Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : RAHASIA YANG KELIRU
Se Chang memilih hari ketika Xiong Yan sedang sibuk di markas menyelesaikan rapat wilayah. Xie Lan sudah memastikannya dari jauh.
Ia melepas jubah perak dan mahkota gioknya, menekan auranya sampai nyaris tak terasa, lalu mengubah wujud menjadi pemuda kurus berjubah lusuh berwarna cokelat lumut. Wajahnya pucat dan bahunya sedikit membungkuk, dengan sehelai daun kering menempel di rambutnya. Ia menatap pantulan dirinya di genangan air dan mengangguk puas.
*Siluman pohon tua yang nyaris kehabisan tenaga. Tak ada yang akan curiga.*
Menjelang siang, ia tertatih-tatih sampai di depan pagar pondok bambu dan bersandar dengan napas dibuat tersengal.
"Maaf mengganggu, Nona..." suaranya serak dan lemah. "Aku siluman pohon dari lereng barat. Akarku kering karena musim panas. Bolehkah aku minta seteguk air?"
Feng Yao mendongak dari kebun bunganya. Ia menatap tamu itu sejenak, lalu tersenyum. "Tentu. Masuklah, duduk di beranda."
Semudah itu. Se Chang menunduk agar senyumnya tidak terlihat.
Dari jarak dekat, laporan Xie Lan ternyata tidak melebih-lebihkan. Kulit gadis itu bersih tanpa cela, dan matanya jernih seperti air pegunungan. Yang paling menarik perhatian Se Chang adalah qi-nya. Hangat dan murni, mengalir halus seperti sinar matahari pagi. Setiap kali Feng Yao melintas di dekatnya, Se Chang merasakan sisiknya yang tersembunyi bergetar lapar.
*Qi seperti ini bisa menaikkan kultivasiku satu tingkat penuh,* batinnya. *Belum pernah aku melihat mangsa yang begitu tepat.*
"Silakan." Feng Yao meletakkan cangkir teh di depannya. "Tehnya dari kelopak bunga spiritual. Bagus untuk memulihkan tenaga."
"Terima kasih, Nona." Ia menyesap pelan, memasang wajah lega yang meyakinkan. "Namaku... Lao Song."
"Aku Beifeng Yao."
"Nama yang indah."
"Kau sudah lama sekali tidak minum air, ya?" Feng Yao menopang dagu, menatapnya dengan sorot iba yang tampak tulus. "Kasihan. Tinggallah sampai tenagamu pulih."
*Ia bahkan mengundangku tinggal.* Se Chang nyaris tertawa. *Betapa bodohnya.*
Ia mengamati sekeliling dengan mata setengah terpejam. Lima langkah dari beranda, ada susunan bunga spiritual yang mengelilingi halaman. Cukup untuk melindungi pondok dari siluman biasa, tetapi tidak cukup untuk menahannya. Satu gerakan cepat, dan semuanya selesai.
Tapi ia menahan diri. *Belum. Aku ingin tahu dulu apa yang membuat qi itu begitu murni.*
Feng Yao kembali menyiram bunga. Di belakangnya, Se Chang mengamati punggung gadis itu dengan tatapan yang perlahan kehilangan kepura-puraan lemahnya.
Lalu Feng Yao berkata, tanpa berbalik:
"Lao Song."
"Ya, Nona?"
"Kau tahu, siluman pohon biasanya berbau getah dan tanah basah." Ia menuang air ke akar bunga dengan tenang. "Tapi entah kenapa, tehmu tadi berbau dingin seperti lembah berkabut."
Jari Se Chang mengeras di cangkirnya.
Feng Yao menoleh dan tersenyum manis, senyum yang sama seperti kepada Xiong Yan, kepada bunga-bunganya, dan kepada dahan pinus yang diam-diam mengawasinya kemarin. "Mungkin aku salah cium. Habiskan tehmu, ya."
Kelopak-kelopak bunga di sekeliling beranda berputar pelan, semuanya menghadap ke arah Se Chang.
Dari kejauhan, di ujung jalan setapak hutan, Xiong Yan yang datang lebih awal dari jadwal mendadak berhenti melangkah. Hidungnya berkedut. Di antara aroma bunga dan tanah, samar-samar tercium bau asing yang dingin dan berminyak, bau sisik.
Matanya menyipit, dan sepasang cakar hitam perlahan keluar dari ujung jarinya.
Xiong Yan melangkah keluar dari balik pepohonan tepat ketika Se Chang bangkit dari kursi bambu dan meraih tangan Feng Yao.
"Nona begitu baik hati," ucap si "siluman pohon" dengan suara lembut yang dibuat-buat. Jemarinya yang pucat melingkar di pergelangan tangan gadis itu. "Izinkan aku membalas budi dengan sedikit..."
Krak.
Sebuah cengkeraman besi menutup di pergelangan tangan Se Chang. Ia belum sempat menoleh ketika tubuhnya sudah ditarik mundur dan dilempar ke halaman.
Ia mendarat dengan satu lutut di tanah. Jubah lumutnya kusut, dan daun kering di rambutnya beterbangan.
Xiong Yan berdiri di antara Se Chang dan Feng Yao, membelakangi gadis itu seperti dinding batu. Bahunya naik turun perlahan, matanya berubah keemasan, dan sepasang cakar hitam sepanjang jari memanjang dari ujung tangannya.
"Sisikmu bau sekali," katanya rendah. Suaranya jauh lebih dingin daripada yang pernah didengar Feng Yao. "Siapa kau?"
"Tuan Beruang..." Se Chang mengangkat wajah dan kembali memasang ekspresi lemah menyedihkan. "Aku hanya siluman pohon yang meminta air..."
"Siluman pohon tidak punya racun di ujung kukunya."
Wajah Se Chang tertegun. Sepersekian detik, kelemahan itu retak, dan matanya berubah menjadi celah vertikal berwarna hijau pucat.
"Kau punya hidung yang bagus," desisnya. Wujud lusuhnya luruh seperti kulit ular yang mengelupas, digantikan jubah perak, rambut panjang seputih salju, dan aura dingin yang merambat ke seluruh halaman. "Xiong Yan. Sudah lama sekali."
"Se Chang." Cakar Xiong Yan memanjang satu ruas lagi. "Kau masuk wilayahku, menyamar, dan menyentuh orang yang berada di bawah perlindunganku."
"Perlindunganmu?" Se Chang terkekeh pelan, matanya bergeser ke arah Feng Yao di belakang punggung Xiong Yan. "Aku hanya mampir bertamu. Dan wanita ini menyuguhiku teh dengan sukarela."
"Kau memegang tangannya."
"Hanya sebentar."
"Sebentar pun tidak boleh."
Suara itu meledak lebih keras dari yang Xiong Yan sendiri duga. Burung-burung di pepohonan berhamburan. Ia sendiri terdiam sesaat, menyadari napasnya kasar, dadanya panas, dan seluruh tubuhnya bergetar bukan karena takut.
*Darahku benar-benar panas sekarang,* pikirnya getir. *Kali ini bukan karena malu.*
Se Chang mengangkat sebelah alis, jelas menikmati pemandangan itu. "Ah. Jadi benar rumor itu. Pemimpin Klan Beruang Hitam yang tidak tergoda suap atau wanita, ternyata..."
"Xiong Yan."
Sebuah tangan lembut mendarat di lengan Xiong Yan.
Ia tersentak. Feng Yao sudah berdiri di sampingnya, sama sekali tidak panik. Ia hanya menatap pergelangan tangannya yang sedikit memerah bekas genggaman Se Chang, lalu menatap tamu berperak itu dengan kepala miring.
"Tanganku baik-baik saja," katanya tenang. "Dia tidak sempat menyerap apa-apa."
Xiong Yan berkedip. "Menyerap?"
"Tadi dia mencoba menarik qi-ku lewat kulit. Bunga-bunga di beranda sudah bersiap menahannya." Feng Yao menunjuk ke arah pot-pot bunga yang kelopaknya kini menutup rapat seperti mulut yang siap menggigit. Sulur-sulur hijau halus sudah melingkar di ujung jubah Se Chang tanpa ia sadari.
Wajah Se Chang menegang. Ia menunduk, melihat sulur-sulur itu, dan menyentakkan kakinya. Sulur-sulur itu tidak putus.
"Kau..." Ia menatap Feng Yao dan untuk pertama kalinya kehilangan senyumnya. "Bukan siluman. Bukan manusia. Siapa sebenarnya dirimu?"
Feng Yao tersenyum. Senyum yang sama seperti tadi, lembut dan manis. Tapi entah kenapa, udara di halaman itu terasa jauh lebih berat.
"Aku Beifeng Yao," jawabnya. "Sudah kukatakan tadi."
"Nama itu..." Mata Se Chang menyipit. "Aku pernah mendengarnya. Agarth..."
Tangan Feng Yao yang sedang memegang lengan Xiong Yan tidak bergerak sedikit pun. Tapi sulur-sulur di kaki Se Chang mendadak menegang, dan bunga-bunga di sekitarnya bergetar seperti menahan napas.
"Pergilah," ucap Feng Yao pelan. "Sebelum bunga-bungaku kehilangan kesabaran."
Se Chang menatapnya lama, sangat lama, lalu tertawa pendek. Ia menyentakkan jubahnya. Sulur-sulur itu akhirnya mengendur, dan ia mundur tiga langkah tanpa memalingkan pandangan.
"Menarik," bisiknya. "Sangat menarik." Matanya beralih ke Xiong Yan. "Kita belum selesai, Beruang."
Kabut dingin berpusar di sekelilingnya, dan sosok itu lenyap.
Halaman kembali sunyi. Angin pegunungan bergerak pelan di antara bunga-bunga.
Xiong Yan masih berdiri kaku dengan cakar yang belum ditarik. Ia menghitung dalam hati, berusaha menenangkan napas.
"Xiong Yan."
"Ya."
"Cakarmu."
"...Oh." Ia buru-buru menarik cakarnya, lalu tanpa sadar menyembunyikan kedua tangan di belakang punggung seperti anak kecil yang tertangkap basah.
Feng Yao menatapnya. Sudut bibirnya bergetar, lalu bahunya ikut bergetar, lalu ia tertawa sampai harus menutup mulut dengan punggung tangan.
"Kenapa tertawa?" Suara Xiong Yan terdengar tersinggung.
"Tidak, tidak. Hanya..." Feng Yao mengusap sudut matanya. "'Sebentar pun tidak boleh.' Kau bilang begitu pada Se Chang."
Wajah Xiong Yan langsung memerah sampai ke leher. "Aku hanya bilang sesuai aturan wilayah."
"Aturan wilayah?"
"Ya."
"Kau bilang itu dengan suara yang bisa membuat burung-burung kabur."
"..." Xiong Yan memalingkan wajah. "Darahku panas."
"Iya, iya." Feng Yao masih tersenyum sambil menarik lengan bajunya perlahan. "Sini. Tanganmu gemetar."
Xiong Yan menunduk. Tangannya memang gemetar. Bukan karena takut, tapi karena sisa amarah yang belum sepenuhnya reda, dan karena satu kalimat yang terus terngiang di kepalanya: *dia memegang tangannya.*
Feng Yao menuntunnya duduk di beranda, lalu menuangkan teh baru. "Terima kasih sudah datang tepat waktu."
"Kau bisa mengatasinya sendiri," gumam Xiong Yan.
"Mungkin." Feng Yao menatapnya lembut. "Tapi aku senang kau datang."
Jantung Xiong Yan berdetak keras satu kali.
Sementara itu, di balik pohon terdekat, Xiong Ling menggigit lengan bajunya sendiri dengan mata basah, sedangkan Xie Lan, yang belum sempat kabur bersama tuannya, meringkuk di dahan dengan wajah pucat.
Di kejauhan, kabut lembah berpusar gelisah. Se Chang berdiri di tepi tebing dengan tangan terkepal, ingatannya berputar pada satu nama yang mulai terasa jelas: *Agarth.*
Perpustakaan Klan Ular terletak jauh di bawah tanah, di ruang batu yang dingin dan berbau debu tua. Se Chang berjalan di antara rak-rak gulungan dengan jubah perak yang menyapu lantai. Di belakangnya, Tetua Xie Mo, penjaga arsip yang usianya nyaris seratus musim salju, tertatih membawa lentera.
"Yang Mulia mencari apa?"
"Agarth."
Lentera di tangan si tetua bergoyang. "Nama itu... sudah ratusan tahun tidak disebut orang."
"Karena itu aku mencarinya di sini."
Berjam-jam mereka membongkar gulungan. Kronik wilayah, catatan para pengembara, hingga kitab dongeng peri yang sudah rapuh dimakan ngengat. Se Chang membaca dengan mata setengah terpejam, sampai satu gulungan tipis berpita biru memaksanya membuka mata lebar-lebar.
*Kisah Para Peri Utara.*
Di utara awan, tempat angin tak pernah berhenti berembus, berdiri Agarth, kerajaan para peri penjaga Taman Bunga Bumi.Setiap kelopak yang mekar di sana menyimpan napas langit. Garis keturunan Beifeng, sang Angin Utara, adalah penjaga terakhir taman itu. Konon, di mana pun mereka melangkah, tanah mati kembali hijau dan bunga layu kembali mekar.
Se Chang membaca baris berikutnya pelan-pelan, dan senyumnya perlahan memudar.
*Qi para peri Beifeng tak dapat direbut. Ia hanya dapat diberikan. Siapa merampasnya dengan tangan serakah, bunga-bunga akan layu di dalam tubuhnya sendiri.*
"Hm." Ia mengetuk gulungan itu. "Pantas sulur-sulurnya tidak mau putus."
Tetua Xie Mo menelan ludah. "Kalau Yang Mulia berniat menyerap qi wanita itu..."
"Aku tahu apa yang kubaca."
Ia menggulung halaman berikutnya. Kalimat-kalimatnya menjadi patah-patah dan sebagian terhapus, seperti ditulis dengan tangan gemetar.
*...pada malam Agarth runtuh, langit utara terbelah oleh api. Segel klan naga... para penjaga yang tersisa... tak seorang pun...*
Sisa halaman itu sobek, dan potongan tepinya rapi seperti sengaja dirobek dengan kuku.
Se Chang menatap tepian yang robek itu lama sekali. Gadis yang tinggal sendirian di pondok bambu. Tempat asal yang sudah musnah. Ketenangan yang tidak wajar untuk seseorang yang baru saja hampir diserang.
"Klan naga," gumamnya. "Jadi ini bukan sekadar wanita cantik yang tersesat di wilayah beruang."
"Yang Mulia?"
Se Chang menutup gulungan dan tersenyum tipis, dingin dan penuh perhitungan. "Qi itu tidak bisa direbut, hanya bisa diberikan." Jemarinya mengetuk pita biru gulungan itu. "Berarti aku hanya perlu membuatnya *ingin* memberikannya."
Tetua Xie Mo memilih tidak menjawab.
Sementara itu, di markas Klan Beruang Hitam, ruang utama gua sedang sangat ramai.
"Mulai malam ini," kata Xiong Yan dari singgasana batunya, "seluruh perbatasan selatan dijaga penuh. Tiga pos baru di sepanjang lembah Feng Yin. Giliran jaga tidak boleh kosong sedetik pun."
Seorang prajurit mengangkat tangan. "Pemimpin, apa ada ancaman dari luar?"
"Ya."
"Klan mana?"
"Klan Ular." Xiong Yan berhenti sejenak. "Dan siapa pun yang bersisik, berbisa, atau tampak mencurigakan."
Xiong Ling, yang berdiri di sisinya, berbisik pelan, "Pemimpin, bukankah itu terlalu luas?"
"Itu sudah cukup sempit."
Semua prajurit saling melirik. Xiong Yan berdiri, dan suaranya berat dan tegas.
"Dengarkan. Wanita di pondok bambu selatan bernama Beifeng Yao. Ia tinggal di wilayah kita dan sudah menolong pemimpin kalian saat terluka. Mulai sekarang, ia berada di bawah perlindungan Klan Beruang Hitam. Siapa pun yang mengusiknya berarti mengusik kita semua."
Hening sesaat. Lalu para prajurit serentak memukul dada dengan kepalan tangan.
"Siap, Pemimpin!"
Xiong Yan mengangguk puas. Di sudut ruangan, Xiong Ling mengusap mata dengan lengan bajunya.
"Kenapa menangis?"
"Saya bangga, Pemimpin. Anak kecil kita akhirnya tumbuh dewasa."
"Aku lebih tua darimu."
"Secara jiwa, belum."
"Xiong Ling."
"Saya diam."
Tidak lama kemudian, dua prajurit menyeret masuk seorang penjaga lorong dalam yang pucat pasi. Ia ditemukan meringkuk di dahan pinus dekat pondok.
"Xie Lan," ucap Xiong Yan dingin. Sosok itu bergetar. "Tiga bulan kau menyamar di sini, dan aku baru menyadarinya sekarang."
"Pemimpin... hamba..."
"Aku tidak akan melukaimu." Ia berjalan mendekat dan berdiri menjulang di depannya. "Pulanglah dan sampaikan pada tuanmu: hutan selatan tertutup untuk Klan Ular. Selamanya. Kalau ada satu sisik pun yang melintas perbatasan, aku tidak akan bertanya, aku akan langsung menjawab."
Xie Lan langsung merayap kabur tanpa menoleh.
Begitu ia menghilang, Xiong Yan menghela napas dan duduk kembali, wajahnya seketika kehilangan wibawa. "Xiong Ling."
"Ya, Pemimpin?"
"Kalau aku setiap hari datang ke sana untuk memastikan dia baik-baik saja, apakah itu berlebihan?"
"Sangat berlebihan."
"Begitu."
"Tapi Pemimpin tetap akan datang."
"...Ya."
Keesokan paginya, Feng Yao menyiram bunga di halaman dan berhenti. Di sepanjang pagar bambu, dengan jarak yang sangat teratur, ada goresan cakar dangkal di setiap tiang, tinggi dan dalam, seperti tanda batas yang tidak mungkin dilewati siapa pun.
"Xiong Yan."
Pria itu, yang berpura-pura sedang memeriksa tanah di sudut halaman, menegakkan tubuh. "Ya?"
"Pagar rumahku penuh goresan."
"Itu... penanda wilayah."
"Untuk apa?"
"Supaya makhluk lain tahu bahwa tempat ini ada yang menjaga."
Feng Yao menatap goresan itu, lalu menatapnya. Bibirnya melengkung. "Aku tidak butuh dijaga, tahu."
"Aku tahu."
"Kau lihat sendiri kemarin, bunga-bungaku..."
"Aku tahu." Xiong Yan menunduk menatap ujung sepatunya. Suaranya merendah. "Tapi kau tinggal di wilayahku, dan kau temanku. Aku tidak mau kau menghadapi apa pun sendirian, sekalipun kau mampu."
Hening sejenak. Angin pagi menggoyangkan kelopak bunga di antara mereka.
Feng Yao tidak menjawab dengan tawa atau godaan seperti biasanya. Ia hanya menatap pria itu, dan sesuatu yang hangat dan agak sedih melintas di matanya, seperti seseorang yang sudah lama tidak dilindungi siapa pun.
Ia lalu memetik setangkai bunga putih kecil dan menyelipkannya ke tangan Xiong Yan. "Bawa ini. Kalau ada yang berniat jahat mendekatiku, bunganya akan layu dan kau akan tahu."
Xiong Yan menatap bunga di telapak tangannya seakan itu harta paling berharga di dunia. "...Aku akan menjaganya."
"Itu cuma bunga, Xiong Yan."
"Aku akan menjaganya."
Dari balik pagar, Xiong Ling tersedu diam-diam dengan mulut ditutup kedua tangan.
Tetapi jauh di barat, di dalam ruang arsip yang dingin, Se Chang menatap sobekan gulungan di tangannya dan mendekatkan ujungnya ke lentera.
*Segel klan naga.*
Ia teringat senyum polos Xiong Yan ketika dulu menyebut siapa gurunya.
Bibir Se Chang perlahan melengkung. "Ah. Jadi begitu."