NovelToon NovelToon
EFEK MANDAROBA

EFEK MANDAROBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: just Zii

Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.

Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.

​Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.

Alden.

Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.

​BRAAKK!

​Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:

​"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: OBAT TANPA LABEL

Lampu gantung kristal di ruang makan utama memancarkan cahaya kuning keemasan yang hangat, memantul anggun di atas permukaan meja kayu jati yang terpoles sempurna.

Di atas meja, sajian makan malam mewah tertata rapi—dua piring steak daging dengan saus truffle, sup krim jamur, dan dua gelas kristal berisi air mineral.

Suasana ruangan itu begitu tenang, hening, dan teratur, seolah ditarik keluar dari majalah arsitektur kelas atas.

Namun bagi Sesil, keheningan ini terasa menyesakkan.

Di seberang meja, Alden duduk dengan keanggunan yang alami. Pria itu mengunyah makannya perlahan, memotong daging dengan gerakan yang begitu presisi dan tanpa suara. Setiap detail gerakan Alden memancarkan kendali penuh—bukan hanya atas dirinya sendiri, tetapi juga atas seluruh isi rumah ini, termasuk wanita yang duduk di hadapannya.

"Kamu tidak menghabiskan supmu, Sayang?" tanya Alden halus.

Pria itu meletakkan pisau dan garpunya, lalu menatap Sesil dengan binar mata yang dipenuhi perhatian lembut.

"Aku... belum terlalu lapar, Alden," jawab Sesil pelan.

Ia mengaduk-aduk sup di mangkuknya secara canggung, berusaha keras menyembunyikan ketegangan yang merayap di tengkuknya.

Alden tersenyum—sebuah senyuman tipis yang menenangkan. "Tidak apa-apa. Yang terpenting kamu harus tetap menjaga asupan nutrisi. Dokter bilang, fase pemulihan jaringan otakmu sangat membutuhkan gizi yang cukup."

Sesil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Selama beberapa hari terakhir, sejak insiden serangan panik di bawah guyuran hujan badai itu, Alden memperketat pengawasannya.

Pria itu tidak lagi membiarkan Ibu Marta menyerahkan obat harian kepada Sesil. Alden mengambil alih tugas itu secara pribadi—seseorang tunangan yang begitu penuh kasih dan penuh dedikasi di mata dunia.

Setelah makan malam usai, Alden memandu Sesil kembali ke kamar tidur utama di lantai dua. Langkah kaki mereka yang beradu dengan lantai kayu menimbulkan gema samar di lorong rumah yang sunyi.

Di dalam kamar, Alden melangkah menuju meja kecil di dekat tempat tidur. Dari dalam kotak kayu berukir yang selalu terkunci gembok kombinasi angka, ia mengambil sebuah botol kaca bening tanpa merk atau label tulisan apa pun.

Dari dalamnya, ia mengeluarkan dua butir pil—satu berwarna putih mulus dan satu lagi berwarna kuning pudar.

Alden kemudian menuangkan air putih hangat dari teko kristal ke dalam gelas, lalu berjalan mendekati Sesil yang duduk di tepi tempat tidur.

"Waktunya minum obat, Sesil," ujar Alden.

Suaranya begitu bernada hipnotis, hangat, dan dipenuhi otoritas yang tak terbantahkan. Pria itu mengulurkan telapak tangannya, memperlihatkan dua pil tanpa identitas tersebut.

Sesil menatap pil-pil itu. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Beberapa malam lalu, saat ia berpura-pura menelan obat tersebut dan menyembunyikannya di bawah kasur, ia berhasil mempertahankan kejernihan pikirannya. Namun malam ini, Alden tidak berdiri terlalu jauh. Pria itu berdiri rapat di depannya, memperhatikan setiap gerak-gerik kecil dari kelopak mata dan tenggorokannya.

"Alden... bolehkah aku tahu nama obat ini?" tanya Sesil secara halus, mencoba menunda. "Aku hanya ingin tahu apa yang masuk ke dalam tubuhku."

Sorot mata Alden tidak berubah. Binar perhatiannya tetap ada di sana, namun ada sapuan ketegangan dingin yang tak terlihat jika seseorang tidak memperhatikannya dengan saksama.

"Ini adalah peracikan formula khusus dari spesialis saraf pribadi keluarga kita, Sayang," terang Alden seraya duduk di sebelah Sesil. Tangannya yang bebas mengusap lembut helai rambut Sesil. "Kombinasi neuro-protektor dan penenang dosis rendah. Fungsinya untuk mencegah saraf otakmu mengalami kejang atau pembengkakan saat memproses memori. Kamu tidak percaya padaku?"

Pertanyaan terakhir itu disampaikan dengan intonasi yang begitu dalam, sarat akan beban kekecewaan yang dibuat sangat nyata.

"Bukan begitu... aku percaya padamu," bisik Sesil pasrah.

"Kalau begitu, minumlah. Aku tidak ingin melihatmu tersiksa oleh rasa sakit lagi," tegas Alden lembut.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Sesil mengambil kedua pil tersebut dari telapak tangan Alden. Ia memasukkannya ke dalam mulut, lalu mereguk air putih dari gelas yang disodorkan Alden. Ia membiarkan air mendorong pil-pil itu meluncur turun melewati tenggorokannya.

Alden tidak langsung mengalihkan pandangannya. Pria itu menatap lekat leher Sesil, memastikan jakun kecil dan otot tenggorokannya bergerak menelan secara sempurna. Setelah yakin obat itu benar-benar masuk, senyum kepuasan yang tipis dan sempurna kembali menghiasi bibirnya.

"Gadis pintar," puji Alden seraya mengambil gelas kosong dari tangan Sesil dan meletakkannya kembali di atas nakas.

Pria itu kemudian menyelimuti tubuh Sesil hingga ke dada, membungkuk untuk mendaratkan kecupan hangat di dahinya.

"Tidurlah. Aku akan ada di sini sampai kamu tertidur lelap."

Sesil memejamkan matanya. Dan hanya dalam waktu lima belas menit, reaksi kimiawi dari pil tanpa label itu mulai menjalar ke seluruh sistem saraf pusatnya.

Sensasinya tidak datang seketika seperti pukulan, melainkan seperti kabut tebal yang perlahan merayap dan membungkus otaknya. Sesil merasakan gelombang kehangatan buatan yang memaksa otot-otot tubuhnya merenggang ketat. Kecepatan berpikirnya melambat secara drastis.

Di balik kelopak matanya yang tertutup, rasa curiga, skeptisisme, dan kewaspadaan yang telah ia bangun berhari-hari mendadak terkikis habis.

Pertanyaan-pertanyaan kritis yang tadinya bergema di kepalanya—tentang baju-baju baru di lemari, tentang kertas tanpa tulisan, tentang luka di kepalanya—tiba-tiba terasa sangat tidak penting dan melelahkan untuk dipikirkan.

Sebuah kepatuhan yang tumpul merayap menggantikan kecurigannya.

Dalam kondisi kabur emosional tersebut, Sesil mendengar suara Alden memanggil namanya pelan.

"Sesil?"

"Hmm...?" gumam Sesil lambat. Suaranya terdengar kekanak-kanakan dan pasrah, jauh dari nada bicaranya yang biasa.

"Siapa aku?" tanya Alden dengan nada berbisik yang amat dekat di telinganya.

"Alden... tunanganku..." jawab Sesil tanpa ada keraguan sedikit pun. Efek obat itu bertindak seperti penghapus logika, memaksa otaknya menerima apa pun informasi yang ditanamkan secara berulang.

"Dan siapa yang melindungimu dari dunia luar yang jahat?" lanjut Alden.

"Kamu... hanya kamu..."

Alden mengelus pipi Sesil dengan lembut. Ada binar kebanggaan yang dingin di dalam manik matanya. Obat itu bekerja sesuai dengan standar ilmiah yang diinginkannya.

Senyawa khusus ini tidak hanya menumpulkan memori lama, tetapi juga melumpuhkan daya kritis subjek, membuat pikiran Sesil menjadi seperti tanah liat basah yang mudah dibentuk sesuai kehendaknya.

Pagi harinya, saat sinar matahari menerobos masuk dari celah tirai yang sedikit terbuka, Sesil terbangun dengan perasaan yang sangat aneh.

Kepalanya terasa berat dan kaku, seolah dilapisi oleh lapisan kapas tebal. Ia bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi semalam, tetapi emosi kecurigaan yang ia rasakan kemarin sore mendadak sirna tanpa jejak.

Ketika ia memikirkan tentang botol obat tanpa label itu, otaknya justru memunculkan rasionalisasi otomatis: Alden melakukannya demi kebaikanku. Mengapa aku harus meragukannya? Dia adalah penyelamatku.

Sesil duduk di tepi tempat tidur, menatap pemandangan tebing dan hutan pinus dari balik kaca.

Ketakutan baru yang lebih menyeramkan melingkupi batinnya. Bukan lagi ketakutan akan rumah yang asing atau amnesianya, melainkan kesadaran mengerikan bahwa pikiran dan perasaannya sendiri secara bertahap sedang diretas dari dalam.

Setiap kali pil tanpa label itu tertelan, daya tahannya goyah, logikanya dimatikan, dan ia dipaksa untuk makin menyerahkan seluruh rasa percayanya kepada pria yang mungkin telah menghancurkan hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!