Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bubar
Setelah selesai sarapan yang dibuatkan oleh Zahra. Sagara berdiri dari kursinya dan merapikan pakaian seragamnya. Ia mengangguk singkat kepada beberapa rekannya sebelum melangkah keluar dari ruang makan untuk kembali menjalankan tugasnya.
Tapi begitu keluar, langkah Sagara mendadak terhenti. Di halaman barak, ia melihat Zea dan Intan duduk berdampingan di bangku panjang sambil menopang dagu masing-masing, mata keduanya tertuju pada para tentara muda yang sedang melakukan lari pagi dan latihan bela diri.
Ternyata keduanya belum pulang juga. Sagara pikir, setelah mengantar makanan itu, keduanya langsung pergi, nyatanya Zea bersama sahabatnya itu bersantai.
Beberapa tentara itu sedang berlatih dengan penuh semangat, sebagian hanya mengenakan celana latihan dan membiarkan tubuh mereka yang kekar terlihat jelas. Bahkan beberapa dari mereka sengaja memasang gaya ketika berlari melewati tempat Zea dan Intan duduk.
Zea mengembuskan napas panjang sambil tetap menatap halaman latihan. “Aku rasa kita nggak rugi datang menjenguk Kapten Es Batu kalau pemandangannya setiap hari seperti ini.”
Intan langsung mengangguk mantap. “Aku setuju. Ternyata pengorbanan datang jauh-jauh ke barak ini ada hasilnya juga.”
Zea tersenyum lebar. “Betul. Aku mulai berpikir, mungkin kita harus lebih sering menjenguk Kapten Es Batu.”
“Setiap hari juga boleh,” jawab Intan tanpa ragu.
Zea terkikik, kemudian menyandarkan tubuhnya dengan santai. “Bagaimana kalau kita jadikan alasan menjenguk si Kapten Es Batu sambil cuci mata seperti ini? Lumayan buat menyegarkan otak setelah seharian kerja.”
Intan langsung mengangkat kedua alisnya, lalu mengacungkan jempol. “Ide bagus, Bu Gubernur, lumayan untuk jiwa jomblo kita berdua.”
“Kan Papa juga melarang kita pergi ke tempat-tempat yang haram itu,” lanjut Zea dengan wajah polos. “Kalau yang ini kan kita nggak sengaja.”
Intan menahan tawa. “Benar. Ini bukan kita yang mencari, tapi pemandangannya yang datang sendiri.”
“Namanya rezeki,” sahut Zea santai.
Keduanya langsung terkikik, sama sekali tidak menyadari bahwa Sagara sudah berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Wajah kapten itu perlahan berubah semakin dingin ketika mendengar percakapan keduanya.
Sagara kemudian mengalihkan pandangan ke arah para tentara muda yang sedang berlatih. Ia memperhatikan beberapa anak buahnya yang justru tampak semakin bersemangat ketika melewati tempat Zea dan Intan duduk.
Salah seorang tentara bahkan sengaja memperbaiki posisi tubuhnya sebelum berlari melewati mereka. Tentara lain ikut tersenyum penuh percaya diri, seolah-olah sedang mengikuti lomba siapa yang paling berhasil menarik perhatian kedua gadis tersebut.
Suara para tentara itu semakin bersemangat setiap melewati tempat Zea. Kapan lagi dilihat gadis cantik terlebih itu gubernur, pikir para tentara itu.
Tatapan Sagara semakin tajam. Tanpa mengatakan apa pun kepada Zea dan Intan, ia berjalan menuju lapangan latihan dengan langkah tegap.
Salah seorang tentara yang sedang melakukan latihan langsung menyadari kedatangan komandannya. Senyum di wajahnya seketika menghilang.
Sagara berdiri di tengah lapangan dan berkata dengan suara tegas, “Cukup. Latihan sampai di sini.”
Semua tentara langsung berhenti. Mereka saling berpandangan dengan wajah bingung karena waktu latihan sebenarnya masih cukup panjang.
“Kapten, bukankah jadwal latihan masih—”
“Bubar.”
Satu kata itu langsung membuat semua tentara diam. “Siap, Kapten!”
Para tentara segera mengambil perlengkapan mereka dan meninggalkan lapangan. Beberapa bahkan berjalan cepat karena tidak ingin berurusan lebih lama dengan wajah dingin komandannya.
Zea yang melihat halaman latihan mendadak kosong langsung berdiri. “Lho?”
Intan ikut berdiri sambil mengerutkan kening. “Kok bubar?”
Zea menatap Sagara dengan wajah tidak percaya. “Padahal tadi asyik-asyik lihat.”
Intan mengangguk kecewa. “Iya, Kapten. Kenapa dibubarkan? Kami lagi fokus.”
Sagara menatap keduanya datar. “Bu Zea sebaiknya Anda pergi.”
Mata Zea langsung membesar. “Hah? Pergi?”
“Ya.”
“Kenapa aku harus pergi?” tanya Zea dengan nada mulai kesal.
“Karena Anda sudah selesai menjenguk saya.”
Zea langsung menunjuk dirinya sendiri. “Selesai dari mana? Aku baru datang!”
Sagara tetap memasang wajah datar. “Saya sudah sarapan.”
Zea terdiam beberapa detik, lalu menatap Intan seolah meminta dukungan. Namun, Intan justru menahan tawa karena melihat wajah Zea yang mulai memerah akibat kesal.
“Kapten Es Batu!” gerutu Zea. “Kamu itu kenapa sih? Aku datang jauh-jauh ke sini buat menjenguk kamu, malah disuruh pergi.”
“Saya tidak menyuruh Anda datang.”
“Lah, terus aku harus menunggu kamu mengirim undangan resmi dulu?”
Sagara tidak menjawab. Ia hanya menatap Zea dengan wajah tanpa ekspresi.
Zea semakin kesal. “Dan satu lagi, kenapa kamu membubarkan mereka?”
“Mereka sudah selesai latihan.”
“Bohong.”
“Tidak.”
“Jelas-jelas tadi masih latihan!”
“Mereka sudah cukup.”
Zea menyipitkan mata. “Jangan-jangan kamu sengaja membubarkan mereka karena aku sama Intan sedang lihat-lihat.”
Sagara diam.
Diamnya Sagara justru membuat Zea semakin yakin. “Nah! Benar, kan?”
“Tidak.”
“Kalau tidak, kenapa mukamu seperti orang habis kehilangan dompet?”
“Saya memang selalu seperti ini.”
Intan langsung menutup mulutnya, menahan tawa.
Zea mendengus. “Dasar manusia kulkas. Orang lagi menikmati pemandangan malah dibubarkan.”
Sagara menatap Zea. “Anda datang untuk menjenguk saya atau melihat latihan tentara?”
Zea terdiam sesaat. “Dua-duanya.”
Intan buru-buru mengangguk. “Betul.”
Sagara menarik napas panjang. “Saya rasa Anda sebaiknya pulang.”
“Kenapa?”
“Karena kalau terus di sini, Anda akan semakin banyak mengeluh.”
Zea langsung berkacak pinggang. “Aku mengeluh karena kamu yang bikin semuanya jadi nggak seru!”
“Saya tidak bertugas membuat Anda senang.”
“Memang! Tugasmu cuma bikin aku kesal!”
Sagara tetap tenang. “Kalau begitu, berarti saya berhasil menjalankan tugas.”
Intan yang mendengar jawaban itu langsung membuang muka karena tidak sanggup menahan tawanya.
Zea menatap Sagara dengan kesal. “Kamu sekarang sudah pintar membalas, ya?”
“Saya hanya menjawab pertanyaan Anda.”
“Kapten Es Batu!”
“Ya, Bu?”
Zea membuka mulut hendak membalas, tetapi tidak menemukan kata-kata yang tepat. Akhirnya ia hanya mendengus keras sambil mengambil tasnya.
“Sudahlah! Aku pulang!”
Sagara mengangguk. “Baik.”
Zea berjalan beberapa langkah, kemudian berhenti dan menoleh. “Tapi besok aku datang lagi.”
Sagara mengernyit tipis. “Untuk apa?”
Zea tersenyum lebar. “Menjenguk kamu.”
Intan langsung menyahut, “Dan melihat-lihat.”
Sagara memejamkan mata sesaat, seolah sedang menahan kesabaran. Sementara Zea dan Intan kembali terkikik sebelum akhirnya berjalan meninggalkan halaman barak.
tp psti malu nya luar biasa kan setealh terllu pwrcaya diri ahahahaA🤣🤣🤣
SOOOOOKOOOR
mau tanding apa lagi bel diri gas ken zea
jangan di kira bukan dari militer zea tak tau apa2 justru karna itu dia di latih sedemiaknrup untk melindungi diri nya s dri sudah tajir dari orok kali 🤣🤣🤣🤣
mlh ini pura2 polos
hadeh mboh lah rumit wis asli
piye terusan jal
kyo2 arep meledug kompore 🤣🤣🤣🤣
aaaahhh kira2 apa lagi ya
Zea atau kau Soraya? 😏