Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 — Kebenaran yang Menghancurkan Harga Diri
.
Akhirnya, acara tender Danuarta Global Corporation benar-benar selesai. Setelah pengumuman pemenang dan penyerahan dokumen resmi, para peserta mulai meninggalkan aula satu per satu.
Di antara mereka, Bara dan Vanya berjalan dengan wajah muram. Sejak pengumuman pemenang tadi, suasana hati Bara benar-benar buruk. Ia bahkan tidak menanggapi beberapa orang yang menyapa karena pikirannya masih dipenuhi kemarahan dan rasa tidak percaya. Mahesa, yang biasanya selalu kalah darinya, kini malah menjadi pemenang.
Sementara itu, tim Mahesa Konstruksi Utama masih berada di depan aula menerima ucapan selamat dari sejumlah perwakilan perusahaan lain. Keberhasilan tersebut tentu menjadi pencapaian besar bagi perusahaan mereka setelah berhasil mengalahkan beberapa pesaing yang memiliki pengalaman dan kemampuan finansial yang kuat.
Bara sempat melirik ke arah mereka sebelum kembali melangkah. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan pintu aula, pandangannya mendadak tertuju pada dua sosok yang berjalan tidak jauh di depannya.
Mentari tampak berjalan berdampingan dengan Titan Danuarta sambil berbincang santai. Titan terlihat berkali-kali sedikit menundukkan kepala mendengarkan sesuatu yang dikatakan Mentari, sementara perempuan itu sesekali tersenyum tipis.
Pemandangan tersebut membuat dada Bara terasa sesak. Pria itu mengepalkan tangannya bahkan terlihat rahangnya mengeras.
“Mentari!” panggilnya keras lalu bergegas mengejar perempuan itu.
Vanya yang menyadari perubahan sikap Bara segera menyusul. Ia tidak rela Bara kembali mengejar mantan kekasihnya di depan banyak orang.
“Bara, tunggu dulu!” Vanya segera meraih lengan pria itu. “Kamu mau ngapain? Biarkan saja mereka pergi. Tidak ada gunanya kamu mengejarnya sekarang.”
Namun, Bara menepis tangan Vanya dengan kasar tanpa menghentikan langkahnya.
“Jangan ikut campur!” bentaknya, kemudian kembali mempercepat langkah untuk menyusul Mentari.
Vanya tertegun mendapati sikap Bara yang seperti itu. Tidak biasanya Bara tidak mau mendengarkan perkataannya.
Mentari yang mendengar namanya dipanggil akhirnya menghentikan langkah dan menoleh ke belakang, begitu pula Titan yang ikut berhenti dan berdiri tegak di sisi Mentari, menatap Bara yang datang dengan napas sedikit memburu.
Begitu tiba di hadapan mereka, Bara langsung menatap Mentari dengan wajah penuh penyesalan.
“Mentari, akhirnya aku bisa berbicara denganmu,” ucapnya, berusaha mengendalikan emosinya. “Aku tahu aku sudah melakukan banyak kesalahan kepadamu. Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf atas semua yang terjadi.”
Mentari hanya memandangnya dengan dua tangan bersilang di dada tanpa menunjukkan reaksi berarti.
Bara menelan ludah sebelum melanjutkan perkataannya. “Tapi itu juga bukan salahku. Itu juga salahmu karena selama ini kamu tidak pernah memberitahuku siapa dirimu sebenarnya. Kenapa kamu harus menyembunyikan identitasmu?
Pertanyaan itu berulang kali berputar di kepala Bara sejak ia mengetahui identitas Mentari yang sesungguhnya. Seandainya sejak awal ia tahu bahwa perempuan yang selama tiga tahun menjadi kekasihnya itu adalah putri tunggal Panji Adiprana, pasti ia tidak akan membiarkan Vanya bertindak keterlaluan apalagi mempermalukan Mentari di hadapan banyak orang.
Bara bahkan merasa bahwa banyak hal mungkin akan berbeda seandainya ia mengetahui kebenaran tersebut sejak awal. Sayangnya, semua itu hanya penyesalan yang datang terlambat.
Mendengar pertanyaan Bara, Mentari justru terkekeh sinis. Ia memandang pria yang pernah sangat dicintainya itu sejenak sebelum menggelengkan kepala.
“Lalu apa?” tanyanya, membuat Bara terdiam. “Kalau sejak awal kamu tahu siapa diriku, apa kamu akan bersikap baik kepadaku? Apa kamu akan memperlakukanku dengan penuh perhatian dan tidak membiarkan Vanya merendahkanku?”
Bara membuka mulut, tetapi Mentari tidak memberinya kesempatan untuk menyela.
“Jujur saja, aku sama sekali tidak menyesal telah menyembunyikan identitasku selama ini. Justru aku merasa telah melakukan hal yang benar karena dengan begitu aku bisa mengetahui seperti apa sebenarnya orang yang selama ini kudukung mati-matian.” Senyum tipis muncul di bibir Mentari, tetapi tidak ada kehangatan sedikit pun di sana. “Aku sudah memberikan waktu, tenaga, dan dukunganku kepadamu. Aku bahkan ikut memikirkan perusahaanmu seolah-olah itu adalah tanggung jawabku sendiri. Namun, apa balasanmu?”
Tatapan Mentari perlahan berubah dingin. “Ternyata benar kata ayahku bahwa kamu sama sekali tidak layak masuk ke dalam keluarga Adiprana. Karena itu, mulai sekarang berjuanglah lebih keras, Bara. Aku ingin melihat seberapa jauh kamu bisa melangkah tanpa aku.”
Wajah Bara langsung berubah pucat. Kata-kata Mentari terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya, setelah tahu bahwa selama ini Mentari memang telah banyak membantunya. Apalagi fakta bahwa selama ini ayah Mentari sedang memperhatikannya.
“Tidak, bukan begitu!” sahut Bara cepat. Ia melangkah setengah langkah mendekat, berharap Mentari mengubah pikirannya. “Aku memang salah, dan aku tidak akan menyangkal semua kesalahanku. Tapi kamu juga harus ingat bahwa aku sangat mencintaimu. Kita sudah bersama selama tiga tahun, Mentari. Apa kamu benar-benar bisa melupakan semuanya begitu saja?”
Mentari tidak menjawab. Ia hanya menatap Bara dengan sorot mata yang semakin dingin, membuat pria itu semakin gelisah.
“Demi hubungan kita selama tiga tahun ini, berilah aku satu kesempatan lagi,” lanjut Bara dengan suara memohon.
“Tiga tahun yang seperti apa? Apakah tiga tahun di mana kamu selalu lebih mengutamakan Vanva daripada aku? Ataukah tiga tahun di mana kamu membiarkan Vania dengan dalih menguji mental tetapi sebenarnya hanya ingin menindasku?”
“Tidak!” Bara memotong cepat. “Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku juga tidak akan peduli lagi meskipun kamu memakai pakaian sederhana atau apa pun. Aku tidak akan malu berjalan bersamamu. Aku bersumpah!”
Mendengar kalimat terakhir itu, Mentari tertawa sambil memegang perutnya.
“Tentu saja kamu tidak akan malu, karena kamu sudah tahu bahwa aku adalah pewaris tunggal Adiprana Group,” balasnya tanpa basa-basi. “Sekarang kamu tahu siapa Ayahku, tahu keluargaku, dan tahu seberapa besar kekayaan yang bisa kuwarisi. Jadi, menurutmu, bagaimana aku bisa percaya bahwa perubahan sikapmu benar-benar karena cinta?”
“Mentari, aku tidak bermaksud—”
“Aku tidak tertarik mendengar penjelasanmu lagi.” Mentari memotong perkataan Bara dengan tegas. “Sebelum meninggalkan apartemenmu aku sudah bilang, kita putus. Itu berarti hubungan kita benar-benar berakhir.”
Bara menggeleng kuat-kuat, seolah menolak menerima kenyataan tersebut. “Aku tidak setuju!” serunya. “Aku tidak pernah mengatakan ingin putus darimu. Kamu tidak bisa memutuskan hubungan kita secara sepihak seperti ini!”
“Kenapa tidak?” Mentari mengangkat alisnya. “Aku tidak butuh izinmu untuk mengakhiri hubungan toksik ini.”
Bara terdiam. Ia ingin membantah, tetapi tidak menemukan satu pun alasan yang masuk akal. Selama tiga tahun, ia selalu menganggap Mentari akan tetap berada di sisinya, tidak peduli seberapa buruk ia memperlakukannya. Baru sekarang ia menyadari bahwa perempuan itu benar-benar bisa pergi dan tidak menoleh kembali.
Sementara itu pandangan Mentari beralih kepada Vanya yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Oh, ya, Vanya.” Mentari tersenyum tipis seolah baru mengingat sesuatu. “Tadi kamu bilang kalau pria yang berdiri di sampingku ini hanyalah seseorang yang kusewa untuk berpura-pura menjadi kekasihku, kan?”
Wajah Vanya seketika menegang. Apa maksud dari kata-kata Mentari? Bukankah cowok itu memang hanya orang yang dibayar Mentari?
Mentari melirik Titan sekilas sebelum kembali menatap Vanya dan Bara. “Kalian pasti melihat kami duduk di antara para direksi Danuarta Global. Jadi, supaya kalian tidak penasaran, biar aku perkenalkan pria ini.”
Titan tetap berdiri tegak di samping Mentari. Ia tidak menyela, hanya mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan perempuan itu dengan sikap tenang, seolah memberi dukungan tanpa perlu banyak bicara.
Mentari membiarkan tangan mereka bertaut lalu melanjutkan perkataannya. “Pria yang berdiri di sampingku ini adalah Tuan Muda Titan Danuarta, pemilik Danuarta Global Corporation.”
Mata Bara langsung membelalak. Sementara itu, wajah Vanya seketika kehilangan warna.
Mentari kemudian mengangkat tangan mereka yang saling menggenggam sedikit lebih tinggi, memastikan keduanya melihatnya dengan jelas.
“Dan satu hal lagi yang perlu kalian ketahui,” lanjut Mentari dengan suara mantap. “Titan adalah tunanganku.”
Jeduar!
Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣