NovelToon NovelToon
Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Kicau burung terdengar bersahutan dari balik jendela kamar paviliun yang terbuka.

Cuit cuit.

Astiana membuka matanya perlahan dan meregangkan kedua tangannya ke atas.

Tidurnya semalam sangat nyenyak setelah berhasil mengeluarkan racun mematikan dari tubuh pria tua itu.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu terdengar sangat pelan dan sopan dari arah luar.

"Nona Astiana, apakah Anda sudah bangun."

Itu bukan suara Nadin yang cempreng melainkan suara bariton Raka yang terdengar sangat lembut.

Astiana sedikit mengangkat alisnya merasa heran dengan perubahan nada bicara pemuda itu.

"Aku sudah bangun, masuk saja."

Ceklek.

Pintu terbuka dan Raka melangkah masuk membawa sebuah nampan berisi sarapan mewah.

Ada roti panggang, telur mata sapi, sosis, dan segelas susu hangat di atas nampan perak itu.

Raka mengenakan kemeja putih rapi namun matanya masih terlihat sedikit merah karena kurang tidur.

"Selamat pagi, Nona Astiana."

Raka menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat sambil meletakkan nampan itu di atas meja.

"Aku membawakan sarapan untukmu karena kupikir kau pasti sangat lelah setelah semalaman mengobati kakekku."

Astiana menatap sarapan itu lalu menatap wajah Raka dengan ekspresi datar andalannya.

"Kau tidak perlu bersikap berlebihan seperti ini, Tuan Muda Raka."

"Tidak, ini belum seberapa dibandingkan dengan nyawa kakekku yang kau selamatkan."

Raka menjawab dengan nada yang sangat tulus tanpa ada sedikit pun arogansi di dalamnya.

"Aku rela menjadi pelayanmu mulai hari ini jika itu yang kau inginkan."

Suara hati Raka terdengar sangat pasrah dan penuh rasa bersyukur.

"Gadis ini adalah malaikat penyelamat keluargaku, aku tidak akan pernah berani melawannya lagi."

Astiana hanya mengangguk pelan menanggapi pikiran jujur dari pemuda di depannya itu.

"Bagaimana keadaan Kakek Darma pagi ini."

"Kakek sudah bangun satu jam yang lalu dan dia terlihat sangat bugar."

Raka tersenyum lebar saat menceritakan kondisi kakeknya.

"Wajahnya kembali merah dan dia bahkan meminta Nadin membuatkan bubur ayam porsi besar."

"Itu pertanda bagus, artinya organ pencernaannya tidak ikut rusak oleh racun itu."

Astiana mengambil gelas susu hangat dan meminumnya perlahan.

Gluk gluk.

"Tunggu sebentar sampai aku selesai sarapan, setelah itu kita temui kakekmu bersama-sama."

"Baik, Nona Astiana, aku akan menunggumu di luar pintu."

Raka kembali menunduk hormat lalu berjalan keluar kamar dan menutup pintu dengan sangat pelan.

Astiana menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Raka yang berubah seratus delapan puluh derajat.

Ternyata menaklukkan ego seorang tuan muda kaya raya lebih mudah daripada membelah kayu bakar di desa.

Lima belas menit kemudian, Astiana keluar dari kamarnya dan mendapati Raka benar-benar berdiri menunggunya.

Pemuda itu langsung membukakan jalan dan mempersilakan Astiana berjalan lebih dulu.

Mereka berdua berjalan menyusuri lorong menuju kamar tidur utama.

Beberapa pelayan yang berpapasan dengan mereka langsung menghentikan langkah dan melongo kebingungan.

Prang.

Nadin yang sedang membawa kemoceng tanpa sadar menjatuhkannya ke lantai.

Dia tidak percaya melihat Tuan Muda Raka yang terkenal galak kini berjalan menunduk di belakang Astiana.

"Apakah dunia sudah mau kiamat, kenapa Tuan Muda jadi jinak seperti anak kucing begitu."

Suara hati Nadin berteriak heboh membuat Astiana harus menahan senyumnya agar tidak meledak.

Mereka tiba di depan kamar utama dan Raka dengan sigap membukakan pintu untuk Astiana.

Di dalam kamar, Pak Darma sedang duduk bersandar di ranjang sambil membaca koran pagi.

Wajah pria tua itu benar-benar terlihat jauh lebih sehat dan segar dari kemarin.

"Selamat pagi, Kakek Darma."

Astiana menyapa dengan ramah sambil berjalan mendekati tepi ranjang.

Pak Darma langsung meletakkan korannya dan tersenyum sangat lebar menyambut kedatangan Astiana.

"Nak Astiana, kemarilah duduk di dekat kakek."

Pak Darma menepuk ruang kosong di tepi ranjangnya dengan antusias.

"Raka sudah menceritakan semuanya pada kakek tentang kejadian semalam."

Pak Darma meraih tangan Astiana dan menggenggamnya dengan kedua tangannya yang hangat.

"Kakek benar-benar berhutang nyawa dua kali berturut-turut pada gadis kecil sepertimu."

"Tidak perlu sungkan, Kek, saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan."

Astiana menjawab dengan nada merendah seperti biasa.

"Tapi ada satu hal yang kakek belum mengerti, Nak."

Raut wajah Pak Darma berubah menjadi serius dan suaranya terdengar sedikit berat.

"Raka bilang kakek muntah darah hitam dan kau bilang itu adalah racun."

"Apakah benar Dokter Handoko yang meracuni kakek selama ini."

Astiana mengangguk pelan tanpa ragu sedikit pun membenarkan pertanyaan tersebut.

"Obat kapsul biru yang selalu Kakek minum itu terbuat dari ekstrak bunga beracun."

"Jika diminum terus-menerus, racunnya akan menumpuk dan memecahkan pembuluh darah di jantung Kakek."

Brak.

Pak Darma memukul kasurnya dengan tangan kanannya yang mengepal kuat.

Mata pria tua itu memancarkan kilat kemarahan yang sangat mengerikan.

"Bangsat."

Umpatan kasar itu meluncur begitu saja dari mulut Pak Darma yang biasanya tenang.

"Aku sudah menggajinya ratusan juta setiap bulan selama belasan tahun, dan ini balasannya padaku."

Pak Darma menoleh ke arah Raka yang berdiri tegang di sudut ruangan.

"Raka, kerahkan semua orang-orang kita sekarang juga."

"Baik, Kakek."

Raka menjawab dengan suara tegas dan postur tubuh yang tegak.

"Cari anjing pengkhianat itu sampai dapat, jangan biarkan dia keluar dari kota ini."

"Kakek ingin tahu siapa pesaing bisnis yang berani membayarnya untuk membunuh kakek secara perlahan."

"Aku akan membawanya ke hadapan Kakek dalam keadaan hidup hari ini juga."

Raka mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan mata yang penuh niat membunuh.

"Bagus, pergilah sekarang dan jangan kembali sebelum kau menangkapnya."

Raka menunduk memberi hormat pada kakeknya sebelum berbalik menuju pintu keluar.

"Tunggu sebentar, Raka."

Astiana tiba-tiba bersuara menghentikan langkah pemuda yang sedang diliputi amarah itu.

1
Was pray
katanya tempat paling berbahaya adalah tempat paling aman untuk bersembunyi, tapi nyatanya seba si jagal bisa melacak keberadaan astiana di tempat lelang bawah tanah gudang obsidian
Was pray
kalau otaknya waras ya pasti panik lah . Raka gak punya kemampuan beladiri secuilpun...
Was pray
cip nya gak ditukar dengan uang tunai dulu sebelum kabur astiana? cip itu gak laku dijual ..... ya elah dasar penjudi amatir .. ya buang duit sia2..... capek deh. ..
Was pray
kok main kartunya cuma kartu yg dibagikan bandar doang untuk menentukan jumlah angka nya? terus kelihaian bermain kartunya di mana nih?
Was pray: emang benar astiana bisa mendengar pikiran bandar. .biasanya kartu pertama dibagikan kan dua , pemain nambah satu kartu, jika angkanya lebih besar dari bandar dia menang.
total 2 replies
Was pray
tindakan tanpa perhitungan mu menyeret keluarga kakek darma dalam konflik yg membahayakan keselamatan seluruh keluarga kakek darma jasa mengobati kakek darma bukan menyelamatkan tapi menunda kematian. tiada guna pertolonganmu astiana. karena dihatimu terselip niat terselubung yg resikonya lebih berat
Was pray
kamu masuk kawasan be💪bahaya tanpa memahami dulur jalur evakuasi yg aman dulu astiana, kamu dari awal terlalu banyak merepotkan keluarga darma, jasa kamu mengobati kakek Darna dijadikan pijakan untuk menyelesaikan urusan pribadimu. kamu seorang tabib tapi jiwa mu bukan penyembuh dan penolong, tapi penodong , kamu memang tidak langsung minta imbalan harta. tapi menodong kesetiaan
Was pray
ngapainn membocorkan identitasmu pada tuan Kusuma sih astiana? kan itu beresiko buat keluarga darma... jamu gak berbakat jadi agen rahasia/ intelijen. kemampuanotakmu gak memenuhi syarat
Was pray
yeee ... jangan samakan kita metropolitan dengan kampung di puncak gunung yg primitif astiana... makanya punya HP gunakan untuk update pengetahuan bukan cuma buat ngisi kantong bututmu.... biar kuoeng... 🤣
Was pray: kampung it's oke.... tapi jangan sampai rampungan... malu maluin orang asal pedesaan .
total 4 replies
kiyoe
okeii Kaka terima kasih yaaa 🥰
Diana Lely
lanjut thor...makin rame aja...
Was pray
ternyata astiana benar-benar bodoh... seharusnya jam tangan bima jangan dia yang ambil .. bisa minta agar Raka yg mengambil jam itu dari semak2, kalau jam itu ditangan astiana ya otomatis menjadi bukti bahwa astiana benar2 mencuri .. dan bima juga tolol, udah jelas barang bukti ada ditangan astiana seharusnya itu jadi bukti kalau tuduhan mencuri itu benar..ha... ga... ga.... alur ceritanya jadi aneh.
Was pray
buat masalah tapi gak becus menyelesaikan masalah yg ditimbulkannya, idan menyeret orang lain dalam lingkaran permasalahan itu ciri-ciri pengecat
Was pray
hatimu penuh empati tapi otakmu tebal astiana
Was pray
astiana terlalu berani apa bodoh sih sebenarnyar? keberanian tanpa berpikir panjang bukan menyelesaikan masalah , tapi memicu permasalahan yg lebih besar resikonya, tujuan utama dikesampingkan cuma gara sok bijak dengan ikut campur urusan yg bukan urusannya
Was pray
emang burung elangnya terbuat dari karet?, kok bisa melilit ? kecuali kalau burung elang ya lagi lapar ... terus perut elang melilit .. karena perut si elang lapar. .🤭🤭🤣
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
rasakan, akhirnya tempat kasino itu hancur 🤣

selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣
Anisa
gila² thor😄
kiyoe: Hehehe 🤭
total 1 replies
Was pray
jakarta jadi surga buat orang kaya, tapi neraka bagi orang miskin
kiyoe: heheheh iyaa bener Kak
total 3 replies
Was pray
hati manusia bisa sekeras baja jika privasinya terusik, tapi bisa jadi selembut salju jika hatinya tersentuh oleh hutang Budi / nyawa
kiyoe: iyaa bener kak 🤭
total 1 replies
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
Astiana yang menyamar, tapi, aku malah ikut deg degan /Scream/
kiyoe: wkwkw tembak tembak dor dor dor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!