NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:42.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Satu Tahun untuk Berubah

"Selamat." Suara Levia terdengar ringan. "Menjadi bagian dari Satgas Misi Perdamaian PBB bukan tugas yang bisa didapat semua prajurit. Setahuku, yang berangkat harus melewati seleksi, latihan, dan persiapan yang panjang."

Ia tersenyum tipis. "Itu pencapaian yang membanggakan. Semoga misinya lancar, seluruh tim selalu diberi keselamatan, dan pulang ke Indonesia dengan lengkap."

Ruangan mendadak hening.

Vandra mengernyit. Kalimat itu membuatnya terdiam. Entah kenapa, jawaban itu terdengar seperti bukan berasal dari Levia yang ia kenal.

"Kamu... gak keberatan?"

"Tentu saja enggak." Levia menjawab dengan nada santai. "Misi negara jauh lebih penting daripada urusan pribadi."

Vandra menatap Levia beberapa detik lebih lama. Entah sejak kapan wanita itu tahu tentang proses penugasan Satgas Perdamaian PBB.

Selama ini Levia bahkan tidak pernah tertarik mendengar cerita pekerjaannya. Saat ada undangan berkumpul bersama para istri prajurit, Levia hampir selalu menolak dengan berbagai alasan. Ia juga jarang berbaur dengan mereka, sehingga tidak pernah mengetahui kehidupan para prajurit.

Lalu...

"Dari mana ia tahu bahwa penugasan itu harus melalui proses seleksi yang ketat?"

Bram pun tak kalah heran. Ia mengenal putrinya lebih dari siapa pun. Biasanya Levia hanya peduli pada satu hal: Vandra.

Soal dunia militer, ia nyaris tidak pernah ingin tahu.

Namun sekarang, putrinya justru mengucapkan selamat dengan pemahaman yang bahkan membuat Bram ikut terkejut.

Bram melirik putrinya sekilas. Dadanya kembali dipenuhi rasa haru. Dulu, Levia hanya memikirkan bagaimana mempertahankan Vandra.

Sekarang...

Putrinya justru mendoakan keselamatan pria itu tanpa sedikit pun berusaha menahannya.

Vivian diam-diam mengepalkan tangan di bawah meja. "Pergilah menjauh dariku, Kapten Arvandra. Semakin cepat pergi dan semakin lama kembali akan lebih baik."

Keheningan menyelimuti ruang tamu selama beberapa detik.

Akhirnya Vandra kembali membuka map yang tadi dibawanya. "Karena aku akan berangkat cukup lama..."

Ia mengeluarkan sebuah map bening berisi beberapa lembar dokumen. "...aku juga membawa ini."

Levia melirik sekilas. Surat gugatan cerai. Ia langsung mengenali isi dokumen itu.

Vandra meletakkannya di atas meja. "Kalau kamu sudah siap, tanda tangani saja. Setelah aku kembali ke Indonesia, prosesnya bisa langsung dilanjutkan."

Bram refleks menoleh ke arah putrinya. Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.

Dulu, kalimat seperti itu selalu menjadi awal pertengkaran. Levia akan menangis. Berteriak. Memecahkan barang. Bahkan mengancam melukai dirinya sendiri.

Namun...

Levia hanya memandang map itu beberapa saat. Lalu mengangguk pelan. "Oke."

Dua pria di hadapannya membeku.

Vandra bahkan sempat mengira dirinya salah dengar. "...Oke?"

"Iya." Levia mengangkat bahu ringan. "Aku akan membacanya dulu. Kalau memang gak ada yang perlu dipermasalahkan, nanti aku tanda tangani."

Bram sampai menoleh cepat ke arah putrinya. "Via..."

Levia memutar kepalanya ke arah ayahnya sambil tersenyum tipis. "Ayah tenang aja." Tatapannya kembali beralih kepada Vandra. "Aku gak bakal ngehalangi kamu lagi."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah kenapa, Vandra justru merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.

Bukankah ini yang selama ini ia inginkan?

Bukankah ia sudah menunggu ucapan itu hampir satu tahun?

Lalu...

Kenapa setelah benar-benar mendengarnya, ia sama sekali tidak merasa lega seperti yang ia bayangkan?

Ia menatap Levia sekali lagi. Wanita itu bahkan tidak melihat ke arahnya. Perhatiannya sudah kembali kepada cangkir teh di atas meja. Seolah-olah, perceraian mereka bukan lagi hal yang penting baginya.

Ninis yang diam-diam mengamati dari ruang tengah tanpa sengaja menggenggam kusen dengan kuat.

"Kenapa?" batinnya mulai panik. "Kenapa Levia malah menyetujui perceraian?"

Vandra perlahan berdiri. "Kalau begitu... saya pamit, Yah."

Bram ikut bangkit. "Hati-hati di jalan."

"Iya, Yah."

Vandra menoleh sekilas ke arah Levia. Entah kenapa, sebagian dirinya masih menunggu. Menunggu Levia berdiri. Menunggu wanita itu berkata, "Aku antar."

Atau setidaknya menatapnya lebih lama.

Namun, Levia hanya mengangguk sopan. "Hati-hati."

Hanya dua kata. Setelah itu, wanita itu kembali menyesap tehnya. Tak ada niat mengantar sampai pintu. Tak ada tatapan berat, apalagi air mata.

Vandra mengangguk singkat. "Makasih."

Ia berbalik meninggalkan ruang tamu. Dan entah mengapa langkahnya terasa berat.

 

Bram mengantar Vandra hingga ke teras. "Semoga misinya lancar," ucap Bram tulus.

"Terima kasih, Yah."

Setelah berjabat tangan, Vandra berjalan menuju mobilnya. Sebelum masuk ke dalam mobil, tanpa sadar ia menoleh sekali lagi ke arah rumah megah itu.

Lampu ruang tamu masih menyala. Namun, tak ada sosok Levia yang biasanya berdiri di depan pintu sambil memandanginya pergi. Yang terlihat hanya Bram. Entah kenapa, pemandangan itu terasa asing.

"Aneh..."

Padahal bukankah ini yang selama ini ia inginkan? Levia berhenti mengejarnya. Tidak menangis.Tidak memohon. Tidak menghalanginya.

Lalu... Kenapa hatinya justru terasa sedikit... kosong?

Vandra menggeleng pelan. "Mungkin aku cuma belum terbiasa."

Ia masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan rumah itu.

 

Di sisi lain...

Ninis keluar dari dapur sambil membawa baki untuk mengambil cangkir-cangkir yang telah kosong.

Namun pandangannya terus mengikuti mobil Vandra hingga menghilang di balik gerbang. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram baki itu sedikit lebih erat.

"Ada yang salah. Kalau begini terus... Levia benar-benar bakal lepasin Kak Vandra."

Dan jika itu terjadi, semua rencana yang selama ini ia susun akan berantakan.

Setelah membawa teko dan cangkir kotor, ia kembali ke dapur. Saat melewati ruang tengah, tatapannya perlahan mengarah ke lantai atas. Ke arah kamar Levia.

Sorot matanya berubah tajam. "Aku harus membuat Levia kembali kayak dulu."

 

Sementara itu...

Bram menutup pintu utama. Saat melewati ruang tengah, ia berdiri beberapa saat. Pandangannya perlahan beralih ke arah lantai atas. Ke arah kamar putrinya.

Biasanya setelah Vandra pulang, Levia akan menangis semalaman. Atau memaksa menelepon Vandra berkali-kali.

Tetapi malam ini rumah justru terasa damai. Tak terdengar suara tangisan. Tak ada barang yang dipecahkan.

Bram mengembuskan napas panjang. Senyum tipis tanpa sadar terukir di bibirnya.

"Terima kasih..." batinnya sambil menatap foto mendiang istrinya yang tergantung di dinding. "Kalau ini benar-benar awal perubahan Via... aku gak minta apa-apa lagi."

Dengan hati yang jauh lebih ringan, ia melangkah menuju ruang kerjanya.

 

Di dalam kamar...

Begitu pintu tertutup rapat, Levia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

"Yes! Yesss!"

Ia mengepalkan kedua tangan sambil menahan teriakan kegirangan.

"Satu tahun! Satu tahun penuh tanpa harus lihat muka manusia kutub itu!"

Ia membalikkan badan sambil memeluk bantal.

"Dalam satu tahun... Aku bakal nurunin berat badan. Balik jadi desainer sukses. Dan hidup bahagia tanpa ngejer laki-laki yang jelas-jelas gak suka sama aku."

Senyumnya semakin lebar.

"Kapten Arvandra... Silakan jalankan tugasmu dengan tenang. Begitu pulang nanti..."

Vivian menatap bayangannya di cermin.

"...yang kamu temui bukan lagi Levia yang hidupnya berputar di sekelilingmu."

 

...✨"Kadang, yang paling mengusik bukan penolakan, melainkan ketika seseorang akhirnya mengikhlaskan kita pergi."...

..."Ada perpisahan yang tidak meninggalkan tangisan, tetapi justru menyisakan ruang kosong yang sulit dijelaskan."...

..."Kehilangan sering kali tidak dimulai saat seseorang pergi, melainkan saat ia berhenti mengejarmu."✨...

.

To be continued

1
asih
ninis musuh dlm selimut itu berwajah baik di depan tapi di belakang kayak Iblis mau makan orang
Puji Hastuti
akhirnya Bu Sri bilang ke pak Gultom,lega rasanya.
abimasta
Ninis harus di pecat
Uthie
Nahh.. bagus bik Sari.. dikasih Tauin aja kecurigaan kamu sama si Ninis 😡👍
Anitha
Pak Gultom dan Levia harus lebih waspada ada parasit di rumahmu yang akan menghancurkan Nama Levia....jangan sampai lengah.

ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
Kadek Sri
lanjut
Yuni Alyssa
katanya gultom mau mengawasi ninis... jangan sampe kecolongan ya... pasang aja CCTV rahasia sambil pantau...
kymlove...
ayooo bik kasih tau kelakuan mencurigakan ninis biar mereka semakin waspada
Siti Hawa
lanjut thoor, klu bisa up yg banyak ya, ku sudah kasih Bintang 5
Siti Hawa
sang at bagus
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Kadek Sri
lanjut
Uthie
si Ninis makin kurang ajar 😡😡😡
Anitha
Ada udang di balik ba'wan kali yaaa Andri...

baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.

syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄
mery harwati
Andri Mahesa pengagum Levia secara diam² kah sebelum Levia nikah dengan Vandra? 🤔
kymlove...
ada apa dengan andri pak?? jahatkah??? atau apa??
Anitha
Wow kereeennnm Levia tambah Sukses tambah banyak ujiannya an si Ninis tambah iri saja
EVA OKTASARI
jangan-jangan andri ini mau deketin levia krn suka sama levia.
lin sya
siapa andri, apa dia berbahaya?
Uthie
lanjuuttttt
Elina thea
levia kamu harus hati-hati karna semakin kamu sukses,si Ninis malah tambah iri...jadi harus tetap waspada...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!