Selama lima tahun, Bayu telah mengorbankan segalanya untuk merawat Vira dan membesarkan anak dari mantannya, namun ia justru diusir dan dicap sebagai sampah begitu Rama,pria kaya yang dulu mencampakkan Vira,kembali dengan jabatan mentereng sebagai manajer perusahaan besar.
Dihina habis-habisan di depan pintu keluar kantor catatan sipil usai meneken surat perceraian, hidup Bayu berputar 180 derajat saat sebuah Sistem Pengubah Jalur Hidup bangkit di kepalanya dan memberinya kartu-kartu kekayaan mutlak.
Dari seorang pria melarat berhati tulus, Bayu kini melangkah ke dunia para elite kota besar, siap membalas setiap tetes air mata dengan kekuasaan yang membuat orang-orang yang dulu merendahkannya berlutut memohon ampun.
Bantu Cherlly dengan LIKE,KOMENTAR & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Kami selalu balas komentar yang kaka pertanyakan🥰🥰💋
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Ruang rapat utama keluarga Rahardja tampak diselimuti ketegangan yang begitu pekat.
Pendingin ruangan yang menyala dingin sama sekali tidak mampu mendinginkan keringat dingin yang mengucur di dahi para dewan direksi.
Arga Rahardja duduk di kursi ujung meja dengan tangan mengepal erat di atas permukaan kayu mahoni.
Wajah pewaris utama itu tampak sangat kusut dan penuh amarah yang tertahan.
"Kenapa rapat darurat ini mendadak sekali, Arga?" tanya salah satu anggota dewan tua dengan nada suara ketus.
"Kalian akan segera tahu alasannya sebentar lagi," jawab Arga dengan gigi bergemeletuk.
Pintu utama ruang rapat tiba-tiba terbuka lebar dari luar secara perlahan.
Ceklek kiiik.
Suara engsel pintu itu memecah keheningan ruangan dengan sangat jelas.
Semua pasang mata dewan direksi langsung menoleh serentak ke arah pintu masuk.
Seorang wanita berpenampilan sangat profesional melangkah masuk dengan penuh wibawa.
Kirana mengenakan setelan blazer abu-abu gelap dengan kacamata tipis membingkai wajah tegasnya.
Di belakang Kirana, seorang pria berjas hitam elegan berjalan tenang mengikuti langkah sang sekretaris.
Bayu.
Arga membelalakkan matanya selebar mungkin saat mengenali sosok pemuda yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.
"Kau?!" bentak Arga berdiri dari kursinya secara mendadak.
"Berani sekali kau menginjakkan kaki di gedung perusahaanku?!"
Bayu menghentikan langkahnya tepat di hadapan meja rapat utama.
Sudut bibir Bayu terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat dingin.
"Perusahaanku, Arga," koreksi Bayu dengan suara tenang yang menggema ke seluruh ruangan.
"Jangan bicara omong kosong!" seru Arga kalap menunjuk wajah Bayu.
"Ini adalah markas besar korporasi keluarga Rahardja!"
Kirana maju selangkah ke depan sambil membuka map dokumen digital di tangan kanannya.
"Say sekali, Tuan Muda Arga," ucap Kirana dengan suara tegas dan tajam.
"Berdasarkan data hukum terbaru di lantai bursa pagi ini, keluarga Rahardja bukan lagi pemilik mayoritas."
Deg.
Seluruh anggota dewan direksi di ruangan itu terperanjat kaget mendengar pernyataan mengejutkan tersebut.
"Apa maksud ucapan wanita ini?!" tanya salah satu direktur tua panik menatap Arga.
Arga sendiri terpaku kaku di tempatnya, menatap Kirana dengan napas memburu.
"Itu tidak mungkin..." bisik Arga menggelengkan kepalanya panik.
"Kami memegang kendali penuh atas seluruh saham perusahaan!"
Kirana melempar beberapa lembar sertifikat kepemilikan saham tepat di atas meja rapat utama.
Brak!
Kertas-kertas resmi itu bergeser dan berhenti tepat di depan tangan Arga.
"Perusahaan cangkang anonim yang memborong seperempat saham kalian selama seminggu terakhir adalah milik kami," jelas Kirana tanpa ampun.
Arga menyambar lembaran kertas itu dengan tangan yang gemetar hebat.
Begitu melihat deretan angka persentase kepemilikan saham yang mencapai lima puluh satu persen, kertas di tangan Arga langsung terlepas begitu saja.
Prang kertas itu jatuh melayang ke lantai.
"Lima puluh satu persen..." gumam Arga lemas, lututnya mendadak terasa kehilangan seluruh kekuatannya.
"Benar sekali," sambung Bayu melangkah maju mendekati kursi utama yang tadinya diduduki oleh Arga.
"Dan itu artinya, pemegang hak suara mutlak di perusahaan ini sekarang adalah aku."
Anggota dewan direksi saling berpandangan dengan wajah pucat pasi.
Mereka menyadari bahwa kejatuhan keluarga Rahardja di hadapan pendatang baru ini sudah tidak dapat dicegah lagi.
"Kau merampok perusahaan keluargaku!" teriak Arga hilang kendali, mencoba melompat menerjang Bayu.
Dua petugas keamanan berbadan tegap yang berdiri di dekat pintu langsung bergerak secepat kilat.
Bugh!
Cengkeraman tangan kuat kedua satpam itu menahan kedua lengan Arga dengan sangat keras.
"Lepaskan aku! Bajingan!" rontok Arga meronta-ronta di lantai rapat.
"Duduklah dengan tenang, Arga," ucap Bayu dingin sambil menduduki kursi utama secara elegan.
"Nikmati detik-detik terakhir keruntuhan tahtamu di tempat ini."
[Sistem Pengubah Jalur Hidup: Berhasil mengambil alih kendali mutlak korporasi utama rival.]
[Mendapatkan bonus poin pengaruh nasional tertinggi +50.]
Suara dengungan sistem berputar sangat cepat di dalam kepala Bayu.
Arga berlutut di lantai dengan air mata amarah mengalir deras di pipinya.
Semua kerja keras keluarganya selama puluhan tahun musnah dalam hitungan detik di hadapan pria yang dulu ia remehkan di restoran privat.
"Kau... iblis..." bisik Arga menatap tajam ke arah kaki Bayu.
Bayu sama sekali tidak melirik ke bawah, mengabaikan ratapan menyedihkan dari mantan pewaris sombong tersebut.
"Kirana," panggil Bayu tenang.
"Iya, Tuan," jawab Kirana cepat.
"Mulai rapat darurat ini secara resmi," perintah Bayu mutlak.
"Baik, Tuan!" jawab Kirana tersenyum penuh kemenangan di hadapan dewan direksi yang tertunduk lesu.
Kirana membuka dokumen digital di tablet miliknya dengan gerakan yang sangat anggun.
"Selamat pagi, para anggota dewan direksi yang terhormat," sapa Kirana membuka rapat dengan suara formal.
Tidak ada seorang pun dari dewan direksi yang berani menjawab sapaan tersebut.
Suasana di dalam ruangan terasa sangat mencekam dan penuh tekanan psikologis yang berat.
"Hari ini, sebagai pemegang saham mayoritas baru, Tuan Bayu akan merestrukturisasi seluruh jajaran manajemen perusahaan," lanjut Kirana tegas.
Arga yang masih berlutut di lantai mengangkat kepalanya dengan susah payah.
"Kalian tidak bisa berbuat semaunya!" teriak Arga parau.
"Perusahaan ini milik keluarga Rahardja!"
Bayu menoleh perlahan ke arah Arga yang tampak menyedihkan di lantai.
"Keluarga Rahardja sudah resmi bangkrut, Arga," jawab Bayu datar tanpa rasa iba sedikit pun.
"Namamu dan keluargamu tidak lagi memiliki suara apa pun di tempat ini," sambung Bayu dingin.
Arga menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, merasakan sakit yang teramat sangat di dadanya.
"Kau menghancurkan segalanya..." rintih Arga memukul lantai marmer dengan kepalan tangannya.
"Bukan aku yang menghancurkan keluargamu," balas Bayu meluruskan.
"Kesombongan dan kebodohan kalian sendirilah yang menggali kuburan ini."
Kirana melirik sekilas ke arah dewan direksi yang duduk gemetar di kursi mereka.
"Bagi siapa saja yang ingin tetap bekerja di bawah manajemen baru, kalian harus menandatangani kontrak loyalitas mutlak," ujar Kirana memberikan syarat.
Salah seorang anggota dewan tua mengangkat tangan kanannya dengan ragu-ragu.
"K-Kami bersedia, Nyonya Kirana," ucap direktur tua itu dengan suara bergetar ketakutan.
"Bagus," jawab Kirana menyerahkan dokumen kontrak ke hadapan mereka.
"Waktu kalian berpikir hanya lima menit."
Tidak ada yang berani membantah instruksi tersebut.
Satu per satu dewan direksi langsung menyambar pena di atas meja untuk menandatangani kontrak loyalitas baru.
Mereka lebih memilih mengamankan posisi masing-masing daripada ikut tenggelam bersama keluarga Rahardja.
Arga menyaksikan pemandangan pengkhianatan itu dengan mata kepala sendiri dari lantai.
"Kalian... kalian semua pengkhianat!" maki Arga pada para dewan direksi.
Tidak ada seorang pun dari dewan direksi yang berani membalas atau menatap mata Arga.
Mereka menundukkan kepala dalam-dalam karena rasa malu dan takut kehilangan jabatan.
Bayu berdiri dari kursi utamanya dengan gerakan yang sangat tenang.
"Pekerjaan kita di sini sudah selesai untuk hari ini, Kirana," ucap Bayu melirik sekretarisnya.
"Baik, Tuan," jawab Kirana merapikan berkas di tangannya.
Bayu melangkah melewati tubuh Arga yang masih berlutut di lantai marmer.
"Tunggu!" rintih Arga mencoba meraih ujung celana Bayu.
Dua petugas keamanan langsung menginjak tangan Arga secara halus namun tegas untuk menghentikannya.
"Jangan pernah menyentuh Tuan Bayu," ucap salah satu satpam dengan suara berat.
Bayu berjalan terus tanpa menoleh ke belakang sekalipun.
Langkah kakinya keluar dari ruang rapat meninggalkan babak baru kehancuran total bagi keluarga Rahardja.
Kirana mengikuti di belakang atasannya dengan senyuman kemenangan yang sangat memuaskan.
Di luar gedung korporasi tersebut, wartawan media massa sudah berkumpul mengerubuti halaman depan.
Mereka mendengar kabar mengejutkan tentang pengambilalihan perusahaan Rahardja Group secara mendadak.
Begitu melihat Bayu melangkah keluar dari pintu utama, puluhan kilatan lampu kamera langsung menyambar ke arahnya.
Cekrek cekrek cekrek.
"Tuan Bayu! Apakah benar Anda sekarang pemilik sah Rahardja Group?" teriak seorang wartawan antusias.
Bayu berhenti sejenak di anak tangga utama, menatap lurus ke arah kerumunan media nasional.
"Semua informasi resmi akan disampaikan oleh sekretaris pribadi saya nanti," jawab Bayu singkat namun tegas.
Ia kembali melangkah menuju mobil sedan mewah hitam yang menunggu di tepi jalan.
Kirana membukakan pintu mobil untuk atasannya dengan gerakan profesional.
"Silakan masuk, Tuan," ucap Kirana sopan.
Bayu masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk, disusul oleh Kirana di kursi sebelah pengemudi.
Mobil mewah itu meluncur perlahan meninggalkan kerumunan wartawan yang masih terus meneriakkan pertanyaan.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat tenang dan damai.
"Hari ini adalah tonggak sejarah baru bagi kekaisaran bisnis kita, Tuan," puji Kirana tersenyum tulus kepada Bayu.
"Ini baru awal dari perjalanan panjang kita di ibu kota, Kirana," balas Bayu menatap ke luar jendela.
[Sistem Pengubah Jalur Hidup: Penguasaan penuh atas korporasi utama nasional berhasil dicapai.]
[Mempersiapkan misi lanjutan menuju babak kemunculan karakter.]
Suara sistem berputar lembut di kepala Bayu menandakan babak baru yang semakin mendebarkan.
Kekaisaran bisnis Bayu kini berdiri kokoh di puncak rantai makanan ekonomi nasional.
Dan tidak ada satu pun kekuatan lama yang mampu menggoyahkan posisinya lagi.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰