Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.
Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:
Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.
Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 10 - Gerbang yang Tak Pernah Terbuka
Angin puncak gunung menderu kencang, menusuk hingga ke tulang, namun tak ada yang bergidik. Vorath mendarat dengan tenang di celah tebing yang tersembunyi di balik tirai kabut tebal — di sana berdiri pintu batu tua, tertutup lumut tebal namun kokoh, seakan tak tersentuh selama ribuan tahun.
"Ini pintu masuk rahasia," bisik Vorath, suaranya berat namun rendah. "Dulu hanya penjaga gerbang sejati yang boleh melaluinya. Sekarang… tak ada yang ingat jalannya."
Kai melangkah maju, liontin di dadanya mulai hangat. Saat ia mendekat, ukiran naga di pintu batu itu perlahan menyala — menyambut cahaya emas yang memancar dari dirinya. Pintu itu terbuka perlahan, tanpa suara, menampakkan lorong panjang yang remang-remang, dindingnya dipenuhi lukisan kuno yang menceritakan kisah masa lalu.
Mereka masuk satu per satu. Aurelia berjalan di samping Kai, tangannya merangkul erat jubah ayahnya, matanya tak lepas dari lukisan-lukisan di dinding. Gambar-gambar itu menampilkan naga-naga yang turun dari langit, menyatu dengan manusia, menciptakan peradaban yang damai — dan di bagian paling ujung, tergambar perpecahan: sebagian ingin menjaga keseimbangan, sebagian lain ingin menguasai kekuatan murni untuk diri sendiri.
"Inilah asal mula segalanya," gumam Lyra pelan, menatap lukisan terakhir. "Perang itu tak pernah benar-benar berakhir. Hanya berubah bentuk."
Lorong itu berakhir di ruangan luas yang memancarkan cahaya samar — tempat di mana dinding batu di seberang mereka bukan lagi dinding, melainkan jendela raksasa yang menghadap ke halaman utama benteng Menara Bayangan. Di bawah sana, ratusan prajurit berjubah hitam berbaris rapi, dan di tengahnya, berdiri Arwan bersama sosok yang jauh lebih tinggi, mengenakan jubah hitam keemasan yang menyala gelap — Pemimpin Menara Bayangan.
"Kita terlambat," desis Ren pelan. "Mereka sudah siap."
"Dan mereka tahu kita di sini," tambah Elara, tangannya mencengkeram gagang pedang erat.
Sosok Pemimpin itu tiba-tiba menoleh ke arah dinding tempat mereka bersembunyi, seakan bisa melihat menembus batu. Ia mengangkat tangan, dan seketika itu pintu belakang ruangan mereka tertutup rapat, menyegel mereka di dalam.
"Selamat datang, Keturunan Naga," suaranya bergema, bukan dari luar, melainkan mengisi seluruh ruangan itu. "Aku sudah menunggu sejak lama."
Kai melangkah ke depan, menatapnya lurus. "Siapa kau?"
Sosok itu tersenyum tipis, lalu perlahan melepaskan tudung jubahnya. Wajahnya tua, berkerut, namun matanya tajam dan penuh kekuasaan — wajah yang terlihat samar di cermin kenangan Kai, namun tak pernah berani ia ingat sepenuhnya.
"Namaku Valerius," ucapnya pelan namun menggetarkan lantai. "Dan aku… adalah kakekmu, Kai."
Hening menyelimuti ruangan itu. Kai mundur selangkah, napasnya tertahan.
"Itu… tidak mungkin," suaranya pecah pelan. "Kakekku sudah mati. Sejak aku masih kecil."
"Kau diberitahu begitu," Valerius melangkah maju seakan berdiri tepat di hadapan mereka, meski masih di bawah sana. "Aku mundur, menyembunyikan diri, membangun kekuatan ini — demi menyelamatkan keturunan kita. Darah naga terlalu berharga untuk disia-siakan, dan terlalu berbahaya jika dibiarkan tumbuh tanpa kendali."
Ia menunjuk ke arah Aurelia yang berdiri di samping Kai. "Gadis kecil itu — kekuatannya bukan anugerah. Itu bencana yang sedang tumbuh. Jika ia terus berkembang, ia akan melenyapkan setiap dunia yang ia sentuh. Itulah sebabnya aku menyuruh Arwan — muridku, sekaligus pamanmu — menghentikanmu sebelum terlambat."
Kai menggeleng kuat, menolak mempercayainya. "Kau mengkhianati keluargaku. Kau menyakiti istriku, kau membiarkan Aurelia menderita — dan kau menyebutnya menyelamatkan?"
"Kau tak paham!" Valerius meninggikan suaranya, wajahnya berubah tegang. "Ribuan tahun lalu, leluhur kita melakukan kesalahan yang sama — membiarkan kekuatan tumbuh tanpa batas. Hasilnya? Dunia hancur, separuh peradaban musnah dalam satu malam. Aku tidak akan membiarkan sejarah terulang! Aku akan mengurung kekuatan itu, menjaganya terkendali, sampai ada cara untuk menjinakkannya selamanya."
"Menjinakkan?" suara Aurelia terdengar kecil namun jernih, membelah ketegangan. Ia melangkah maju, menatap Valerius seakan bisa melihat langsung ke matanya. "Kau tak ingin menjinakkan. Kau ingin menguasainya. Kalau kau benar-benar peduli, kau akan datang dan membantu kami, bukan menyakiti kami."
Valerius terdiam sejenak, lalu tersenyum pahit. "Anak yang polos. Kau pikir kekuatan sebesar itu bisa diajak bicara? Ia harus dikuasai, dikendalikan, dipaksa patuh — atau ia akan memakan tuannya sendiri."
"Kau salah," potong Kai tegas, kakinya kembali kokoh. "Kau melihat kekuatan sebagai musuh. Aku melihatnya sebagai bagian dari diri kami. Aurelia tidak akan menghancurkan apa pun. Ia sudah menyembuhkan orang, melindungi kami, memberi harapan. Dan kau… kau yang menjadi bahaya sesungguhnya. Karena kau takut untuk percaya."
Valerius menghela napas panjang, lalu wajahnya mengeras. "Kalau begitu, sayang sekali. Aku tidak akan membiarkan perasaan cucuku menghancurkan semua yang kusiapkan selama puluhan tahun. Serahkan gadis itu, dan kau boleh hidup bersamaku. Menjadi pewaris yang benar-benar siap."
"Takkan pernah," jawab Kai tegas, cahaya keemasan meledak dari tubuhnya. "Aku tidak akan menyerahkan putriku kepada siapa pun — apalagi kepada orang yang menyembunyikan kebenaran di balik penderitaan keluargaku."
"Baiklah," Valerius mundur perlahan, tatapannya dingin. "Kalau begitu, ambil dengan paksa."
Ia memberi isyarat. Dinding di depan mereka terbuka lebar, dan ratusan prajurit menyerbu masuk. Arwan memimpin di barisan depan, pedangnya terhunus, tatapannya pada Kai bercampur kesedihan dan ketegasan yang menyakitkan.
"Maafkan aku, Kai," bisiknya pelan saat mereka berhadapan. "Aku tidak punya pilihan lain."
"Kau punya pilihan!" bentak Kai, menangkis serangannya tanpa membalas mematikan. "Kau hanya takut melawan Valerius! Takut mempertanyakan kebenarannya!"
Pertarungan itu meletus di ruangan sempit. Elara dan Ren menjaga sisi kanan, Dagan dan Vorath menahan serangan dari kiri, sementara Kai bertarung berhadapan langsung dengan Arwan. Setiap benturan pedang membawa kenangan masa lalu — pelajaran, tawa, momen yang dulu ia anggap paling berharga. Namun kini semuanya berubah menjadi pedang yang menancap di dada.
"Mengapa kau tidak melihat?" seru Kai, menangkis serangan keras hingga mundur selangkah. "Valerius berbohong! Ia tak menyelamatkan siapa pun — ia hanya ingin berkuasa!"
"Dia kakekmu!" Arwan membalas dengan suara bergetar. "Dia menyelamatkan hidupmu saat bayi! Dia yang membesarkanmu tanpa kau ketahui! Bagaimana mungkin dia berbohong?"
"Kalau dia benar, mengapa dia tak datang sendiri? Mengapa menyembunyikan kebenaran?" Kai melompat mundur, menatap lurus ke mata Arwan. "Karena dia tahu kebenarannya tidak akan diterima. Dia takut kami memilih jalan yang berbeda — jalan yang tak bisa dia kendalikan."
Arwan terhenti sesaat, keraguan mulai menyusup ke matanya. Di saat itulah, dari belakang Arwan, seorang prajurit melesat dengan belati beracun — bukan ke arah Kai, melainkan ke arah Arwan sendiri.
"Kau ragu, maka kau tak berguna," desis prajurit itu dingin.
Arwan tersentak, tak sempat berbalik. Namun sesuatu yang lebih cepat bergerak — Aurelia melesat ke depan, cahaya putih keemasan membentuk perisai yang menahan serangan itu, namun kekuatan hantamannya mendorongnya jatuh ke tanah.
"Aurelia!" teriak Kai, melompat ke arah putrinya tanpa memedulikan apa pun.
Belati itu terlepas, namun luka kecil sudah muncul di lengan gadis itu. Cahayanya meredup seketika, napasnya tersengal lemah.
Valerius muncul di celah kerumunan, melangkah perlahan mendekat. "Sudah kubilang… ia rapuh. Ia tak sanggup menampung kekuatan itu. Serahkan padaku, Kai. Biarkan aku menyelamatkannya."
Kai memeluk putrinya erat, menatap Valerius dengan mata yang tak lagi berisi keraguan, melainkan tekad yang sekeras batu.
"Kau tak menyelamatkan siapa pun," ucapnya pelan namun menggetarkan seluruh ruangan. "Kau hanya ingin memiliki. Dan hari ini… kau akan belajar perbedaan antara kekuasaan dan kasih sayang."
Ia meletakkan Aurelia perlahan di lantai yang aman, lalu berdiri tegak. Cahaya keemasan di tubuhnya berubah — bukan meledak liar, melainkan tenang, dalam, kokoh seperti gunung yang tak tergoyahkan. Ia melangkah maju, dan setiap langkahnya membuat tanah bergetar.
"Kau mengajarkan aku kekuatan untuk menghancurkan," ucapnya, menatap Valerius. "Sekarang lihatlah apa yang aku pelajari untuk melindungi."