Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Trik Seorang Penyidik
Suasana ruang bawah tanah itu tetap sunyi meski belasan jari terus menari di atas papan ketik.
Puluhan monitor berjajar memenuhi dinding. Grafik pergerakan dana, peta lokasi, rekaman CCTV, hingga deretan kode memenuhi setiap layar.
Di tengah ruangan, Theodore Arlov Darmawan berdiri tegak dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Tatapannya lurus ke monitor utama.
"Big Boss."
Bonar melangkah maju sambil membawa sebuah tablet.
"Seluruh identitas Delvando Argianda sudah berhasil kami kumpulkan."
Theo tidak menoleh. "Tampilkan."
Layar utama berganti. Foto Delvando muncul disertai data lengkap.
Nama. Usia. Pekerjaan. Riwayat pendidikan. Nomor rekening. Kepemilikan kendaraan. Riwayat perjalanan. Theo hanya melihat sekilas.
"Yang aku butuhkan bukan biodatanya."
Bonar langsung mengangguk. "Hacker."
Seorang pria berkacamata mendorong kursinya mendekati meja utama.
"Hubungan target." Jemarinya menekan beberapa tombol.
Dalam hitungan detik, layar berubah menjadi bagan yang dipenuhi garis-garis penghubung. Satu nama berkedip paling terang.
Irana.
Frekuensi panggilan. Durasi video call. Lokasi yang sering dikunjungi bersama. Transfer dana. Riwayat pemesanan hotel. Semakin banyak data bermunculan. Sorot mata Theo perlahan mengeras.
"Sejak kapan?"
"Dua minggu setelah target menikah."
Ruangan kembali hening.
Theo memejamkan mata sesaat. "Dua minggu ...."
Artinya, Delvando bahkan tidak memberi kesempatan bagi pernikahan itu untuk tumbuh.
"Boss." Hacker lain mengangkat tangan.
"Kami berhasil masuk ke penyimpanan cloud milik target."
"Tampilkan."
Klik.
Klik.
Klik.
Foto-foto reservasi hotel bergantian memenuhi monitor. Tanggal. Jam check-in. Nomor kamar. Nominal pembayaran. Bahkan salinan invoice elektronik masih tersimpan rapi.
Theo tidak berkedip. "Tampilkan CCTV."
Beberapa detik kemudian, rekaman kamera keamanan hotel mulai diputar.
Delvando berjalan memasuki lobi. Di sampingnya, Irana menggandeng lengannya sambil tersenyum manis. Mereka memasuki lift.
Layar berikutnya menampilkan pagi hari. Keduanya keluar dari kamar yang sama. Irana masih mengenakan pakaian yang sama seperti malam sebelumnya. Tak seorang pun di ruangan itu berani bersuara.
Theo menarik napas pelan. "Simpan semuanya."
"Siap."
"Jangan ubah metadata."
Theo mengembuskan napas panjang. Bukti demi bukti terus bertambah, tetapi ia belum berniat menyerahkannya kepada Milka.
Belum. Delvando harus jatuh tanpa memiliki celah sedikit pun untuk mengelak.
"Terus awasi. Jangan sampai dia sadar sedang diburu."
Bonar mengangguk.
"Kalau nanti dibutuhkan di pengadilan, aku ingin seluruh bukti ini tetap asli."
"Baik, Big Boss."
Theo kembali memandang monitor. Tatapannya kosong. Namun semua orang yang mengenalnya tahu ... Semakin tenang wajah Big Boss, semakin besar amarah yang sedang ia tahan.
.
.
Sementara itu ...
Di malam hari, Milka turun dari kendaraan rekan kerjanya, tepat di depan rumah.
"Makasi, Mas Novan," ucapnya datar.
"Sama-sama Milka. Lain kali kalau ada masalah pada kendaraanmu, tapi suamimu tak bisa mengantar, kamu hubungi aku saja. Aku kan sekalin lewat sini juga," ucap sang rekan kerja.
"Baik, Mas." Milka melambaikan tangan.
Mobil Novan perlahan menjauh meninggalkan halaman. Milka tidak langsung masuk. Ia berdiri memandangi rumah mungil yang baru satu bulan lalu ia tempati bersama suaminya.
Dulu rumah itu terasa seperti awal kehidupan baru.
Kini ...
Rasanya hanya seperti bangunan yang menyimpan terlalu banyak kebohongan.
Milka menarik napas panjang benar-benar melangkah masuk. Begitu pintu rumah dibuka, aroma wangi masakan langsung menyambutnya.
Vando keluar dari dapur dengn wajah kaget sambil membawa dua piring.
"Wah ... Kamu udah pulang? Tadi pergi kerja tak membawa kendaraan?"
Kalimat itu terdengar biasa. Namun mata Vando tidak menatap wajah istrinya.
Bola matanya justru melirik cepat ke arah lorong kamar sebelum kembali memasang senyum.
Milka menyadari reaksi Vando. "Kenapa, Mas? Ada yang datang ke sini?" Milka turut memutar kepala ke segala arah. Ia seakan mengendus sesuatu yang berkaitan dengan obrolan sang suami pagi tadi. Milka mulai bergerak mengelilingi rumah ini.
Vando dengan cepat menaruh dua piring tadi ke atas meja makan. Dengan segera ia menarik Milka dan mendudukannya di meja makan.
"Kebetulan sekali kamu pulang cepat. Aku lagi masak sup. Kamu pasti belum makan? Ayo, makan dulu." Vando mengambilkan nasi, tetapi pandangannya fokus pada suatu tempat dengan kening mengerut.
Milka menatap wajah suaminya beberapa detik. Ia mulai menduga-duga, tetapi mengikuti permainan yang dilakukan suaminya. Tangannya mengepal kuat menggenggam erat sendok.
'Kurang ajar! Berani sekali mereka melakukan 'itu' di rumah ini?'
"Nah, nasinya sudah siap. Kamu makan dulu. Aku tadi kelupaan menutup jendela." Vando dengan segera masuk ke kamar mereka.
Saat Vando menghilang di balik pintu kamar, Milka tidak segera menyentuh makanannya. Ia malah mengeluarkan ponsel, langsung membuka kamera dan bersiap merekam apa yang ada di dalam sana.
Ia menghitung dalam hati.
Satu...
Dua...
Tiga...
Barulah ia bangkit tanpa suara. Langkahnya seringan mungkin, ponsel telah standby mode video. Jantungnya berdetak keras menahan getaran melihat apa yang sedang terjadi dari balik kusen pintu.
Dari celah pintu yang sedikit terbuka...
Lewat layar ponselnya, Milka melihat seorang wanita berambut panjang tergesa-gesa memanjat kusen jendela.
Vando menopang pinggang wanita itu agar bisa turun ke halaman belakang.
"Cepat!" bisik Vando pelan.
Irana melompat turun sambil menggenggam sepatu hak tingginya agar tak menimbulkan suara.
Setelah memastikan wanita itu berhasil kabur, Vando buru-buru menutup jendela dan merapikan gorden.
Milka buru-buru kembali ke kursinya menyimpan kembali benda pipih itu. Kedua tangannya bergetar hebat. Ia menggenggam sendok sekuat tenaga agar getarannya tak terlihat.
Kalau saja bukan karena seragam yang dikenakannya setiap hari mengajarkan ketenangan ... Mungkin saat ini ia sudah menampar wajah pria itu.
"Mas, kenapa? Kok keringetan?" Ia menyuap makanan seolah tak tahu apa-apa. "Mas, aku baru tahu kamu jago masak."
Vando tersenyum kikuk menyeka keringat dengan tisu. Sebenarnya, masakan itu bukan buatannya. Ia mengira malam ini Milka akan lembur kembali, dan ingin merasakan malam panas bersama Irana, di rumah mereka. Irana sengaja memasak untuk membuktikan kemampuannya, seperti ucapannya tadi.
"Mas..."
Milka tersenyum tipis sambil menyendok kuah sup.
"Masakanmu enak sekali."
Vando ikut tersenyum lega.
Namun senyum itu membeku ketika Milka melanjutkan dengan suara pelan.
"Aneh ya ..."
"Rasanya persis seperti masakan Irana. Kamu belajar masak dari dia, ya?"
"Uhuk!"
Sendok di tangan Vando jatuh ke mangkuk. Wajahnya langsung pucat.
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣