NovelToon NovelToon
Gadis Desa Kesayangan Mafia

Gadis Desa Kesayangan Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:440.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

​“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.

​“Kau menyukainya?”

​“Memangnya itu apa?”

​“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”

Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.

****

Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.

Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.

Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.

Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

Jarak di antara bibir mereka kian terkikis, menyisakan ruang yang hanya cukup untuk hembusan napas. Lucia sudah memejamkan mata rapat-rapat hingga dahinya berkerut.

Tangan kecilnya meremas ujung kemeja Alessandro dengan kuat, bersiap menghadapi serangan cacing yang paling menakutkan,, sekaligus paling membuatnya penasaran dalam hidupnya.

Di sisi lain, Alessandro juga ikut menahan napas. Matanya yang tajam kini setengah terpejam, menikmati wangi alami bunga dari tubuh Lucia yang entah mengapa terasa begitu memabukkan.

Bibir sang mafia tinggal berjarak satu milimeter lagi, sialnya Vincent melangkah masuk dengan langkah terburu-buru, matanya masih terpaku pada lembaran kertas di tangannya tanpa melihat ke depan.

“Tuan, laporan dari Sicily sudah—”

Vincent mendongak dan seketika kalimatnya terputus. Kakinya membeku di atas seolah baru saja menginjak ranjau darat.

Ia melihat bos besarnya sedang mengunci tubuh Lucia di atas kursi dengan posisi wajah yang sangat tidak pantas untuk dilihat di pagi hari.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Vincent langsung berbalik badan seratus delapan puluh derajat, membelakangi majikannya.

“Maaf, Tuan. Saya kira anda sedang sarapan croissant, bukan sarapan yang lain,” ucap Vincent berpura-pura sangat tertarik menatap detail corak wallpaper dinding di hadapannya.

Mendengar suara yang tak asing, Lucia langsung membuka mata. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, gadis desa itu menyahut polos dari balik dada tegap Alessandro.

“Paman Vincent kemari. Paman Tampan ini mau memindahkan cacing ke mulutku,” ucap Lucia dengan antusias

Vincent yang masih menatap tembok seketika terbatuk-batuk hebat. Ia tersedak air liurnya sendiri.

“What? Memindahkan cacing ke dalam mulut?!” pikir Vincent liar. Otaknya yang cerdas sama sekali tidak mengerti maksud ucapan absurd gadis kepang dua itu.

Sementara itu, raut wajah Alessandro mengeras sempurna. Rahangnya tertutup rapat.

Suasana romantis, panas dan intens yang susah payah dibangunnya mendadak hancur berantakan berkeping-keping.

Warna merah tipis sempat muncul di sekitar telinganya, salah tingkah luar biasa karena tertangkap basah nyaris mencium seorang gadis oleh asisten kepercayaannya sendiri.

“Pergilah.” Alessandro mendorong pelan bahu Lucia.

Bukannya pergi, Lucia malah cemberut. Ia menatap Alessandro dengan wajah kecewa, persis seperti anak kecil yang kehilangan permen.

“Kenapa disuruh pergi? Dan kenapa Paman menjauh? Paman tidak jadi memperlihatkan cacing itu padaku? Aku sungguh ingin merasakannya!” rengek Lucia tak terima.

Alessandro memejamkan mata lalu memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Sang mafia yang ditakuti musuh-musuhnya kini sangat kewalahan menghadapi keluguan seorang gadis desa.

“Nanti malam saja. Aku masih ada urusa,” balas Alessandro seraya mencoba menegakkan tubuhnya dan menjaga jarak agar kewarasannya tetap utuh.

“Tidak mau! Aku mau sekarang, titik!” rengek Lucia makin menjadi.

Tangan kecilnya dengan berani malah menarik kerah kemeja Alessandro, menahan pria besar itu agar tidak kabur dari hadapannya.

“Jangan membuatku penasaran, Paman! Katanya tadi cacingnya tidak bikin sakit. Kenapa sekarang Paman pelit sekali? Apa cacingnya mendadak malu karena ada Paman Vincent di sini?!” cecar Lucia menuntut keadilan.

Alessandro menggeram pelan. Sungguh, ia kehabisan kata-kata. Sisi dingin dan arogannya runtuh total.

Bagaimana caranya ia menjelaskan konsep ciuman tanpa terdengar seperti orang mesum gila di depan asistennya?!

Alessandro menoleh perlahan, melirik tajam ke arah punggung Vincent yang kini tampak berguncang hebat karena mati-matian menahan tawa.

“Sepertinya kau punya stok nyawa tambahan, Vin? Sampai-sampai kau masih berani berdiri di situ, menguping dan menertawakan ku?” gertak Alessandro.

Vincent yang sadar nyawanya benar-benar sudah berada di ujung tanduk langsung mengangkat kedua tangannya ke udara sebagai tanda menyerah, masih tanpa berani berbalik badan.

“Ah, ya! Tentu tidak, Tuan! Saya sungguh asisten yang tidak peka. Silakan lanjutkan ritual pertukaran hewannya. Sampai cacing-cacing itu saling membelit satu sama lain juga tidak apa-apa. Saya tunggu di mobil sekarang!” sahut Vincent cepat dengan nada geli yang tak mampu disembunyikannya lagi.

Selesai berucap, Vincent langsung mengambil langkah seribu, berlari kabur keluar dan menutup pintu rapat-rapat sebelum sebuah peluru melayang menembus kepalanya.

Sepeninggal Vincent, ruang makan kembali hening. Alessandro menatap Lucia yang masih menatapnya dengan bibir mengerucut maju dan mata bulat yang menuntut janji.

Perasaan gemas, kesal, malu dan hasrat yang tertahan, semuanya bercampur aduk menjadi satu di dalam dada sang mafia. Ia benar-benar bisa gila jika terus meladeni kepolosan ini.

Tanpa peringatan apa pun, Alessandro menyusupkan kedua tangannya yang kekar ke bawah lutut dan punggung Lucia. Dalam satu tarikan napas, ia mengangkat tubuh mungil gadis itu ke dalam gendongannya.

“Aaa! Paman!” seru Lucia kaget bukan kepalang, refleks melingkarkan kedua tangannya erat-erat di leher tegap Alessandro agar tidak jatuh. “Paman! Kita mau kemana?!”

“Kamarku,” jawab Alessandro membawa Lucia menaiki tangga tanpa memedulikan tatapan takjub bercampur shock dari beberapa pelayan yang sedang membersihkan lorong.

“Ke kamar Paman? Untuk apa? Apakah obat cacingnya disimpan di dalam laci lemari kamar Paman? Memangnya kita harus minum obatnya sambil tiduran?” tanya Lucia polos, wajahnya berada tepat beberapa sentimeter dari ceruk leher hangat Alessandro yang beraroma maskulin.

“Bukan,” bisik Alessandro tepat di telinga Lucia, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri seketika karena getaran suaranya. “Aku mau mengajarimu cara menidurkan cacing yang mengamuk ini, tanpa ada gangguan dari siapa pun.”

Lucia menelan ludah dengan susah payah. Ia hanya bisa pasrah dalam dekapan erat sang iblis yang kini menyeringai tipis.

Dadanya berdebar tak karuan, seraya meraba-raba arti dari kalimat Alessandro yang selalu saja terdengar misterius.

1
Lia Srimulyani
apakah ada kisah nya Ara dan Marco?
Azalea
bagus Marco ak setuju akan ucapanmu
Azalea
Allesandro knapa jadi begitu ya luciakan cuma mau ktemu keluarganya yg hilang dlu tpi seakan akan salah besar bwt Lucia ak kecewa padamu Ale 😔
Azalea
Ale cemburu🤣🤣
Azalea
ternyata Marco dan Lucia adik kakak
Azalea
Alhamdulillah Marco peduli pada Lucia tlong Lucia marco
Azalea
Lucia pasti gak paham hadiah apa yg d'berikan naga besar ale🤣
Yasinta Niken
wkwkwk wkwkwk wkwkwk
Azalea
Duh penganten baru udah d'tinggal pergi sebulan lg
Azalea
wah gak bakalan rame klau d'skip thor
Anjani Manurung
ini polos ,bego atau bodoh ya.malah ky trbelakang mental.desa mana yg pelosok banget coba.kl bgini gmn mau JD pasangan mafia.
Azalea
Ada apa dgn Marco jadi penasaran lanjut thor
Nurul Hidayah
seru👍
Azalea
Coba it Isabel d'dor aj biar mampus
Azalea
rasain kamu Isabella
Azalea
Jangan salah paham paman ganteng sukanya Lucia karna paman baik hati
Azalea
it Isabella knapa gak sekalian d'bunuh aja
Azalea
penawarnya harus bersentuhan bbir ya
Azalea
Good job lucia👍
Azalea
Lucia knapa gak bisa nyimpen rahasia sie knapa harus bercerita pada otang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!