“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : Kebebasan Memilih
Suasana di pendopo rumah Natakusumah malam itu seperti dibekukan oleh keheningan yang mencekam. Aroma kayu jati tua dan embusan angin malam Jogja tidak lagi membawa ketenangan, melainkan kecemasan yang membakar dada. Romo masih berdiri tegap di tengah ruangan dengan napas yang memburu, sementara Adam bersimpuh di lantai kayu dengan bahu yang bergetar menahan tangis.
Namun, kehadiran Dimas di sampingku membawa dampak yang luar biasa. Sosok CEO yang berwibawa itu tidak datang dengan amarah, tidak pula dengan nada menyalahkan. Kehadirannya laksana benteng kokoh yang menyerap seluruh gelombang emosi negatif di ruangan ini.
Dimas mengisyaratkan padaku untuk menuntun Adam bangkit. Aku melangkah mendekati adikku, merangkul bahunya yang lemas, lalu membantunya duduk di sofa kayu mengapitku. Dimas sendiri melangkah mendekati Romo, membungkuk sopan seraya mengulurkan tangan untuk mengarahkan Romo duduk di kursi utamanya.
"Romo... mohon penuhi meja ini dengan kepala dingin," tutur Dimas tenang. Suara baritonnya begitu mantap, menghadirkan dominasi yang sangat elegan. "Adam sudah menyadari kesalahannya, dan dia tidak lari. Hari ini kita berkumpul bukan untuk menghancurkan masa depan anak-anak kita, melainkan mencari jalan keluar yang paling bijaksana."
Romo menghembuskan napas berat, mencoba menguasai emosi yang sempat membakar dadanya. Beliau memandangi Dimas, lalu beralih menatap Adam yang menunduk dalam-dalam.
"Nak Dimas..." suara Romo parau. "Bagaimana bisa Romo tenang? Anak ini menyembunyikan kenyataan bahwa dia keluar dari kuliahnya di Brooklyn, bekerja kasar di Jakarta, dan sekarang... kekasihnya hamil dan berniat melakukan tindakan terlarang itu di luar negeri! Ini mencoreng nama baik dan moral keluarga kita!"
Dimas meletakkan kedua tangannya di atas meja, menatap Romo lurus-lurus dengan penuh rasa hormat.
"Romo, apa yang terjadi pada Adam dan Alya adalah buah dari ketakutan mereka," kata Dimas pelan. "Adam takut mengecewakan Romo karena masalah finansial di luar negeri, sehingga dia memilih bekerja keras banting tulang jadi kurir paket dan waiters demi bertahan hidup secara mandiri tanpa merepotkan keluarga. Dan soal Alya... ketakutannya sebagai perempuan muda yang punya cita-cita besar adalah hal yang sangat manusiawi."
Aku menoleh menatap Dimas dengan binar mata berkaca-kaca. Penjelasan Dimas tidak hanya membentengi Adam dari murka Romo, tetapi juga menempatkan posisi Alya pada tempat yang sangat terhormat tanpa menghakimi.
"Lalu apa rencanamu, Adam?" tanya Romo dengan nada suara yang mulai melunak, walau ketegasan khas pendidik keraton masih terdengar jelas.
Adam mengangkat wajahnya yang sembab. Pemuda itu memandangi Romo, Ibu, lalu menatapku dan Dimas.
"Romo... Ibu... Mbak Mei..." ucap Adam bergetar. "Adam minta maaf atas semua kebohongan Adam selama ini. Adam siap dipukul, Adam siap dicoret dari keluarga kalau itu memang kemauan Romo. Tapi Adam mohon... jangan benci Alya. Alya tidak salah sepenuhnya. Adam yang tidak bisa menjaga diri."
Adam menarik napas panjang, meremas jarinya sendiri. "Dan soal keputusan Alya... jujur, hati Adam hancur. Adam ingin sekali anak itu lahir dan Adam siap bertanggung jawab penuh. Tapi... Mas Dimas benar. Yang mengandung dan menanggung risikonya secara fisik adalah Alya. Kalau Alya dengan segala ketakutan dan masa depannya memilih untuk tidak mempertahankan janin itu... Adam harus belajar menerima, walau rasanya seperti tertusuk sembilu."
Ibu menutupi mulutnya, menahan isak tangis yang pecah di samping Mami. Mami sendiri mengusap punggung Ibu penuh simpati.
Romo terdiam cukup lama. Beliau memandangi langit-langit pendopo, meresapi setiap patah kata yang diucapkan anak bungsunya.
Satu jam kemudian, atas saran Dimas, kami memutuskan untuk mengundang Alya dan kedua orang tuanya bertemu secara tertutup di sebuah private dining room hotel tempat Dimas menginap di kawasan Prawirotaman. Dimas menggunakan pengaruh dan fasilitasnya agar pertemuan dua keluarga ini berlangsung sangat privat, terhindar dari sorotan publik atau rumor kotor.
Malam itu juga, Alya hadir didampingi ibunya. Gadis muda itu tampak sangat pucat dan rapuh. Wajahnya menyiratkan ketakutan, kelelahan mental, dan ketegasan yang sudah bulat di kepalanya.
Di dalam ruangan yang tenang itu, Dimas memimpin pembicaraan dengan sangat dewasa.
"Terima kasih Tante dan Alya sudah berkenan hadir," sapa Dimas hangat, mencairkan suasana tegang. "Kita berada di sini bukan untuk saling menuding, melainkan mendengarkan apa yang menjadi keputusan Alya atas tubuh dan hidupnya."
Alya menundukkan kepalanya, air matanya menetes satu per satu membasahi pangkuannya. Adam yang duduk di seberang meja menatap Alya dengan pendar kasih sayang dan kepedihan yang mendalam.
Aku melangkah mendekati Alya, mendudukkan diri di sampingnya, lalu menggenggam jemari tangannya yang dingin.
"Alya..." bisikku lembut. "Cerita sama Mbak Mei. Apa pun keputusanmu, bicarakan dengan jujur."
Alya mendongak menatap mataku, lalu beralih menatap Romo dan Ibu yang duduk tenang di ujung meja.
"Mbak Mei... Tante... Om..." suara Alya tercekat oleh isakan. "Alya minta maaf... Alya benar-benar minta maaf. Tapi... Alya tidak mau mempertahankan janin ini di rahim Alya."
Pernyataan itu meluncur lugas, membuat napas Adam tertahan sejenak.
"Alya baru berusia 20 tahun. Cita-cita Alya untuk sekolah seni di Brooklyn adalah seluruh hidup Alya..." lanjut Alya dengan suara bergetar namun tegas. "Kalau Alya harus hamil dan melahirkan sekarang, tubuh Alya, mental Alya, dan masa depan Alya akan hancur lebur. Alya tidak siap. Dan memaksakan diri melahirkan anak dalam kondisi Alya yang menolak secara psikologis justru akan menjadi siksaan bagi Alya maupun anak itu kelak."
Ibu Alya di sampingnya mengusap punggung putrinya dengan penuh pengertian. "Tolong mengertilah, keluarga Natakusumah... Alya anak saya, dan saya mendukung penuh apa pun keputusan yang diambil demi kesehatan mental dan masa depannya."
Suasana ruangan mendadak hening. Romo mengerutkan keningnya, tarikan napasnya terdengar berat. Sebagai seorang tua yang memegang teguh norma tradisional, gagasan itu tentu melukai prinsip moralnya. Namun, sebelum Romo sempat meluapkan penolakannya, Dimas mengangkat tangannya dengan tenang, menatap Romo dan seluruh orang di ruangan itu dengan sorot mata yang penuh kearifan.
"Romo, Papi, dan semuanya..." suara berat Dimas mengalun mantap. "Mari kita lihat dari sudut pandang yang lebih luas. Menjaga moral memang penting, tapi memaksa seorang perempuan untuk menyerahkan tubuhnya menanggung kehamilan dan persalinan saat jiwa dan raganya menolak secara mutlak bukanlah bentuk perlindungan, melainkan bentuk pemaksaan baru."
Dimas memandang Alya lurus-lurus. "Alya memiliki hak penuh atas otoritas tubuhnya sendiri. Jika keputusannya adalah tidak mempertahankan janin itu, dan dia melakukannya secara legal di klinik medis luar negeri yang aman demi menyelamatkan masa depannya... maka kita sebagai keluarga besar harus berjiwa besar untuk menerima keputusan itu."
Adam menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya menetes deras membasahi meja. Dengan suara serak yang hampir tak terdengar, pemuda itu mengangkat wajahnya menatap Alya.
"Alya..." bisik Adam terbata. "Kalau... kalau itu memang keputusan mutlak yang sudah kamu pikirkan matang-matang demi masa depanmu... aku akan terima. Aku minta maaf karena aku tidak bisa melindungimu dari awal sampai membuatmu ketakutan seperti ini. Aku akan dampingi proses medismu... aku tanggung semua biayanya walau aku harus kerja keras banting tulang."
Alya menatap Adam, tangisnya pecah seketika. Gadis itu tidak menyangka Adam akan berbesar hati menerima keputusannya yang paling berat sekalipun. Alya merengkuh tubuh Adam, menangis tersedu-sedu di pelukan pemuda itu.
Romo menghembuskan napas yang amat panjang. Ketegangan di wajah tua itu perlahan melebur menjadi kelegaan yang pasrah. Romo menggelengkan kepala pelan, lalu berkata dengan suara parau.
"Ya sudah... kalau itu memang jalan yang kalian pilih atas kesadaran penuh masing-masing, keluarga kami tidak akan menghakimi lagi," tutur Romo bijaksana. "Yang terpenting, jadikan ini pelajaran paling mahal dalam hidup kalian berdua. Bertanggung jawablah pada jalan yang kalian ambil."
Menjelang tengah malam, seluruh urusan dan kesepakatan keluarga telah terselesaikan. Alya dan ibunya pulang dengan kelegaan di dada, sementara Adam tinggal bersama kami untuk menata kembali mentalnya dan menyelesaikan tanggung jawab moralnya mendampingi Alya hingga tuntas.
Aku dan Dimas berjalan berdua menyusuri selasar luar hotel menuju area taman yang sepi. Angin malam Jogja berembus membawa aroma bunga sedap malam yang bermekaran di sekitar kolam.
Langkah kaki kami melambat di dekat bangku taman. Aku memutar tubuhku, menatap sosok pria jangkung di hadapanku. Di bawah pendar lampu taman yang keemasan, Dimas tampak begitu megah, bukan karena jas mahal atau kekayaannya, melainkan karena keagungan jiwa dan kebijaksanaannya sebagai seorang lelaki yang menjunjung tinggi hak asasi seorang perempuan.
"Mas Dimas..." panggilku lirih, suaraku bergetar menahan gejolak emosi di dalam dada.
Dimas menghentikan langkahnya, menatapku dengan pendar mata hitamnya yang selalu hangat dan penuh rasa protektif. "Ya, Mei?"
Tanpa sanggup berkata-kata lagi, aku melangkah maju dan memeluk tubuh tegapnya erat-erat. Aku menyandarkan wajahku di dada bidangnya, menghirup dalam-dalam aroma woody-citrus yang kini menjadi tempat perlindungan teramanku di dunia ini.
Dimas melingkarkan sepasang lengan kokohnya di pinggangku, mendekapku rapat ke dalam tubuhnya. Tangannya yang tegap mengusap lembut rambut panjangku yang terurai.
"Terima kasih, Mas... Terima kasih banyak," bisikku parau di dadanya, air mata haru membasahi kemejanya. "Mas Dimas selalu tahu bagaimana cara mendamaikan badai tanpa harus melukai siapa pun. Mas mengajarkanku arti lapang dada yang sesungguhnya."
Dimas mengecup puncak kepalaku dengan sangat lama dan lembut. Usapannya di punggungku begitu menenangkan.
"Tugas saya adalah berdiri di sisimu, Maizara," sahut Dimas dengan suara baritonnya yang dalam dan tulus. "Dalam hidup, tidak semua hal berjalan sesuai keinginan kita. Tapi selama kita bisa saling menghormati pilihan dan keputusan masing-masing dengan kepala dingin, badai sebesar apa pun pasti bisa kita lewati bersama."
Aku mendongak, menatap manik matanya yang bening. Di dalam benakku, sebaris kata mutiara mengalun indah meresapi setiap sudut jiwaku:
"Kebijaksanaan sejati seorang pemimpin bukanlah tentang memaksakan kehendak agar dunia tunduk, melainkan tentang bagaimana ia merangkul realitas dengan lapang dada dan menghormati hakikat kebebasan seseorang."
Dimas memandangi bibirku, lalu menatap mataku meminta izin secara tersirat. Aku tersenyum manis, membiarkan jemari tanganku menyusup di antara jemari tangannya.
Dimas menundukkan kepalanya, mendaratkan sebuah ciuman yang sangat dalam, hangat, dan penuh rasa syukur di bibirku. Sebuah ciuman yang mengunci seluruh kekalutan malam itu, menyatukan dua takdir kami dalam ikatan cinta, rasa hormat, dan pengabdian yang utuh.
Di bawah naungan malam Yogyakarta yang syahdu, aku tahu satu hal pasti, di dalam dekapan Dimas Arjowibowo, aku tidak hanya menemukan seorang suami, melainkan seorang pemimpin hidup yang akan selalu membawaku berjalan menuju ketenangan.