Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.
Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.
Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.
Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.
Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 : Siluman Ular
Lupakan sejenak bayangan siluman iblis serigala raksasa dan rahasia takdir dunia yang rumit, karena bagi para murid divisi luar Perguruan Cang Yue, neraka yang sesungguhnya sedang terjadi pagi ini Latihan Meditasi Penempaan Tulang tingkat dasar.
Di sebelah barat gunung perguruan, tersembunyi sebuah tempat bernama Air Terjun Cermin Naga. Airnya seputih susu, meluncur deras dari tebing setinggi seratus tombak dan menghantam bebatuan sungai di bawahnya dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Hawa dingin merasuk hingga ke sumsum tulang, ditambah kabut air yang tebal membuat tempat ini menjadi lokasi yang paling dihindari, sekaligus paling sempurna untuk menajamkan Qi.
Puluhan murid laki-laki, baik junior maupun beberapa senior pengawas, duduk bersila di atas batu-batu sungai yang licin tepat di bawah hempasan air terjun. Sesuai tradisi keras perguruan, mereka semua diwajibkan bertelanjang dada. Tubuh mereka hanya dibalut celana ku celana kain rami putih berpotongan lebar yang diikat kuat dengan sabuk kain berlapis di pinggang. Di dahi mereka, terikat sehelai mòé atau pita kepala sutra biru untuk menahan rambut panjang yang basah kuyup agar tidak menutupi pandangan.
"Tegakkan punggung kalian! Jangan biarkan dinginnya air meruntuhkan tekad Dantian kalian!"
Suara bariton Guru Bela Diri Wu menggelegar, bahkan mengalahkan suara air terjun. Pria paruh baya dengan bekas luka goresan pedang di dadanya itu berjalan mondar-mandir di atas air tanpa tenggelam, mengawasi para murid dengan tongkat bambu di tangannya.
"Posisi tangan jangan bersandar santai di atas paha seperti kakek-kakek yang sedang berjemur!" bentak Guru Wu. "Angkat kedua tangan kalian! Bentuk Segel Teratai Inti di depan dada! Jari telunjuk dan ibu jari bertemu, biarkan energi alam mengalir menembus jantung kalian!"
Di barisan paling depan, Shen Yuan duduk dengan postur yang luar biasa sempurna. Alisnya berkerut tajam, rahangnya terkatup rapat menahan sakitnya hempasan air yang terasa seperti ribuan jarum es menghantam punggung dan dadanya. Ia sedang memfokuskan energi elemen anginnya. Angin spiritual berwarna kehijauan mulai berputar tipis di sekeliling tubuhnya, mencoba menahan laju air terjun agar tidak langsung menyentuh kulitnya.
"Bagus, Shen Yuan! Pertahankan pusaran angin itu! Sedikit lagi kau akan menembus batas penempaan kulit!" puji Guru Wu sambil mengangguk puas.
Namun, pemandangan membanggakan itu hancur total saat Guru Wu menoleh ke batu di sebelah Yuan.
Di sana, Shen Rui tidak membentuk segel apa pun di dadanya. Alih-alih bermeditasi menahan dingin, pemuda berelemen es itu malah asyik memainkan air terjun. Dengan santainya, Yui menggunakan aliran es dari ujung jarinya untuk membekukan percikan air, membentuk belasan bebek es kecil yang kini berenang-renang mengelilingi tempat duduknya. Ia bahkan bersenandung kecil, membiarkan air terjun membeku membentuk semacam payung transparan di atas kepalanya sehingga tubuhnya sama sekali tidak basah.
Wang Jian, sang tuan muda arogan yang duduk tak jauh dari sana, membuka matanya karena kesal mendengarkan senandung Yui. Wajahnya langsung memerah penuh dengki melihat Yui sama sekali tidak menderita seperti yang lain.
"GURU WU!" Wang Jian langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi memecah keheningan meditasi. "Lapor, Guru! Shen Rui berbuat nakal lagi! Dia sama sekali tidak bermeditasi, malah bermain bebek air dan membuat payung pelindung! Ini tidak adil!"
Guru Wu menoleh. Rahangnya langsung mengeras melihat payung es dan bebek-bebek kecil yang berbaris rapi di sekitar batu Yui. Urat di dahinya berkedut keras.
"SHEN RUI!" raung Guru Wu, melesat ke arah Yui dan mengetukkan tongkat bambunya ke batu. "Apa yang kau lakukan, Hah?! Aku menyuruhmu menyerap penderitaan alam, bukan membuka peternakan bebek es di bawah air terjun!"
Yui membuka sebelah matanya, sama sekali tidak terlihat takut. Ia menghela napas layaknya seorang guru besar yang sedang menasihati muridnya yang kurang cerdas.
"Guru Wu, Anda salah paham," jawab Yui dengan wajah super inosen, suaranya dikeraskan agar menembus suara air. "Ini bukan bermain. Ini adalah Pelatihan Pengendalian Es Mikroskopis Tingkat Dewa. Anda menyuruh kami menyatu dengan alam, bukan? Bebek adalah lambang ketenangan, mengapung di atas air namun kakinya terus mendayung di bawah permukaan. Saya sedang mempraktikkan filosofi tingkat tinggi yang tidak bisa dipahami oleh pikiran sempit seperti Wang Jian."
"Alasan macam apa itu?!" teriak Wang Jian tidak terima. "Guru, dia hanya malas dan takut kedinginan!"
"Kau yang iri karena elemen apimu langsung padam terkena air, dasar arang basah!" balas Yui tak mau kalah, sengaja menjentikkan jarinya hingga salah satu bebek esnya melompat dan menyemprotkan air ke wajah Wang Jian.
"Sudah cukup! Shen Rui, hancurkan payung esmu dan kembalikan tanganmu ke depan dada sekarang juga, atau kutambah waktu hukumanmu tiga jam!" bentak Guru Wu kehabisan kesabaran.
Di saat kekacauan dan adu mulut itu terjadi di tengah sungai, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa ada sepasang mata atau tepatnya, delapan pasang mata yang sedang mengawasi dari balik semak belukar Bambu Mutiara di tebing seberang sungai.
Lin Yue, Mei Lin, Su Yin, Jia Li, dan beberapa gadis lainnya berdesakan di balik semak tebal. Alih-alih menyalin kitab hukuman di asrama, mereka justru mempertaruhkan nyawa merangkak ke area terlarang hanya demi satu tujuan mulia mengintip para murid laki-laki berlatih.
"Sst! Su Yin, jangan dorong-dorong! Daun ini menghalangi pandanganku!" bisik Mei Lin gemas, mencoba mengintip dari celah bambu. Wajahnya bersemu merah. "Wah... lihat otot perut Kakak Senior Li... kotak-kotaknya terlihat jelas saat terkena air."
"Kak Senior Li tidak ada apa-apanya! Lihat Tuan Muda Yui!" pekik Jia Li tertahan sambil memegangi pipinya yang panas. "Meskipun dia menyebalkan, kulitnya sangat mulus dan bahunya... oh Dewa, bahunya sangat bidang. Air terjun itu membuatnya terlihat seperti dewa es yang turun dari surga."
Sementara teman-temannya sibuk mengagumi Yui dan murid senior, Lin Yue justru terdiam mematung. Matanya sejak tadi terkunci pada sosok Shen Yuan yang sedang bermeditasi di barisan depan. Air yang mengalir membasahi dada dan perut Yuan yang atletis, mempertegas garis ototnya yang selama ini tertutup jubah tebal. Rambut hitam Yuan yang basah menempel di lehernya, menambah kesan liar pada wajahnya yang selalu dingin dan kaku.
Tiba-tiba, memori tentang kejadian di atas Jembatan Kayu Melengkung kemarin sore berputar kembali di kepala Lin Yue. Ingatan saat dada bidang itu berbenturan dengan dadanya, saat tangan besar yang hangat itu melingkari pinggangnya, dan saat hembusan napas Yuan menerpa wajahnya.
Wajah Lin Yue mendadak terbakar. Merah padam hingga ke telinga. Jantungnya berdegup gila-gilaan, seolah ada genderang perang yang ditabuh di dalam tulang rusuknya. Ia buru-buru menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Yue? Kau kenapa? Sakit?" bisik Su Yin heran melihat tingkah temannya.
"T-tidak!" elak Lin Yue panik, mencoba bersikap munafik untuk menutupi salah tingkahnya. "Kalian ini benar-benar tidak tahu malu! Mengintip laki-laki mandi dan bertelanjang dada seperti ini melanggar etika seorang kultivator wanita yang berbudi luhur!"
Mei Lin mencibir, memutar bola matanya. "Oh, benarkah, Nona Paling Suci? Lalu apa yang kau lakukan di sini, berdesakan di lumpur bersama kami sejak subuh tadi?"
"Aku... aku hanya mengawasi kalian agar tidak berbuat hal yang tidak senonoh!" kilah Lin Yue gelagapan.
Di saat perdebatan berbisik itu mulai memanas, Jia Li tiba-tiba merasakan sesuatu yang janggal di bawah telapak kaki kirinya. Sesuatu yang panjang, bersisik, tebal, dan... kenyal.
Jia Li menundukkan pandangannya secara perlahan. Tepat di bawah kaki mungilnya, seekor Ular Piton Batu berbisa sebesar paha orang dewasa sedang melingkar santai. Merasa terganggu karena diinjak, kepala ular itu terangkat perlahan, lidahnya menjulur mendesis marah dengan taring beracun yang siap menancap.
Sssssssss...
Wajah Jia Li seketika memucat seperti mayat. Matanya melotot. Napasnya tercekat di tenggorokan selama dua detik penuh sebelum akhirnya...
"UULLLAAAAAARRRRR!!! AAAAAAARRRGGGHHH!"
Jeritan Jia Li membelah langit, mengalahkan deru air terjun dan omelan Guru Wu.
Lupa pada etika, lupa pada hukuman, dan lupa bahwa mereka sedang dalam mode siluman, kedelapan gadis itu langsung melompat setinggi tiga meter dari balik semak-semak. Mereka berlarian tak tentu arah, saling tabrak, berteriak histeris, dan akhirnya tersandung akar pohon hingga beberapa dari mereka berguling jatuh ke tepian sungai berbatu, tepat di depan puluhan murid laki-laki yang sedang bertelanjang dada.
Keheningan yang amat canggung tiba-tiba melanda Lembah Cermin Naga.
Meditasi buyar. Seluruh murid laki-laki, termasuk Wang Jian, Shen Yuan, dan Shen Rui, membelalakkan mata menatap tumpukan gadis berbaju pastel yang kini mengerang kesakitan di pinggir sungai.
Guru Wu berdiri mematung, tongkat bambunya lolos dari genggaman dan jatuh ke air. Wajah sang Guru perlahan berubah merah padam, menyamai warna jubah Tetua Pertama.
"MURID PEREMPUAN?!" raung Guru Wu dengan suara yang rasanya bisa meruntuhkan tebing batu di atas mereka. "APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?! ASRAMA SELATAN BENAR-BENAR SUDAH GILA!"
Yui, yang selalu berhasil menemukan komedi di setiap bencana, menyilangkan tangannya di depan dada yang telanjang, lalu tersenyum nakal ke arah Lin Yue yang sedang berusaha bangkit dengan wajah berlumur lumpur.
"Studi lapangan fluktuasi Qi lagi, Nona-nona?" goda Yui dengan suara dikeraskan, membuat wajah Lin Yue dan gadis-gadis lainnya semakin memerah karena malu hingga rasanya ingin menenggelamkan diri ke dasar sungai saat itu juga.
****
Likeeee teman-temanku.