Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Tubuh Hazel terkulai sangat lemas dalam pelukan erat Arlend. Gadis itu tidak memiliki sisa tenaga bahkan hanya untuk sekadar mengangkat tangan atau merespons bisikan penuh penyesalan dari pria yang memeluknya. Manik matanya yang membiru dan sayu menatap wajah Arlend tanpa fokus, sebelum akhirnya kelopak matanya yang berat perlahan terpejam kembali. Suara napasnya begitu tipis, nyaris tak terdengar di antara deru angin laut malam yang dingin.
Merasakan tubuh Hazel yang kian mendingin dan tak berdaya, Arlend tidak membuang waktu satu detik pun.
Dengan gerakan yang teramat hati-hati namun cekatan, Arlend menyusupkan kedua lengan tegapnya di bawah tubuh Hazel, mengangkat dan menggendong gadis itu dalam posisi bridal style. Ia merengkuh erat dada Hazel ke matanya yang memerah basah oleh air mata, melindunginya dari terpaan angin malam.
Arlend berlari kencang menaiki bebatuan karang yang licin menuju jalan raya. Dua pengawal yang baru saja tiba di tepi tebing langsung membungkuk ketakutan, namun Arlend melintas tanpa memedulikan mereka. Ia membuka pintu belakang mobilnya sendiri, merebahkan Hazel dengan sangat lembut di kursi penumpang, lalu kembali menancap gas menuju rumah sakit terdekat.
CRAAASSHHH!
Pintu kaca otomatis ruang gawat darurat sebuah rumah sakit swasta bernilai jutaan dolar mendadak terbuka lebar. Arlend melangkah masuk seraya menerobos area lobi dengan pakaian basah kuyup, membawa tubuh Hazel yang kaku dan pucat pasi di tangannya.
"DOKTER! CEPAT PANGGIL DOKTER!" teriak Arlend menggelegar. Suara beratnya yang sarat akan dominasi dan kepanikan luar biasa bergema menghantam seluruh sudut ruangan, membuat para perawat dan pasien di lobi tersentak kaget.
Beberapa petugas medis dan dua orang dokter jaga berlari mendekat membawa brankar dorong. Namun, saat salah satu dokter tampak sedikit ragu dan hening hendak menanyakan prosedur administrasi standar, Arlend menyambar kerah baju dokter tersebut dengan satu tangan yang gemetar hebat, menarik wajah dokter itu mendekat hingga hanya tersisa jarak beberapa sentimeter.
Mata elang Arlend menyalang merah, memancarkan pendar membunuh yang sangat pekat dan tak tertekankan.
"Selamatkan dia..." tekan Arlend dengan suara rendah, berat, dan amat dingin yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Jika sampai ada satu helai rambutnya yang hilang atau nyawanya tidak tertolong... aku pastikan rumah sakit ini, seluruh izin praktikmu, dan hidupmu akan kubakar habis tanpa tersisa besok pagi. Paham?!"
Dokter paruh baya itu memucat pasi, tenggorokannya mendadak mengering melihat pendar maut dari pria yang mengenakan pakaian serba mahal tersebut.
"S-Siap, Tuan! Kami akan kerahkan tim terbaik sekarang juga! Cepat baringkan di brankar!" seru dokter itu panik, memberi komando pada seluruh perawat.
Tubuh Hazel segera dibaringkan di atas brankar dorong dan dilarikan dengan kecepatan tinggi menuju ruang perawatan intensif (ICU). Arlend terus mendampingi di sampingnya, menggenggam erat telapak tangan Hazel yang dingin dan memutih hingga ke ambang pintu sterilisasi, sebelum pintu ruang operasi tertutup rapat memisahkan mereka.
Dua jam berlalu terasa bagaikan siksaan neraka tanpa akhir bagi Arlend. Sang Raja Mafia yang biasanya tenang dan tak tersentuh kini berdiri kaku di luar ruangan, berjalan bolak-balik dengan jemari yang saling mencengkeram erat. Pakaian basahnya dibiarkan mengering di tubuhnya sendiri.
CKLEK.
Pintu ruang ICU akhirnya terbuka. Dokter utama melangkah keluar seraya melepas masker medisnya. Wajah dokter itu tampak amat lelah dan dipenuhi raut cemas yang mendalam.
Arlend langsung menerjang maju, mencengkeram kedua bahu dokter tersebut. "Bagaimana keadaannya?! Katakan padaku!"
Dokter itu menelan ludah secara kasar, berusaha menenangkan napasnya di bawah tekanan aura mengintimidasi Arlend.
"T-Tuan... kondisi Pasien saat ini sangat kritis dan berada di garis batas ketahanan fisiknya," ujar dokter itu membuka penjelasan dengan nada berhati-hati.
Arlend mengatupkan rahangnya rapat-rapat, jantungnya berdegup kencang tak beraturan. "Jelaskan lebih rinci!"
"Pasien mengalami hipotermia berat akibat terlalu lama tenggelam di dalam air laut yang sedingin es, yang menyebabkan organ dalamnya mengalami penyempitan dan trauma oksigen," papar dokter itu dengan detail. "Namun yang paling memperparah kondisinya adalah... luka-luka robek terbuka di bagian punggungnya."
Dokter itu menghela napas berat sebelum melanjutkan. "Luka cambukan di punggungnya sangat dalam dan infeksi berat karena terpapar langsung oleh air garam laut. Kulitnya terkoyak parah, dan ia kehilangan banyak darah. Selain itu, tubuhnya sudah terlalu lemah sebelum tenggelam—seolah-olah Pasien tidak memiliki daya tahan imun sama sekali akibat kelelahan fisik dan trauma psikologis yang sangat dahsyat."
Setiap kata yang keluar dari mulut dokter menghantam dada Arlend bagaikan tusukan sembilu. Penyesalan yang membakar makin menggerogoti jiwanya. Dialah yang memerintahkan cambukan itu, dialah yang membuat luka di punggung halus Hazel terkoyak dan terendam air asin.
"Apakah dia... akan selamat?" bisik Arlend dengan suara yang luar biasa serak dan rapuh sebuah keputusasaan yang tak pernah terpikirkan akan keluar dari mulut seorang penguasa klan Victor.
"Malam ini adalah masa kritisnya, Tuan," jawab dokter itu pelan. "Kami sudah menjahit luka-luka di punggungnya, memberikan antibiotik dosis tinggi, serta memasang alat bantu pernapasan. Jika dalam dua puluh empat jam ke depan Pasien mampu bertahan dari demam tingginya dan tidak mengalami gagal organ, maka peluang hidupnya baru bisa dipastikan. Anda sudah bisa menjenguknya, tapi harap bersiap... kondisinya sangat lemah."
Arlend melepaskan cengkeramannya dari bahu dokter, mendengus pelan dengan pandangan mata yang menggelap. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia memutar badannya dan mendorong pintu ruang ICU, melangkah masuk mendekati sosok gadis yang kini terbaring tak berdaya di atas ranjang medis.
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...