NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Duda
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.

Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Seminggu berlalu sejak Nadia terbangun dari komanya. Kondisinya berangsur membaik dan staminanya perlahan pulih.

Namun, ibunya sama sekali tak pernah datang mengunjunginya. Hanya Vanya yang memunculkan diri di sela jam istirahat dinasnya sebagai perawat di rumah sakit tersebut.

Hari ini Nadia sudah bisa pulang. Pak Adam, sopir pribadi Arvin, cekatan mengangkut barang-barang ke dalam mobil.

Di dalam kamar, Haris dan Ranti memastikan tidak ada yang tertinggal, sementara Arvin menyelesaikan administrasi. Vanya membantu seadanya di sana.

"Kak... baju sama obatnya udah masuk semua ke tas, ya," ucap Vanya pelan seraya merapikan jilbab Nadia.

Nadia menatap adiknya. "Vanya... Ibu beneran gak datang?"

Vanya mengalihkan pandangannya. "Ibu lagi sibuk, Kak. Tapi tadi titip salam, bersyukur Kaka udah bisa pulang."

Nadia menghela napas panjang, tersenyum tipis nan getir. Ia tahu betul karakter ibunya.

Ranti mengusap lembut bahu Nadia. "Nadia, Sayang... yuk. Fokus buat pemulihan kamu di rumah ya."

"Iya, ma..." jawab Nadia pelan.

Arvin melangkah masuk. Tanpa banyak bicara, ia membopong tubuh Nadia dengan hati-hati ke atas kursi roda.

Nadia tersontak pelan, jantungnya berdebar kencang saat bersentuhan dengan dada Arvin, namun ia memilih berpegangan pada bahu suaminya. Arvin lalu mendorong kursi roda Nadia keluar kamar, diiringi Haris, Ranti, Pak Adam, serta Vanya yang mengantar sampai lobby rumah sakit.

Setibanya di lobby utama, Pak Adam membukakan pintu mobil. Vanya menyerahkan kantong dokumen medis dan resep obat.

Ranti menerima kantong itu dengan senyum hangat. "Vanya, terima kasih banyak ya udah sering nengokin dan bantu Kaka kamu selama di sini."

Vanya menggeleng pelan. "Sama-sama, Bu. Udah seharusnya, kok... Nadia kan Kaka saya."

Ranti mengusap lengan Vanya. "Panggil Mama saja, ya... sama seperti Nadia."

Vanya mengangguk hormat. "Iya, Ma... makasih."

"Vanya, Kaka pulang dulu ya... Makasih banyak," ucap Nadia dari atas kursi roda.

"Iya, Ka. Dijaga kesehatannya, jangan mikir yang berat-berat dulu," balas Vanya melambaikan tangan.

Arvin membantu Nadia pindah ke dalam mobil dengan berhati-hati. Rasa berdebar di dada Nadia kembali hadir saat Arvin merapikan sabuk pengamannya.

Haris dan Ranti berpamitan, lalu masuk ke mobil mereka sendiri untuk mengikuti dari belakang.

Mobil melaju menuju rumah Arvin. Begitu berbelok memasuki gerbang, jantung Nadia mendadak berdesir menyambut rumah yang kini tak lagi terasa sepenuhnya dingin.

Pak Adam menghentikan mobil di depan pintu utama. Arvin menurunkan kursi roda dari bagasi, lalu dengan sigap membantu Nadia duduk di atasnya. Haris dan Ranti berjalan cepat membukakan pintu depan.

Begitu pintu terbuka, Nadia terkesiap kaget.

Di area foyer, ketiga putra mereka sudah berjejer menanti. Di dinding belakang terbentang spanduk kertas bertuliska.

"Welcome Home, Bunda! Happy Birthday!".

Damian membawa kue ulang tahun dengan lilin angka 33 yang menyala. Jovan berdiri di sebelahnya dengan senyum tulus, sementara Kenzo bertepuk tangan riuh.

"Selamat ulang tahun, Bunda!" seru mereka bertiga bersamaan.

Nadia menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca menahan haru. Ia bahkan sempat lupa hari ini ulang tahunnya yang ke-33.

Air mata Nadia menetes hangat. Senyum bahagia terukir indah di bibirnya saat melihat ketiga buah hatinya berdiri menyambutnya.

Damian mendekati kursi roda Nadia, menyodorkan kue ulang tahun. "Tiup lilinnya dan buat permohonan dulu, Bunda."

Nadia memejamkan mata sejenak, berdoa tulus, lalu meniup lilin angka 33 hingga padam. Tepuk tangan riuh terdengar dari Kenzo, Ranti, dan Haris.

Kenzo berhambur mendekat, mengecup pipi Nadia bertubi-tubi. "Selamat ulang tahun, Bunda tersayang! Kenzo sayang banget sama Bunda!"

Nadia tertawa pelan mengusap punggung Kenzo. "Terima kasih ya, Sayang..."

Damian menepuk bahu Jovan. "Yuk, Jov... kita ikut cium Bunda juga."

Jovan mengangguk mantap. Damian membungkuk duluan, mencium pipi kanan Nadia. "Selamat ulang tahun, Bunda. Terima kasih sudah bertahan buat kita."

Giliran Jovan membungkuk dan mengecup pipi kiri Nadia lembut. "Selamat ulang tahun, Bunda... Maafin Jovan buat yang kemarin-kemarin ya, Nda. Jovan janji mau belajar jadi anak yang lebih baik."

Nadia tersentak pelan. Suara tulus Jovan meruntuhkan sisa kesedihannya. Ia merengkuh ketiga putranya erat.

"Bunda udah maafin Jovan dari dulu, Nak. Terima kasih banyak ya, Sayang..."

Damian lalu menatap Papanya. "Papa juga dong, ikut cium Bunda," bujuk Damian tersenyum.

Arvin berdeham kaku. Mengingat batas perjanjian pernikahan dan fakta mereka belum pernah kontak fisik sejauh itu, Arvin menggeleng. "Enggak usah... Papa..."

Kenzo mendongak polos. "Kok Papa enggak mau cium Bunda? Papa enggak sayang ya sama Bunda?"

Suasana mendadak hening dan canggung. Nadia menunduk dengan wajah memerah, dadanya berdebar kencang.

Arvin terdiam serba salah di hadapan tatapan anak-anaknya. Demi menutupi kecanggungan, ia akhirnya mengalah.

Arvin mendekat, membungkuk sedikit, lalu mendaratkan kecupan singkat di pelipis Nadia.

"Selamat ulang tahun," bisik Arvin kaku di dekat telinga Nadia.

Sentuhan itu membuat dada Nadia makin bergemuruh hebat, dag-dig-dug tak beraturan.

"Yaaay! Papa sayang Bunda!" seru Kenzo girang bertepuk tangan.

"Sudah, yuk... Kasihan Bundanya capek," potong Arvin cepat menutupi canggung. "Bawa kuenya ke meja makan. Biar Bunda istirahat."

Arvin mendorong kursi roda Nadia menuju lift pribadi di sudut ruangan untuk naik ke lantai atas tempat kamar utama mereka berada. Begitu pintu lift terbuka di lantai dua, Arvin mendorong kursi roda masuk ke kamar, lalu membopong tubuh Nadia dengan hati-hati ke tempat tidur.

Rasa berdebar di dada Nadia belum juga mereda saat Arvin merebahkannya lembut dan merapikan selimut.

"Makasih ya, Mas... untuk semuanya," bisik Nadia pelan.

Arvin menatap Nadia sejenak, lalu mengangguk singkat. "Sama-sama. Sekarang istirahat. Nanti sore anak-anak mau potong kue bareng kamu."

Sore harinya, Haris, Ranti, dan ketiga anaknya berkumpul mengadakan acara potong kue sederhana. Nadia duduk di kursi roda, sementara Arvin berdiri tegap di sampingnya.

Saat acara hendak dimulai, pintu utama terbuka. Mayang, Vanya, dan Tristan, langsung melangkah masuk.

Langkah Mayang dan Tristan melambat begitu memijak lantai marmer yang megah. Mata Mayang melotot lebar, sementara Tristan tertegun menatap lampu gantung kristal dan pilar-pilar kokoh.

"Ya Tuhan... Nadia..." decak Mayang berbisik, menyusuri sudut ruangan.

Vanya ikut berdecak kagum. "Luas dan bagus banget rumahnya..."

"Aduh, Nadia! Anak Ibu!" seru Mayang mendekati kursi roda. "Ibu baru sempat ke sini sama Vanya dan Tristan. Selamat ulang tahun ya, Nak!"

Nadia tersenyum tipis. "Iya, Bu... terima kasih."

Arvin menyapa dingin namun tetap sopan. Ranti dan Haris menyambut mereka ramah dari sofa.

Ranti menatap pria berseragam di samping Vanya lalu bertanya hangat, "Ini siapa namanya?"

"Tristan, Bu... kekasih Vanya," jawab Tristan.

"Mari masuk, Bu Mayang, Vanya, Nak Tristan. Pas banget Nadia baru mau potong kue," ajak Ranti ramah.

Kenzo memegang tangan Nadia. "Bunda, ayo potong kuenya!"

Setelah acara potong kue selesai, Ranti mengajak anak-anak, Haris, Vanya, dan Tristan menuju meja makan untuk menikmati makan malam yang telah disiapkan.

Ruang tamu kini hanya menyisakan Nadia di kursi roda, Arvin di sampingnya, dan Mayang yang masih duduk santai di sofa.

Mayang membetulkan posisi duduknya lalu menatap Nadia antusias. "Nadia... Ibu pikir, gimana kalau Ibu tinggal di sini saja selama kamu pemulihan? Biar Ibu yang urus dan jaga kamu sampai benar-benar sembuh."

Nadia tersentak pelan. Tahu betul tabiat ibunya, ia langsung menggeleng. "Gak usah, Bu. Nadia gak mau repotin Ibu."

Raut wajah Mayang seketika berubah mengeras. "Kenapa gak mau? Ibu ini ibu kandung kamu, Nadia! Kenapa kamu malah nolak bantuan Ibu sendiri? Kamu gak mau Ibu tinggal di rumah mewah ini?"

Nadia berusaha tetap tenang. "Bukan gitu, Bu... Ibu gak perlu repot-repot karena Mas Arvin udah menyewakan perawat khusus buat jaga dan ngurus Nadia selama masa pemulihan."

Mayang melotot kaget, menatap Nadia dan Arvin bergantian. Padahal, Arvin belum pernah menyewa perawat mana pun.

Tanpa mengubah raut wajahnya yang datar, Arvin memilih mengikuti alur drama tersebut.

"Iya, Bu. Saya sudah menyiapkan perawat medis profesional untuk menjaga Nadia 24 jam. Jadi Bu Mayang tidak perlu repot-repot mengurusnya di sini," potong Arvin.

Mayang mendengus kesal, raut wajahnya mengeras menahan kecewa. "Ooh... jadi begitu? Baguslah kalau kamu sudah kaya raya sampai bisa sewa perawat sendiri, Nadia. Ibu cuma berniat baik, tapi kalau kamu gak mau Ibu ada di sini, ya sudah!"

"Bukan begitu maksud Nadia, Bu. Nadia butuh perawatan medis intensif agar pemulihannya cepat," tambah Arvin membela Nadia dengan dingin.

Mayang akhirnya bangkit dengan gusar. "Ya sudah kalau begitu! Ibu mau ke meja makan nyusul Vanya sama Tristan." Ia pun melangkah menghentakkan kaki meninggalkan ruang tamu.

Setelah Mayang pergi, suasana mendadak hening. Nadia mendongak ragu menatap Arvin. "Mas Arvin... maaf ya. Aku terpaksa bohong soal perawat tadi. Aku cuma gak mau Ibu tinggal di sini dan bikin suasana rumah jadi enggak nyaman..."

Arvin menatap Nadia dari atas, lalu merogoh ponselnya dari saku. "Kamu gak perlu minta maaf. Lagipula, ide kamu ada benarnya."

Nadia bingung. "Maksud Mas?"

"Saya sedang menghubungi Bagas untuk mencarikan perawat medis terbaik malam ini juga," ujar Arvin santai sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

"Jadi kebohongan kamu tadi... sebentar lagi jadi kenyataan."

1
Fitri Yah
alhamdulillah ... anak2 da care sama ibu sambung nya, tinggal pak arvin ni yg masih kaku kaya kanebo kering walau perhariannya sdh ada peningkatan si hehe
Sri Supriatin
Siiip ada perawatan khusus buat Nadia dr pd ibu Julid yg serakah 🙏🙏🙏🙏
merry
pengen arvin dgrinn rencananya mayang dan vanya,, syg x duit di porotin wlpun mm kndung klo baik gpp in mah jht🤭🤭🤭
Fitri Yah
mas arvin ... mode dingjn lg deh, gda manggil sayang2nya lg deh , kemaren wkt blm sadar nangis2 da sadar mode cuek lg deh tp masih kaku ke nadia nya
Sri Supriatin
Sedih banget thor n tks upnya lanjuuut 🙏🙏🙏
utama
lanjut up
Ayunda
ini itu emak kandung emak angkat ap emak tiri kok segitunya sama Nadia
Sri Supriatin
eleuh2 aya emak kandung rada2 sugan🤭🤭
merry
arvin hrs tau klo mertua y mau porotin uangy lewat nadia,,, mulut manis tp hati busuk
Bunda HB
ada iya ibu biadan.kaya nya nadia bukan ank kandung ibu Maya.karena di perlakukan gk adil.
Sri Supriatin
Aduh airmataku g berhenti mengalir... Double upnya thor 🙏🙏🙏
utama
lanjut up
merry
hilng ingatan gk tu nadia ya,,, 🤔🤔🤔biar nyesel tu laki 😆😆😆
utama: jangan kak, kasian anak2 meraka kalau Nadia hilang ingatan
total 1 replies
Fitri Yah
double up thor , kan kemaren tdk up
English Lesson
lanjut kak 👍👍
Sri Supriatin
Mampir Thor..seruuu😍😍😍
English Lesson
lanjut kak 💪
Chenyu Wang
bagus banget awal ngeliat judul nya kaget waw Duda anak 3 tapi pas baca keseluruhan ternyata crita nya bagus banget seru rugi kalo ga baca..
Bunda HB
jgn kasih sadar dulu thor.suami kaya alvin hrs ksih pelajaran dulu. buat ibu mayang, ibu yg pilih kasih zholim sama ank sndri dan untk adik nya juga org tdk tau bertrima kasih pengorbanan kakak nya.😭😭😭
wida nur
lanjutttyy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!