NovelToon NovelToon
Saga Delapan Kristal

Saga Delapan Kristal

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Action / Anime / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: AryaAulani

Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 LEMBAH HITAM

Angin dari selatan membawa bau debu dan besi tua ketika aku melewati gerbang terakhir distrik pelatihan. Di punggungku tergantung sebilah pedang bersarung kulit lusuh, dan di sabukku terselip sepotong roti kering, bekal terakhir dari guruku.

"Arka, Aku mau kamu cari tahu siapa makhluk yang bernama entitas itu," pesannya semalam, tanpa menatap mataku. "Tapi ingat, Jangan bertarung dulu. Cukup cari tahu aja."

Aku mengangguk waktu itu, tapi dalam hati aku anggap pesannya berlebihan. Sepuluh tahun aku ditempa di distrik paling selatan. Aku sudah mematahkan tongkat lawan-lawan yang lebih tua, dan tak seorang pun di angkatanku pernah menjatuhkanku. Apa pun yang mengintai di luar sana, pikirku, hanya perlu sedikit ketegasan.

Tiga pekan aku berjalan. Kususuri padang ilalang yang menguning, kuseberangi sungai dangkal, dan kutiduri tempat di bawah pohon-pohon yang akarnya mencengkeram tebing. Setiap malam aku melatih jurus di depan api unggun kecil, sampai keringat membasahi kerah dan tulangku terasa ringan. Itu caraku menenangkan diri; selama tubuhku bergerak, aku yakin aku belum berubah menjadi orang yang takut.

Kadang aku teringat pada halaman latihan di selatan, pada bunyi kayu beradu sebelum fajar dan suara guruku yang berat. Ia tak pernah memujiku di depan orang lain. Dulu kukira itu karena aku belum cukup baik. Sekarang, di tengah jalan yang sepi ini, aku mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya ia takutkan ?

Di setiap desa kudengar bisik-bisik yang sama: ternak yang gelisah tanpa sebab, sumur yang airnya berubah keruh, dan bayangan tinggi yang terlihat di batas hutan saat senja. Seorang nenek di desa terakhir menggenggam tanganku dan memintaku tidak melangkah lebih jauh ke utara. Aku tersenyum sopan, menyimpan pesannya dalam ingatan, lalu tetap berjalan.

Pada hari ke 22, aku tiba di sebuah lembah sunyi yang dikelilingi batu-batu hitam menjulang. Langit sore berwarna tembaga. Tak ada burung, tak ada serangga. Kesunyian itu terlalu rapi, seperti napas yang ditahan.

Di antara batu-batu itu, tanah terasa bergetar pelan, seperti denyut jantung raksasa yang tertidur. Bulu kudukku berdiri. Seharusnya aku mundur. Setiap naluri yang diajarkan guruku berteriak agar aku berbalik, tapi kakiku terus melangkah masuk, sebab rasa ingin tahu dan kesombongan ternyata bisa berjalan beriringan.

Aku berhenti. Aku merasakan kehadiran seseorang didekatku. Tanganku otomatis turun ke gagang pedang.

"Tampaknya Kau berjalan seperti orang yang mengira dunia ini miliknya ya...."

Suara itu datang dari segala arah sekaligus, dingin dan datar.

"Siapa kau?" tanyaku. Suaraku lebih mantap dari yang kurasakan.

tengah lembah, udara bergetar, lalu bayangan menggumpal menjadi sosok jangkung berselubung kabut hitam. Matanya dua titik merah tanpa kelopak. Ketika ia melangkah, tanah di bawah kakinya layu menjadi abu.

"Aku muak melihat kalian manusia manusia lemah." Ia memiringkan kepala.

"Aku bahkan tidak mengenalmu," kataku, meski aku sendiri merasa kata-kataku hampa.

"Justru itu," jawabnya pelan. "Kau sebenarnya tak perlu mengenalku."

Tak ada peringatan lagi. Ia menghilang, lalu sesuatu menghantam dadaku sebelum pikiranku sempat menangkap gerakannya. Aku terlempar dan punggungku menghantam batu. Napasku terputus. Refleks latihan menyelamatkanku. Aku berguling, menarik pedang, dan menebas ke tempat bayangan itu muncul.

Bilahku membelah kabut, tapi tak menemukan apa pun.

Dari kiri. Dari belakang. Dari atas. Kabut itu menyentuhku di sepuluh tempat sekaligus, dan setiap sentuhan meninggalkan luka dingin yang membuat ototku kaku. Aku memutar pedang dalam lingkaran lebar, jurus pertahanan yang dulu tak bisa ditembus siapa pun di arena latihan. Sosok itu hanya tertawa pendek, seolah aku sedang menari untuk menghiburnya.

Aku bangkit dan memasang kuda-kuda seperti yang diajarkan guruku seribu kali. Tebasan pertama, tebasan kedua, lalu tusukan rendah yang pernah menjatuhkan pemimpin angkatanku. Setiap serangan sempurna, dan setiap serangan hanya mengiris udara. Sosok itu bergerak seolah tahu apa yang akan kulakukan sebelum aku sendiri memutuskannya. Dalam dadaku, keyakinan yang kubawa dari selatan mulai retak seperti kaca tipis.

Sebuah tangan hitam menangkap pergelangan tanganku. Dinginnya menembus sampai ke tulang. Pedangku terlepas, berdenting di tanah, dan detik berikutnya lututku dihantam hingga aku jatuh berlutut.

"Inikah yang kamu banggakan?" bisiknya di dekat telingaku.

"Kekuatan yang bahkan tak sanggup menahan satu pukulan."

Aku meraung dan menerjang dengan tinju kosong. Satu hantaman di rahang, dan dunia berputar. Aku jatuh dan mencoba bangkit, tapi lenganku tak mau menurut. Rasa panas dan malu menyesakkan dadaku. Sepuluh tahun latihan hancur dalam waktu yang lebih singkat dari satu tarikan napas. Wajah guruku berkelebat di benakku, dan untuk pertama kalinya aku mengerti kenapa ia tak mau menatap mataku.

Dengan pandangan mengabur, kulihat ia berbalik meninggalkanku, seolah aku tak layak dibunuh. Di ujung lembah, di antara batu-batu hitam, berdiri delapan pilar cahaya, masing-masing menyala dengan warna berbeda. Baru kusadari bahwa tanpa sengaja aku berjalan ke tempat yang seharusnya tak boleh didekati siapa pun.

Kedelapan kristal itu berdenyut lembut. Selama ratusan tahun, cahayanya menjaga tanah ini tetap tenang. Kini aku paham: ternak yang gelisah dan sumur yang keruh adalah tanda bahwa seseorang sudah lama mengincarnya.

Sosok itu mengangkat tangan. Kristal-kristal itu bergetar, retak di dasar pilarnya, lalu satu demi satu terlepas dari tanah dan melayang ke arahnya. Cahayanya tersedot masuk ke dalam kabut hitam itu. Merah, biru, hijau, emas. Kedelapannya lenyap, dan lembah pun meredup.

"Hahahaha Tuanku akan senang aku bakal dapat banyak darah darinya," gumamnya.

"Jangan..." Suaraku nyaris tak keluar. Aku merangkak, jariku mencakar tanah. "Kembalikan..."

Kristal-kristal itu bukan milikku, bukan pula tugasku. Tapi saat cahaya terakhir padam, aku merasakan sesuatu terlepas dari dunia, seperti tali yang selama ini menahan segalanya tiba-tiba putus. Dinginnya merambat dari tanah ke tulang-tulangku, dan aku tahu, dengan kepastian yang menakutkan, bahwa semua ini baru permulaan.

Ia menoleh sekilas, tanpa emosi. Kabutnya bergolak, membubung ke langit sore yang kini retak oleh garis-garis gelap, lalu menghilang di balik awan.

Angin berbalik arah. Untuk pertama kalinya sejak berangkat, kudengar sesuatu di kejauhan: jerit-jerit kecil dan tawa parau, seperti makhluk yang baru dibebaskan dari kurungan.

Langit di atasku terasa terlalu rendah. Kulihat sisa cahaya kristal berkedip untuk terakhir kali di antara awan, semakin jauh, semakin kecil, seperti bintang yang dicabut paksa dari tempatnya. Air mataku jatuh tanpa kusadari. Bukan karena luka di tubuhku, melainkan karena aku, si petarung terbaik angkatanku, hanya bisa menonton.

Aku ingin bangkit. Aku ingin mengejar. Aku ingin berteriak bahwa ini belum selesai. Kesadaranku menipis seperti kabut pagi. Tapi gelap menelanku lebih dulu, dan pedangku tergeletak sendirian di atas abu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!