Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Kicau burung terdengar bersahutan dari balik jendela kamar paviliun yang terbuka.
Cuit cuit.
Astiana membuka matanya perlahan dan meregangkan kedua tangannya ke atas.
Tidurnya semalam sangat nyenyak setelah berhasil mengeluarkan racun mematikan dari tubuh pria tua itu.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar sangat pelan dan sopan dari arah luar.
"Nona Astiana, apakah Anda sudah bangun."
Itu bukan suara Nadin yang cempreng melainkan suara bariton Raka yang terdengar sangat lembut.
Astiana sedikit mengangkat alisnya merasa heran dengan perubahan nada bicara pemuda itu.
"Aku sudah bangun, masuk saja."
Ceklek.
Pintu terbuka dan Raka melangkah masuk membawa sebuah nampan berisi sarapan mewah.
Ada roti panggang, telur mata sapi, sosis, dan segelas susu hangat di atas nampan perak itu.
Raka mengenakan kemeja putih rapi namun matanya masih terlihat sedikit merah karena kurang tidur.
"Selamat pagi, Nona Astiana."
Raka menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat sambil meletakkan nampan itu di atas meja.
"Aku membawakan sarapan untukmu karena kupikir kau pasti sangat lelah setelah semalaman mengobati kakekku."
Astiana menatap sarapan itu lalu menatap wajah Raka dengan ekspresi datar andalannya.
"Kau tidak perlu bersikap berlebihan seperti ini, Tuan Muda Raka."
"Tidak, ini belum seberapa dibandingkan dengan nyawa kakekku yang kau selamatkan."
Raka menjawab dengan nada yang sangat tulus tanpa ada sedikit pun arogansi di dalamnya.
"Aku rela menjadi pelayanmu mulai hari ini jika itu yang kau inginkan."
Suara hati Raka terdengar sangat pasrah dan penuh rasa bersyukur.
"Gadis ini adalah malaikat penyelamat keluargaku, aku tidak akan pernah berani melawannya lagi."
Astiana hanya mengangguk pelan menanggapi pikiran jujur dari pemuda di depannya itu.
"Bagaimana keadaan Kakek Darma pagi ini."
"Kakek sudah bangun satu jam yang lalu dan dia terlihat sangat bugar."
Raka tersenyum lebar saat menceritakan kondisi kakeknya.
"Wajahnya kembali merah dan dia bahkan meminta Nadin membuatkan bubur ayam porsi besar."
"Itu pertanda bagus, artinya organ pencernaannya tidak ikut rusak oleh racun itu."
Astiana mengambil gelas susu hangat dan meminumnya perlahan.
Gluk gluk.
"Tunggu sebentar sampai aku selesai sarapan, setelah itu kita temui kakekmu bersama-sama."
"Baik, Nona Astiana, aku akan menunggumu di luar pintu."
Raka kembali menunduk hormat lalu berjalan keluar kamar dan menutup pintu dengan sangat pelan.
Astiana menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Raka yang berubah seratus delapan puluh derajat.
Ternyata menaklukkan ego seorang tuan muda kaya raya lebih mudah daripada membelah kayu bakar di desa.
Lima belas menit kemudian, Astiana keluar dari kamarnya dan mendapati Raka benar-benar berdiri menunggunya.
Pemuda itu langsung membukakan jalan dan mempersilakan Astiana berjalan lebih dulu.
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong menuju kamar tidur utama.
Beberapa pelayan yang berpapasan dengan mereka langsung menghentikan langkah dan melongo kebingungan.
Prang.
Nadin yang sedang membawa kemoceng tanpa sadar menjatuhkannya ke lantai.
Dia tidak percaya melihat Tuan Muda Raka yang terkenal galak kini berjalan menunduk di belakang Astiana.
"Apakah dunia sudah mau kiamat, kenapa Tuan Muda jadi jinak seperti anak kucing begitu."
Suara hati Nadin berteriak heboh membuat Astiana harus menahan senyumnya agar tidak meledak.
Mereka tiba di depan kamar utama dan Raka dengan sigap membukakan pintu untuk Astiana.
Di dalam kamar, Pak Darma sedang duduk bersandar di ranjang sambil membaca koran pagi.
Wajah pria tua itu benar-benar terlihat jauh lebih sehat dan segar dari kemarin.
"Selamat pagi, Kakek Darma."
Astiana menyapa dengan ramah sambil berjalan mendekati tepi ranjang.
Pak Darma langsung meletakkan korannya dan tersenyum sangat lebar menyambut kedatangan Astiana.
"Nak Astiana, kemarilah duduk di dekat kakek."
Pak Darma menepuk ruang kosong di tepi ranjangnya dengan antusias.
"Raka sudah menceritakan semuanya pada kakek tentang kejadian semalam."
Pak Darma meraih tangan Astiana dan menggenggamnya dengan kedua tangannya yang hangat.
"Kakek benar-benar berhutang nyawa dua kali berturut-turut pada gadis kecil sepertimu."
"Tidak perlu sungkan, Kek, saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan."
Astiana menjawab dengan nada merendah seperti biasa.
"Tapi ada satu hal yang kakek belum mengerti, Nak."
Raut wajah Pak Darma berubah menjadi serius dan suaranya terdengar sedikit berat.
"Raka bilang kakek muntah darah hitam dan kau bilang itu adalah racun."
"Apakah benar Dokter Handoko yang meracuni kakek selama ini."
Astiana mengangguk pelan tanpa ragu sedikit pun membenarkan pertanyaan tersebut.
"Obat kapsul biru yang selalu Kakek minum itu terbuat dari ekstrak bunga beracun."
"Jika diminum terus-menerus, racunnya akan menumpuk dan memecahkan pembuluh darah di jantung Kakek."
Brak.
Pak Darma memukul kasurnya dengan tangan kanannya yang mengepal kuat.
Mata pria tua itu memancarkan kilat kemarahan yang sangat mengerikan.
"Bangsat."
Umpatan kasar itu meluncur begitu saja dari mulut Pak Darma yang biasanya tenang.
"Aku sudah menggajinya ratusan juta setiap bulan selama belasan tahun, dan ini balasannya padaku."
Pak Darma menoleh ke arah Raka yang berdiri tegang di sudut ruangan.
"Raka, kerahkan semua orang-orang kita sekarang juga."
"Baik, Kakek."
Raka menjawab dengan suara tegas dan postur tubuh yang tegak.
"Cari anjing pengkhianat itu sampai dapat, jangan biarkan dia keluar dari kota ini."
"Kakek ingin tahu siapa pesaing bisnis yang berani membayarnya untuk membunuh kakek secara perlahan."
"Aku akan membawanya ke hadapan Kakek dalam keadaan hidup hari ini juga."
Raka mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan mata yang penuh niat membunuh.
"Bagus, pergilah sekarang dan jangan kembali sebelum kau menangkapnya."
Raka menunduk memberi hormat pada kakeknya sebelum berbalik menuju pintu keluar.
"Tunggu sebentar, Raka."
Astiana tiba-tiba bersuara menghentikan langkah pemuda yang sedang diliputi amarah itu.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣