“Su Yang, apa sebenarnya hubunganmu dengan Tetua Lan?”
“Dia hanya pelangganku.”
“Pelanggan?!” Tang Hu membelalak. “Lalu sepuluh wanita cantik yang datang mencarimu itu?”
“Pelanggan juga.”
Dahulu, Su Yang hanyalah murid pelataran luar yang diremehkan. Namun, setelah jiwa seorang kultivator legendaris terbangun dalam tubuhnya, segalanya berubah.
Dengan teknik kultivasi yang tak tertandingi dan pesona yang sulit ditolak, ia membuat para wanita di Sekte Bunga Mendalam mulai memperebutkan perhatiannya.
“Su Yang! Kalau kau membutuhkan sesuatu, datanglah kepadaku!”
“Aku juga! Jangan lupakan aku!”
Su Yang hanya tersenyum.
“Tenang saja. Akan ada cukup banyak kesempatan bagi kalian untuk mengenalku.”
Di tengah rayuan, kecemburuan, dan rahasia masa lalunya, Su Yang kembali menapaki jalan menuju keabadian. Namun kali ini, perjalanan kultivasinya mungkin akan jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan.
🙏🙏🙏❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangi Suci, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Ujian yang Tak Biasa
Tujuan Su Yang pagi itu hanya satu.
Aula Ujian.
Sudah waktunya meninggalkan Pelataran Luar dan menjadi murid Pelataran Dalam.
Setiap murid yang mencapai Alam Roh Mendalam berhak mengikuti ujian kenaikan tingkat. Jika berhasil, mereka akan memperoleh sumber daya yang lebih baik, tempat tinggal yang lebih nyaman, serta akses menuju fasilitas yang tidak tersedia bagi murid biasa.
Salah satunya adalah Ruang Pelukan, tempat dengan Qi Mendalam yang jauh lebih padat dibandingkan wilayah lain di sekte.
Tak heran hampir semua murid Pelataran Luar bermimpi mencapai Pelataran Dalam.
Tak lama kemudian, Su Yang berhenti di depan sebuah bangunan berbentuk segi delapan.
Ia masuk tanpa ragu.
Ruangan utama cukup luas. Banyak pintu mengelilingi tempat itu, sementara seorang wanita tua berjubah tetua duduk di tengah ruangan. Di sampingnya terdapat sebuah bola giok.
“Aku ingin mengikuti ujian Pelataran Dalam,” kata Su Yang.
Tetua itu menunjuk bola giok.
“Letakkan tanganmu di Batu Penilaian.”
Su Yang menurut.
Beberapa detik kemudian, batu tersebut memancarkan cahaya hijau.
“Alam Roh Mendalam. Kau memenuhi syarat.”
Tetua itu mengangguk.
“Tunggu sampai pengujimu datang.”
Su Yang berdiri dengan tenang sambil memperhatikan pintu-pintu di sekelilingnya.
Ia sebenarnya penasaran.
Apakah mereka akan menguji kekuatan?
Pengetahuan?
Atau kemampuan mengendalikan Qi?
Ingatan pemilik tubuh sebelumnya tidak banyak membantu karena Su Yang yang lama sama sekali tidak peduli pada urusan semacam ini.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar.
Seorang wanita cantik memasuki Aula Ujian.
Ia mengenakan pakaian biasa, bukan jubah tetua. Namun ketika wanita tua di ruangan melihat wajahnya, ekspresinya langsung berubah.
“A-Anda—”
“Kau pasti Su Yang.”
Wanita cantik itu langsung memotong perkataannya.
“Aku akan menjadi pengujimu hari ini.”
Su Yang mengamatinya dari atas sampai bawah.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Menarik.
“Semua ruangan kosong, Tetua Wu?” tanya wanita itu.
“Y-Ya.”
“Bagus.”
Ia memilih salah satu ruangan.
“Su Yang, ikut aku.”
Su Yang masuk bersamanya.
Tetua Wu hanya bisa menatap pintu yang tertutup dengan wajah bingung.
Kenapa wanita itu datang sendiri hanya untuk menguji seorang murid Pelataran Luar?
Ruangan ujian jauh lebih sederhana daripada dugaan Su Yang.
Hanya ada sebuah ranjang kecil di tengah.
“Jadi begini ujiannya?”
Wanita itu tersenyum.
“Kau seharusnya tahu bahwa Sekte Bunga Mendalam berbeda dari sekte lain.”
Ia berjalan menuju ranjang.
“Kami tidak hanya menilai kemampuan bertarung. Murid Pelataran Dalam harus memahami teknik yang menjadi dasar sekte ini.”
Wanita itu menjelaskan aturan.
Su Yang harus menunjukkan kemampuannya melalui pijatan dan pengendalian titik-titik tubuh. Ia tidak diperbolehkan menyentuh bagian pribadi. Penilaian akan diberikan berdasarkan gerakan tangan, ketepatan tekanan, kemampuan membaca reaksi pasangan, serta kenyamanan yang dihasilkan.
“Waktumu satu jam.”
Ia tersenyum menantang.
“Dan perlu kauketahui, standarku sangat tinggi. Kalau kemampuanmu buruk, aku tidak akan bersikap baik hanya karena kau cukup tampan.”
Su Yang terdiam.
Kemudian—
“Hahaha!”
Ia tertawa.
Penguji itu mengerutkan kening.
“Apa yang lucu?”
“Kau yakin ingin menjadi pengujiku?”
“Tentu saja.”
Su Yang tersenyum.
“Baiklah. Tapi jangan menyesal.”
Wanita itu mendengus lalu berbaring tengkurap di atas ranjang.
Ia melonggarkan jubah luarnya sehingga bahu dan punggungnya terbuka, menyisakan pakaian dalam yang menutupi tubuhnya.
“Mulai.”
Su Yang menggulung lengan bajunya.
Tangannya menyentuh bahu wanita tersebut.
Gerakannya lembut.
Sangat biasa.
Ia memijat bahu, punggung, lengan, kemudian turun menuju kakinya.
Lima menit berlalu.
Ekspresi wanita itu mulai berubah.
Sepuluh menit.
Kesabarannya akhirnya habis.
“Berhenti!”
Su Yang mengangkat tangan.
“Ada masalah?”
“Ini teknik yang membuat begitu banyak murid membicarakanmu?”
Tatapan wanita itu penuh kekecewaan.
“Pijatan seperti ini bisa kudapatkan di mana saja! Kalau kau terus bermain-main, aku akan langsung menggagalkanmu.”
Su Yang tersenyum.
“Aku hanya ingin melihat seberapa sabar pengujiku.”
“Kau—”
“Baiklah.”
Su Yang kembali mendekat.
“Karena kau sendiri yang meminta, aku akan mulai serius.”
Sepuluh jarinya menyentuh sepuluh titik berbeda di punggung wanita itu.
Tekanan diberikan hampir bersamaan.
Tubuh wanita tersebut langsung menegang.
“Ah!”
Ia menoleh dengan mata melebar.
Sensasi hangat menyebar dari punggung ke seluruh tubuhnya.
“Apa yang baru saja kau lakukan?”
Su Yang tidak menjawab.
Jarinya bergerak lagi.
Setiap tekanan jatuh tepat pada titik yang berbeda. Tidak terlalu keras, tidak terlalu lembut.
Napas wanita itu mulai berubah.
“Kau…”
Barulah ia memahami kenapa begitu banyak murid Aula Pengobatan memuji kemampuan Su Yang.
Teknik ini berada pada tingkat yang sama sekali berbeda.
Sensasi nyaman menyebar semakin kuat. Otot-ototnya yang tegang menjadi ringan, sementara aliran Qi dalam tubuhnya seolah ikut bergerak mengikuti setiap sentuhan.
“Bagaimana?” tanya Su Yang.
Wanita itu menggigit bibir.
“Jangan banyak bicara.”
Su Yang tersenyum.
“Bukankah tadi kau mengatakan teknikku buruk?”
“Aku sedang menilai!”
“Begitu rupanya.”
Tangannya kembali bergerak.
Wanita itu segera membenamkan wajah ke ranjang untuk menahan suara yang hampir lolos dari bibirnya.
Namun semakin lama Su Yang melanjutkan, semakin sulit baginya menjaga ketenangan.
“Aku rasa sekarang kau memahami perbedaannya,” kata Su Yang.
“Diam dan lanjutkan!”
Su Yang hampir tertawa.
Waktu terus berjalan.
Batas yang awalnya ditetapkan wanita itu perlahan menjadi semakin kabur ketika tubuhnya semakin sensitif. Beberapa kali ia bahkan meminta Su Yang memijat bagian yang sebelumnya tidak termasuk dalam ujian.
Su Yang sengaja mengingatkan, “Bukankah kau sendiri yang membuat aturan?”
Wajah wanita itu memerah.
“Aku pengujinya. Aku boleh mengubah aturan!”
“Menarik.”
Su Yang melanjutkan dengan senyum puas.
Pada akhirnya, ujian yang seharusnya menjadi kesempatan untuk mempermalukan Su Yang justru berbalik sepenuhnya.
Ketika satu jam berakhir, wanita itu terbaring lemas di ranjang. Napasnya masih belum teratur, sementara wajahnya merah sampai ke telinga.
Su Yang merapikan pakaiannya.
“Senior, satu jam sudah selesai.”
Tidak ada jawaban.
“Aku akan memberimu waktu untuk menentukan nilai.”
Wanita itu hanya menatapnya dengan campuran malu, kesal, dan sesuatu yang jauh lebih rumit.
Su Yang tersenyum.
“Semoga penampilanku tidak terlalu mengecewakan.”
Ia meninggalkan ruangan.
Tetua Wu langsung menghampirinya.
“Bagaimana?”
“Aku belum diberi nilai.”
“Belum?”
Tetua Wu terkejut.
“Lalu pengujimu?”
“Masih di dalam.”
“Kenapa?”
Su Yang tersenyum misterius.
“Lebih baik tanyakan sendiri kepadanya.”
Setelah mengatakan bahwa ia akan menunggu hasil di kediamannya, Su Yang pergi.
Tetua Wu segera masuk ke ruangan.
Beberapa detik kemudian—
“MATRIak?!”
Teriakannya menggema.
Wanita yang tadi menguji Su Yang ternyata bukan orang biasa.
Dia adalah salah satu dari dua pemimpin tertinggi Sekte Bunga Mendalam.
Matriak sekte.
“Jangan menyentuhku!”
Matriak buru-buru menghentikan Tetua Wu yang hendak membantunya berdiri.
“Tubuhku masih terlalu sensitif.”
Tetua Wu tercengang.
“Apakah Su Yang melakukan ini?! Aku akan menangkapnya!”
“Berhenti!”
Suara Matriak berubah tegas.
Tetua Wu langsung membeku.
“Aku sendiri yang datang untuk mengujinya. Semua yang terjadi di ruangan ini berada dalam batas persetujuanku.”
“Tapi…”
“Lupakan semua yang kaulihat.”
Tatapan Matriak menjadi tajam.
“Tidak boleh ada seorang pun mengetahui kejadian hari ini. Ini perintah langsung dariku.”
Tetua Wu menelan ludah.
“Baik, Matriak.”
“Keluar.”
Tetua Wu segera pergi.
Begitu pintu tertutup, Matriak bersandar sambil mengembuskan napas panjang.
Bayangan Su Yang kembali muncul di pikirannya.
“Bocah itu…”
Senyum perlahan muncul di bibirnya.
Ia awalnya datang karena penasaran terhadap perubahan Su Yang.
Namun hasil yang diperolehnya jauh melampaui dugaan.
Kemampuan pria itu jelas bukan sesuatu yang bisa dipelajari seorang murid Pelataran Luar dalam waktu singkat.
Lebih aneh lagi, dari kedekatan mereka selama ujian, ia sempat merasakan sesuatu yang familier dari energi Su Yang.
Energi Yang yang sangat murni.
Matriak menyipitkan mata.
“Bunga Yang Murni…”
Su Yang jelas berbohong mengenai apa yang sebenarnya terjadi setelah membeli bunga tersebut.
Dan itu bukan satu-satunya rahasia yang ia sembunyikan.
Matriak tertawa kecil.
“Su Yang…”
Rasa penasarannya terhadap pria itu semakin besar.
“Berapa banyak rahasia yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?”
......................
Bersambung...
udah tahu wajahnya saja bisa membuat para lelaki iri hati malah dengan sengaja mengajak semua wanita di rumah makan untuk bergabung dengan dia🤭🤭🤭🤣🤣🤣
semoga dalam beberapa hari dekat ini akan ada lebih banyak atensi dan juga apresiasi untuk semua karyamu👍👍👍
karena sebelum ini ada beberapa novel yang seperti dihapus karena mungkin terdapat adegan yang tergolong vulgar
Aku berharap ini akan terus berlanjut sampai ceritanya benar-benar tamat