Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Matahari sore baru saja bergeser ke barat, melemparkan bayangan panjang di celah sempit gang pemukiman padat itu.
Di dalam ruangan berukuran tiga kali empat meter yang terasa kian menyesakkan, Nisa duduk tertunduk di pinggir tempat tidur busa yang sudah menipis.
Di tangannya, selembar kertas putih bergaris lusuh tergenggam erat. Kertas itu berisi rincian tunggakan kontrakan selama tiga bulan yang baru saja ditinggalkan oleh ibu pemilik sewa.
Burhan masuk melangkah perlahan. Sepatunya yang terkelupas di bagian sol diseret begitu saja. Suara derit pintu kayu yang rapuh seolah mempertegas kehampaan di antara mereka.
"ibu kontrakan baru saja dari sini, Mas," bisik Nisa, suaranya parau, hampir tenggelam oleh derum mesin sepeda motor yang melintas di luar.
Burhan menghentikan langkahnya. Ia tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya ke tembok cat mengelupas, lalu mengusap wajahnya yang kusam dengan kasar.
"Dia bilang apa?" tanya Burhan lirih.
"Maksimal besok malam," Nisa mendongak. Matanya memerah, menahan lelehan air mata yang siap tumpah. "Kalau besok malam kita tidak bisa bayar setidaknya setengahnya... kita harus angkat kaki. Barang-barang kita akan dikunci di dalam."
Burhan tertawa kecil, sebuah tawa satir tanpa rasa humor sedikit pun. "Setengahnya? Dua juta rupiah? Dari mana aku bisa dapat uang segitu dalam waktu satu hari, Nis? ucap Burhan dengan tenang , sedangkan gaji mas diproyek bangunan itu tinggal 3 hari yang belum dibayarkan mandor kerja, ucap Burhan kepada Nisa.
"Coba pinjam lagi ke Mas Budi, Mas..." usul Nisa ragu.
"Tidak bisa!" potong Burhan cepat dengan nada agak tinggi, sebelum akhirnya melunak karena melihat Nisa terperanjat. "Maaf, Nis. Tapi aku sudah mencoba tadi siang. Mas Budi sendiri sedang pusing karena sepi pelanggan. Dia bahkan belum bayar gaji mingguanku yang kemarin."
Nisa meremas jarinya sendiri. "Lalu kita harus bagaimana? Apa aku harus coba telepon Mbak Yuni lagi?"
"Jangan," cegah Burhan tegas. "Terakhir kali kamu pinjam uang ke kakakmu, suami dia menceracau ke mana-mana. Aku masih punya harga diri, Nis. Aku tidak mau kamu dihina lagi hanya karena keadaan kita yang seperti ini."
"Harga diri tidak bisa dipakai untuk bayar tempat bernaung, Mas!" pekik Nisa, akhirnya pertahanannya runtuh. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mengalir deras membasahi pipi. "Kita tidak punya pilihan lagi! Aku tidak peduli dihina, yang penting kita tidak tidur di jalanan besok malam!"
Ruangan hening seketika. Hanya terdengar helaan napas berat Burhan dan isak tangis Nisa yang tertahan. Burhan mendekat, berlutut di hadapan istrinya yang sedang terisak. Ia menggenggam jemari Nisa yang dingin.
"Nis, dengarkan aku," kata Burhan pelan, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Nisa. "Aku tahu aku gagal jadi suami. Aku tahu aku tidak bisa membahagiakanmu. Tapi tolong, beri aku waktu sampai besok sore. Aku akan cari jalan keluar."
"Jalan keluar seperti apa, Mas? Semua teman-temani kita sudah kita datangi. Perhiasan terakhirku,cincin pernikahan kita sudah kita jual dua bulan lalu," sahut Nisa seraya menyapu air matanya.
Burhan menghembuskan napas panjang. Ada keraguan yang amat sangat di raut wajahnya, namun keputusasaan mengalahkan rasa takutnya.
"Aku akan coba temui Pak Alex nanti malam," ucap Burhan pelan.
Nisa membelalakkan mata. "Pak Alex? Rentenir pasar itu? Mas, kamu gila? Kamu tahu sendiri bagaimana gilanya bunga yang dia minta! Mas Joko tetangga sebelah sampai kabur dari rumah karena ditarik bunga Pak Alex!"
"Lalu aku harus bagaimana, Nisa?!" teriak Burhan frustrasi, berdiri mendadak hingga kursi plastik di sebelahnya tersenggol jatuh.
"Gadaikan barang? Barang apa yang kita punya? TV tua ini? HP kita yang layarnya retak? Tidak ada nilainya! Ini satu-satunya jalan agar kita tidak diusir besok!"
Nisa bangkit berdiri, berdiri tepat di hadapan Burhan. "Lebih baik kita kemas barang-barang kita sekarang juga dan tidur di stasiun atau teras toko, Mas, daripada kamu berurusan dengan rentenir itu! Aku tidak mau hidup kita makin hancur!"
"Aku tidak akan biarkan istriku tidur di jalanan!" balaskan Burhan dengan dada naik turun, menahan emosi yang berkecamuk. "Setidaknya kalau kita punya waktu satu bulan lagi di sini mas akan kerja kuli bangunan siang nya malam nya mas akan jadi pemulung cari barang bekas Nisa" ucap Burhan sambil menghapus air matanya
Nisa menggelengkan kepala, tatapannya penuh rasa cemas yang mendalam. "Tapi biayanya terlalu mahal, Mas... kita pikirkan juga biaya kehidupan sehari -hari mas " ucap nisa kepada Burhan suaminya.
Burhan menarik Nisa ke dalam pelukannya. Ia memeluk erat wanita yang telah menemaninya dalam suka dan duka itu.
"Percaya sama aku kali ini saja, Nis," bisik Burhan di balik rambut Nisa. "Aku janji, ini terakhir kalinya kita ada di posisi seperti ini. Besok malam, rumah ini masih milik kita."
Nisa tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya di dada Burhan, mendengarkan detak jantung suaminya yang berpacu cepat secepat ketakutan yang kini membayangi masa depan mereka berdua.
Tidak ada lagi upaya manis yang tersisa, hanya keputusan nekat di tengah keputusasaan yang kian menghimpit ekonomi mereka..