Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Jahat
“Nia!”
Langkah Kania terhenti saat seorang teman memanggilnya. Gadis itu menunggu sampai Salsa tiba di dekatnya.
Napas Salsa terengah-engah begitu sampai di dekat Kania. Gadis itu menarik napas panjang sejenak untuk menenangkan napasnya.
“Ada apa?” tanya Kania tak sabar.
“Besok, kan, long weekend. Gimana kalau kita pergi berlibur? Rencananya aku, Debby, sama Lala mau liburan di vila. Kamu mau ikut, nggak?”
“Vila di mana?” tanya Kania.
“Di Pulau Macan yang ada di Kepulauan Seribu.”
“Pulau Macan? Baru dengar, aku.”
“Tempatnya keren banget. Ada kolam renang dan pantai juga. Pokoknya asyik buat liburan. Mau, nggak? Kita liburan di sana. Anggap aja healing.”
“Itu vilanya nyewa? Berapa patungannya?” tanya Kania lagi.
Kania tahu bahwa Salsa bukan anak orang kaya. Rasanya tidak mungkin vila yang disebutkan tadi milik keluarganya.
Begitu juga dengan Debby dan Lala. Mereka semua memang berasal dari keluarga berkecukupan, tetapi bukan konglomerat.
“Gratis. Kita tinggal bawa baju dan barang-barang pribadi. Makanan udah tersedia di sana. Kita bisa main apa aja di sana. Semuanya udah tersedia gratis … tis … tis ….”
“Siapa yang bayarin?” tanya Kania bingung.
“Yang sediain semua itu Andro. Tadinya aku mau ajak kalian liburan di Lembang aja. Tapi Andro nawarin kita nginap di vila papanya di Pulau Macan. Kamu mau, nggak? Biar kita bisa seru-seruan.”
Kania terdiam sebentar. Gadis itu sebenarnya tidak terlalu menyukai Andro. Menurutnya, pemuda itu arogan dan sering bertindak seenaknya. Andro juga sering membully Aden, salah satu mahasiswa pintar di kelasnya.
“Kamu mau, ya, Nia? Kita liburan bareng. Kapan lagi kita liburan gratisan kayak gini?”
Salsa terus membujuk Kania agar mau ikut dengannya. Karena salah satu syarat yang diajukan Andro adalah mengajak Kania berlibur bersama.
“Andronya ikut, nggak?” tanya Kania.
“Nggak. Katanya, dia sama teman-temannya mau liburan di Pulau Genteng.”
“Yakin?” tanya Kania untuk memastikan.
“Iya. Kamu kenapa sih? Kayaknya nggak senang banget sama Andro.”
“Dia tuh sombong banget. Padahal yang disombongin itu harta orang tuanya. Dia juga suka bully Aden. Padahal Aden nggak salah apa-apa.”
“Kamu kenapa sih, belain Aden terus?” tanya Salsa. Dia memang tidak terlalu menyukai Aden. Menurutnya, pemuda itu aneh dan terlalu asyik dengan dunianya sendiri.
“Yang penting Andro baik sama kita. Mau, ya? Kita healing bareng buat hilangin stres,” bujuk Salsa.
Karena terus dibujuk, Kania akhirnya menerima ajakan Salsa untuk berlibur di Pulau Macan.
“Aku pulang dulu,” ujar Kania untuk mengakhiri pembicaraan mereka.
“Besok aku jemput jam enam pagi, biar sampai di Ancol sebelum jam dua.”
“Oke.” Kania bergegas meninggalkan kampus. Mobil yang menjemputnya sudah tiba.
Sebenarnya, Salma sudah memberikan mobil yang dulu digunakan Tita untuk Kania. Namun, gadis itu masih belum berani mengemudikannya sendiri. Jadi, untuk sementara, Kania masih diantar jemput oleh sopir.
Sepeninggal Kania, Salsa langsung mencari Andro. Dia ingin menyampaikan hasil pembicaraannya dengan Kania tadi.
Dengan langkah tertatih, Aden menuruni tangga. Dia masih merasakan sakit di wajah dan sekujur tubuhnya.
Saat hendak meninggalkan gedung kampus, dia melihat Andro sedang berbicara dengan dua orang yang tadi menyiksanya. Tidak lama kemudian, Salsa datang mendekat.
“Kania setuju liburan di Pulau Macan,” lapor Salsa.
“Bagus. Besok, kalian diantar sopirku sampai ke Ancol. Aku juga udah menyiapkan tiket kapal buat ke Pulau Macan. Di sana, ada yang akan jemput kalian dan antar sampai ke vila. Malamnya, aku bakal nyusul ke sana.”
“Oke, makasih, An,” ujar Salsa senang. Bisa berlibur gratis di vila mewah tentu saja membuatnya senang.
Setelah melapor kepada Andro, Salsa pun memutuskan untuk pulang.
Sepeninggal Salsa, Andro masih bertahan di tempatnya bersama kedua temannya.
“Jadi liburannya bareng cewek-cewek?” tanya Rado, teman Andro.
“Iya. Gue penasaran sama Kania. Dia nolak gue terus. Biar gue kerjain dia di sana. Hahaha!”
“Lo mau apain anak orang?” tanya Rado penasaran.
“Gue mau kasih pelajaran, biar dia nggak belagu.”
“Pelajaran apa?” pancing Willy.
“Pelajaran biologi. Cara manusia berkembang biak, hahaha!”
Tawa Andro, Rado, dan Willy begitu nyaring terdengar. Tangan Aden mengepal mendengar ucapan Andro.
Dia harus menolong Kania. Pemuda itu tidak rela gadis sebaik Kania harus hancur karena kearoganan Andro.
Aden keluar dari persembunyiannya, lalu berjalan tertatih menghampiri Andro dan dua temannya. Melihat Aden melintas, tiba-tiba saja Andro mendapatkan sebuah ide.
“Den, sini!” panggil Andro.
Aden segera menuju Andro.
“Gue punya kerjaan buat elo. Besok kita mau liburan dan kita butuh kacung. Lo mau nggak, kerja sama gue? Tenang aja, ada bayarannya.”
“Liburan ke mana?” tanya Aden pura-pura terkejut dengan tawaran Andro.
“Ke Pulau Macan. Lo belum pernah, kan, liburan ke sana. Besok lo ikut gue. Jam lima harus udah ada di rumah gue!”
Tanpa menunggu persetujuan Aden, Andro segera meninggalkan pemuda itu.
Aden masih bertahan di tempatnya. Pemuda itu senang karena rencananya berhasil. Tadi dia sengaja muncul di dekat Andro.
Dia sudah tahu bagaimana sepak terjang Andro karena sudah mengenalnya sejak SMA. Dia pasti akan menawarkan pekerjaan itu hanya akal-akalannya saja.
Aden tahu bahwa pasti ada niat tersembunyi dibalik ajakan pemuda itu untuk berlibur. Aden sendiri sudah memiliki rencana. Dia akan membalas Andro dan menyelamatkan Kania dari niat jahat Andro.
***
Begitu turun dari mobil, Kania langsung melihat motor Gilang terparkir di pekarangan rumah Salma. Gadis itu bergegas masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, tampak Gilang sedang berbincang dengan Salma.
“Assalamu’alaikum,” ucap Kania begitu masuk.
“Waalaikumussalam,” jawab Salma dan Gilang bersamaan.
Kania mencium punggung tangan Salma, lalu duduk di samping wanita itu.
“Tumben ke sini,” ujar Kania dengan wajah cemberut. “Kirain udah lupa sama aku,” lanjutnya.
“Abang lagi sibuk, Kan.”
“Emangnya Abang udah kerja?”
“Gilang sudah bekerja. Dia sekarang bergabung di PRADA TRACE,” jawab Salma. Wanita itu memberikan kartu nama yang diberikan Gilang tadi.
“PRADA TRACE itu apa?” tanya Kania sambil melihat kartu nama Gilang.
“Kayak kantor detektif swasta gitu. Kita menawarkan jasa mencari orang hilang. Kita baru dapat dua kasus dan dua-duanya sukses. Doakan, ya, supaya kita bisa dapat banyak klien. Sekarang Abang lagi nabung buat beli rumah, sama ….”
Gilang sengaja menggantung ucapannya agar memancing rasa penasaran Kania.
“Sama apa?” tanya Kania yang terpancing permainan kata Gilang.
“Sama buat ngelamar kamu,” jawab Gilang seraya menyunggingkan senyuman penuh percaya diri.
Salma hanya tersenyum melihat interaksi antara Gilang dan Kania. Sejak awal Kania tinggal bersamanya, wanita itu sudah tahu bahwa Gilang menyukai Kania.
Namun, Salma sendiri belum tahu bagaimana perasaan gadis itu terhadap Gilang.
“Dasar kang gombal,” cibir Kania. Namun, setelahnya gadis itu tertawa.
“Oh ya, Ma. Temanku ngajak liburan long weekend ini. Aku boleh ikut, nggak?” tanya Kania.
“Liburan ke mana?”
“Ke vila teman yang ada di Pulau Macan. Kita liburan selama dua hari dua malam. Boleh, nggak, Ma?”
“Kamu sama siapa aja perginya?”
“Sama Salsa, Debby, dan Lala. Boleh, ya, Ma?” bujuk Kania.
“Iya, boleh. Tapi HP kamu harus aktif terus supaya Mama gampang menghubungi kamu.”
“Siap, Bos,” jawab Kania sambil memberikan hormatnya.
“Cangcimen … cangcimen … kacang, kuaci, permen. Dua rebuan, cangcimen … cangcimen,” celetuk Gilang yang merasa diabaikan oleh wanita di hadapannya.
Salma tak bisa menahan tawa melihat tingkah Gilang. Wanita itu segera meninggalkan ruang tengah, sengaja memberi waktu pada Gilang untuk berduaan dengan Kania.
“Kan, kita jalan-jalan, yuk,” ajak Gilang memanfaatkan kesempatan berduaan yang diberikan Salma.
***
Kira² Kania suka sama Gilang, nggak?
biarpun dia itu istrinya ....sapa tau dia ingin menguasai harta suaminya....dan juga polis asuransi jiwa yang sangat besar.....kan selama ini dia selalu berselisih paham dgn adik iparnya Khalisa .... hubungannya gk baik....bisa aja setelah semua di miliki di kuasai dia akan usir Khalisa 😔
secara logika haruse duduk wong adoh seh pelakune