Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
“Vic, kau baik-baik saja?” tanya Victoria dengan khawatir. Gadis itu duduk di tepi ranjang, menatap nanar kembarannya.
“Kemarilah, biar aku obati lukamu.” Victoria mengambil mangkuk berisi air hangat dan saputangan bersih yang tadi dibawanya dari dapur.
Dengan sangat hati-hati, ia mulai mengompres sudut bibir Victor yang membengkak kebiruan dan sedikit berdarah akibat tamparan keras ayah mereka.
Victor meringis pelan saat kain hangat itu menyentuh lukanya, namun ia menepis tangan saudarinya dengan pelan.
“Aku tidak apa-apa, Vic. Jangan pedulikan aku. Ini sudah biasa.”
“Tapi aku ini saudara kembarmu,” balas Victoria, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. “Kita lahir bersama. Jika kau sakit, aku juga merasakannya. Kita harus berbagi suka dan duka bersama. Ingat janji kita dulu waktu kecil?”
Mendengar itu, pertahanan Victor sedikit runtuh. Remaja berandalan yang selalu memasang wajah keras itu menunduk.
Tentu saja ia ingat. Di saat ayah mereka sibuk dengan bisnisnya dan ibu kandung mereka entah berada di mana, hanya Victoria yang ia miliki.
Mereka pernah berjanji di bawah selimut, menyembunyikan tangis dalam kegelapan, bahwa mereka akan terus bersama dan saling melindungi, tak terpisahkan oleh apa pun.
“Aku ingat,” jawab Victor parau. Ia menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di cermin nakas yang tampak kacau.
Victoria kembali menempelkan kompres hangat itu dengan lembut.
“Sebenarnya kau dari mana saja? Tidak biasanya kau pulang selarut ini dengan keadaan berantakan. Dan tidak biasanya juga Papa pulang lebih awal dari kantor, lalu langsung mencarimu dengan marah.”
Victor terdiam sejenak. “Geng Serigala. Aku ada urusan dengan mereka di arena balap liar,” jawabnya jujur. “Maxim... dia menantang Zoey balapan.”
Gerakan tangan Victoria seketika terhenti. Matanya membulat tak percaya.
“Apa? Zoey? Maksudmu wanita sok suci yang jadi istri baru Papa itu?!”
Victor mengangguk pelan, masih merasa takjub jika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
”Dan kau tahu apa gila-nya? Wanita itu menyetujui tantangannya, dan dia menang. Dia benar-benar menang telak melawan Max.”
“What?!” Victoria memekik kaget, nyaris menjatuhkan mangkuk air hangat di tangannya. “Ini pasti lelucon, kan? Max itu penguasa jalanan, dia belum pernah kalah!”
“Ssst! Pelankan suaramu, Bodoh!” desis Victor seraya membekap mulut saudarinya dengan cepat.
“Nanti wanita itu bisa besar kepala dan kegeeran kalau dia kebetulan lewat dan mendengar kita sedang membicarakannya. Lagipula, aku tidak butuh diselamatkan olehnya,” imbuhnya.
“Aku sudah terlanjur besar kepala, asal kalian tahu.”
Sebuah suara tenang dan menyindir tiba-tiba terdengar dari ambang pintu.
Victor dan Victoria tersentak kaget. Mereka menoleh bersamaan dan mendapati Zoey sudah berdiri di sana, menyandarkan bahunya di kusen pintu dengan tangan terlipat di dada.
Di salah satu tangannya, ia memegang sebuah kotak obat.
Tanpa permisi, wanita itu melangkah masuk dengan santai, lalu menjatuhkan dirinya duduk di sisi ranjang milik Victor.
“Hei! Kenapa kau berani masuk ke kamarku tanpa izin?!” seru Victor marah, langsung berdiri dari duduknya.
“Ini wilayah pribadiku! Ini pelanggaran privasi, keluar kau sekarang!”
Zoey sama sekali tak gentar melihat kemarahan remaja itu. Ia justru tersenyum miring, membuka kotak P3K-nya dengan santai.
“Kau lupa kalau secara teknis dan hukum, aku adalah ibumu sekarang? Seorang ibu bebas masuk ke kamar anaknya kapan saja,” ucap Zoey tenang.
“Kemari. Air hangat saja tidak cukup untuk mencegah infeksi. Biar aku oleskan salep antiseptik ke wajahmu.”
“Tidak perlu sok peduli!” sahut Victoria ketus, melangkah maju seolah melindungi saudara kembarnya. “Aku yang akan merawat Victor. Kami tidak butuh bantuan orang asing sepertimu.”
“Benar. Victoria jauh lebih tahu cara merawatku daripada—”
Nyut!
“Argh! Aduh, aduh, aduh! Sakit! Lepaskan!”
Belum sempat Victor menyelesaikan kalimat protesnya, tangan kanan Zoey melesat secepat kilat.
Wanita itu memelintir dan menarik telinga Victor dengan cubitan yang mematikan.
Tenaga wanita itu ternyata jauh di atas perkiraan. Victor sampai harus membungkuk menahan rasa perih yang menjalar ke kepalanya, tak bisa berkutik sedikit pun.
“Lepaskan saudaraku!” pekik Victoria panik, mencoba melepaskan tangan Zoey namun entah bagaimana, tangan kiri Zoey berhasil menahan lengan Victoria dengan kuncian yang sama kuatnya.
Kini, kedua anak kembar yang terkenal sulit diatur dan menakutkan bagi para pelayan rumah itu, mendadak kicep tak berdaya di tangan ibu tiri mereka.
“Dasar anak-anak keras kepala,” omel Zoey dengan raut wajah berubah garang seperti induk harimau yang sedang mendisiplinkan anak-anaknya yang nakal.
“Apa susahnya menurut dan bilang terima kasih, hah?! Kemari duduk dan diam! Atau kulepaskan telingamu ini dari tempatnya sekarang juga!”
Ancaman itu diucapkan dengan nada yang sangat meyakinkan, membuat Victor langsung menelan ludahnya kasar dan Victoria terdiam membatu.
Tak ada satu pun pelayan atau guru di sekolah yang pernah berani menyentuh mereka, apalagi menjewer telinga mereka seperti ini.
Meski dalam hati mereka masih menolak dan belum luluh sepenuhnya pada kehadiran Zoey, malam itu, untuk pertama kalinya, si kembar pemberontak itu dipaksa tunduk.
Victor akhirnya duduk pasrah, membiarkan Zoey mengoleskan salep dingin ke sudut bibirnya dengan telaten.
Sementara Victoria duduk cemberut di pojok ranjang sambil terus mengawasi setiap gerak-gerik ibu sambung mereka dengan tatapan curiga.
“Rasakan kalian. Mau melawanku? Coba saja,” batin Zoey terkikik geli.
Sabar ya Zoey menghadapi suami dan anak laki2 nya😄
Anak & ibu sambung kompak sekali pagi ini.
Ayo Zoey buat Victoria menyerah juga dgn kamu😁
apa rasa berantem Ama duplikat nya sendiri?🫣🤣🤣
cemburu sama ank sendiri 🫣