“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
“Ehemm…”
Suara itu cukup untuk membuat semua perhatian tertuju kepadanya. Percakapan langsung terhenti.
Arman sedikit menegakkan duduknya. Eyang Narti menatap pria itu dengan sopan. Kayla bahkan tanpa sadar menahan napas. Kyai Hasan tersenyum kecil sebelum akhirnya mulai berbicara.
“Bismillahirrahmanirrahim.” Suara beliau tenang dan berat, membuat ruangan terasa lebih khidmat.
“Bu Narti, Mas Arman, dan semuanya. Kedatangan kami kemari yang pertama tentu ingin bersilaturahmi.”
Eyang Narti mengangguk dengan ramah. “Saya mengerti, Kyai.”
Wajahnya menunjukkan sikap hormat pada tamu yang datang. Kyai Hasan melanjutkan dengan suara yang tetap lembut namun penuh ketegasan.
“Sebagai orang tua, tentu kami tidak ingin anak kami melangkah tanpa restu keluarga.”
Arman langsung mengangguk pelan. “Tentu, Kyai.”
Kayla yang mendengar kalimat itu mulai merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya kembali meremas ujung gamisnya.
Kyai Hasan menoleh sebentar kepada Hanan yang duduk di sampingnya. Pemuda itu masih menunduk. Lalu Kyai Hasan kembali menatap keluarga Kayla.
“Hanan, sudah menyampaikan niatnya kepada kami.”
Ruangan itu terasa semakin sunyi. Kayla menelan ludah.
“Jadi kami datang hari ini untuk menyampaikan niat baik ini kepada keluarga.”
Kyai Hasan berhenti sejenak. Seolah memberi waktu agar kalimat berikutnya benar-benar dipahami. Kemudian beliau berkata dengan jelas.
“Anak kami, Hanan… berniat untuk mengkhitbah Kayla.”
Suasana ruang tamu benar-benar hening. Arfin sampai membuka mulutnya sedikit karena kaget.
Fatimah langsung menoleh ke arah Kayla dengan mata yang berbinar. Sementara Kayla merasa tubuhnya menegang.
Eyang Narti tersenyum hangat. Tangan tuanya yang sudah keriput menggenggam tangan Kayla dengan lembut.
“Saya sebagai eyangnya Kayla tentu sangat bersyukur,” ucapnya pelan. Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. “Tapi untuk keputusan ini, sepenuhnya saya serahkan pada yang bersangkutan.”
Ia menoleh kepada cucunya. “Bagaimana, nduk?”
Sekarang semua mata tertuju pada Kayla. Gadis itu melipat bibirnya pelan. Ia menatap satu per satu orang yang ada di ruangan itu.
Eyang Narti yang menggenggam tangannya. Om Arman yang menatapnya dengan dukungan.
Arfin yang terlihat sangat penasaran. Umi Anisa yang tersenyum lembut. Fatimah yang hampir tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
Lalu akhirnya…
Matanya berhenti pada Hanan. Pemuda itu masih menunduk, kedua tangannya saling meremas di atas lutut.
Kayla memperhatikan itu sejenak. Sepertinya dia juga gugup, pikirnya. Pikiran itu membuat perasaannya sedikit lebih ringan.
Kayla menarik napas panjang. Namun saat ia mulai berbicara, suaranya tetap sedikit bergetar.
“T—tapi…” Semua orang menunggu. “Saya tidak sempurna.”
Kayla menunduk sebentar.
“Saya masih banyak kekurangan… bahkan mungkin saya masih jauh dari kata baik.”
Ruangan menjadi sangat sunyi. Kayla lalu mengangkat wajahnya. Matanya menatap langsung kepada Hanan.
“Apakah Mas Hanan yakin mau memperistri wanita seperti ku?”
Pertanyaan itu membuat Hanan akhirnya mendongak. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat Hanan terdiam.
Di matanya, Kayla terlihat sangat cantik dengan gamis sederhana itu. Namun yang lebih membuatnya terdiam adalah keberanian Kayla mengatakan semua kekurangannya dengan jujur.
Hanan lalu menjawab dengan suara tenang.
“InsyaAllah. saya serius, Kayla.” Ia menatap Kayla dengan penuh keyakinan.
Membuat Suasana ruangan terasa semakin hangat. Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut. “Saya ingin meng-khitbah kamu. Menjadi istriku.”
Pipi Kayla langsung memerah. Jantungnya berdetak semakin kencang. Namun di dalam hatinya, ada rasa tenang yang perlahan tumbuh.
Kayla menunduk sebentar. Lalu berkata pelan.
“Jika begitu…” Ia mengangkat wajahnya lagi. “Tolong bimbing saya.”
“Pasti.” Jawab Hanan langsung mengangguk tanpa ragu.
Jawabannya sederhana, tapi terdengar sangat tulus. Eyang Narti yang sejak tadi memperhatikan mereka tersenyum lebar.
“Jadi, gimana nduk?” tanyanya lembut.
Kayla menatap Hanan sekali lagi. Lalu ia berkata dengan suara pelan namun jelas.
“Kayla bersedia, Eyang.”
Suasana ruang tamu yang tadi dipenuhi ketegangan kini berubah menjadi jauh lebih hangat. Senyum mulai menghiasi wajah semua orang yang duduk di sana. Bahkan udara di ruangan itu terasa lebih ringan setelah jawaban Kayla barusan.
“Alhamdulillah…” ucap Kyai Hasan sekali lagi dengan penuh rasa syukur.
Umi Anisa mengangguk pelan, matanya masih menatap Kayla dengan tatapan lembut. Ia terlihat sangat lega melihat gadis itu menerima niat anaknya.
Fatimah bahkan hampir melompat dari duduknya jika saja Umi tidak menepuk pelan tangannya agar tetap tenang.
Sementara Arfin sudah menyeringai lebar dari tadi.
“Wah… jadi kakak beneran mau nikah?” gumamnya setengah berbisik tapi tetap terdengar.
Kayla langsung melotot kecil ke arah adiknya. “Arfin…”
Remaja itu langsung mengangkat kedua tangannya pura-pura menyerah. “Iya iya, aku diam.”
Tingkahnya membuat beberapa orang di ruangan itu tersenyum kecil. Eyang Narti yang sejak tadi memegang tangan Kayla akhirnya menghela napas panjang. Wajah tuanya terlihat sangat lega.
Wanita itu lalu menatap Kyai Hasan dengan penuh hormat. “Kyai… saya sangat bersyukur atas niat baik ini.”
“Justru kami yang bersyukur, Bu Narti.” Ucap Kyai Hasan tersenyum tenang.
Beberapa detik mereka terdiam, menikmati suasana yang kini lebih tenang. Kemudian Kyai Hasan kembali berbicara dengan suara yang bijak.
“Kalau begitu… mungkin kita bisa mulai membicarakan langkah selanjutnya.”
Arman langsung mengangguk. “Tentu, Kyai.”
Kayla yang mendengar itu kembali sedikit tegang. Langkah selanjutnya… Artinya pernikahan benar-benar akan terjadi.
Kyai Hasan lalu berkata dengan nada yang santai namun tetap penuh pertimbangan.
“Menurut saya, tidak perlu terlalu lama menunda sesuatu yang baik.”
“Betul juga.” Saut Arman terlihat setuju.
Umi Anisa ikut menimpali dengan senyum hangat. “Apalagi anak muda kalau sudah punya niat baik, sebaiknya segera dijaga.”
“Betul sekali, Umi.” Kata Fatimah langsung mengangguk semangat.
Hanan hanya tersenyum kecil mendengar pembicaraan itu. Sementara Kayla semakin menunduk karena merasa malu. Eyang Narti kemudian berkata dengan suara lembut.
“Kalau menurut Kyai… kira-kira kapan hari baiknya?”
Kyai Hasan mengusap janggutnya pelan, seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Kami sebenarnya tidak terlalu percaya pada hitungan yang rumit,” katanya perlahan. “Tapi kami percaya memilih waktu yang baik itu penting.”
Arman mengangguk memahami. “Betul, Kyai.”
Kyai Hasan kemudian menoleh kepada Hanan.
“Kamu ada rencana, Hanan?”
Hanan sedikit terkejut ditanya langsung. Ia berpikir sejenak sebelum menjawab. “Kalau menurut saya… semakin cepat semakin baik, Abah.”
Fatimah langsung menyeringai. “Tuh kan…”
‘’Fatimm,” Umi Anisa menyenggol pelan lengan anaknya.
Semua orang tertawa kecil. Kyai Hasan kembali menatap keluarga Kayla.
“Kalau Bu Narti dan Mas Arman berkenan… bagaimana kalau akadnya kita rencanakan sekitar satu bulan lagi?”
Arfin yang mendengar itu langsung tersedak minumannya.
“Sebulan?!” gumamnya pelan.
Kayla juga sedikit terkejut. Namun Eyang Narti terlihat justru berpikir dengan tenang.
“Satu bulan…” Ia melirik Kayla sebentar. Gadis itu masih menunduk.
“Menurut saya itu waktu yang cukup. Tidak terlalu lama, tapi juga tidak terlalu terburu-buru.” Ucap om Arman.
“Saya setuju.” Kata Eyang Narti akhirnya mengangguk pelan.
Wajah Kayla sedikit terangkat ketika mendengar keputusan itu.
Sebulan lagi… Artinya hidupnya benar-benar akan berubah.
“Untuk acaranya sendiri… kami tidak ingin membuat Kayla terbebani.” Umi Anisa lalu berkata dengan lembut. Ia menatap gadis itu dengan penuh perhatian. “Kayla, kamu mau membuat acara dimana? Dan maha rapa yang kamu inginkan?’’