Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.
Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.
Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fotografer Dan Klien
Setelah berbincang dengan Pak David pagi tadi, Hannah mulai memahami bahwa pertemuan mereka bukan berarti ia sudah resmi diterima bekerja.
Pak David memang memberikan kesempatan kepadanya, tetapi kesempatan itu datang dengan sebuah syarat.
Hannah harus berhasil membujuk Faz untuk kembali menjalani sesi pemotretan.
Bahkan untuk sementara, ia belum diizinkan menggunakan studio milik perusahaan. Pak David hanya memberinya kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Jika Hannah berhasil mendapatkan hasil foto yang bagus dan Faz bersedia bekerja sama, barulah perusahaan akan mempertimbangkan untuk menerimanya sebagai fotografer.
Karena itulah, sejak tadi Hannah terus memikirkan satu hal.
Bagaimana caranya membuat Faz mau bertemu dengannya?
Setelah beberapa kali menarik napas, akhirnya Hannah memberanikan diri membuka ponselnya.
Nomor pribadi Faz yang diberikan perusahaan tertera di layar.
Jarinya sempat menggantung di atas layar.
Entah mengapa, menghubungi seseorang melalui nomor pribadi terasa jauh lebih menegangkan daripada sekadar mengirim pesan melalui Instagram.
Hannah akhirnya mulai mengetik.
«“Assalamu’alaikum. Saya Hannah. Maaf, saya mendapatkan nomor ini dari pihak perusahaan. Jika Anda berkenan, mungkin kita bisa bertemu terlebih dahulu. Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan kepada Anda. Saya rasa Anda akan tertarik.”»
Hannah membaca ulang pesannya.
Terlalu panjang?
Terlalu formal?
Atau justru terdengar seperti orang yang sedang memaksa?
Ia menghapus satu kalimat, lalu mengetiknya kembali. Setelah merasa cukup yakin, akhirnya pesan itu dikirim.
Terkirim.
Hannah langsung meletakkan ponselnya di atas meja.
Namun hanya bertahan beberapa detik.
Tangannya kembali meraih ponsel.
Belum dibaca.
Ia meletakkannya lagi.
Beberapa saat kemudian, ia mengeceknya sekali lagi.
Tetap belum ada balasan.
“Semoga dia mau bertemu,” gumam Hannah pelan.
Setidaknya, pikirnya, jika Faz bersedia bertemu dengannya, ia akan berusaha membuat pertemuan itu berkesan.
Pertemuan pertama.
Hannah terdiam.
Ia hampir tersenyum sendiri.
Padahal, kalau dipikir-pikir, itu bukanlah pertemuan pertama mereka.
Hannah masih mengingatnya.
Namun untuk besok, ia ingin menganggap semuanya sebagai awal yang baru.
Awal ketika Faz tidak mengenalnya sebagai seseorang dari masa lalu.
Awal ketika dirinya datang sebagai seorang fotografer yang ingin bekerja sama dengannya.
Dan mungkin...
sebagai seseorang yang ingin mengetahui alasan sebenarnya mengapa Faz begitu enggan berada di depan kamera lagi.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Hannah buru-buru membukanya.
Hanya satu kalimat.
«“Datanglah ke tempatku besok.”»
Hannah membeku beberapa detik.
Sesederhana itu?
Ia bahkan sudah mempersiapkan kemungkinan harus membujuk Faz berkali-kali.
Namun ternyata laki-laki itu justru langsung menyetujuinya.
Rasa lega perlahan memenuhi dadanya.
Hannah tersenyum kecil.
“Besok...” bisiknya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin saja kesempatan ini benar-benar bisa berhasil.
Meskipun jauh di dalam hatinya, Hannah tahu...
besok bukan hanya tentang pekerjaan.
Ada sesuatu dari pertemuan itu yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat dari seharusnya.
Malam itu, Hannah akhirnya memutuskan untuk mengajak Farah.
Bukan karena ia tidak berani pergi sendirian.
Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri.
Namun datang ke rumah seorang laki-laki yang baru beberapa kali berkomunikasi dengannya tetap membuat Hannah merasa kurang nyaman jika harus sendirian.
Terlebih lagi, ia belum tahu seperti apa sebenarnya tempat tinggal Faz.
Hannah mengambil ponselnya dan menghubungi Farah.
“Fara, besok kamu ada acara?”
“Besok?” suara Farah terdengar dari seberang.
“Kenapa, Kak?”
“Aku mau minta ditemani.”
“Tentu saja.” Farah langsung terdengar antusias.
“Ke mana?”
Hannah terdiam sebentar.
“Ke rumah Faz.”
“Serius kak?” Farah terdengar sangat senang.
“Hu’um.”
Hannah mengangguk meskipun Farah tidak bisa melihatnya.
“Alhamdulillah, aku senang banget kak."
"Alhamdulillah." sambung Hannah.
Sambungan telepon berakhir.
Hannah mengembuskan napas lega.
Setidaknya besok ia tidak sendirian.
Namun setelah meletakkan ponsel, pikirannya kembali tertuju pada Faz.
Entah mengapa, semakin dekat waktu pertemuan itu, semakin banyak kekhawatiran yang muncul.
Bagaimana kalau Faz mengenalinya?
Bagaimana kalau ia justru menanyakan sesuatu tentang masa lalu?
Hannah menatap langit-langit kamar.
Tidak.
Besok semuanya harus berjalan seperti biasa.
Ia adalah fotografer.
Faz adalah klien.
Tidak lebih.
---¤---
Sementara itu, Faz masih berada di ruang tengah.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Namun pikirannya belum benar-benar lepas dari percakapan tadi.
Hannah.
Nama itu kembali berputar di kepalanya.
Ia mencoba mengingat.
Pernahkah ia bertemu seseorang bernama Hannah?
Faz memejamkan mata.
Samar.
Ada sebuah bayangan.
Seseorang.
Sebuah suara.
Namun semuanya seperti potongan gambar yang tidak lengkap.
Ia membuka mata kembali.
“Kenapa aku merasa pernah mengenal nama itu?”
Faz mengusap wajahnya.
Mungkin hanya kebetulan.
Nama Hannah bukan sesuatu yang langka.
Ia mengambil ponselnya lagi.
Tanpa sadar, jarinya membuka profil Instagram Hannah.
Akunnya masih sama seperti beberapa hari lalu.
Privat.
Tidak banyak yang bisa dilihat.
Faz mengernyit.
Ada sesuatu yang aneh.
Perempuan itu begitu yakin dirinya akan tertarik dengan sesuatu yang ingin ditunjukkannya, tetapi bahkan wajahnya saja tidak terlihat jelas di profil.
Faz hampir menutup aplikasi ketika sebuah pesan dari Rozin masuk.
Besok jadi pemotretan?
Faz mengetik singkat.
Belum tentu.
Balasan Rozin datang cepat.
Siapa fotografernya?
Faz menatap layar beberapa detik.
Kemudian mengetik.
Hannah.
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Lalu sebuah pesan masuk.
Hannah siapa? Ukhti-ukhti yang datang ke studio tadi pagi?
Faz tidak langsung menjawab.
Ia sendiri tidak tahu.
Yang ia tahu hanya satu.
Besok perempuan itu akan datang.
Dan untuk pertama kalinya setelah dia memutuskan untuk break, Faz merasa sedikit penasaran dengan sebuah pemotretan.
Bukan karena kamera.
Bukan karena pekerjaan.
Melainkan karena seseorang bernama Hannah.
semangat terus kaa😍😍
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊