NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:432.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Aslan tidak tinggal diam. Begitu Naya mulai menaiki tangga, ia segera menyusul dengan langkah cepat dan berat. Kemarahan yang sempat tertahan di dapur kini kembali membara. Ia belum puas. Jawaban istrinya sama sekali tidak cukup untuk menenangkan rasa frustrasi yang menggerogoti dadanya sejak pagi.

Di tengah lorong lantai atas, jarak di antara mereka semakin dekat. Tanpa ragu, Aslan meraih pergelangan tangan Naya dan menariknya cukup kuat hingga wanita itu terpaksa berbalik.

“Jawab aku, Naya,” sentaknya, matanya menatap tajam wajah istrinya. Suaranya rendah tapi penuh tekanan. “Dari mana kamu seharian ini? Aku tidak terima jawaban omong kosong.”

Naya terdiam sejenak. Dulu, dalam situasi seperti ini, ia pasti langsung menunduk. Suaranya akan bergetar, matanya akan menghindari tatapan Aslan, dan ia akan segera meminta maaf meski tidak bersalah. Tapi malam ini berbeda.

Ia menatap balik suaminya. Langsung menatap kedua matanya, tanpa rasa takut, tanpa rasa bersalah. “Untuk apa kamu bertanya?” sindirnya pelan, nada suaranya dingin. Ia bahkan melipat kedua lengan di depan dada, sikap yang jelas menunjukkan perlawanan.

“Bukannya selama ini kamu tidak mau tahu tentangku? Tiga bulan kamu menghilang. Telepon tidak diangkat. Pesan tidak dibalas. Sekarang tiba-tiba aku harus memberi laporan?”

Aslan terdiam sesaat. Kalimat itu menusuk, tapi ego laki-lakinya menolak untuk mengakui. Ia mengencangkan genggaman di pergelangan tangan Naya. “Aku suamimu, Naya. Aku berhak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana,” sentaknya lagi, suaranya naik.

Naya tertawa kecil. Tawa itu pendek, pahit, dan sama sekali tidak mengandung kehangatan. “Kamu berbicara soal suami…” katanya pelan, matanya masih menatap tajam, “seolah-olah kamu menganggapku sebagai istri.”

Aslan membuka mulut, siap membalas dengan kalimat yang lebih keras. Tapi tepat di saat itu, dering telepon memecah ketegangan di antara mereka. Bunyi itu datang dari saku celananya, nada dering yang sudah sangat familiar.

Wajah Aslan berubah sepersekian detik. Ia melepaskan tangan Naya hampir secara refleks, lalu mengeluarkan ponsel. Nama yang muncul di layar membuatnya langsung berbalik tanpa mengucapkan satu kata pun. Ia berjalan cepat menuju ujung lorong, menjauh dari Naya, lalu mengangkat telepon dengan suara yang tiba-tiba lebih lembut.

Naya masih berdiri di tempat yang sama. Ia menatap punggung suaminya yang semakin menjauh, lalu tersenyum getir. Senyum itu tipis, penuh ironi, dan hanya untuk dirinya sendiri.

Ia tidak perlu menebak siapa yang menelepon.

Ia sudah tahu. Wanita yang beberapa minggu lalu berdiri di samping Aslan dengan kebaya merah dan cincin baru di jari. Wanita yang bisa membuat suaminya meninggalkan pertengkaran di tengah jalan hanya karena sebuah dering telepon.

Naya menghela napas pelan, lalu membuka pintu kamarnya. 

Ceklek....

Sebelum masuk, ia sempat melirik ke arah Aslan yang sedang berbicara dengan suara rendah di ujung lorong. Bibirnya bergerak, membentuk kalimat manis yang tidak pernah ia dengar ditujukan pada dirinya sejak lama.

Tanpa menunggu lebih lama, Naya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Bunyinya pelan, tapi cukup untuk menandai batas yang semakin jelas di antara mereka.

Di balik pintu itu, ia bersandar sejenak. Jantungnya berdetak stabil. Tidak ada air mata,  tidak ada marah yang meledak. Hanya kepastian yang semakin mengeras di dadanya.

*****

Keesokan paginya, rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Naya sudah bangun sejak subuh, tapi ia tidak memasak. Ia hanya membuat secangkir teh untuk dirinya sendiri, lalu duduk di ruang tamu sambil membuka laptop. Layar menampilkan beberapa tab kampus luar negeri yang kemarin belum sempat ia selesaikan. 

Pukul sembilan lebih sedikit, bunyi bel rumah tiba-tiba berdering panjang.

Ting tong

Ting tong

Ting tong

Naya mengangkat alis. Aslan sudah pergi ke kantor sejak satu jam yang lalu. Tidak ada janji dengan Dara hari ini. Ia menutup laptopnya, berjalan menuju pintu, lalu membuka sedikit pintunya.

Di luar, berdiri dua wanita. Yang di depan adalah Liza. Rambutnya tergerai rapi, memakai dress pastel yang elegan, dan di jari manisnya masih tersemat cincin yang sama dengan yang Naya lihat di Bandung waktu itu. Di belakangnya, wanita paruh baya dengan wajah yang tegang dan tangan memegang tas kecil.

Naya terdiam sejenak. Detik itu terasa lebih panjang dari biasanya. Ia mengenali wajah Liza dengan jelas, meski ini pertama kalinya mereka bertatap muka secara langsung. Wanita yang selama ini hanya ia kenal lewat screenshot pesan dan bayangan di balik jendela rumah itu, kini berdiri di depan pintu rumahnya sendiri.

Dengan gerakan tenang, Naya membuka pintunya lebar “Ada perlu apa?” tanyanya datar, tanpa senyum.

Liza terlihat sedikit kaku, tapi segera menyembunyikan rasa tidak nyamannya dengan senyum tipis. “Anda Naya, kan? Istri Aslan.” Suaranya lembut, tapi ada nada yang sengaja dibuat percaya diri. 

“Saya Liza. Dan ini Mama saya. Kami datang karena… ada yang perlu dibicarakan.”

Ranti menatap Naya dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah menilai. “Boleh kami masuk? Ini urusan penting.”

Naya tidak langsung menjawab. Matanya berpindah dari Liza ke Ranti, lalu kembali lagi ke Liza. Tidak ada kejutan di wajahnya. Tidak ada marah yang meledak. Hanya ketenangan yang dingin, seolah ia sudah menduga suatu hari ini akan terjadi.

“Masuk,” ucapnya singkat, lalu menyingkir dari depan pintu.

Liza dan Ranti saling melirik sebentar sebelum melangkah masuk. Naya menutup pintu, lalu menuntun keduanya ke ruang tamu tanpa menawarkan minum. Ia duduk di sofa tunggal, menyilangkan kaki, dan menatap kedua tamunya dengan tatapan yang sulit ditebak.

“Silakan duduk,” katanya pelan. 

“Katakan tujuan kalian datang kesini. Saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni kalian berdua".

Liza duduk di sofa panjang, tangan saling menggenggam di pangkuan. Ranti duduk di sampingnya, punggung tegak. Suasana di ruang tamu terasa tegang, seolah udara di antara mereka membeku.

Liza menarik napas, lalu menatap Naya. “Saya datang kesini karena Aslan. Dia bilang… kalian masih menikah. Tapi saya sudah menikah dengannya secara siri. Saya tidak mau terus seperti ini. Saya ingin minta kejelasan.”

Naya terdiam beberapa detik. Lalu, perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak ramah. “Kejelasan? Tidak salah?" ulangnya pelan. “Anda datang ke rumah istri sahnya hanya untuk meminta kejelasan?”

Ranti langsung menajamkan suara. “Jangan bicara seperti itu pada anak saya. Liza punya hak. Aslan yang memilihnya. Kalau Anda masih bertahan, itu hanya akan membuat semuanya lebih rumit.”

Naya mengalihkan pandangannya ke Ranti. Tatapannya datar, tapi ada sesuatu yang tajam di baliknya. “Bu, Anda datang ke rumah orang dengan anak yang menikah diam-diam dengan suami orang. Lalu Anda bilang saya yang membuat segalanya rumit?”

Keheningan mengisi ruang tamu. Liza menunduk sedikit, sementara Ranti terlihat tersulut. 

Naya hanya bersandar di sofa, jari-jarinya mengetuk pelan sandaran kursi. Di dalam dadanya tidak ada badai. Hanya kepastian. 

"Kalian berdua memang wanita tidak punya malu"

_________

Bantu support guys. Like, komen, follow.

doakan othor cepat sembuh🙏

1
Rini Maryani
lanjut thoor semangat
Cicih Sophiana
semoga bahagia Naya lupakan masa lalu mu bersama si Aslan... sosong masa depan mu bersama Erlan..
Cicih Sophiana
masih kurang tuh penderitaan Aslan dan si Liza seharus nya anak nya tdk selamat... kan kasian sama anak nya krn dia jd anak haram...
Cicih Sophiana
hak kamu apa Liza? nikah pun nikah siri yg gak punya hak... anak nya pun gak ada hak krn tdk terdaftar di negara... kamu mau nuntut siapa ? gak akan bisa biar kepengadilan pun
Cicih Sophiana
semoga yg jahat mendapat balasan yg setimpal... yg baik kedepan nya bahagia
Cicih Sophiana
yah awasin aja terus....
Cicih Sophiana
nih Aslan Liza..🤛🤛
Sholawat Nariyah
AUTHOR GUOBLOK membiarkan tokohu utamanya tdk tegas, dan tenggelam dlm kebodohan yg berlarut 👎
Cicih Sophiana
knp selamat... dulu Naya di larang punya anak... seharus nya keguguran dong si pelakor nya jgn di kasih bahagia mereka
Cicih Sophiana
terus lah begitu semakin hancur, rumah tdk terbayar, si Liza keguguran 😂 si Aslan bangkrut
Cicih Sophiana
sukur lah akhir nya rumah itu terjual... wah si Liza klo tau langsung stres dan langsung keguguran
Cicih Sophiana
untuk si Aslan cobalah sadar diri... itu emang sdh hak nya Naya... dia bukan merehut tp menganmbi hak nya Aslan..
Cicih Sophiana
hancur kan mereka... mereka yg serakah dan mereka yg zolim sama istri sah tapi mereka sll menyalah kan Naya...
Cicih Sophiana
perempuan yg aneh dia yg merebut kok di tuduhkan Naya yg merebut 😂😂😂😂😂
pake so kuasa pula... Naya bertahun tahun pernikahan nya yg hanya di jadikan pembantu gratisan... dia yg tinggal enak nya doang menikmati... nikah pun hanya nikah siri sekarang so kuasa
Cicih Sophiana
eh pelakor kamu tuh cuma nikah sirih jd gak ada tuh undang undang nya mendapat kan harta gono gini... anak kamu pun gak akan bisa mendapat kan apa apa... sekarang gigit jari aja yah sampe putus 😂😂😂
Cicih Sophiana
wah ternyata aset nya si Aslan banyak... pantesan dia ngamuk gak rela Naya ngambil...
Cicih Sophiana
ayo bahagialah kalian... karena kalian pantas untuk mendapat kan nya...
Cicih Sophiana
susah Nay cari mertua yg langsung baik seperti mama Erlan... mulai sekarang jgn menyia nyiakan nya...
Cicih Sophiana
wah ini sih langsung di terima jadi menantu kesayangan mama...😊😍😍
Cicih Sophiana
aneh banget si pelakor... ya wajar lah Naya dapat 50 % wong yg mendampingi si Arlan selama ini kan Naya... klo kamu siapa? kamu cuma pelakor yg di pungut setelah si Arlan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!