"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Ampun, Mayor! (Revisi)
Terik matahari siang menggantung tinggi di atas langit kompleks Markas Batalyon, memantulkan cahaya menyilaukan dari atap-atap gedung berbaris rapi dan membakar aspal halaman hingga mengepulkan hawa panas yang menyengat. Di tengah cuaca siang bolong yang membakar kulit itu, Vina melangkah pasti menyusuri koridor lantai dua gedung utama markas.
Tangannya yang mungil mendekap erat sebuah tas kain kanvas berisikan rantang aluminium bersusun tiga. Aroma harum kaldu ayam kampung yang berpadu pekat dengan wangi serai, lengkuas, dan daun jeruk purut mengepul tipis dari celah rantang tersebut, membawa serta kehangatan yang sengaja Vina siapkan sejak pagi buta. Hari ini adalah hari yang paling ia agungkan—hari jadi pernikahan pertamanya dengan sang suami, Mayor Yudhana.
Bagi Vina, satu tahun belakangan adalah sebuah babak terpanjang dalam lembaran hidupnya yang sunyi. Sebagai seorang gadis yatim piatu yang menghabiskan seluruh masa kecil hingga remajanya di dalam panti asuhan sederhana, Vina tidak pernah mengenal arti keluarga yang utuh. Ia tidak punya tempat mengadu, tidak punya sanak saudara untuk bersandar, dan tidak memiliki latar belakang terhormat yang bisa dibanggakan. Ketika takdir mempertemukannya dengan Yudhana—seorang perwira militer tinggi berusia tiga puluh dua tahun yang kaku, disiplin, berwibawa, dan disegani—Vina mengira ia telah menemukan tempat berlabuh.
Meskipun Yudhana memperlakukannya dengan dingin dan menjaga jarak semenjak hari pertama pernikahan, Vina tidak pernah mengeluh. Ia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melayani sang Mayor tanpa cela. Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing di ufuk timur kompleks militer, Vina sudah bangun untuk menyetrika seragam dinas harian suaminya hingga licin tanpa lipatan, memastikan baret hijau tua tegak sempurna, dan menyajikan cangkir kopi hitam tanpa gula di meja makan tepat pukul enam pagi. Vina selalu percaya, di balik benteng es yang dibangun suaminya, ketulusan seorang istri pada akhirnya akan meluluhkan hati seorang perwira.
Namun, semua keyakinan rapuh itu hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan detik di bawah teriknya matahari siang ini.
Langkah kaki Vina terhenti tepat di depan pintu kayu jati berukuran besar yang menjadi pembatas ruang kerja resmi Mayor Yudhana. Di luar ruangan, suasana koridor terasa lengang karena sebagian besar prajurit sedang beristirahat atau bersiap menyambut apel siang. Vina menarik napas dalam-dalam, merapikan beberapa helai rambutnya yang sedikit basah oleh keringat akibat teriknya cuaca, lalu mengangkat tangannya untuk mengetuk daun pintu.
Gerakan jemarinya membeku seketika di udara.
Daun pintu kayu jati itu ternyata tidak tertutup rapat. Ada celah selebar dua sentimeter yang menganga di bagian tengah, memperlihatkan sudut ruangan bagian dalam yang diterangi lampu putih dingin ber-AC. Dari balik celah sempit itu, sayup-sayup terdengar suara percakapan seorang wanita yang langsung membuat senyum ramah di bibir Vina memudar seketika, menyisakan rongga hampa di dadanya.
"Mas Yudhana ... sampai kapan kita harus terus-terusan menyembunyikan hubungan ini dari Opa Gema dan orang-orang Batalyon?"
Suara itu sangat dikenal Vina. Itu adalah suara Tanti—kerabat jauh keluarga Yudhana yang selama beberapa bulan terakhir tampak terlalu sering berkunjung ke rumah dinas dan selalu mencari-cari ribuan alasan tak masuk akal untuk berada di dekat Yudhana.
Vina tertegun kaku di tempatnya berdiri. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, menghantam dinding dadanya dengan rasa sesak yang luar biasa. Ia berniat mendorong pintu untuk masuk dan menyapa mereka, tetapi urat-urat di sekujur tubuhnya mendadak lemas bagaikan kehilangan seluruh tulang penyangga.
"Tanti, jangan di sini," suara bariton Yudhana terdengar berat, bernada rendah dan kaku khas suaminya, namun sama sekali tidak ada ketus penolakan atau hardikan di dalam intonasinya. "Staf personil lalu-lalang di luar koridor. Kalau ada prajurit yang melihat kita—"
"Memangnya kenapa kalau ada yang lihat?" potong Tanti mendesak, intonasinya terdengar merajuk manja tanpa rasa canggung sedikit pun. "Mas sendiri yang bilang kalau pernikahan Mas dengan anak panti asuhan itu cuma beban moral karena amanah keluarga! Mas tidak pernah mencintainya, kan? Vina itu cuma perempuan yatim piatu yang membosankan dan tidak selevel dengan perwira sepertimu, Mas. Kenapa harus takut?"
Di luar pintu, di bawah teriknya cahaya siang yang menembus jendela koridor, dunia Vina seolah runtuh dan hancur lebur tanpa sisa.
Kalimat *anak panti asuhan' dan 'cuma beban moral karena amanah keluarga' menghujam dada Vina bagaikan belati tajam beracun yang menghujam langsung ke ulu hati. Rasa sakit yang teramat sangat langsung menjalar ke seluruh pembuluh darahnya, membuat dadanya sesak luar biasa hingga napasnya tertahan di tenggorokan. Seluruh pengabdian, kesabaran, dan rasa hormat yang ia bangun selama tiga ratus enam puluh lima hari sirna dalam sekejap mata.
Vina memberanikan diri melangkah sedikit lebih dekat, merapatkan wajahnya ke celah pintu kayu jati yang terbuka tipis.
Pemandangan di dalam ruangan membuat manik mata cokelat beningnya membelalak lebar, basah oleh genangan air mata yang mendadak mendesak keluar menembus pertahanannya. Di dekat meja kerja kayu yang besar, Yudhana berdiri tegap mengenakan kemeja dinas harian. Dan tepat di hadapannya, Tanti merengkuh leher sang Mayor erat-erat, menarik tubuh pria itu mendekat, lalu menengadahkan wajahnya menyambut ciuman panas dari bibir Yudhana.
Yang lebih menghancurkan jiwa Vina bukan hanya pemandangan perselingkuhan itu—melainkan fakta bahwa tangan Yudhana, yang biasanya terangkat kaku untuk memberi hormat atau menepis pelanggaran, kini melingkar pasrah memeluk pinggang Tanti, membiarkan bibir wanita itu melumat bibirnya di ruang kerja resmi militer tempat suaminya mengabdi.
Selama satu tahun ini, Vina selalu berusaha memaklumi sifat dingin Yudhana. Ia mengira benteng es di antara mereka tercipta karena tuntutan profesi suaminya sebagai seorang tentara. Vina mengira kesunyian di rumah dinas adalah harga pantas yang harus ia bayar untuk mendampingi seorang perwira tinggi. Namun hari ini, tepat di hari jadi pernikahan mereka, kenyataan menampar wajahnya dengan kejam: Yudhana bukan pria yang dingin pada semua orang; pria itu hanya tidak memiliki sedikit pun ruang cinta untuk seorang anak panti asuhan sebatang kara seperti dirinya. Yudhana menahan kebencian dan keterpaksaan selama ini, sementara di belakangnya, pria itu memelihara hubungan tersembunyi dengan kerabatnya sendiri.
Rasa sesak yang menghimpit dada Vina seketika berubah menjadi kobaran kemarahan murni yang membakar habis sisa-sisa kepasrahannya. Air mata yang tadinya menggenang di pelupuk matanya surut, digantikan oleh kilatan sorot mata terluka yang menyala tajam dan mematikan.
Ia tidak akan menangis meratap di hadapan mereka. Ia tidak akan membiarkan harga dirinya diinjak-injak begitu saja di atas lantai markas tempat suaminya mencari kehormatan.
Brak!
Vina mendorong daun pintu kayu jati itu hingga terbuka lebar dengan hantaman tenaga penuh yang memecah keheningan ruangan ber-AC dingin tersebut.
Suara dentuman pintu yang menggelegar membuat dua orang yang tengah berpagutan di dalam ruangan itu terperanjat kaget setengah mati. Tanti langsung melepaskan ciumannya, terdorong mundur dengan wajah memucat pasi, sementara Yudhana tersentak kaget, manik mata pekatnya membelalak lebar saat menangkap sosok Vina berdiri di ambang pintu di bawah silau cahaya matahari siang.
Di tangan Vina, tas kain kanvas yang berisi rantang gulai ayam hangat mendadak terasa begitu berat dan tidak berguna. Makanan istimewa yang ia masak dengan penuh ketulusan sejak subuh tadi kini menjelma menjadi lelucon paling menyedihkan di muka bumi.
Tanpa sadar, genggaman jemarinya pada tali tas kain itu mengendur total. Tas kanvas tersebut merosot jatuh dari jarinya.
Denting nyaring rantang aluminium yang terhempas di bawah silau cahaya matahari siang memotong pagutan bibir di dalam ruangan, memuntahkan kuah gulai hangat tepat saat mata Yudhana membelalak panik menatap Vina di ambang pintu.
bersambung...
Assalamu'alaikum, halo Kakak Cantik semuanya. Saya datang lagi dengan cerita yang baru ☺, padahal naskah kemarin ditolak dengan tuduhan yang menyakitkan. Seharusnya saya kapok ya nulis di sini, tapi entah kenapa jempol saya gatal pengen nulis di sini, walau kedepannya tidak tahu, apakah naskahnya kena tolak lagi dengan alasan ini itu, dan retensinya yang tidak tercapai.
Dan, sekarang cek ombak lagi, kalau kena tolak lagi, berarti saya disuruh hiatus dari sini 🤣🤣🤣
Alhamdulillah 🤲