Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.
Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!
Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)
Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21: Sesi P3K privat dan skincare yang bikin salting
Setelah kekacauan serangan babi hutan dan penangkapan pembunuh bayaran berhasil diatasi, pasukan khusus bergerak cepat mendirikan tenda darurat yang baru di area sektor selatan. Suasana malam di Hutan Terlarang kembali sunyi, menyisakan kepulan asap dari obor-obor penjaga yang berpatroli ketat.
Di dalam tenda utama yang hangat, Xie Yufei duduk di atas bantalan bulu yang empuk. Di luar, dia memasang wajah super melankolis dengan tatapan kosong, meremas ujung saputangannya seolah-olah jiwanya masih terguncang hebat akibat insiden tadi. Namun, seperti yang sudah-sudah, isi kepalanya justru sedang sibuk menghitung untung-rugi layaknya akuntan korporat:
(Aduh... kulit tangan gue yang mulus dan glowing ini agak lecet gara-gara pegangan kencang banget di surai kuda tadi. Perih-perih manja gimana gitu, bund. Tapi gak apa-apa deh, yang penting nyawa aman dan investasi emas bonusan semalam gak hilang. Cuma ya itu... minyak sereh konsentrat gue habis bis bis! Formula langka itu padahal bikinnya butuh tenaga ekstra. Semoga Mas Jenderal peka ya, minimal diganti rugi pake dana kompensasi kecelakaan kerja lah ya.)
Sret.
Tirai tenda mendadak tersingkap. Pangeran Mo Cheng melangkah masuk tanpa jubah zirahnya, hanya mengenakan jubah tidur sutra longgar berwarna biru muda. Di tangannya, dia membawa sebuah kotak kayu giok kecil berisi salep herbal istana.
Melihat kedatangan sang pangeran, Yufei buru-buru menegakkan punggungnya, bersiap memberikan salam penghormatan dengan suara cicitan rapuh andalannya. "Yang Mulia Pangeran... Anda belum beristirahat?"
"Duduklah, Nona Xie. Tidak perlu seformal itu saat tidak ada orang luar," potong Pangeran Mo Cheng dengan suara berat yang terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.
Pangeran duduk di hadapan Yufei, lalu tanpa ragu meraih pergelangan tangan kanan Yufei yang tampak memerah dan sedikit lecet. Gerakan tangan sang pangeran sangat pelan dan hati-hati, seolah-olah dia sedang memegang barang porselen yang sangat rapuh dan mudah pecah.
DEGGG!
Kontak fisik yang tiba-tiba itu seketika membuat otak Yufei mengalami blank sesaat. Di luar dia hanya bisa membeku menatap jemari panjang pangeran yang mulai mengoleskan salep dingin ke kulitnya. Namun di dalam hatinya, jeritan batin Yufei langsung bergemuruh heboh dengan kecepatan tinggi:
(MAMAAAKKK!!! Ini kenapa Bos Besar malah turun tangan langsung jadi petugas P3K dadakan?! Mana wajahnya dekat banget lagi, sampai gue bisa ngeliat bulu matanya yang lentik sempurna! Aroma kayu cendananya campur wangi sereh sisa tadi kok malah makin bikin pusing ya? Jantung gue berisik bener, tolong dong dikondisikan! Ini kalau di dunia modern udah masuk kategori service bos yang terlalu skinship ama bawahannya, bisa memicu gosip satu kantor istana woy!)
Pangeran Mo Cheng yang sedang mengoleskan salep dengan telaten mendadak menghentikan gerakan jemarinya selama satu detik. P3K? Skinship? Kantor istana? Telinga sang pangeran perlahan-lahan berubah menjadi merah padam mendengar kepanikan batin Yufei yang sangat kocak namun penuh pujian terselubung tentang bulu matanya.
Demi menjaga wibawa dan menutupi rasa salah tingkahnya yang mulai membubung tinggi, Pangeran Mo Cheng tetap menunduk dan pura-pura fokus pada luka lecet di tangan Yufei.
"Minyak yang kau siramkan ke mata pembunuh tadi... baunya sangat kuat," ucap Pangeran Mo Cheng, sengaja memancing pembicaraan dengan suara serak. "Prajuritku bilang, mata orang itu memerah brutal dan dia terus menangis tanpa henti. Kau menyebut cairan itu apa tadi... skincare organik?"
KUK!
Yufei langsung menahan napasnya rapat-rapat di luar, matanya membelalak kaku. Di dalam hatinya, alarm detektif dadakan langsung berbunyi dengan volume maksimal:
(LOH?! BENTAR, BENTAR! Kok Mas Jenderal bisa tahu istilah skincare organik?! Perasaan tadi pas di atas kuda gue cuma teriak dalam hati deh?! Apa jangan-jangan... tebakan gue yang waktu itu bener? Dia beneran punya ilmu hitam pembaca pikiran?! Mampus gue! Kalau dia beneran bisa denger semua gibahan batin gue selama ini, fix besok pagi kepala gue udah menggelinding di alun-alun kota!)
Mendengar batin Yufei yang ketakutan setengah mati hingga mengira kepalanya akan dipenggal, Pangeran Mo Cheng diam-diam mengembuskan napas panjang. Dia sadar dirinya hampir saja melakukan kesalahan fatal dengan membocorkan rahasia aliansi pendengar rahasia akibat rasa penasarannya yang terlalu besar.
Dengan kecepatan berpikir seorang panglima perang, Pangeran Mo Cheng langsung memasang wajah datar tanpa dosa, lalu mendongak menatap Yufei dengan pandangan bingung yang dibuat-buat.
"Xie Jian yang memberitahuku," dusta Pangeran Mo Cheng dengan ekspresi super meyakinkan. "Saat memeriksa barang-barang yang tersisa di paviliunmu sebelum keberangkatan, dia melihat botol itu dan kau sempat menggumamkan kata aneh seperti 'ramuan skin-kare' kepada Xiao Mei. Aku hanya menebaknya. Apakah aku salah sebut?"
Mendengar penjelasan rasional dan kambing hitam bernama Xie Jian tersebut, Yufei langsung mengembuskan napas lega yang teramat panjang di dalam hatinya. Jiwa anak IPA-nya kembali tenang.
(Oalah... Kakak Xie Jian toh biang keroknya! Dasar abang laknat, mulutnya lemes bener pake bocorin istilah modern ke Mas Jenderal. Bikin jantungan aja deh ah! Lagian mana mungkin Mas Jenderal yang super kuno begini punya kekuatan mutan mind-reading kayak di film fiksi ilmiah.)
Pangeran Mo Cheng diam-diam tersenyum lega di dalam hatinya setelah berhasil mengecoh kecurigaan Yufei. Dia menyelesaikan olesan salep terakhir, lalu menutup kotak giok tersebut. Sang pangeran menatap Yufei lekat-lekat, matanya memancarkan kehangatan tulus yang mendalam.
"Istirahatlah yang cukup, Penasihat Xie. Besok pagi kita harus kembali ke ibu kota. Dan mengenai cairan skincare milikmu yang habis... aku akan memerintahkan gudang kerajaan untuk mengirimkan puluhan botol minyak sereh wangi premium ke kediamanmu sebagai ganti rugi," ucap Pangeran Mo Cheng lembut sebelum berdiri dan melangkah keluar dari tenda.
Di dalam tenda yang kini sepi, Yufei hanya bisa melongo manis menatap pintu tenda yang tertutup, sementara di dalam hatinya dia langsung bersorak heboh kegirangan: (ASIKKK! Dapet ganti rugi puluhan botol gratis! Mas Jenderal, lu emang bos terbaik abad ini! Love you sekebon jilid dua deh!)
Mendengar seruan batin "Love you sekebon jilid dua" dari kejauhan luar tenda, langkah kaki Pangeran Mo Cheng mendadak terhenti di tengah jalan. Meskipun dia tetap tidak tahu berapa luas ukuran dari "sekebon", gelombang emosi kegembiraan yang meluap-luap dari jiwa Yufei sukses membuat sang pangeran dingin tersenyum sangat lebar dengan wajah yang memerah sempurna di bawah kegelapan malam.