NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:684
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Balik di Antara Dua Pilihan

Rintik hujan musim semi yang menimpa kaca jendela apartemen kecil itu lambat laun mereda, meninggalkan aroma tanah basah dan udara dingin yang menyelinap lewat celah-celah ventilasi. Percakapan malam itu sempat terhenti dalam keheningan yang panjang, menyisakan ruang bagi masing-masing dari mereka untuk merenungkan beban berat yang terpanggul di pundak.

Namun, hidup tidak memberi waktu terlalu lama bagi siapapun untuk berlarut-larut dalam keraguan.

Keesokan paginya, ketika cahaya matahari pagi berusaha menembus kabut tipis kota London, layar ponsel Martha di atas meja kerja tiba-tiba berdering. Bukan lagi dari penerbit independen yang menolak naskahnya tempo hari, melainkan sebuah surel resmi dari Oxford Literary Review—salah satu jurnal sastra dan budaya paling bergengsi di Inggris.

Dengan tangan yang masih gemetar sisa kelelahan semalam, Martha membuka pesan tersebut. Matanya membelalak tak percaya membaca kalimat pertama dari redaktur senior jurnal tersebut: Naskah esai perjalanan berseri Anda tentang filosofi tradisional Nusantara yang dikirimkan melalui jaringan kurator independen telah kami tinjau. Kami tertarik untuk menerbitkannya sebagai rubrik khusus berseri, dengan penawaran kontrak eksklusif...

Martha terpaku di kursi. Napasnya tercekat. Ia membaca ulang surel itu tiga kali untuk memastikan dirinya tidak sedang berhalusinasi. Rubrik khusus berseri di jurnal sebesar Oxford Literary Review bukan hanya berarti pengakuan profesional yang akan mengangkat kembali namanya di kancah sastra Eropa, tetapi juga tawaran honorarium yang cukup besar untuk meredakan krisis finansial yang mencekik mereka selama beberapa minggu terakhir.

"Adnan...!" jerit Martha spontan, bangkit dari kursinya dengan wajah sumringah dan air mata kebahagiaan yang langsung tumpah. Ia berlari kecil menghampiri Adnan yang sedang merapikan meja kerajinan kayunya di sudut ruangan. "Adnan, lihat ini! Oxford Literary Review... mereka menerima naskahku! Mereka ingin menerbitkannya sebagai rubrik berseri!"

Adnan yang terkejut seketika tersenyum lebar. Pria itu langsung berdiri, menyambut tubuh Martha yang menghambur memeluk lehernya. Tawa renyah Adnan bergemetar di dada bidangnya, membawa kelegaan luar biasa yang seketika menyapu bersih ketegangan malam sebelumnya.

"Alhamdulillah," bisik Adnan tulus, mengecup puncak kepala Martha penuh kasih sayang. "Saya sudah bilang, Martha. Karya yang jujur dan lahir dari ketulusan hati tidak akan pernah tersesat jalannya. Anda hebat."

Kabar baik itu seolah menjadi angin segar di tengah gurun tandus perjuangan mereka. Hari-hari berikutnya diisi dengan kesibukan baru yang produktif. Martha kembali menemukan gairahnya dalam menulis, merangkai kata demi kata dengan standar kualitas yang semakin matang. Sementara Adnan terus konsisten mengembangkan jaringan seni ukir dan konsultasi budayanya di beberapa galeri seni alternatif di London, mendapatkan apresiasi dari orang-orang yang menghargai nilai autentik ketimuran.

Namun, di balik kebangkitan karier profesional Martha, badai kecil lain mulai bergejolak dari arah yang tidak disangka-sangka.

Suatu sore, ketika Adnan sedang berada di luar untuk mengantar pesanan karya kayu ke galeri di kawasan Soho, ponsel Martha yang tergeletak di atas meja bergetar menampilkan panggilan masuk dari nomor asing yang tidak dikenal.

Dengan rasa penasaran, Martha menggeser tombol hijau.

"Halo?" sapa Martha.

"Martha Giorgiana," suara di seberang sana terdengar tenang, berat, namun sangat familier di telinga Martha—suara yang sudah berminggu-minggu sengaja iahindari. Lord Alistair, ayahnya.

Jantung Martha berdegup kencang seketika. Pegangan tangannya pada ponsel mengerat. "Ayah... dari mana Ayah tahu nomor ini?"

"Tidak sulit bagi seorang ayah untuk mengetahui keadaan putrinya, betapapun keras kepala anak itu mencoba bersembunyi," jawab Alistair dingin dari balik sambungan telepon. "Aku menelepon bukan untuk berdebat tentang keputusan konyolmu meninggalkan rumah. Aku menelepon karena aku membaca publikasi terbarumu di Oxford Literary Review."

Martha tertegun. Ia tidak menyangka berita tentang tulisannya bahkan sampai ke telinga ayahnya yang konservatif.

"Aku membaca esaimu," lanjut Alistair dengan nada suara yang sedikit melunak, meski tetap menyiratkan otoritas yang kuat. "Tulisan itu... matang. Menunjukkan bahwa kau tidak kehilangan kemampuan intelektualmu, meskipun kau memilih hidup bersama pemuda asing itu. Martha, kembalilah ke rumah. Pintu keluarga Giorgiana tidak pernah benar-benar tertutup untukmu. Julian Vance juga masih bersedia memberikan kesempatan kedua jika kau membatalkan hubungan kekanak-kanakan ini."

Tawaran itu datang di saat Martha sedang berdiri di puncak pencapaian barunya. Sebuah pintu keselamatan yang disodorkan kembali oleh keluarganya—jalan pintas untuk kembali ke lingkaran kemewahan, pengakuan sosial, dan kenyamanan hidup tanpa harus merasakan dinginnya lantai apartemen sempit di tengah musim semi London.

Namun, alih-alih merasa tergoda, Martha justru merasakan gelombang ketidaknyamanan yang hebat di dadanya. Bayangan wajah Adnan yang sabar, senyuman teduhnya saat menyeduh teh di pagi hari, dan prinsip hidup pria itu yang tidak pernah goyah meski dihina kaum elite langsung berkelebat di dalam kepalanya.

"Tidak, Ayah," jawab Martha mantap, suaranya terdengar tegas tanpa keraguan sedikit pun. "Aku tidak akan kembali dengan cara seperti itu. Aku bahagia dengan pilihanku. Dan aku tidak membutuhkan Julian Vance atau restu palsu yang bersyarat."

Klik.

Martha langsung mematikan sambungan telepon itu sebelum ayahnya sempat membalas. Ia mengembuskan napas panjang, meredakan debar jantungnya yang masih memburu.

Malam harinya, ketika Adnan kembali ke apartemen, pria itu mendapati Martha sedang duduk termenung di dekat jendela sambil memandangi rintik hujan yang kembali turun. Adnan meletakkan mantelnya, berjalan mendekat, dan meletakkan secangkir cokelat hangat di hadapan wanita itu.

"Ada yang mengganggu pikiranmu, Martha?" tanya Adnan lembut, menarik kursi dan duduk di hadapannya.

Martha mendongak. Ia menatap mata hitam legam Adnan lurus-lurus, lalu menceritakan percakapannya dengan sang ayah sore tadi tanpa ada yang ditutup-tutupi—termasuk tawaran untuk kembali ke keluarga dan perjodohan dengan Julian Vance yang masih mengintai.

Adnan mendengarkan dengan seksama. Tidak ada kilat kecemburuan atau kepanikan di wajah pria itu; yang ada hanyalah ketenangan mendalam seorang pria yang menghormati pilihan bebas wanita di hadapannya.

"Lalu, apa jawabanmu pada ayahmu?" tanya Adnan pelan.

Martha tersenyum tipis. Ia meraih tangan Adnan, menggenggamnya erat-erat di atas meja kayu. "Aku menolaknya, Adnan. Aku memilih tetap di sini... bersamamu."

Adnan balas menggenggam tangan Martha dengan erat, sorot matanya memancarkan kehangatan yang luar biasa. Namun, di balik kebahagiaan itu, Adnan tahu bahwa tantangan terbesar mereka belum dimulai.

"Martha," ucap Adnan dengan nada suara yang mulai serius. "Menolak keluarga Anda adalah satu hal. Tetapi cepat atau lambat, kita harus menghadapi kenyataan tentang prinsip hidup kita yang lain... tentang keyakinan saya, agama saya, dan bagaimana kita menyatukan masa depan di hadapan Tuhan yang kita sembah."

Topik itu kembali hadir, menuntut jawaban yang lebih nyata dari sekadar bertahan hidup di London. Di hadapan cangkir cokelat panas yang mengepul, Martha dan Adnan sadar bahwa lembaran baru bab kehidupan mereka baru saja terbuka, dan ujian sesungguhnya dari cinta lintas dunia ini baru akan diuji di akar spiritual yang paling dalam.

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!