NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:104
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Sandra pernikahan

Langit senja mulai merona jingga ketika pembicaraan panjang antara Kaisar dan Altres tentang kerja sama dengan para naga dalam pertahanan perbatasan akhirnya selesai. Altres menunduk hormat dan memohon izin untuk kembali ke kediaman Vanguard bersama istrinya, sebab perjalanan pulang memakan waktu dan ia tidak ingin tiba terlalu larut malam. Cassius mengangguk puas dan mengizinkannya pulang sambil menepuk bahunya sekali lagi, seperti seorang kawan lama. "Kita lanjutkan pembicaraan tentang naga lain kali. Istrimu pasti masih berada di taman Permaisuri. Ayo, kita jemput dia bersama."

Keduanya berjalan menyusuri lorong istana menuju taman milik Permaisuri, dan semakin dekat mereka dengan taman itu, semakin jelas terdengar tawa renyah yang berpadu dengan semilir angin. Di antara hamparan bunga, tampak Veronica dan Permaisuri duduk berhadapan dan mengobrol dengan antusias, sesekali saling menutup mulut menahan tawa. Altres terpaku di ujung jalan setapak, langkahnya terhenti begitu saja di bawah lengkung bunga. Ia melihat senyum riang di wajah Veronica, lengkap dengan mata yang menyipit dan bahu yang berguncang pelan, senyum yang sejak pagi tidak sekali pun diperlihatkan kepadanya, dan entah mengapa dadanya terasa sedikit sesak melihatnya, seakan ia baru saja menyadari betapa berbedanya wajah wanita itu ketika tidak sedang berhadapan dengannya.

Permaisuri lebih dulu menyadari kedatangan mereka dari balik rimbunnya bunga. Ia menyentuh lengan Veronica dengan lembut dan berbisik sambil tersenyum maklum. "Sepertinya waktu menyenangkan kita sudah berakhir, Duchess."

Cassius melangkah menghampiri istrinya, lalu mengecup pipinya dengan santai tanpa peduli pada para pelayan yang berpura-pura tidak melihat. Veronica spontan memalingkan wajah dengan pipi merona, sementara Altres pura-pura sibuk menatap bunga mawar di sampingnya. "Apa yang kalian bicarakan sampai terlihat begitu bahagia?"

"Aku tertarik dengan kehidupan para naga, Yang Mulia," jawab Diana sambil menggenggam tangan suaminya dengan mata berbinar. "Duchess menceritakan banyak hal yang tak pernah kubayangkan. Walau hidup mereka hampir abadi, ternyata mereka makhluk yang sangat setia kepada pasangannya."

"Kalau begitu kita sama saja," sahut Cassius dengan nada ringan, tetapi sorot matanya serius, seakan ia sedang menguji sesuatu. "Aku pun hanya memiliki satu pasangan dan tidak akan pernah mencari selir." Ia lalu menoleh pada Altres dengan alis terangkat penuh arti. "Bagaimana denganmu, Altres? Apakah kau juga akan setia pada istrimu?"

Altres tersenyum kaku sambil melirik Veronica yang kini menunduk dan memainkan ujung lengan gaunnya, tampak jelas menunggu jawabannya meski berusaha tak terlihat peduli. "Itu pertanyaan yang menjebak, Yang Mulia." Ia lalu berdeham dan mengalihkan pandangannya kepada Veronica. "Ayo, kita kembali ke kediaman Vanguard."

Veronica bangkit dari kursinya, merapikan lipatan gaun, dan memberi salam kepada Permaisuri dan Kaisar dengan gerakan anggun, sama sekali tak melirik ke arah suaminya. "Terima kasih atas keramahan Anda hari ini. Kami mohon pamit."

"Aku masih ingin mengobrol banyak hal denganmu bila kau punya waktu luang," ujar Diana sambil menggenggam tangan Veronica sejenak dengan sorot penuh harap. "Taman ini selalu terbuka untukmu."

Veronica tersenyum tulus untuk pertama kalinya sejak keluar dari ruang singgasana, dan senyum itu begitu hangat hingga Diana ikut tersenyum lega. "Saya tidak sabar untuk mengobrol lagi dengan Anda, Yang Mulia."

Keduanya lalu berjalan beriringan menyusuri lorong yang kini diterangi lampu-lampu minyak menuju kereta kuda yang sudah menunggu di depan istana, dengan jarak satu langkah yang terasa begitu lebar. Begitu pintu kereta tertutup, senyum di wajah Veronica lenyap seperti lilin yang ditiup. Ia bersandar di sudut kursi dan menatap ke luar jendela tanpa sekali pun menoleh kepada Altres, bahunya menegang seperti sedang menahan sesuatu yang hampir tumpah. Altres menatap profil wajah itu cukup lama, melihat bagaimana cahaya senja yang masuk lewat jendela menyapu pipinya yang pucat, rahangnya mengeras dan jemarinya mengepal di atas lutut, sebelum akhirnya ia memberanikan diri bertanya. "Apakah kau marah karena alasan lain dari pernikahan kita?" tanyanya pelan, suaranya lebih ragu daripada yang ia inginkan.

"Aku tidak peduli," jawab Veronica tanpa menoleh, suaranya begitu datar hingga terdengar dingin. "Itu sudah menjadi bagian dari perjanjian, bukan? Aku hanya perlu diam dan tidak berbuat ulah, supaya kau tidak perlu membunuhku."

Altres tersentak dan tubuhnya membeku, seakan kata-kata itu menusuk tepat di tempat yang tak pernah ia lindungi. "Aku tidak bermaksud seperti itu, Veronica. Kau salah paham."

"Aku tidak mau lagi menjadi Duchess Vanguard." Veronica akhirnya menoleh, dan tatapan matanya begitu tenang sehingga justru terasa menyakitkan. "Karena aku yakin kau akan memiliki wanita lain. Aku hanya seorang naga yang dijadikan sandera untuk menjamin bangsaku tidak berkhianat pada aliansi dengan manusia. Aku tidak membutuhkan kebaikan dari orang-orang yang hanya menganggapku bagian dari kerja sama. Jadi kau tidak perlu repot-repot berpura-pura."

"Aku hanya mengikuti perintah Grand Duke Floyen untuk mengawasimu," jelas Altres cepat, suaranya sedikit bergetar, tangannya terulur setengah jalan sebelum ia menariknya kembali. "Tapi aku tidak pernah bermaksud menganggapmu sebagai jaminan kesetiaan para naga. Aku..."

"Aku tidak peduli sama sekali." Veronica memotong sambil kembali menatap jendela. "Berhentilah bersikap baik padaku, Altres."

Ucapan itu menutup percakapan mereka. Roda kereta terus berputar di atas jalan yang mulai gelap, dan sisa perjalanan pulang berlalu dalam keheningan yang jauh lebih berat daripada keheningan pagi tadi. Altres tidak lagi berani membuka mulut meski ada sejuta kata yang menyesak di dadanya, dan ia hanya bisa memandangi punggung Veronica dengan perasaan tak berdaya yang belum pernah ia rasakan di medan perang mana pun, diam-diam berharap Veronica masih mau mengucapkan satu kata saja.

Begitu kereta berhenti di kediaman Vanguard, Veronica turun lebih dulu tanpa menunggu uluran tangan siapa pun dan langsung melangkah menuju kamarnya, melewati para pelayan yang menyambutnya tanpa membalas satu pun sapaan. Di dalam kamar, ia berdiri termenung di depan jendela dan menatap langit yang perlahan menggelap, sementara gaun abu-abu bermotif bunga yang tadi pagi dipilihkan Emma masih melekat di tubuhnya, terasa begitu asing dan berat. Sinar terakhir senja merambat pelan di lantai, lalu lenyap satu per satu. Ia merasa begitu bodoh, bodoh karena sempat tersenyum, bodoh karena sempat berharap pada tangan yang menopangnya di tangga kereta pagi tadi. Bagaimana mungkin ia bisa mengharapkan kasih sayang dari seorang manusia, dari seorang kesatria pembantai naga yang sejak awal ditugaskan untuk mengawasinya? Matanya terasa panas, tetapi ia menolak membiarkan satu tetes pun jatuh. Ia mengepalkan tangan di depan dadanya dan berjanji dalam hati untuk membuang perasaan yang telanjur tumbuh itu, sedikit demi sedikit, sampai tidak ada lagi yang tersisa.

Entah berapa lama ia berdiri di sana, sampai akhirnya pintu kamar terbuka pelan dan Emma masuk dengan langkah hati-hati. Ia berhenti beberapa langkah dari majikannya, memperhatikan bahu yang merosot dan tatapan kosong yang terpaku pada kegelapan di luar jendela. "Nyonya, makan malam sudah siap. Koki menyiapkan hidangan kesukaan Anda hari ini."

"Aku ingin makan malam di kamar saja, Emma," jawab Veronica tanpa menoleh, suaranya pelan dan nyaris tak terdengar. "Tolong antarkan ke sini."

Emma terdiam sambil meremas ujung celemeknya dan wajahnya ikut murung. Ia jelas menangkap bahwa majikannya baru saja bertengkar dengan suaminya. Setelah ragu sejenak, ia bertanya dengan suara lebih lembut. "Apakah Nyonya tidak ingin makan bersama Nyonya Erin? Beliau pasti ingin mendengar cerita Anda tentang istana."

Veronica terdiam dan sedikit bingung. Bagaimanapun, Erin adalah satu-satunya orang di rumah itu yang menyayanginya dengan tulus, dan ia tidak ingin membuat wanita itu khawatir. Namun hatinya masih terlalu kecewa dan terlalu penuh untuk berpura-pura tersenyum di meja makan, bukan karena Erin, melainkan karena Altres yang tidak pernah memberitahunya tentang salah satu alasan pernikahan mereka. Ia menghela napas panjang, memejamkan mata, dan tidak menjawab pertanyaan itu, sementara Emma hanya bisa berdiri diam di sampingnya dengan wajah cemas, tak berani bertanya lebih jauh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!