Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Dia tidak peduli lagi pada rasa malu dan langsung berjalan keluar dari balik meja kasir kiosnya.
Cynthia berjalan cepat menghampiri Santi dan mendorong bahu wanita tua itu dengan keras menggunakan kedua tangannya.
"Gara-gara kamu dan anakmu aku harus kerja jadi pelayan rendahan begini!" teriak Cynthia mendorong Santi lagi.
Santi yang kakinya masih belum sembuh total langsung kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke belakang.
"Aduh!" rintih Santi nyaris terjatuh ke lantai mal yang sangat keras itu.
Namun sebelum punggung Santi menyentuh lantai, sepasang lengan yang sangat kuat menahan bahunya dari belakang.
Grep.
Tubuh Santi ditahan dengan aman dan ditarik kembali untuk berdiri tegak.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya suara bariton yang sangat berat dan dingin terdengar tepat di belakang telinganya.
Santi menoleh dan menghela nafas lega melihat anak sulungnya sudah berdiri kokoh memeganginya.
"Rio, Ibu tidak apa-apa nak, untung kamu cepat datang," jawab Santi memegangi lengan kemeja Rio.
Rio mengalihkan pandangannya dari ibunya dan menatap tajam ke arah wanita pelayan di depannya.
Suhu udara di sekitar lorong mal itu seolah turun beberapa derajat akibat aura membunuh yang mendadak dikeluarkan Rio.
Cynthia langsung menelan ludah dengan susah payah saat melihat wajah pria penjemput maut keluarganya itu.
Lututnya mendadak lemas dan seluruh tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan yang luar biasa.
"T... Tuan Rio?" gagap Cynthia mundur perlahan menabrak meja kasirnya sendiri.
"Sepertinya Grup Makmur masih menyisakan sampah yang belum dibuang ke tempat yang semestinya," desis Rio melangkah maju menutupi tubuh ibunya.
"Apa kamu sudah bosan hidup sehingga berani menyentuh ibuku dengan tangan kotormu itu?" ancam Rio dengan suara rendah yang menggelegar.
Cynthia menggelengkan kepalanya cepat dengan air mata yang mulai menetes karena panik.
"B... bukan begitu Tuan, ibu Anda yang duluan menghina pekerjaan saya tadi," dusta Cynthia mencoba mencari pembelaan yang tidak masuk akal.
Rio mendengus sinis mendengar kebohongan murahan dari wanita ular di depannya itu.
"Ibuku bahkan terlalu suci untuk sekadar menyebut namamu," bantah Rio mematahkan kebohongan itu dengan telak.
Nadia yang baru saja menyelesaikan pembayaran di butik berlari menghampiri bosnya saat melihat ada kerumunan orang.
"Ada apa ini Tuan Rio? Perlu saya panggilkan pihak keamanan mal sekarang?" tanya Nadia melirik jijik ke arah Cynthia.
"Nadia, siapa pemilik stan minuman pinggir jalan ini?" tanya Rio tanpa mengalihkan tatapannya dari mata Cynthia.
Nadia segera mengecek tabletnya dan memberikan laporan dalam hitungan detik.
"Kios ini milik perusahaan waralaba lokal Tuan, bukan bagian dari Grup Sentosa," lapor Nadia akurat dan cepat.
Rio mengangguk pelan lalu mengeluarkan sebuah kartu pipih berwarna hitam pekat dari dalam dompet kulitnya.
Itu adalah black card eksklusif tanpa limit yang hanya dimiliki oleh segelintir orang paling kaya di dunia.
Tak.
Rio melempar kartu hitam itu ke atas meja kasir kios minuman tersebut dengan santai.
"Beli seluruh saham perusahaan waralaba minuman ini sekarang juga Nadia," perintah Rio mutlak.
Mata Cynthia membelalak lebar seolah mau melompat keluar dari kelopaknya karena sangat terkejut.
Dia tidak percaya pria di depannya ini rela membeli sebuah perusahaan waralaba besar hanya karena satu masalah sepele dengannya.
"Setelah perusahaan ini resmi menjadi milikku dalam sepuluh menit ke depan."
"Pecat pelayan wanita ini secara tidak hormat, dan pastikan namanya masuk daftar hitam di seluruh perusahaan di Jakarta," titah Rio memberikan hukuman yang sesungguhnya.
Cynthia langsung jatuh terduduk di lantai dengan tangis histeris yang meledak memecah keramaian mal.
"Tidakkk! Tolong jangan pecat saya Tuan Rio! Saya butuh uang untuk biaya rumah sakit Papa saya!" jerit Cynthia memohon dengan sangat menyedihkan.
Dia merangkak maju dan mencoba memegang ujung sepatu Rio namun langsung ditendang pelan oleh pria itu.
"Itu bukan urusanku, kamu seharusnya memikirkan Papamu sebelum kamu berani bertindak kasar pada ibuku tadi," tolak Rio dingin tanpa belas kasihan.
Pengunjung mal yang melihat kejadian itu mulai berbisik-bisik dan mengarahkan kamera ponsel mereka ke arah Cynthia.
"Lihat itu, bukankah dia anak perempuan bungsu dari Grup Makmur yang bangkrut kemarin?" bisik seorang wanita sosialita yang lewat.
"Iya benar, kasihan sekali sekarang jadi pelayan dan malah cari mati berurusan dengan bos besar," sahut temannya tertawa mengejek tanpa ampun.
Mendengar bisikan dan tawa ejekan dari orang-orang yang dulu menjilatnya membuat sisa mental Cynthia hancur total.
Dia menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya yang kotor sambil terus menangis meraung-raung di lantai.
Santi yang melihat mantan menantunya itu menangis tersedu-sedu merasa sedikit iba di dalam hatinya.
Namun dia segera menepis rasa kasihan itu saat mengingat hinaan Cynthia kepadanya di lobi hotel tempo hari.
"Ayo kita pulang Rio, Ibu sudah capek melihat orang-orang yang suka marah-marah di sini," ajak Santi menarik pelan lengan kemeja anaknya.
"Baik Ibu, ayo kita cari tempat makan yang tenang di luar mal ini," senyum Rio langsung mengembang dan melembut saat menatap ibunya.
Rio berbalik dan menuntun ibunya menjauh dari kerumunan orang di depan kios minuman tersebut.
Dia sama sekali tidak menoleh lagi untuk melihat nasib Cynthia yang kini sudah kehilangan sumber penghasilan terakhirnya.
Nadia segera mengambil kartu hitam bosnya dan mulai menelepon pihak manajemen perusahaan waralaba untuk mengeksekusi pemecatan Cynthia.
Kehancuran keluarga Wijaya kini benar-benar sudah mencapai akar yang paling dalam dan menyakitkan.
Di dalam mobil perjalanan pulang, Santi mengelus tas kulit barunya dengan perasaan campur aduk.
"Rio, apa tindakanmu tadi tidak terlalu kejam nak? Dia sampai menangis histeris dilihat banyak orang begitu," tanya Santi pelan memecah keheningan kabin mobil.
Rio yang duduk di sebelah ibunya menoleh sekilas dan menatap wanita tua itu dengan tatapan penuh pengertian.
"Di dunia ini, kalau kita lemah maka kita yang akan diinjak-injak oleh orang seperti mereka Bu."
"Wanita itu menangis bukan karena dia menyesal telah mendorong Ibu, tapi karena dia kalah dan kehilangan pekerjaannya," jelas Rio memberikan pandangan realistisnya.
Santi menganggukkan kepalanya perlahan mulai mengerti kerasnya hukum rimba di dunia yang ditinggali oleh anak sulungnya ini.
"Ibu tidak perlu memikirkan sampah seperti mereka lagi, fokus saja pada kebahagiaan dan kesehatan Ibu mulai sekarang," pesan Rio menggenggam tangan ibunya.
Mobil mewah hitam itu melaju membelah kemacetan sore Jakarta membawa ibu dan anak itu pulang menuju kedamaian.
Namun Rio sama sekali tidak tahu bahwa di tempat lain, benalu yang kemarin baru saja dia usir sedang menyusun rencana balas dendam yang sangat kotor.
Di sebuah motel murah yang sempit dan berbau pesing di pinggiran Jakarta, Rika dan Leo meratapi nasib miskin mereka.
Leo duduk di pinggir kasur tipis sambil menggigit kuku jarinya dengan tatapan kosong dan penuh dendam kesumat.
Rika sedang menempelkan ponsel murahan ke telinganya berbicara dengan nada yang sangat menjilat dan penuh perhitungan.
"Iya Tuan, anak angkat itu sudah mengusir kami secara paksa dan merebut semua hak kami di Grup Sentosa," lapor Rika pada seseorang di seberang telepon.
"Kalau Tuan bersedia kembali ke Indonesia sekarang, kami akan membantu Tuan menyingkirkan Bramantyo yang pikun dan anak pungutnya itu," tawar Rika dengan senyum licik yang mengerikan.
Dendam keluarga benalu itu akan segera mengundang musuh dari masa lalu yang jauh lebih berbahaya dari lawan-lawan Rio sebelumnya.