NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedekatan Valen dan Kevin

Valen mengangkat tangan kirinya ke udara. Di bawah pendar temaram lampu kamarnya, liontin mawar dari gelang emas putih itu berkilau anggun. Kilauannya begitu presisi, seolah memantulkan kembali pendar mata Kevin saat pria itu menatapnya di dalam mobil tatapan penuh ketulusan, keseriusan, dan kehangatan yang sanggup meruntuhkan segala bentuk keraguan yang pernah membentengi hatinya.

"Selamat datang di hidupku..." gumam Valen, mengulang kalimat terakhir Kevin dengan bisikan halus.

Senyum manis mengembang di bibirnya. Ia berjalan pelan menuju meja riasnya, meletakkan buket mawar merah itu secara hati-hati seolah mawar-mawar itu terbuat dari kaca yang sangat rapuh. Dengan perlahan, Valen merebahkan diri di atas ranjang king size miliknya, masih mengenakan gaun kelulusannya. Ia memeluk bantal guling erat-erat, membiarkan dadanya bergemuruh oleh rasa bahagia yang kian membuncah.

Sejak kapan perasaan ini bertunas begitu subur? Valen mengingat kembali awal pertemuan mereka. Kevin Axelle Rayyan—dokter spesialis bedah termuda di rumah sakit ternama kota ini, pria yang dikenal dingin, perfeksionis, dan hampir tidak pernah tersenyum di koridor rumah sakit. Pria yang dulunya hanya bisa Valen pandangi dari jauh dengan rasa sungkan dan kagum, kini justru menjadi sosok yang memegang pergelangan tangannya, memasangkan perhiasan, dan meminta izin untuk berjalan bersamanya.

Ting!

Suara denting notifikasi ponsel dari dalam tasnya memecah keheningan kamar. Valen sigap duduk tegak, merogoh tasnya dengan cepat bak prajurit yang menerima panggilan darurat. Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah nama yang kini terasa begitu berbeda saat dibaca.

Kevin: Aku baru saja keluar dari kompleks rumahmu. Dipastikan pelataran rumahmu aman dan kamu sudah mengunci pintu utama dengan benar, kan?

Valen menggigit bibir bawahnya, menahan jeritan kecil yang hendak lolos dari tenggorokannya. Ia menatap layar itu beberapa saat sebelum jemarinya bergerak lincah menari di atas keyboard layar sentuh.

Valen: Sudah, Kevin. Pintu sudah terkunci rapat. Kamu benar-benar langsung pulang ke rumah, kan? Jangan bohong, awas kalau tiba-tiba aku dapat kabar kamu balik ke rumah sakit untuk cek rekam medis!

Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik hingga balasan kembali masuk.

Kevin: Galak sekali. Tapi tenang saja, kali ini aku patuh. Perintah dari 'Dokter Valen' tidak boleh dilanggar. Aku langsung pulang. Tidurlah, kamu pasti lelah setelah seharian ini. Jangan lupa lepas gaun dan bersihkan diri dulu.

Valen: Iya, ini mau bersiap-siap. Kamu juga hati-hati di jalan, ya. Kalau sudah sampai rumah, kabari aku.

Kevin: Pasti. Good night, Valen. Lengkapi bahagiamu malam ini dengan mimpi yang indah.

Valen memeluk ponselnya di dada, menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa lega dan kehangatan. Sungguh, perubahan dinamika di antara mereka terasa begitu ajaib namun sangat alami.

Keesokan harinya, pendar matahari pagi menembus celah gorden kamar Valen, membawa aroma kesegaran hari yang baru. Saat Valen turun ke lantai bawah dengan pakaian santainya, suasana meja makan rumahnya sudah terasa hangat dan riuh. Bunda sedang menyiapkan sarapan, sementara Wisnu adik laki-lakinya yang masih duduk di bangku SMA sedang asyik mengunyah roti tawar sambil memegang ponselnya.

"Pagi, kak Valen! Ciee, yang kemarin baru resmi lulus!" sapa Wisnu ceplas-ceplos begitu melihat kakaknya melangkah mendekat.

"Pagi, Bunda... Pagi, Wisnu," balas Valen ceria, mengambil posisi duduk di sebelah adiknya.

Pandangan Wisnu mendadak terhenti pada pergelangan tangan kiri Valen. Mata adiknya yang jeli itu menatap lekat gelang emas putih berliontin mawar yang melingkar cantik di sana.

"Wah, wah... Pagi-pagi mukanya cerah banget, terus ada perhiasan baru nih melingkar di tangan," goda Wisnu dengan nada penuh seloroh, menunjuk gelang Valen dengan sendoknya. "Nggak usah ditanya dari siapa. Fix bukan beli sendiri di toko grosir depan kompleks."

Wajah Valen mendadak merona. Ia cepat-cepat menyembunyikan tangan kirinya di bawah meja. "Wisnu apaan sih! Bikin heboh pagi-pagi aja!"

Bunda yang baru saja meletakkan cangkir teh hangat ikut tersenyum penuh arti. "Bunda juga lihat buket mawar merah super besar di kamar kamu tadi pas mau ambil baju kotor. Bunga dari Dokter Kevin, kan, Len?"

"Ehm... iya, bun" jawab Valen pelan, sambil menunduk malu-malu.

Wisnu menyenggol lengan kakaknya pelan. "Hebat juga Dokter Kevin. Kemarin dia bisa datang di acara wisuda Kakak padahal jadwalnya padat, tapi ternyata dokter dingin itu bisa bucin juga ya."

"Wisnu, jangan ledek kakakmu terus," potong Bunda lembut seraya menyunggingkan senyum hangat. Bunda menatap putri sulungnya dengan binar mata penuh kasih. "Bunda senang melihat Kevin sangat perhatian sama kamu, Len. Walau sibuk luar biasa sebagai dokter, dia tetap menempatkan kamu sebagai prioritas."

Mendengar ucapan Bunda, dada Valen rasanya berdesir hebat. Kata-kata Bunda menguatkan apa yang diucapkan Kevin semalam di dalam mobil. Kevin tidak pernah menganggap kehadiran dirinya sebagai beban.

"Meskipun almarhum Ayah sudah tidak ada di sini, Bunda yakin Ayah pasti bahagia di sana melihat kamu dikelilingi orang-orang baik," ucap Bunda lembut. "Pesan Bunda cuma satu, jalani hubungan kalian dengan dewasa. Kevin punya tanggung jawab besar di rumah sakit, dan kamu juga baru mau memulai kariermu. Saling dukung dan saling mengerti, ya?"

Valen mengangguk mantap. "Iya, Bunda. Valen bakal ingat terus pesannya."

Siang harinya, Valen memutuskan untuk merapikan kamar dan menata hadiah-hadiah kelulusannya. Bunga mawar merah dari Kevin ia pindahkan ke dalam vas kaca berisi air segar agar tidak cepat layu, lalu ia letakkan tepat di samping meja belajarnya.

Saat ia sedang sibuk menata foto-foto kelulusannya, panggilan video (video call) masuk di ponselnya. Nama Kevin tertera di sana.

Dengan jantung yang berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya, Valen menggeser tombol hijau.

Seketika, layar ponselnya menampilkan wajah Kevin. Pria itu tampak berada di ruang kerjanya di rumah sakit. Jas putih dokternya terpasang rapi di atas kemeja biru gelap, dan kacamata berbingkai tipis bertengger anggun di hidung bangirnya. Rambutnya sedikit acak-acakan ciri khas Kevin saat baru selesai menangani kasus rumit namun justru menambah ketampanan alaminya.

"Halo, Dokter Valen," sapa Kevin. Suara beratnya terdengar begitu renyah dan hangat dari balik pengeras suara.

Valen terkekeh pelan, bersandar pada sandaran kursinya. "Halo, Dokter Kevin. Kok jam segini bisa video call? Bukannya jam segini biasanya jadwal visit pasien?"

Kevin menyandarkan punggungnya di kursi kerja, melepas kacamatanya lalu memijat pangkal hidungnya pelan sebelum menatap layar lagi dengan senyuman tipis. "Visit sudah selesai dari jam sebelas tadi. Aku punya waktu istirahat tiga puluh menit sebelum masuk jadwal konsultasi pasien jalan jam dua nanti."

"Capek ya?" tanya Valen lembut, raut wajahnya berubah cemas saat melihat raut kelelahan yang tersirat samar di wajah Kevin.

"Sedikit," aku Kevin jujur. "Tapi rasa capeknya mendadak hilang waktu lihat wajah kamu di layar ini."

"Gombal!" pekik Valen pelan, memalingkan wajahnya sebentar karena malu, meski senyum bahagianya tidak bisa disembunyikan. "Mulai deh narsisnya!"

Kevin tertawa renyah. Tawa khas yang kini menjadi favorit Valen. "Aku serius, Valen. Kamu lagi sibuk apa di rumah?"

"Lagi merapikan kamar dan menata hadiah kelulusan kemarin. Oh iya..." Valen mengarahkan kamera ponselnya ke arah meja belajarnya. "Bunga dari kamu sudah aku taruh di vas kaca. Cantik banget, kan?"

Kevin mengamati layar dengan pandangan penuh kelembutan. "Iya, cantik. Tapi tetap kalah cantik sama yang punya kamar."

"Kevin!" tegur Valen dengan muka memerah. "Satu kali lagi gombal, aku matikan nih panggilan videonya!"

"Jangan, jangan," tahan Kevin cepat seraya terkekeh halus. "Iya, maaf. Jangan dimatikan, aku masih mau lihat kamu."

Valen kembali mengarahkan kamera ke wajahnya. Tangannya tanpa sadar mengelus gelang emas putih di pergelangan tangan kirinya, memperlihatkannya secara tidak langsung di kamera.

Kevin menyadari gerakan itu. Tatapannya melunak. "Gelangnya dipakai terus?"

"Dipakai dong. Kan pemberian dari seseorang yang katanya menganggap aku penting," goda Valen balik dengan lirikan mata yang jenaka. "Lagipula, gelangnya bagus banget. Liontin mawarnya manis."

"Baguslah kalau kamu suka. Aku sempat bingung waktu pilih perhiasan itu minggu lalu. Aku cuma bayangin liontin mawar itu bakal cocok banget melingkar di tangan kamu... dan ternyata dugaan aku tepat," ujar Kevin dengan nada suara yang begitu dalam dan penuh afeksi.

Atmosfer di antara mereka mendadak berubah menjadi hangat dan intim, meski mereka terpisah jarak antara rumah dan rumah sakit.

"Kevin..." panggil Valen pelan.

"Hm?"

"Terima kasih, ya."

"Untuk gelangnya?"

"Untuk semuanya," jawab Valen tulus, matanya menatap lurus ke dalam pendar mata Kevin di layar. "Untuk bunganya, untuk gelangnya, untuk waktu yang kamu luangkan kemarin... dan untuk keberanian kamu ngomong jujur semalam."

Kevin tersenyum sangat manis senyuman tulus yang sangat langka yang hanya ia peruntukkan bagi wanita di hadapannya saat ini. "Kamu nggak perlu terima kasih untuk hal yang memang ingin aku lakukan dari dalam hati, Valen. Justru aku yang harus terima kasih karena kamu mau membuka pintu hati kamu buat aku."

Pria itu kemudian melirik jam tangannya. "Ah, waktuku tinggal lima menit lagi. Aku harus bersiap-siap untuk konsultasi pasien."

"Ah, iya. Jangan lupa makan siang dulu, Kevin! Jangan cuma minum kopi!" pesan Valen tegas dengan nada perhatian yang manis.

"Siap, Calon... maksudku, Dokter Valen," goda Kevin seraya terkekeh pelan saat melihat reaksi Valen yang kembali salah tingkah. "Nanti malam aku telepon lagi ya setelah selesai jam praktik jam delapan malam. Boleh?"

Valen tersenyum anggun, mengangguk pelan. "Boleh. Semangat kerjanya, Dokter Kevin. Jangan terlalu memaksakan diri."

"Terima kasih, Valen. Sampai nanti malam."

Panggilan video itu terputus, meninggalkan Valen yang kini terduduk di kursinya dengan perasaan membumbung tinggi.

Ia menatap gelang mawar di tangannya sekali lagi. Hari ini, esok, dan hari-hari seterusnya, perjalanan baru dalam hidupnya telah resmi dimulai. Bukan lagi sebagai seorang mahasiswi yang berjuang sendirian demi meraih mimpi, melainkan sebagai seorang wanita yang melangkah mantap dalam dekapan cinta dan perlindungan dari pria pilihannya. Lembaran kisah mereka baru saja terbuka, dan Valen tahu, setiap bait cerita yang terukir di dalamnya akan menjadi babak paling indah dalam hidupnya.

1
Intan Wiwi
sangat cocok untuk pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!