NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Pulang ke Tegalsari

Seminggu setelah Bik Inah pergi, Arya mengajakku pulang ke Tegalsari.

Dia menyebutnya pulang, bukan berkunjung. Satu kata sederhana itu membuatku lama berdiri di depan pintu dapur dengan kunci masih tergenggam.

“Anak-anak bagaimana?” tanyaku.

“Raka dan Bayu di rumah Bu Sumi sampai sore. Sasa ikut Bu Sumi juga.” Arya mengangkat karung beras ke bak mobil pikap. “Aku sudah bilang pada mereka.”

Di bak itu sudah ada dua dus minyak goreng, gula, teh, buah, beberapa kilogram daging sapi, dan kantong-kantong kebutuhan dapur. Ketika melihat sebuah amplop tebal terselip di tas kain, aku menoleh kepadanya.

“Mas Arya, kita mau menjenguk orang tua, bukan membuka toko.”

“Rumah mereka banyak orang.”

“Tetap saja terlalu banyak.”

“Tidak.” Dia menutup bak pikap. “Aku terlambat datang menemui mertuaku.”

Nada suaranya datar, seolah kata mertua tidak membuat dadaku bergetar sedikit pun. Aku buru-buru naik sebelum dia melihat wajahku.

Tegalsari hanya berjarak dua desa, tetapi jalannya lebih sempit dan rusak daripada Rejosari. Pikap kami berguncang melewati sawah kering, kebun singkong, dan deretan rumah berdinding anyaman bambu. Rumah Pak Sukri berada di ujung gang tanah, beratap genting tua dengan teras yang hanya cukup untuk dua kursi plastik.

Bu Minah sudah menunggu di depan pagar bambu.

Begitu aku turun, tangannya meremas ujung kerudung. Dia tampak ingin memelukku, tetapi berhenti satu langkah di depan. Keraguan di wajahnya menusuk lebih dalam daripada tangisan.

“Masuklah, Nduk,” katanya pelan. “Rumahnya sempit.”

Aku memeluknya lebih dulu.

Tubuhnya kaku sesaat, lalu kedua lengannya mengurung punggungku. Bahunya bergetar. Bau asap kayu dan minyak telon menempel pada bajunya, asing sekaligus menenangkan.

“Ibu,” panggilku.

Tangisnya pecah.

Pak Sukri berdiri di ambang pintu sambil mengusap mata dengan punggung tangan. Di belakangnya ada Aan, kakak kandungku yang sehari-hari membawa truk antarkota, istrinya Sari, serta Rian dan Rio yang wajahnya begitu mirip hingga aku hanya bisa membedakan warna kaus mereka.

“Sudah, jangan menangis di luar,” kata Pak Sukri dengan suara serak. “Nanti dikira tetangga kita tidak diberi makan.”

Candaan itu buruk, tetapi berhasil membuat kami tertawa di tengah air mata.

Arya menyalami Pak Sukri dengan kedua tangan dan sedikit membungkuk. Dia tidak menunjukkan sikap seorang pemilik peternakan besar yang sedang datang ke rumah reyot. Dia membantu Aan menurunkan semua barang, menolak duduk sebelum karung beras masuk, lalu menyerahkan amplop kepada Bu Minah.

“Ini untuk Bapak dan Ibu. Bukan pembayaran apa pun,” katanya sebelum mereka sempat menolak. “Anggap saja bagian rezeki dari anak dan menantu.”

Pak Sukri berkali-kali mengatakan terlalu banyak. Arya hanya menjawab, “Tidak seberapa dibanding Laras.”

Semua orang menoleh kepadaku.

Itulah pertama kalinya dia menyebut namaku di depan keluargaku. Biasanya dia memanggilku dengan kata kamu, atau hanya menatap sampai aku mengerti. Namaku terdengar berbeda di mulutnya, lebih pelan, tetapi begitu pasti.

Aku menunduk dan pura-pura sibuk merapikan buah.

Bu Minah memasak ayam kampung yang rupanya sudah disimpan khusus sejak kemarin. Sari menyajikan sayur lodeh, tempe goreng, sambal terasi, dan nasi paling pulen yang mereka punya. Meja makan tidak cukup, jadi kami duduk bersila di ruang depan beralaskan tikar pandan.

“Makan yang banyak,” kata Bu Minah. Dia menaruh paha ayam di piringku, lalu tampak bingung apakah perbuatannya terlalu lancang.

Aku memindahkan setengahnya kembali ke piringnya. “Ibu juga.”

Matanya langsung basah lagi.

Aan berdeham. “Ibu memang begitu sejak tahu Mbak akan datang. Dari subuh sudah memasak.”

“Ayamnya malah dikejar sampai jatuh di kebun,” tambah Rio.

“Itu Rian,” bantah Rian.

“Aku pakai kaus biru.”

“Sekarang kamu pakai merah.”

Mereka berdua saling pandang, lalu tertawa. Untuk pertama kalinya aku membayangkan seperti apa hidupku jika tumbuh di rumah ini. Mungkin aku akan mengeluh karena atap bocor. Mungkin aku harus membantu Bu Minah berjualan gorengan. Namun barangkali aku juga akan mengenali kedua adikku tanpa melihat warna kaus mereka.

Rasa kehilangan itu datang terlambat dan tidak bisa ditagih kepada siapa pun.

“Maafkan Bapak,” ujar Pak Sukri tiba-tiba. “Waktu tahu bayi tertukar, kami tidak punya uang, tidak punya kenalan. Keluarga Bimo bilang kamu sudah sekolah bagus dan hidup enak. Kami takut kalau memaksa, malah merusak hidupmu.”

“Bapak dan Ibu tidak menukar kami dengan sengaja.”

“Tapi kami membiarkanmu tinggal jauh.”

Aku memegang tangan Bu Minah yang kasar oleh minyak panas dan sabun cuci. “Aku juga terlambat pulang. Jadi kita impas.”

Pak Sukri menunduk. Aan mengusap hidung. Bahkan Rian dan Rio berhenti bercanda.

Di sampingku, Arya tidak mencoba menghibur dengan kalimat besar. Dia hanya menggeser gelas teh ke dekat tanganku ketika melihat jari-jariku gemetar.

Percakapan perlahan beralih pada rencana akad. Bu Minah ingin membantu menjahit ujung kebayaku. Sari menawarkan diri mengurus bingkisan tamu. Pak Sukri berkali-kali mengingatkan bahwa mereka tidak mampu membalas seserahan dengan pesta mewah.

“Tidak perlu membalas apa-apa,” kata Arya. “Yang penting Bapak dan Ibu hadir.”

Pak Sukri menghela napas. “Syukurlah uang lamaran kemarin masih ada sedikit. Bisa untuk ongkos keluarga dan kebutuhan Laras.”

Aku menoleh. “Masih ada sedikit?”

Bu Minah tampak salah tingkah. “Yang diberikan keluarga Bimo kepada kami. Katanya bagian untuk orang tua kandungmu.”

“Berapa?”

Dia menyebut angka yang membuatku menahan napas.

Jumlah itu bahkan tidak sampai separuh dari nominal yang pernah kulihat dalam bukti transfer Arya kepada Bimo. Aku mengingatnya dengan jelas karena Ratna menyuruhku membawa map lamaran ke ruang kerja, lalu memarahiku saat mataku tak sengaja menangkap angka di lembar paling atas.

“Ada masalah?” tanya Aan.

Aku melirik Arya. Tatapannya sudah berubah tajam, tetapi dia tidak mendahuluiku.

“Tidak,” jawabku. “Aku hanya ingin memastikan supaya nanti tidak ada catatan yang salah.”

Aku tidak mau hari kepulanganku berubah menjadi pertengkaran soal uang. Pak Sukri dan Bu Minah sudah terlalu lama menanggung rasa bersalah yang bukan milik mereka. Jadi aku menyimpan angka itu di kepala, membantu mencuci piring, lalu memeluk mereka sekali lagi sebelum pulang.

Dalam perjalanan menuju Rejosari, matahari sudah condong di atas sawah.

“Mas Arya,” kataku, “waktu melamar Tiara, berapa uang seserahan yang diserahkan kepada Pak Bimo?”

Dia menyebut angka yang sama dengan ingatanku.

Jari-jariku mengencang di atas tas. Keluargaku hanya melihat sebagian kecil. Namun aku ingat betul, jumlah yang dikeluarkan Arya beberapa kali lipat dari itu.

“Simpan dulu pertanyaanmu,” kata Arya, tetap menatap jalan. “Kita cari catatannya sebelum menuduh siapa pun.”

Aku mengangguk. Itulah yang kuinginkan: bukti, bukan kemarahan. Namun angka jarang berbohong, dan selisih sebesar itu tidak mungkin menguap begitu saja.

Kalau begitu, sisa uangnya berhenti di tangan siapa?

1
мєσωzα
kenapa gak langsung dipecat aja si inah itu?
Sri Supriatin
lanjuut thor...eeh sy bc marathon kok .. kayanya sdh end🤭🤭🤣🤣
Sri Supriatin
gas keun pa Arya😍😍😍😍
Sri Supriatin
6 bulan lho ....anak2kurus n bi Inah kayaaa....ampun lebih galak dr mak tiri atau mertua tocik
Sri Supriatin
mampir ah, certanya end, jd ngk nunggu up🤭🤭biar marathon bc👍👍👍
Sri Hartini
wah2 akhirnya jd nyonya Arya
Sri Hartini
nah bik inah ketahuan bohongnya
Sri Hartini
pamanya terlalu sibuk di peyernakan jd nggak peduli sama ponakan
Sri Hartini
om nya kurang perhatian pdhal ponakannya kurus2
Sri Hartini
padahal bi inah msh sodara kok tega ya
Sri Hartini
arya kenapa diem klau ponakannya kurus
Sri Hartini
lamjut
Sri Hartini
lanjut ceritanya seru
Sri Hartini
ceritanya bagus
Anik Setyowati
iya kadang q bingung critanya,bener sih nggak monoton critanya nggak itu itu aja critanya,tp kapan crita kuliahnya,
Anik Setyowati
semua wanitanya iri sama Laras,tapi tidak membuat dirinya berusaha menjadi seorang wanita yg dibarengi dengan perbuatan yg baik,meningkatkan kecerdasanya, meningkatkan perekonomianya dengan jalan yg halal dan kerja keras,tapi mendahulukan prasangka buruk iri dengki,dan akhlak tercelah,nggak bisa mengontrol emosi yg malah akan menghancurkan hidup dan kebahagiaannya
Anik Setyowati
kenapa pernikahan denandra dan Almira tidak disetujui,sedangkan damar dan Vera disetujui,apakah karna Vera anak orang terpandang dan Almira anak orang biasa orang desa,padahal Vera tidak ada kelebihannya, ahklaqnya buruk
Anik Setyowati
orang seperti ini nggak pantas jadi guru,jual gorengan aja setiap hari berinteraksi sama gorengan, nggak ada orang iri sama gorengan
Anik Setyowati
Bu Ratih takut kecerdasannya tersaingi anak bocil,kasihan deh otaknya tumpul bukan tumpul ilmu tp tumpul mengelolah emosi kejiwaanya nol kosong nol,tua ilmu kedewasaannya nggak ada,yg ada ambisi dan kesombongan
Anik Setyowati
kalau Arya jadi mantu bik Inah boh aboh kasihan 3 anak krucil itu pasti di sia siakan,belum jadi aja 3 Mak itu sudah nggak terawat apalagi jadi,sungguh ancur dunia persilatan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!