Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Formasi yang Belum Sempurna
Keesokan paginya, lima nama yang terpilih berkumpul di lapangan khusus di belakang menara pusat—area yang biasanya hanya digunakan untuk latihan para tetua, kini dibuka khusus untuk persiapan tim menuju Kompetisi Sekte Wilayah Selatan.
Chu Feng tiba lebih awal dari yang lain, Tombak Awan Kelabu tersampir di punggungnya, Hei mengikuti di sampingnya dengan langkah yang kini sudah sepenuhnya pulih dari cedera lama—bahkan tumbuh lebih besar dan lebih gesit dibandingkan beberapa minggu lalu. Ia masih merasakan sisa kegembiraan dari pengumuman kemarin, namun juga kesadaran baru bahwa tantangan sesungguhnya baru saja dimulai.
Satu per satu, rekan timnya mulai berdatangan—Zhao Lin dengan sikap tenang seperti biasa, Liu Bo yang menyapa dengan semangat berlebihan khas dirinya, dan dua murid lain yang selama ini belum terlalu dikenal Chu Feng secara personal.
"Kau belum benar-benar mengenal semua orang di tim ini, bukan?" tanya Zhao Lin, menyadari Chu Feng memperhatikan dua wajah yang lebih asing itu.
"Belum sepenuhnya," aku Chu Feng jujur.
"Biar kuperkenalkan," Zhao Lin menunjuk salah satu dari mereka, seorang gadis bertubuh kecil dengan mata tajam dan gerakan yang teratur bahkan saat hanya berdiri diam. "Ini Jiang Rou, murid Tetua Mei. Dia ahli formasi dan alkimia pendukung terbaik yang kita miliki."
Jiang Rou membungkuk singkat, sikapnya formal namun tidak dingin. "Senang bertemu denganmu, Chu Feng. Aku sudah mendengar banyak tentang tombak warisan sekte yang kau bawa."
"Senang bertemu juga," Chu Feng membalas, memperhatikan gadis itu dengan rasa ingin tahu. "Formasi dan alkimia? Itu bukan kemampuan tempur langsung yang biasa dibawa ke kompetisi semacam ini."
"Justru itulah kekuatannya," Zhao Lin menjelaskan sebelum Jiang Rou sempat menjawab. "Kompetisi sekte tidak hanya soal siapa yang paling kuat secara individu. Ada babak-babak yang menilai strategi tim, dan formasi pendukung sering kali menjadi pembeda antara tim yang menang dan yang kalah."
Sesi latihan pertama dimulai dengan sederhana—Tetua Wang meminta kelima anggota tim untuk mencoba menyelesaikan sebuah simulasi pertempuran kelompok melawan beberapa boneka latihan yang dikendalikan formasi sederhana, dirancang untuk menguji seberapa baik mereka bisa bekerja sama tanpa perencanaan matang sebelumnya.
Hasilnya jauh dari sempurna.
Chu Feng, terbiasa bertarung sendirian selama ini—baik saat melawan Chu Yan di Festival Penentuan maupun saat menghadapi Han Lei—secara refleks maju terlalu jauh ke depan, memisahkan diri dari formasi tim tanpa sadar. Liu Bo, dengan semangat kompetitifnya yang tinggi, berusaha mengejar kemajuan Chu Feng alih-alih menjaga posisi yang seharusnya ia pertahankan. Dua murid lain kebingungan mengikuti arah mana yang harus mereka lindungi, sementara Jiang Rou—yang seharusnya memberikan dukungan formasi dari belakang—kewalahan karena barisan depan yang berantakan membuat formasi pendukungnya kehilangan sasaran yang jelas.
Simulasi berakhir dengan kekalahan telak, boneka-boneka latihan berhasil "melukai" seluruh anggota tim sebelum mereka sempat menyelesaikan misi sederhana yang diberikan.
"Cukup," seru Tetua Wang, menghentikan simulasi dengan ekspresi yang campur aduk—tidak marah, namun jelas menunjukkan bahwa ada banyak yang harus diperbaiki. "Duduklah kalian semua. Mari kita bahas apa yang baru saja terjadi."
Kelima murid itu duduk melingkar, keringat masih membasahi wajah mereka, ekspresi masing-masing menunjukkan kekecewaan yang berbeda-beda.
"Chu Feng," Tetua Wang memulai, "kekuatan individumu luar biasa, tapi kau bergerak seolah masih sendirian di medan pertempuran. Tim ini bukan kumpulan lima petarung individu—kalian harus menjadi satu kesatuan."
Chu Feng mengangguk, menyadari kesalahannya. "Aku terbiasa mengandalkan diri sendiri, Tetua. Aku akan berusaha memperbaikinya."
"Liu Bo," lanjut Tetua Wang, "kompetisimu dengan Chu Feng memang baik untuk memacu perkembangan individu, tapi di medan tim, kau harus belajar menjaga posisimu sendiri, bukan mengejar posisi orang lain."
Liu Bo mengangguk, sedikit malu namun menerima kritik itu dengan lapang dada.
"Dan Jiang Rou," Tetua Wang menatap gadis itu dengan lembut, "formasimu tidak salah. Masalahnya adalah tidak ada yang benar-benar memberimu ruang untuk bekerja. Formasi pendukung sekuat apa pun tidak akan berguna kalau barisan depan tidak stabil."
Selama beberapa hari berikutnya, latihan tim difokuskan bukan pada kekuatan individu, melainkan pada koordinasi—bagaimana Chu Feng bisa menahan diri untuk tidak selalu maju terlalu jauh, bagaimana Liu Bo bisa menjaga jarak yang tepat sebagai pendukung lapis kedua, dan yang terpenting, bagaimana seluruh tim bisa belajar bergerak sesuai dengan ritme formasi yang dirancang Jiang Rou.
"Formasi dasar yang akan kita gunakan," jelas Jiang Rou suatu sore, menggambar pola sederhana di atas tanah menggunakan ranting kayu, "menempatkan Chu Feng dan Liu Bo di posisi depan sebagai penyerang utama, dua orang lainnya di posisi tengah sebagai penopang, dan aku di belakang untuk memberikan dukungan formasi—baik itu memperkuat pertahanan, memperlambat gerakan musuh, atau menyembuhkan luka ringan di tengah pertempuran."
"Bagaimana caranya kita tahu kapan harus maju dan kapan harus bertahan?" tanya Chu Feng, mencoba memahami sistem yang jauh lebih kompleks dari sekadar bertarung sendirian.
"Itulah gunanya latihan berulang," Jiang Rou tersenyum tipis. "Lama-kelamaan, kalian akan mulai merasakan ritme tim secara alami, tanpa perlu berpikir terlalu keras. Tapi untuk sekarang, aku akan memberikan sinyal—ketukan formasi kecil yang bisa kalian rasakan melalui qi, menandakan kapan harus bergerak, kapan harus bertahan."
Chu Feng mengangguk, mengaktifkan Mata Dewa-nya sejenak untuk mengamati pola energi yang mulai dipancarkan Jiang Rou saat ia menjelaskan sistem sinyal itu—pola yang rumit namun elegan, jelas hasil dari latihan bertahun-tahun di bawah bimbingan Tetua Mei.
"Dia berbakat," komentar suara di dalam dirinya, nada penuh minat. "Pengendalian energi formasi semacam ini tidak mudah dikuasai, apalagi di usia semuda dirinya."
Aku setuju, Chu Feng membalas dalam hati, mengamati Jiang Rou dengan rasa hormat yang tumbuh. Mungkin aku terlalu lama berpikir bahwa kekuatan individu adalah segalanya. Ada banyak hal yang bisa kupelajari dari cara berpikir tim seperti ini.
Latihan demi latihan berlalu, dan perlahan, kelima anggota tim mulai menemukan ritme mereka. Chu Feng belajar menahan diri, merasakan sinyal formasi dari Jiang Rou sebelum bertindak alih-alih mengandalkan insting individualnya semata. Liu Bo mulai memahami peran pentingnya sebagai penyeimbang, bukan sekadar rival yang mengejar pencapaian Chu Feng. Dua murid lainnya mulai menemukan kepercayaan diri mereka sendiri dalam peran penopang tengah yang selama ini kurang mereka pahami.
Pada simulasi kelima, tim itu akhirnya berhasil menyelesaikan misi sederhana melawan boneka latihan dengan formasi yang jauh lebih rapi—Chu Feng dan Liu Bo maju bersamaan dengan jarak yang terjaga, dua penopang tengah melindungi celah-celah yang rentan, dan Jiang Rou di belakang memberikan dukungan formasi yang tepat waktu, memperkuat pertahanan tim di saat-saat kritis.
"Lebih baik," komentar Tetua Wang, sebuah senyuman puas terbentuk di wajahnya yang biasanya tenang. "Jauh lebih baik. Kalian mulai memahami bahwa kekuatan sejati sebuah tim bukan sekadar menjumlahkan kekuatan individu, melainkan bagaimana kekuatan-kekuatan itu saling melengkapi kekurangan satu sama lain."
Chu Feng menatap keempat rekan timnya—Zhao Lin yang mengangguk puas, Liu Bo yang tersenyum lebar, dua penopang tengah yang tampak lega, dan Jiang Rou yang untuk pertama kalinya menunjukkan senyuman tulus alih-alih sikap formalnya yang biasa.
Ini baru permulaan, pikirnya, merasakan sensasi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—bukan lagi sekadar kekuatan individu yang harus ia sembunyikan atau tunjukkan sendirian, melainkan kekuatan kolektif yang tumbuh dari kepercayaan dan kerja sama yang tulus.
Mungkin, lanjutnya dalam hati, mengingat kembali tujuh belas tahun hidupnya yang dihabiskan dalam kesendirian penuh perhitungan di istana, inilah yang selama ini kurindukan tanpa kusadari—bukan sekadar kekuatan untuk melindungi diri sendiri, tapi kepercayaan untuk saling melindungi bersama orang lain.