NovelToon NovelToon
Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Dosen
Popularitas:578k
Nilai: 4.9
Nama Author: dtyas

Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.

Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.

Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.

"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”

Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"

“Mas, panggil saya mas Bara.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya Sarjana

Bab 34

Ruby mematut lagi penampilannya di cermin tinggi milik Bara. Kemeja putih, rok hitam dan rambut dikuncir rapi. Wajahnya dipoles sedikit dengan make up.

“Tinggal sepatu,” gumamnya. Sebagian besar barangnya masih di apartemen, subuh tadi sudah menghubungi Meldy agar membawakan sepatu pantofelnya ke rumah, tidak mungkin ia mampir ke unit hanya untuk mengambil sepatu lalu ke kampus.

“Gak usah dandan, nanti penguji kamu tidak fokus,” ujar Bara saat melewatinya.

“Justru aku harus dandan, biar mereka terkesima terus lupa mau tanya apa.”

Bara kembali dan berdiri di belakang istrinya, sama-sama menatap cermin sambil mengaitkan kancing lengan kemejanya. Gemas dengan jawaban Ruby meski hanya bercanda, apalagi semalaman Ruby seperti anak kucing yang tidur menempel dan memeluknya.

“Ganti baju kamu, pakai kemeja panjang dan celana panjang. Ah, jangan lupa masker dan kaca mata.”

“Kayak bety la fea dong.”

Meski rok yang dikenakan standar di bawah lutut dan kemeja yang ditubuh Ruby tidak kekecilan, tapi istrinya itu tetap terlihat seksi atau memang isi kepala Bara yang terlalu kotor. Bahkan ia penasaran dengan isi di balik kemeja itu.

Bara menyingkap kerah kemeja Ruby lalu menunduk dan mengecup leher gadis itu.

“Mas Bara,” pekik Ruby karena ulahnya meninggalkan jejak. “Ada bekasnya tau,” rengek Ruby lagi.

“Itu tanda kepemilikan, biar orang tahu kamu sudah ada yang punya.”

“Ish, nyebelin. Awas aja nanti aku balas.”

Bara malah pasang badan dan menepuk dadanya. “Ayo balas.”

“Gak usah aneh-aneh, aku mau sidang mas.” Ruby membetulkan kerah kemejanya, memastikan bekas gigitan vampire tidak mencolok. Getaran ponsel Ruby di atas nakas menginterupsi perdebatan mereka. “Itu kayaknya Meldy.”

“Meldy! Kamu minta antar Meldy? Suruh dia pulang, kamu ikut mobilku.”

Ruby tersenyum. “Cie, cemburu. Masih pagi kali. Meldy nganterin sepatu aku. Lagian dia harus meeting dengan brand parfum.”

“Kamu terima pekerjaan baru?”

“Menolak mas suami, aku menolak. Mau fokus di rumah aja, jadi model dewasa untuk kamu. Pose menggoda setiap malam.”

“Boleh, siapa takut.”

“Aku yang takut, mas,” seru Ruby lalu meninggalkan kamar.

Di bawah ia menyapa Jelita dan Adly yang sudah bersiap di meja makan. “Kamu yakin mau sekolah hari ini? Gak pa-pa izin sehari lagi,” ucap Ruby pada Adly yang menggeleng dan Bara mendengar usul itu saat ia menuruni anak tangga.

“Nggak bun, aku mau sekolah. Di rumah juga gabut.”

“Ya udah, tapi jangan dipaksakan ya. KAlau lagi malas mikir, ya udah nyantai aja.”

Ibu macam apa ini, mendukung anaknya untuk malas, batin bara.

“Bunda mau pergi?” tanya Jelita.

“Iya, bunda mau sidang biar lulus sarjana. Kalian nanti sekolah tinggi masa bundanya Cuma lulus SMA. Diantar pak Budi ya hari ini.”

“Iya, bun.”

“bik Ida, bekal aku mana?”

“ini bu,” jawab Bik Ida tergopoh-gopoh membawakan dua kotak bekal dan dua tumbler.

“Yang satu punya ibu yang satu punya bapak. Yang bapak isinya kopi pahit.”

“Ck, udah kayak mbah dukun aja minum kopi pahit. Pantes lagaknya juga pahit." Bik Ida tersenyum mendengar ejekan Ruby.

Bara menyapa kedua anaknya lalu menuju ruang kerja mengambil barang yang akan dibawa.

“Ini sudah semua?” tanya Bara membawakan tas dan zipper bag berisi dokumen skripsi.

“Udah mas, semalam kan kamu yang beresin. Bye anak-anak bunda jalan ya.”

“Bye bunda, papih," ujar Jelita.

Di beranda sudah Meldy. “Nih, pake,” ujarnya menyodorkan sepatu. “Semoga lo lulus ya, biar nggak sia-sia ngejar dosen sampai nikah.”

Bara mengabaikan ucapan itu lalu menuju mobilnya.

“Iya, beb. Semoga lo cepat dapat ganti bos setelah gue beneran pensiun,” sahut Ruby. “Gue duluan ya, lo juga sana pergi ngapain masih disitu.”

“Emang bos gak ada akhlak.”

***

Duduk di kursi stainles panjang, di lantai tiga gedung fakultasnya berada, di mana kegiatan sidang berlangsung. Ruby berulang kali mengarahkan kipas portable kecil ke wajahnya. Hari ini ada sepuluh ruangan sidang yang digelar serentak, dan Ruby mendapatkan nomor urut ketiga di Ruang C. peserta lainnya berpencar, ada yang di kursi dan ngampar di lantai koridor.

Rasa gugup cukup menguras energi. Kotak bekal berisi sarapan yang dibawanya dari rumah sudah licin tanpa sisa sejak setengah jam lalu juga tumbler berisi juice. Bahkan botol air mineral yang dibelinya di kantin tadi pagi kini tinggal tersisa separuh.

Di tengah gelisahnya, ia fokus dan banyak menunduk, karena sosoknya menyedot perhatian yang lain. Setelan kemeja putih yang pas di badan serta rok span hitam yang mempertegas kakinya yang jenjang membuat aura anggunnya terpancar jelas. Beberapa mahasiswa pria yang juga sedang memegang draft skripsi berulang kali mencuri pandang, berpura-pura batuk kecil atau mendadak rajin berdiskusi hanya agar bisa meliriknya.

Malah, seorang mahasiswi sesama peserta sidang tiba-tiba menghampirinya dengan mata berbinar-binar dan ponsel yang sudah siap di genggaman.

"Mbak Ruby Gunawan, ya? Ambassador produk Mardiah. Aduh, aslinya cantik banget! Boleh minta foto bareng sebentar enggak, Mbak? Buat story Instagram!" pinta mahasiswi itu penuh semangat.

Ruby menahan senyum canggungnya lalu mengangguk. Padahal sudah setahun lalu ia menjadi BA dari produk itu. Menyanggupi berfoto dua jepretan dengan gaya formal terbaiknya di tengah sisa kepanikan sidang. Tepat setelah mahasiswi itu pamit, petugas keluar dari ruangan C.

"Ruby Silvia Gunawan, bersiap ya kamu setelah ini!" seru dosen pendamping dari ambang pintu.

Jantung Ruby serasa melompat keluar, ia tergesa merapikan berkas dan menyiapkan laptopnya untuk dibawa masuk ke ruangan.  

Satu setengah jam di dalam ruangan itu terasa seperti uji nyali. Tiga dosen penguji memberondongnya tanpa ampun, meski tidak terlihat cuek dan garang seperti Bara kalau mengajar. Ada momen dimana otak Ruby mendadak blank total gara-gara pertanyaan rumit tentang metodologi penelitian, membuat lidahnya kelu. Namun, kesulitan itu seolah meluap begitu saja saat sidang ditutup dan dia dinyatakan lulus.

"Selamat, ya,” ucap penguji saat mereka bersalaman.

Ruby meninggalkan barangnya di atas kursi, lalu menuju tangga menjauh dari keramaian. Mengaktifkan layar ponsel menghubungi seseorang.

“Iya, sayang,” sapa Bara di ujung sana. “Sudah selesai?”

"Mas Bara! Aku lulus!" jerit Ruby setengah berbisik bahkan sampai melompat karena bahagia. Di ujung telepon, terdengar Bara terkekeh. "Alhamdulillah... Selamat ya, tidak sia-sia perjuanganmu. Jangan lupa hadiahku.”

“Iya, iya. Mas Bara di mana, aku lapar!”

“Di ruangan. Kamu kemari ya, nanti kita pulang bareng.”

“Iya, aku ke sana sekarang."

Beberapa saat sebelumnya, Bara sedang berdiskusi dengan Husen, Sanjaya dan Berta. Rekan sejawatnya. Berdiskusi terkait kegiatan kemahasiswaan juga kerjasama kampus dilanjut dengan membicarakan penelitian mereka. Laporan Bara sudah selesai dan minggu depan siap diajukan untuk proses ujian kelayakan.

“aduh, saya masih mentok nih. Pak Bara, bantu dong,” ujar Berta setengah memohon.

Bara hanya tersenyum tipis dan menunjuk Husen. “Sama dia bu, nganggur tuh.”

“Iya jangan sama Bara, nanti riset kalian campur aduk.”

Ponsel Bara di atas meja bergetar, ia pun beranjak. Rekannya masih lanjut berdiskusi. Nama Ruby tertera di layar ponsel membuatnya tersenyum.

“Iya, sayang.”

Ucapan itu sontak membuat rekan Bara menoleh heran, siapa yang disebut sayang oleh Bara. Kecuali Husen, dia sudah tahu kalau Bara sudah menikah.

“Bininya.”

“Pak bara sudah menikah lagi?” tanya Berta kembali menoleh menatap ke arah Bara.

“Sudah.”

“Baru tahu gue,” seru Sanjaya.

“Nanti juga ada resepsi,” sahut Husen lagi. “Lagi anget-angetnya hubungan mereka. Sama kayak lo, dapetnya mahasiswi.”

Sanjaya terkekeh. “Masih muda makin legit bro.”

“Pak Bara menikah dengan mahasiswi kita?” tanya Berta.

Husen mengangguk. “tapi mahasiswi udah lama sih.”

Panggilan berakhir, Bara kembali bergabung di sofa.

“Mau kemari bini lo?” tanya Husen diangguki oleh Bara.

“Ya udah, cukup dulu kali ya,” seru Sanjaya menutup diskusi mereka. “Gue mau nelpon istri, mendadak kangen.”

Husen tertawa sambil menggoda Sanjaya dan Bara. Hanya Berta yang terlihat murung. Wanita itu sering dipasang-pasangkan dengan Bara disetiap kegiatan membuatnya baper, tidak menduga kalau Bara sekarang sudah menikah.

“Jadi, buket bunga dan selempang itu untuk istri kamu,” tunjuk Berta ke atas meja kerja Bara.

“Iya.”

“Udah, ayo keluar!” ajak Husen.

Rombongan rekan Bara berpapasan dengan Ruby di koridor. Gadis itu mengangguk, menyapa sambil tersenyum.

“Itu Ruby istrinya Bara,” ucap Husen dan mereka menoleh. Benar saja Ruby mengetuk pintu ruangan Bara lalu masuk.

"Bening amat, bisaan si Bara. Lama menduda taunya nyari yang muda begitu."

***

Ruby berlari menghampiri Bara yang berdiri menyambutnya, bahkan tidak segan memeluk pria itu setelah meletakan bawaannya di atas sofa.

“Aku lulus, mas.”

“Aku tahu, kamu sudah bilang."

“Makasih ya, udah sabar bimbing aku sampai ke pelaminan segala.” Bara tergelak sambil mengusap punggung Ruby. 

“Sudah kabari mama?”

Ruby menggeleng lalu mengurai pelukan melihat buket di atas meja. “Mas Bara dikasih bunga, sama siapa?”

 

\=\=\=\=

Otw buka kado nihhh 🤣🤣🤣🤣

 

 

 

1
Shee_👚
malah di balikin😂
Shee_👚
anya mau dapet adek kayanya🤣
Shee_👚
perasaan waktu itu 6 tahun, apa salah ingat aku ya🤔
novel destiny
wah Ruby melendung 🤣🤣🤣
novel destiny
yah jauh banget ya jarak nya nanti
Nur Wakidah
Bunda mu mah bisa berubah jadi apa aja Anya🤣🤣🤣 , , , bidadari bisa malaikat pencabut nyawa juga bisa 😂😂😂 tergantung situasi dan kondisi , , ,
mmh nengmuti
jelita kepo aj nih,di satuin SM Azzam anak nya Rama cocok nih sama sama rame🤣
'Nchie
om bara sudah tua kata istrimu 🤣🤣
'Nchie
mei masih mau nagih kata keramat ILOvE U dari Adl😍😍
'Nchie
hmm takut jelita jadi sasaran bagas
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Gita Cinta Anak SMA 😍😍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋: aku kalau mau nulis anak teenager masih mikir2, jaman sekarang udah beda dengan anak jaman dulu soalnya 😁😁
total 2 replies
Ayila
om rama bius bagas sekarang juga
Rahmawati
wah bunda ruby hamil lagi, semoga nanti anaknya cowok biar ada temennya adly
sikepang
ujian y setelah mereka kuliah ne nanti
Ayusha
umur boleh tua, jiwa tetap muda ya Bara 😂😂
Ayusha
tekdung lagi ya Bun
Gia Nasgia
Kasihan Adly untung nya anaknya dewasa dan sdh berdamai dgn kenyataan 🥹 lulus kuliah dan otw Bara Junior 🤭
Gia Nasgia
Hahaha gokil
Les Tary
Anya baru umur 5 thn udh pinter bgt
Gia Nasgia
Kayaknya Nilam butuh Damkar 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!