Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sahabat Tampa balas budi
Suasana pendopo utama pesantren siang itu dipenuhi sukacita yang meluap. Halaman yang bulan lalu dipenuhi isak tangis perpisahan, kini riuh oleh canda tawa dan aroma masakan rumah yang menyeruak dari balik wadah-wadah bekal. Bulan kedua kunjungan wali santri akhirnya tiba.
Di atas tikar yang tergelar di bawah naungan pohon rindang, Aira dan Nazwa duduk berdampingan. Di hadapan mereka, Ayah dan Ibu Aira sudah menyiapkan hidangan istimewa—sesuai janji Aira bulan lalu untuk mengajak Nazwa bergabung saat orang tuanya tidak bisa hadir.
Namun, di tengah kemeriahan itu, layar ponsel milik Ibu Aira yang dipegang Nazwa mendadak menyala. Sebuah panggilan video masuk dari ibunya di luar kota.
Nazwa menekan tombol hijau dengan tangan yang gemetar. Begitu wajah sang ibu muncul di layar ponsel, pertahanan dada Nazwa seketika runtuh.
"Ibu..." panggil Nazwa lirih. Air mata yang sejak pagi ditahannya mendadak meluncur deras membasahi pipinya.
"Assalamu'alaikum, anak cantik Ibu... Maafkan Ibu ya, Nak, bulan ini belum bisa datang meluk Nazwa," suara lembut ibu Nazwa mengalun dari pengeras suara ponsel, menyiratkan rasa bersalah sekaligus rindu yang teramat dalam.
"Wa'alaikumsalam, Bu... Nazwa kangen banget sama Ibu sama Ayah..." isak Nazwa semakin menjadi. Bahunya berguncang pelan, kerinduan sebulan penuh meluap dalam satu hembusan napas yang sesak.
Melihat Nazwa yang menangis terisak sambil memegang ponsel, Ibu Aira tidak tinggal diam. Dengan penuh kehangatan dan kasih sayang seorang ibu, beliau menggeser duduknya mendekat, lalu merangkul bahu Nazwa erat-erat dan menarik tubuh gadis kecil itu ke dalam dekapannya.
Ibu Aira mengusap lembut punggung Nazwa yang berguncang, membiarkan Nazwa menyandarkan kepalanya yang bersimbah air mata di dadanya.
"Mbak... ndak usah khawatir ya," ucap Ibu Aira lembut ke arah kamera ponsel, menyapa ibu Nazwa dengan senyum teduh. "Nazwa di sini aman, sehat, dan bahagia sama kami. Hari ini Nazwa maem bareng Aira dan Ayah. Saya anggap Nazwa sudah seperti anak sendiri di sini."
Di layar ponsel, mata ibu Nazwa berkaca-kaca menatap pemandangan itu. "Mba Aira... terima kasih banyak, ya Allah... Terima kasih sudah memeluk Nazwa dan menjaga anak saya selama di sana."
"Sama-sama, Mbak. Kita kan keluarga di sini," balas Ibu Aira tulus, lalu mencium lembut puncak jilbab Nazwa yang masih terisak pelan di dekapannya. "Sudah ya, Nazwa cantik... Jangan menangis lagi. Ada Ibu Aira di sini, ada Aira, ada Ayah. Hari ini kita pesta rendang sama-sama, ya?"
Aira tersenyum hangat menyaksikan sahabatnya ditenangkan oleh ibunya sendiri. Dikeluarkannya sendok dan piring penuh nasi hangat serta potongan rendang empuk, lalu disodorkannya ke hadapan Nazwa.
"Tuh kan, Nazwa... Aira bilang juga apa bulan lalu," bisik Aira manis sambil menyentuh lembut jemari Nazwa. "Nazwa ndak bakal sendirian. Bulan ini Nazwa punya Ibu dan Ayah ganda!"
Nazwa pelan-pelan menyapu air matanya dari pipi. Di balik sisa isakannya, sebuah senyum lega dan bahagia terukir indah di wajahnya. Dalam pelukan hangat Ibu Aira dan kebersamaan di bawah rindangnya pohon pesantren, Nazwa sadar bahwa rindu tak lagi terasa menyiksa ketika dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayanginya.
-----
Aroma bumbu rendang dan kue kering khas rumah menyeruak hangat di sekitar tikar tempat mereka berkumpul. Setelah tangis Nazwa reda dan senyum kembali menghiasi wajahnya, Ibu Aira merogoh tas besar yang diletakkan di samping Ayah.
"Nazwa, ini coba dibantu Ibu buka tasnya," panggil Ibu Aira hangat seraya mengeluarkan beberapa kantong plastik dan wadah bekal transparan yang tertata rapi.
Mata Nazwa berbinar saat melihat Ibu Aira menyisihkan satu wadah besar berisi rendang daging, dua toples kue kering, serta beberapa karton susu cokelat dan camilan kesukaannya.
"Ini khusus buat bekal Nazwa di kamar, ya," tutur Ibu Aira sambil menyerahkan kantong tersebut langsung ke pangkuan Nazwa. "Kata Aira, Nazwa suka banget sama kue kering balado. Ibu sengaja bikin dua toples biar puas nyemilnya bareng Aira kalau malam."
Nazwa memegang kantong itu dengan kedua tangannya yang agak bergetar. Dadanya berdesir haru atas kebaikan dan perhatian orang tua sahabatnya.
"Masya Allah... Banyak banget, Bu," bisik Nazwa dengan mata kembali berkaca-kaca, namun kali ini oleh rasa terharu yang membuncah. "Terima kasih banyak ya, Ibu... Ayah... Maturnuwun sanget."
"Sama-sama, Nduk. Dimakan yang banyak biar cepat tambah sehat dan makin semangat ngajinya," balas Ayah Aira penuh kasih sambil mengusap pelan jilbab Nazwa.
Tidak berhenti sampai di situ, Ibu Aira kemudian mengeluarkan dua tas bingkisan kain yang sudah diikat pita cantik.
"Nah, kalau yang dua tas ini, nanti minta tolong Aira sama Nazwa antar ke kamar ya," kata Ibu Aira seraya menyerahkan bingkisan tersebut kepada Aira dan Nazwa. "Ini ada olahan makanan, buah-buahan, sama sedikit titipan dari Ibu khusus buat Ukhti Maya, Ukhti Inggit, Ukhti Nisa, dan pengurus kamar lainnya. Ibu sangat berterima kasih karena Ukhti-ukhti pengurus sudah telaten sekali merawat Aira dan Nazwa waktu sakit kemarin."
"Siap, Ibu! Nanti selesai kunjungan langsung Aira sama Nazwa kasihkan ke Ukhti-ukhti di kamar," jawab Aira dengan antusias dan senyum mengembang lebar.
Sore itu, rasa sepi akibat jarak dan waktu seketika lebur. Kebersamaan, kehangatan berbagi, dan rasa syukur mengalir deras di antara mereka, membuktikan bahwa kasih sayang seorang ibu tidak pernah terbatas hanya pada anak kandungnya sendiri.
Sore pun merambat makin tua. Warna jingga keemasan perlahan menyapu langit pesantren, memberi pertanda bahwa jam kunjungan akan segera berakhir dalam hitungan menit.
Suara sirine dan pengeras suara dari pendopo utama berbunyi nyaring, menginterupsi gelak tawa mereka.
"Diberitahukan kepada seluruh wali santri, waktu kunjungan telah usai. Dimohon untuk segera bersiap meninggalkan area pesantren..."
Seketika, tawa Aira dan Nazwa terhenti. Makanan di tangan mereka terasa hampa. Senyum hangat di wajah Ibu Aira perlahan memudar, berganti dengan tatapan mata yang mendadak dipenuhi genangan air mata yang tak sanggup dibendung lagi.
Ibu Aira merengkuh Aira dan Nazwa sekaligus ke dalam pelukannya. Dekapan itu begitu erat, seolah-olah sang ibu ingin menyerap semua rasa dingin dan sepi yang akan dihadapi kedua anak itu selama sebulan ke depan.
"Anak-anak Ibu yang cantik... Ibu sama Ayah pamit pulang dulu, ya..." bisik Ibu Aira dengan suara yang pecah oleh isak tangis. "Ingat pesan Ibu... kalau malam rindu rumah, kirimkan doa buat Ibu sama Ayah. Jangan lupa makan yang banyak, jaga kesehatan kalian berdua..."
Aira menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ibunya. Bahunya berguncang hebat. Meski ini adalah bulan kedua, rasa sakit harus melepaskan genggaman tangan orang tua ternyata tak pernah benar-benar berkurang.
"Ibu... Ayah... Hati-hati di jalan ya..." bisik Aira terbata-bata di sela tangisnya, berusaha tegar di hadapan orang tuanya.
Nazwa yang berdiri di samping mereka ikut meneteskan air mata, mencium tangan Ayah dan Ibu Aira dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang. "Terima kasih banyak ya Ibu, Ayah... Terima kasih sudah jadi orang tua Nazwa hari ini..."
Ayah Aira mengusap kepala kedua gadis kecil itu bergantian. Matanya yang biasanya tegar kini memerah berkaca-kaca. "Kalian anak-anak yang hebat. Berjuang yang rajin di sini, ya."
Dengan langkah yang berat dan sesekali berbalik untuk melambaikan tangan, Ayah dan Ibu Aira berjalan menyusuri jalan setapak menuju gerbang luar.
Aira dan Nazwa berdiri berdampingan di tepi lapangan, saling menggenggam jemari dengan sangat erat. Mereka menyaksikan dua sosok yang sangat mereka cintai itu perlahan mengecil dan akhirnya menghilang di balik gerbang besi pesantren.
Rasa sepi dan perih kembali menghantam dada mereka, terasa begitu nyata di tengah hembusan angin sore yang dingin. Namun di tengah lelehan air mata yang membasahi pipi, Aira menoleh menatap Nazwa. Nazwa pun membalas tatapannya.
Di balik kesedihan perpisahan yang menyakitkan itu, ada kehangatan yang merayap pelan di hati mereka. Mereka tahu, meski orang tua mereka telah melangkah jauh pulang ke rumah, mereka tidak lagi kesepian. Mereka punya satu sama lain untuk saling menguatkan, merawat rindu, dan menggenggam mimpi bersama di balik tembok pesantren ini.