Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Balik Kabut
Bel panjang tanda berakhirnya jam pelajaran terakhir di SMA Loyola berbunyi nyaring, memecah heningnya lorong-lorong kelas dan menyebarkan keriuhan para murid yang bersiap untuk pulang. Suara gelak tawa, derap langkah kaki di tangga, dan gurauan antar-murid memenuhi udara sore. Di saat teman-teman seangkatannya sibuk merencanakan tempat berkumpul di kafe terdekat atau menunggu jemputan mobil mewah di depan gerbang utama, Aurel justru melangkah cepat menuju area taman belakang sekolah yang jauh lebih sepi.
Ia duduk sendirian di atas bangku semen di bawah naungan pohon pule yang rindang. Aurel menarik napas panjang, membiarkan udara sore mendinginkan dadanya yang sempat terasa agak sesak akibat kejadian di koridor lantai dua tadi pagi. Tatapan menghina, lirikan merendahkan, dan kata-kata kasar dari Clarissa sama sekali tidak melukai hatinya. Aurel sudah terbiasa hidup dalam kesederhanaan dan ketenangan batin. Namun, ada sebuah teka-teki yang jauh lebih besar, lebih berat, dan lebih mendesak yang kini menuntut jawaban mutlak di dalam jiwanya.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Aurel merogoh saku dalam tas kain sederhananya. Ia mengeluarkan secarik kertas lusuh berlipat empat kertas bernilai tinggi yang ia dapatkan dengan susah payah dari petugas arsip RS Elisabeth kemarin. Tulisan tangan rapi tinta hitam di kertas itu menunjuk ke sebuah alamat terpencil. Desa Lerep, sebuah pemukiman sunyi yang berada di lereng selatan Gunung Ungaran.
Aurel mengencangkan pegangannya pada tali tas kain itu. Batinnya bergejolak hebat. Ia tahu, jika ia menunda niatnya hari ini dan memilih pulang ke rumah, keberanian yang sudah terkumpul ini mungkin akan surut terkikis rasa ragu dan takut. Ia tidak ingin membohongi atau menyembunyikan sesuatu dari ibunya, Sari, lebih lama lagi. Namun di sisi lain, ia juga tidak mampu lagi meredam bisikan di dalam hatinya yang terus mempertanyakan silsilah dan takdir kelahirannya. Tanpa ragu lagi, Aurel menegakkan tubuhnya, melangkah mantap keluar melewati gerbang samping sekolah, lalu berjalan cepat menuju terminal angkutan umum kota.
Perjalanan dari pusat Kota Semarang menuju kawasan lereng gunung memakan waktu yang cukup panjang dan melelahkan. Aurel harus berpindah armada dua kali, dimulai dari angkutan kota yang padat penumpang hingga berlanjut ke bus pedesaan berwajah kusam yang khusus melayani jalur pegunungan.
Mesin bus tua itu meraung keras dan berat saat mulai mendaki jalanan yang menanjak tajam serta berliku-liku. Di balik jendela kaca bus yang berdebu, pemandangan hiruk-pikuk gedung tinggi, pusat perbelanjaan, dan deretan kendaraan mewah Kota Semarang perlahan-lahan memudar. Pemandangan itu berganti menjadi rimbunnya pepohonan pinus yang jangkung, petak-petak ladang sayur milik warga lokal, serta hamparan perkebunan cengkeh tua yang membentang luas.
Matahari sore perlahan makin condong ke ufuk barat, memancarkan cahaya keemasan yang redup di sela-sela rimbun dahan pohon. Udara panas khas Semarang bawah yang semula membakar kulit perlahan menyusut, berganti menjadi hawa sejuk yang menyegarkan. Namun, seiring bus yang terus merayap naik menembus ketinggian, udara sejuk itu berubah menjadi dingin yang mulai menusuk hingga ke tulang. Kabut tebal khas pegunungan turun lebih cepat dari perkiraan, menyelimuti permukaan jalanan tanah dan membatasi jarak pandang sopir bus.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, bus tua itu akhirnya berhenti di sebuah persimpangan jalan tanah yang amat sepi. Tempat itu merupakan pemberhentian terakhir rute angkutan umum. Sopir bus berpaling ke belakang dan memberi tahu Aurel dengan ramah bahwa desa yang tertera di catatannya masih harus ditempuh dengan berjalan kaki menaiki jalan setapak.
Aurel mengangguk sopan, mengucap terima kasih, lalu melangkah turun dari bus. Begitu pintunya tertutup dan bus itu berputar balik meninggalkan lokasi, angin sore lereng gunung seketika menyambar tubuhnya tanpa ampun. Hawa dingin yang pekat menembus seragam sekolahnya yang tipis. Aurel merapatkan selendang kain yang melilit lehernya, menarik napas dalam-dalam menghirup aroma tanah basah, embun, dan daun cengkeh gugur aroma alami yang terasa sangat familier dengan rumahnya di Gunungpati.
Suasana sepi di sekelilingnya begitu mencekat dan hening. Tidak ada deru mesin mobil atau hiruk-pikuk perkotaan. Yang ada hanyalah suara gesekan dedaunan tua yang ditiup angin pegunungan serta derik nyaring serangga malam yang mulai bersahut-sahutan dari balik semak belukar.
Dengan penuh keteguhan, langkah kaki Aurel mulai menyusuri jalan setapak tanah yang basah dan licin oleh embun sore. Sepatu sekolahnya dan bagian bawah rok seragamnya perlahan terkena cipratan lumpur tipis, namun ia tidak peduli. Kaki kecilnya terus melangkah menanjak pantang menyerah. Setiap pijakan yang diambilnya di atas tanah berembun itu terasa bagaikan sebuah langkah menelusuri lorong waktu yang gelap, menuju muara rahasia masa lalunya.
Setelah berjalan hampir setengah jam menelusuri jalur yang makin menanjak, deretan rumah-rumah panggung kayu sederhana beratap seng berkarat mulai terlihat samar-samar di balik gulungan kabut putih. Pemukiman itu tampak sangat tenang, terisolasi, dan seolah terpisah dari hiruk-pikuk kehidupan dunia luar.
Aurel menghentikan langkahnya sejenak di dekat seorang warga lokal yang sedang merapikan tumpukan kayu bakar di teras rumahnya untuk menanyakan petunjuk arah. Dengan ramah, warga itu menunjuk ke arah ujung paling timur desa sebuah jalan setapak kecil yang makin menyempit dan agak terpencil menuju kawasan ladang herbal.
Aurel mengikuti petunjuk itu dengan dada yang gemuruh oleh degup jantung yang kian kencang. Di ujung jalan setapak yang dikelilingi pagar bambu, berdiri sebuah rumah kayu sederhana yang tampak sangat asri dan terawat. Di sekeliling teras depan rumah tersebut, berjejer rapi belasan pot tanah liat yang ditanami berbagai jenis tanaman obat tradisional—jahe merah, kencur, temulawak, kunyit, dan daun sirih yang subur. Pemandangan teras rumah itu seketika menghantam ingatan Aurel pada teras rumahnya sendiri di Gunungpati serta kebiasaan ibunya, Sari, saat meracik jamu di pagi hari.
Aurel menghentikan langkahnya tepat di depan pagar bambu yang terbuka separuh. Kedua tangannya memegang erat tali tas kain di dadanya. Kakinya gemetar hebat, bukan lagi karena dinginnya angin gunung, melainkan karena gejolak emosi dan kepasrahan yang memuncak di dalam jiwanya.
Dari balik pintu kayu rumah yang terbuka pelan dengan bunyi keriut halus, muncul seorang wanita paruh baya bermuka tegas. Rambutnya yang mulai memutih disanggul sederhana di tengkuk, dan sebuah selendang lusuh melilit di pundaknya. Wanita itu membawa sebuah mangkuk tanah kecil berisi air, bermaksud untuk menyiram tanaman herbal di sudut teras.
Namun, gerakan wanita itu terhenti seketika. Pandangannya terkunci pada sosok gadis berseragam sekolah yang berdiri diam dan memandangnya dari balik pagar bambu. Keheningan yang sangat panjang dan mencekat mendadak melingkupi mereka berdua di tengah hamparan kabut sore yang kian turun menebal.
"Cari siapa, Nak?" tanya wanita paruh baya itu dengan suara pelan namun menyimpan nada kewaspadaan yang sangat nyata.
Aurel menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang terpelihara di dalam jiwanya, lalu melangkah dua pijakan mendekati anak tangga teras.
"Permisi..." suara Aurel keluar bergetar halus, namun terdengar amat jelas memecah kesunyian lereng gunung. "Apakah Ibu... Suster Rina?"
Wanita paruh baya itu tidak langsung menjawab. Mata tajamnya menatap Aurel lekat-lekat, mengamati setiap senti garis wajah, bentuk mata, dan warna kulit gadis itu dengan kening yang berkerut dalam. "Iya, saya Rina. Ada perlu apa sore-sore begini mencari saya ke tempat sepi ini?"
Aurel merogoh saku bajunya, menunjukkan secarik kertas catatan alamat rumah sakit itu dengan tangan yang gemetar, lalu menatap langsung ke dalam manik mata wanita di hadapannya.
"Nama saya Aurel," bisik Aurel dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan air mata yang mendesak. "Saya lahir sembilan belas tahun yang lalu di RS Elisabeth Semarang... pada malam saat badai mengamuk hebat dan listrik padam total. Ibu saya bernama Sari, seorang penjual jamu dari Gunungpati."
Seketika itu juga, mangkuk tanah kecil yang sedang dipegang oleh wanita paruh baya itu terlepas begitu saja dari jemarinya, jatuh dan pecah berdentang keras di atas lantai kayu teras.
Warna kehidupan di wajah Suster Rina surut dalam hitungan detik, digantikan oleh kepucatan luar biasa yang teramat nyata dan menakutkan. Matanya bergetar hebat, bibirnya terkatup rapat, dan napasnya seolah tertahan di tenggorokan saat ia memandangi raut wajah Aurel.
Suster Rina melangkah mundur satu pijakan dengan seluruh tubuh yang gemetar hebat. Bayang-bayang rahasia paling kelam, paling menakutkan, dan paling berdosa dalam hidupnya sebuah rahasia penukaran bayi di malam badai kelam yang telah ia kubur rapat-rapat selama sembilan belas tahun kini telah bangkit dari kegelapan dan berdiri nyata tepat di hadapan matanya sendiri.
kalau bisa double up