Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.
Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Aku Yang Akan Menghangatkan Tubuhmu
"Baringkan dia di ranjang, buka dan ganti bajunya. Kamu bersihkan dulu sekujur tubuhnya dengan kain waslap. Ayo...segera lakukan! Mama mau memasak nasi tim untuk istrimu. Setelah dia sadar sepenuhnya, dia harus makan dan minum obat." Bu Karina menyodorkan baskom ukuran sedang dengan air hangat dan handuk kecil di dalamnya untuk mewaslap tubuh Nayra.
"Tapi, Ma. Nayra tidak sadarkan diri?!" Ardana justru terlihat bingung, apakah titah Bu Karina tidak akan menimbulkan apa-apa terhadap Nayra yang tidak sadarkan diri.
"Lakukan apa yang mama suruh! Kamu ini suaminya, kenapa bingung begitu? Lagipula dia bukan tidak sadarkan diri sepenuhnya. Lihat, dia itu menggigil efek dari panas dingin yang sedang ia rasakan. Tidak akan ada efek samping apa-apa, asal lakukan dengan cepat tapi hati-hati," ucap Bu Karina ketus. Wanita paruh baya itu seperti kesal dengan Ardana yang terlihat klamar-klemer seperti itu.
"Maksud Arda, Arda hanya takut saja kalau diwaslap malah membuat Nayra kedinginan. Dia kan saat ini sedang panas dingin. Tubuhnya saja menggigil," jawab Ardana membela diri.
"Lakukan saja. Baju dia itu basah oleh keringat, dan lagi baju yang dia pakai terlalu tipis untuk seseorang yang sedang sakit panas dingin," titah Bu Karina sambil berlalu, tidak mau lagi berdebat dengan Ardana.
Akhirnya Ardana segera bergerak, ia membuka seluruh baju di tubuh Nayra, satu per satu.
"Di~dingin, di~ngin," ucapnya terbata dan lemah, ditambah tubuhnya yang menggigil.
Ardana baru saja selesai melepas semua baju itu, lalu perlahan menyeka tubuh Nayra mulai dari wajah hingga bawah. Perlahan tapi pasti, sekujur tubuh itu sudah diseka tidak ada yang terlewat.
"Dinginnnn...." ucapnya lagi, disertai tubuh yang masih menggigil.
Ardana segera meraih pakaian ganti Nayra yang mau ia pakaikan, dari mulai inner sampai mantel untuk melindungi tubuh Nayra yang menggigil.
Sekonyong-konyong, tatap mata Ardana berkilat penuh hasrat, sebelum pakaian itu melekat di tubuh istrinya. Seminggu lebih ia dan Nayra belum pernah lagi berhubungan. Dan entah kenapa, saat ini hasrat itu timbul ketika Nayra sedang terbaring dan tubuhnya menggigil.
"Aku akan menghangatkanmu, Nay," bisiknya nyaris tanpa suara. Kecupan lembut penuh perasaan sudah berlabuh. Ardana kehilangan arah, tanpa batas lagi ia benar-benar melakukannya penuh perasaan.
Dekapan dan kecupannya lembut, memenuhi seluruh tubuh dan wajah Nayra. Seakan menumpahkan kerinduan yang sudah lama ia simpan begitu lama.
"Ahhh...." Ada desah yang tertinggal di sisa-sisa sentuhannya. Desah yang keluar secara bersamaan. Entah sadar atau tidak, saat itu Ardana masih menatap wajah Nayra dengan lembut, sementara Nayra sejak tadi terpejam, sayu.
"Aku tidak tahu apa yang kamu rasakan, yang jelas aku sangat berterima kasih padamu," gumamnya seraya kembali mengecup kening Nayra untuk yang terakhir, sebelum ia mengangkat tubuhnya dari tubuh Nayra yang masih menggigil.
Dengan gerakan cepat, Ardana sudah kembali memakai pakaiannya seperti tadi, kini giliran Nayra. Satu persatu pakaian itu mulai ia pakaikan di tubuh Nayra.
"Setengah jam," gumamnya. "Beruntung Mama belum selesai di dapur."
"Kotrak." Suara pintu dibuka dari luar. Ardana cukup terkejut. Tubuh Bu Karina muncul dari celah pintu sembari membawa air teh jahe yang masih mengepul uap asapnya ke udara.
"Arda, sudah selesai? Ini Mama sudah buatkan air teh jahe untuk istrimu. Nanti bisa diberikan setelah hangat."
Gerakan tangan Ardana terhenti tepat saat ia masih memakaikan kaos dalam atau tank top di tubuh Nayra. Ardana terlihat gugup dan salah tingkah. Ia benar-benar shock saat ini.
"Ya ampun, kamu belum selesai juga dari tadi? Memasang bajunya saja tidak bisa. Sini, biar Mama yang pakaikan. Kamu ini benar-benar keterlaluan. Sudah tahu istrimu panas dingin, tubuhnya menggigil. Tapi memasang pakaiannya saja dari tadi belum beres-beres. Bisa-bisa dia tambah kedinginan," omel Bu Karina kesal melihat Ardana yang dilihatnya baru akan pasang kaos dalam Nayra.
"Arda sudah berusaha, Ma. Arda sudah menghangatkan Nayra...." Ardana segera menutup mulutnya karena ia merasa keceplosan.
"Ahh...omong kosong kamu ini. Begini saja nggak becus," omel Bu Karina lagi, sepertinya ia tidak ngeuh dengan yang tadi dikatakan Ardana.
"Selamat-selamat." Ardana tersenyum kecil saat Bu Karina tidak menyadari apa yang ia katakan tadi, sambil mengelus dada.
Tidak butuh waktu lama, tubuh Nayra sudah terbalut pakaian lengkap dan mantel tebal yang cukup untuk menghangatkan tubuhnya.
"Sekarang jaga dia, kalau dia tersadar penuh, bantu bangunkan dan bujuk untuk minum air teh jahe itu. Mama harus ke dapur, nasi timnya sebentar lagi masak," ujar Bu Karina sembari bangkit dan bergegas keluar dari kamar itu.
Ardana mengusap dadanya pelan, ia merasa lega, karena ulahnya tadi tidak ketahuan Bu Karina.
NB: Maaf hari ini hanya satu bab dan tidak terlalu panjang. Sejak pagi mood saya hilang, karena tadi pagi telah kehilangan benda yang cukup berharga dalam hidup saya, karena kecerobohan saya juga sebetulnya. Sedih sih, tapi mungkin belum rezeki. Semoga Allah gantikan. Saya berdoa buat pembaca semua, kalian harus hati-hati menyimpan barang yang sekiranya berharga dan jangan pelupa. Ini gara-gara pelupa dan teledor. Ya Allah, semoga terganti....🤲🤲🤲
Dan Ardana kamu tuh bodoh , mau aja dibohongin sama Tiana 😡😡😡
Udah deh ini mah fix kamu harus harus pergi Nayra daripada tersiksa batin kamu , kamu berhak bahagia Nayra 🫢🫢🫢
mantau dikit lagi nih...