bungkuk."
Bu Heni menoleh. "Kok kepikiran sampai sana?"
"Karena saya pernah di sana, Bu."
Bu Heni tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menepuk punggung tangan Anindya sekali, pelan dan hangat. Dan di sentuhan itu Anindya merasakan sesuatu yang membuat matanya panas: bahwa ada orang yang mengerti tanpa perlu dijelaskan.
---
Persiapan kedai itu memakan waktu hampir sebulan.
Pak Jajang dan dua temannya mengecat dinding di akhir pekan, dengan bayaran berupa nasi uduk gratis dan celoteh tanpa henti soal politik dan sepak bola. Pak Haji Darto memperbaiki atap sesuai janji. Anindya menjahit sendiri taplak meja dari kain batik sisa yang dibelinya di pasar, dan menggantung gorden tipis berwarna hijau pucat di jendela.
Di malam hari, ia duduk di lantai ruko yang baru dicat dengan buku tulisnya terbuka, menghitung.
Sewa. Listrik. Gas. Bahan. Gaji.
Gaji. Kata itu ia tulis dua kali, dan menatapnya cukup lama.
Selama berbulan-bulan, ia sendirian. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia harus menjadi orang yang membayar orang lain. Dan ia tahu persis, dengan kejelasan yang menyakitkan, orang seperti apa yang tidak ingin ia jadi. Orang yang membuat seseorang berdiri di depan keran, dengan tangan merah, dan tidak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja.
Ia menutup buku itu dan menatap dinding krem yang masih berbau cat basah. Di sudut terjauh, Pak Jajang meninggalkan sebuah goresan kapur kecil bertuliskan *Sukses, Neng!* dengan huruf yang miring. Anindya tidak menghapusnya.
---
Ceu Imas datang di hari pertama wawancara dengan kerudung cokelat dan tas plastik di tangan, duduk di ujung kursi dengan punggung tegak dan tangan terlipat di pangkuan.
Usianya empat puluh lima. Kulitnya gelap dan keriput di sudut mata, dengan jari-jari yang kasar dan kuku pendek, tangan orang yang telah menghabiskan hidupnya mencuci, mengepel, dan mengangkat. Sebelumnya ia bekerja di sebuah rumah makan di dekat terminal, tapi pemiliknya menutup usaha dan tidak memberikan pesangon.
"Saya bisa nyuci, Neng. Saya bisa bersihin. Saya nggak pernah telat." Ceu Imas menatap Anindya dengan mata yang jernih dan sedikit takut. "Saya cuma butuh kerja."
"Ceu, jam kerjanya jam lima pagi sampai tiga sore, enam hari seminggu. Gajinya sekian." Anindya menyebutkan angka yang membuat mata Ceu Imas membesar. "Ditambah makan siang, dan kalau sakit, libur dibayar."
Ceu Imas membeku. "Neng... itu gaji dua orang."
"Itu gaji yang pantas, Ceu."
"Tapi, Neng, saya cuma nyuci piring..."
"Ceu." Suara Anindya tenang tapi tegas. "Nyuci piring itu pekerjaan yang paling menentukan di dapur. Kalau piringnya nggak bersih, rasa seenak apa pun nggak ada artinya. Saya tahu karena saya pernah ngerjain itu."
Ceu Imas menatapnya lama. Matanya mulai berkaca, tapi ia menahannya dengan menggigit bibir bawah.
"Neng pernah nyuci piring?"
"Sebulan lebih." Anindya tersenyum kecil. "Dan tangan saya merah terus."
Hening sebentar. Lalu Anindya berdiri, berjalan ke rak kecil di dekat bak cuci, dan mengambil sebuah kotak karton. Ia membukanya, mengeluarkan sepasang sarung tangan karet berwarna kuning cerah yang masih tertutup plastik tipis, dan menyodorkannya pada Ceu Imas dengan kedua tangan.
"Ini punya Ceu. Semua orang yang kerja di sini dapet satu. Kalau rusak, ganti. Kalau kekecilan, tukar. Jangan pernah nahan sakit tangan cuma karena nggak enak bilang."
Ceu Imas menerima sarung tangan itu dengan telapak gemetar. Ia menatapnya, lalu menatap Anindya, dan akhirnya tidak bisa menahan lagi. Air matanya jatuh, satu, dua, membasahi plastik tipis di pangkuannya.
"Neng, saya... saya belum pernah..."
"Saya tahu, Ceu." Anindya tersenyum, dan matanya sendiri sedikit basah. "Nggak apa-apa. Mulai sekarang ada."
Di balik senyum itu, ada satu hal yang tidak ia ucapkan: bahwa sarung tangan pertamanya dulu datang dari seseorang yang tidak mau mengaku. Dan bahwa ia memutuskan, hari ini, untuk memberikan sarung tangan dengan terang-terangan, dengan tangan yang menyodorkan dan mata yang menatap, karena ia tahu persis seperti apa rasanya menerima kebaikan yang tidak punya wajah.
---
Nadia, mahasiswi tingkat tiga yang melamar sebagai kasir paruh waktu, datang dua hari kemudian. Anindya membaca surat lamarannya dengan seksama, menanyakan jadwal kuliahnya, lalu menyetujui kontrak yang menyesuaikan jam kerja dengan kelas.
"Mbak yakin?" tanya Nadia, terkejut. "Banyak tempat yang nggak mau ngasih jadwal fleksibel."
"Kalau kamu cerdas dan jujur, jadwal bisa diatur," kata Anindya. "Yang nggak bisa diatur itu orang yang nggak bisa dipercaya."
Dan begitulah, di hari kelima puluh dua sejak perpisahan itu dimulai, kedai kecil itu memiliki tiga orang yang akan membuatnya hidup: seorang pemilik yang tahu rasanya dipecat, seorang pencuci piring yang tahu rasanya tidak dihargai, dan seorang mahasiswi yang tahu rasanya perlu kesempatan.
Sebuah papan baru terpasang di depan ruko pada sore hari, hasil pesanan khusus yang Anindya bayar dengan sebagian besar tabungan. Huruf-hurufnya putih bersih di atas dasar hijau tua, sederhana, tegas, tanpa hiasan.
*KEDAI UDUK ANIN.*
Di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil dan sedikit miring, sebuah kalimat yang ia pilih sendiri setelah berminggu-minggu memikirkannya.
*Telur gosong, sambal kacang, dan tangan yang dihargai.*
Ia berdiri di trotoar menatap papan itu dengan tangan di pinggang. Langit senja Bandung berwarna oranye lembut di atas atap-atap rumah, dan dari kejauhan terdengar suara anak-anak bermain bola di gang sebelah.
"Neng," kata Bu Heni di sampingnya, "ibumu pasti bangga."
Anindya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, dan tanpa sadar tangannya menyentuh dada, tempat sebuah buku resep lusuh terselip di balik tasnya, dengan satu kalimat di halaman pertama yang sekarang akhirnya, setelah semua ini, terasa seperti jawaban.
*Masak itu soal orang yang kamu pikirkan waktu mengaduknya.*
Dan malam itu, di dalam kedai yang masih berbau cat, Anindya mengaduk panci pertamanya sambil memikirkan satu orang: bukan siapa pun yang telah menyakitinya, bukan siapa pun yang meninggalkannya, tetapi seorang perempuan kecil di dapur lama dengan sendok kayu di tangan, yang berkata bahwa anaknya akan baik-baik saja.
Ia baik-baik saja, Bu.
Ia lebih dari baik-baik saja.
Bersambung ke Bab 24..