NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Ada Yang Berbeda

Sion melanjutkan dengan suara rendah. "Aku akan menemukannya."

Raina membalas, "Lalu apa yang akan kau lakukan setelah menemukannya?"

Tatapan Sion berubah dingin. "Aku pasti akan membuatnya menyesal karena sudah berani menyentuhmu."

Raina memilih membuka pintu. Namun sebelum keluar, dia menoleh sekali lagi. "Jangan hanya mencari orang yang memburuku, Sion."

"Kenapa?"

"Carilah alasan kenapa mereka melakukannya."

Sion terdiam saat menyadari ada sesuatu yang tersembunyi di balik kalimat yang Raina ucapkan. Raina sepertinya sudah mengetahui siapa orang yang telah memburunya sekaligus alasan itu melakukannya. Dan kemungkinan besar, kembalinya Raina kali ini hanya untuk balas dendam kepada orang itu.

Melihat Sion yang masih terdiam, Raina pun memutuskan pergi untuk menemani kedua anaknya. Pintu tertutup dan Sion masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tertuju pada pintu yang baru saja dilewati Raina.

“Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu saat itu, Raina?” gumam Sion, “Apakah wanita itu yang melakukannya?” lanjutnya tertuju pada satu nama yang memiliki kemungkinan terbesar sebagai pelakunya.

Delapan tahun… Selama delapan tahun dia mengira Raina hanya meninggalkannya karena mereka sudah resmi bercerai. Ternyata ada sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya.

Sion mengambil ponselnya. Satu panggilan dilakukan. Begitu tersambung, suaranya langsung berubah menjadi dingin. "Bangunkan seluruh jaringan."

Suara di seberang terdengar bingung. "Untuk apa, Tuan?"

Sion berjalan menuju jendela. Tatapannya menatap halaman mansion. Di sana, Sean dan Shia sedang berlari bersama Kakek Edwin. Dua anak yang baru saja dia ketahui sebagai anak kandungnya. Dua anak yang ternyata selama ini tumbuh tanpa dirinya.

"Investigasi semua kejadian yang menimpa Raina delapan tahun lalu." Ia berhenti. "Mulai dari hari dia meninggalkan mansion."

"Baik, Tuan."

"Dan satu lagi."

"Ya?"

Sion menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca. "Jangan ada yang tahu aku sedang mencari tahu." Sambungan telepon terputus, Sion memasukkan ponselnya kembali ke saku.

“Kau ingin aku mencari tahu sendiri?”

“Baiklah.”

“Aku akan mencarinya. Dan ketika aku menemukan orang yang berada di balik semua itu... aku bersumpah orang tersebut akan menyesal karena pernah menyentuh sesuatu yang menjadi milikku.”

Ya, sejak malam delapan tahun Raina sudah menjadi miliknya. Dan sekarang bukan hanya Raina yang telah menjadi miliknya, tetapi kedua anaknya… Sean dan Shia, akan ia pastikan tidak ada satupun orang yang bisa menyentuh maupun menyakiti mereka.

Tak lama kemudian, Sion kembali bergabung dengan Raina dan Kakek Edwin yang sedang menemani Sean dan Shia bermain. Namun, siapa sangka kedua bocah itu malah menariknya untuk ikut bermain bersama. Padahal Sion hanya berniat mengawasi dan memperhatikannya dalam diam sembari bicara dengan Kakeknya.

...****************...

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, Raina kembali duduk di meja makan keluarga Maximillian. Meja panjang yang dahulu terasa seperti meja pengadilan baginya kini terlihat berbeda.

Dulu, ketika masih menjadi istri Sion, Raina bahkan tidak selalu diperbolehkan duduk di kursi utama. Dia lebih sering berdiri di belakang anggota keluarga lainnya. Menuangkan minuman, mengambilkan makanan dan memastikan semua kebutuhan mereka terpenuhi. Tidak ada yang bertanya apakah dia sudah makan. Tidak ada yang peduli apakah dia lelah.

Ya, selama ini Raina hanya akan duduk di kursi utama hanya setiap Sion pulang dan ikut makan bersama. Namun sayangnya, Sion lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja hingga larut malam. Sehingga Calista yang menguasai Mansion itu dan memperbudak Raina tanpa belas kasih sedikitpun.

Namun malam ini... Sion sendiri yang menarikkan kursi untuknya. "Duduk."

Raina sempat terdiam, karena ini pertama kalinya Sion melakukan hal seperti itu. Karena tidak ingin mempermalukan Sion di depan Kakek Edwin dan yang lainnya, Raina pun duduk dengan tenang. Kakek Edwin yang melihatnya tersenyum puas. Sementara Sean dan Shia hanya senyum-senyum sendiri melihat usaha Papahnya dalam menaklukan kembali Mamahnya.

"Kenapa kau melamun?" tanya Sion yang menyadarinya.

Raina menggeleng. "Tidak apa-apa."

Sion duduk di sebelahnya. Sementara Sean dan Shia duduk di kedua sisi Raina. Seolah-olah kedua anak itu sengaja menempatkan diri mereka di sana. Dekat dengan ibunya, dekat dengan satu-satunya orang yang selama ini mereka kenal sebagai rumah.

"Mah, makan ini." Sean mengambilkan lauk untuk Raina. "Ini kesukaan Mamah."

Shia ikut menuangkan air. "Minum juga, Mah."

Raina tersenyum. "Iya, Sayang. Terima kasih ‘yah!"

Sion memperhatikan semuanya dalam diam. Membiarkan Sean dan Shia meratukan ibunya. Namun, ketika melihat piring Raina hampir kosong, dia memberi isyarat kepada pelayan.

"Tambahkan."

Pelayan langsung mengangguk dan segera menyajikan beberapa lauk yang sebelumnya diambilkan oleh Sean ke piring Raina yang sudah hampir kosong.

Raina menatap Sion. "Aku masih bisa mengambil sendiri."

"Aku tahu."

"Kalau begitu—"

"Tidak perlu."

Sion kembali makan, Raina terdiam merasa ada sesuatu yang aneh dari semua ini. Dulu, ketika dia adalah istri pria ini, tidak pernah ada perlakuan seperti ini. Sekarang, ketika statusnya bahkan belum jelas... Dia justru diperlakukan seolah-olah dirinya adalah seseorang yang sangat berharga.

Kakek Edwin bahkan beberapa kali memastikan makanannya sesuai selera. Para pelayan memperlakukannya dengan hormat. Sion memastikan tidak ada yang mengganggunya. Dan kedua anaknya? Mereka bahkan tidak membiarkan siapa pun duduk terlalu dekat dengannya.

Raina hampir tertawa kecil. Betapa ironisnya… dulu dia adalah istri Sion. Namun tidak pernah diperlakukan seperti seorang istri dan nyonya muda di Mansion itu. Sekarang dia hanya seorang perempuan yang kembali membawa dua anak. Tetapi justru semua orang memperlakukannya seperti seorang ratu.

Namun Raina tidak mengeluh. Jika semua itu berarti Sean dan Shia akhirnya mendapatkan hak mereka sebagai darah daging keluarga Maximillian, dia akan menerimanya. Setidaknya... anak-anaknya tidak perlu mengalami kehidupan seperti yang pernah dia alami.

Dan dapat Raina lihat dengan jelas tampang Calista dan kedua anak kembarnya yang melontarkan tatapan penuh kebencian kepadanya. Jika dulu Raina akan menunduk takut, maka sekarang ia malah menunjukan senyum dan ekspresi mengejek kepada mereka.

“Lihatlah tampang kesal wanita penyihir ini dan kedua anaknya? Padahal ini baru permulaan saja, karena setelah ini aku yang akan membuat kalian menderita tinggal di Mansion ini,” ujar Raina dalam hati.

"Mamah." Suara Shia membuyarkan lamunannya.

"Ya?"

"Jangan sedih."

Raina terkejut. "Mamah tidak sedih."

Shia menggenggam tangannya. "Kalau ada yang bikin Mamah sedih, bilang."

Sean mengangguk serius. "Sean juga akan memarahinya."

Raina tersenyum lembut. "Kalian berdua ini... benar-benar anak kesayangan Mamah yang sangat baik dan menggemaskan."

Sion yang mendengar perkataan itu hanya mengangkat sudut bibirnya sedikit. Rupanya kedua anak itu bisa diandalkan untuk melindungi Raina disaat dirinya tidak ada. Meski begitu Sion akan tetap memastikan keamanan ketiganya dengan hati-hati.

“Sialan, beraninya wanita murahan itu tersenyum mengejek padaku,” umpat Calista dengan penuh kemarahan dihatinya.

Bersambung….

1
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
Budhe Satryo
semoga nanti g bisa bngun adik kecilmu kalu Ndak dngn rayna 😄😄😄
Budhe Satryo
good rayna setidaknya ad kenang"an dr mantan suami
Budhe Satryo
barengan sekalinya keluar kandang kak author ini
Budhe Satryo
suka semua karya KK ni
Sri Yatun
sekarang kamu ada rasa cinta makanya sadar coba tanpa adanya cinta masa bodo mau sprti apa istri mu dulu sekarang liat dan baru sadar sakit kan apa LG di depan anak anak nya yg sudah seperti orang dewasa tau dan bisa membedakan keadilan dan tidak Adilan mau bagaimana menyikapi orang tua mu/ibu tirinya dan saudara tirimu Sion pasti bakal ada cemohan dri anak anak mu
InaraAp 09
Semangat lanjut up nya thor
InaraAp 09
jangan khawatir Raina, kini kau tidak sendirian
Dew666
💎
InaraAp 09
pemandangan yang indah😄
InaraAp 09
Keren Ryland😍
InaraAp 09
lebih baik emg kembali bersama🤭
InaraAp 09
cemburu sama adik ipar🤣🤣🤣
InaraAp 09
Cieee... mulai ada rasa nih Sion🤣
InaraAp 09
😄😄😄puas banget yah Rain
InaraAp 09
🤣🤣🤣ketagihan katanya...
Sri Yatun
apa adenya sama sama mafia....?
🇦 🇵 🇷 🇾👎
nk"😂
Fahmi Ardiansyah
pasti Sion sengaja Krn dia pasti mau menikahi nya LG demi anak kembarnya.
Fahmi Ardiansyah
Alhamdulillah dugaanku salah.aku kira dia musuh nya eeh ternyata adknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!