NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terakhir di Distrik Barat

Suara deru angin malam mengguncang kaca jendela kaca patri di lantai paling atas gedung pencakar langit Distrik Barat. Ruangan seluas lapangan tenis itu hanya diterangi oleh satu lampu gantung besar berwarna tembaga yang memantulkan bayangan panjang ke atas lantai marmer hitam yang mengkilap. Di ujung ruangan, di balik meja kerja kayu mahoni berukuran raksasa, Viktor Tan duduk dengan jemari yang saling bertumpu di depan dagunya. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi garis-garis ketegangan yang dalam.

Pintu ganda berlapis ukiran kayu jati itu terbuka perlahan, menampilkan sosok kepala keamanan sindikat dengan napas tersenggal-sengah dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Pria itu membungkuk dalam-dalam, tidak berani mengangkat wajahnya menatap sang bos besar.

"Bicaralah," kata Viktor dengan suara berat, nyaris berupa bisikan, namun menusuk tajam ke dalam gendang telinga. "Apa yang terjadi dengan operasi di SMA Bina Bangsa tadi siang? Mengapa laporan kepolisian menyebutkan bahwa tim kita justru tertangkap basah di dalam van pengintai?"

Kepala keamanan itu menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab dengan suara bergetar, "Tuan Viktor... rencana sabotase kita tidak hanya gagal, tapi sistem enkripsi pangkalan data kita ikut terlacak balik oleh anak itu. Dalam hitungan detik, seluruh transkrip komunikasi internal kita diunggah ke jaringan server pusat pameran sains. Kepolisian kota dan unit siber federal bergerak begitu cepat karena petunjuk digital yang ditinggalkan Rian sangat akurat."

Viktor perlahan menurunkan tangannya. Alisnya berkerut tajam, sementara matanya menyipit memancarkan amarah yang tertahan. "Anak itu... benar-benar di luar kendali. Kita tidak sedang berhadapan dengan sekadar pelajar SMA yang kebetulan pintar. Dia adalah anomali berbahaya yang bisa menghancurkan seluruh jaringan yang kita bangun selama satu dekade terakhir."

"Lalu apa perintah Anda selanjutnya, Tuan?" tanya kepala keamanan itu pelan. "Apakah kita harus mengerahkan seluruh kekuatan pasukan bayangan untuk melenyapkannya secara langsung malam ini juga?"

Viktor berdiri dari kursi mahalnya. Ia berjalan pelan menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak. Mengirim pasukan bersenjata ke pemukiman padat penduduk hanya akan mengundang perhatian militer dan aparat penegak hukum tingkat tinggi. Jika kita ingin menjatuhkan Rian, kita harus menyerangnya di tempat di mana hukum dunia tidak bisa menjangkaunya—pada dimensi kekuatan yang ia miliki sendiri."

"Maksud Anda...?"

"Kirim undangan terbuka kepada para petinggi aliansi bawah tanah," ujar Viktor dengan senyuman dingin yang mengerikan terukir di bibirnya. "Katakan bahwa malam besok, kita akan menggelar pertemuan puncak di gudang pelabuhan lama. Kita akan menggunakan cara lama: memancing sang predator keluar dari sarangnya."

Sementara itu, di kamar sederhananya di rumah susun pinggiran kota, Rian duduk bersila di atas lantai kayu dengan posisi meditasi sempurna. Di sekeliling tubuhnya, pendar cahaya keemasan tipis berputar pelan mengikuti setiap irama tarikan napasnya. Udara di dalam kamar terasa bergetar halus, menciptakan resonansi gelombang frekuensi tinggi yang membuat debu-debu di udara melayang tanpa gravitasi.

[ Pemberitahuan Sistem: Analisis energi spiritual mencapai ambang batas transisi tingkat lanjut. ] [ Akses Pelatihan Tingkat Keempat: Penguasaan Medan Gravitasi Mikro dan Pemindaian Pikiran Terbatas siap dibuka. ]

Teks transparan berwarna keemasan itu melintas di retinanya dengan stabil. Rian perlahan membuka kedua matanya. Kilatan cahaya keemasan yang tajam terpancar dari manik matanya sebelum akhirnya meredup kembali menjadi warna hitam legam yang tenang.

Ia menarik napas panjang, meresapi perubahan drastis yang terjadi pada struktur energi di dalam tubuhnya. Sejak insiden peretasan di pameran sains siang tadi, frekuensi sinyal komunikasi dari jaringan Viktor Tan yang berhasil dipindai oleh Mata Dewa Pengamat menunjukkan peningkatan aktivitas yang drastis di wilayah pelabuhan utara.

Kriiing...

Ponsel murah di atas meja belajar berdering nyaring, memecah kesunyian malam. Rian meraih ponsel tersebut dan melihat nama penelepon di layar: Hartawan Kusuma.

Rian mengusap layar dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya. "Halo, Tuan Hartawan."

"Rian, maaf mengganggu waktumu malam-malam begini," suara Hartawan terdengar serius di seberang sana, bercampur dengan suara kertas yang dibolak-balik. "Laporan resmi dari kepolisian terkait penangkapan agen sindikat di pameran sains tadi siang sudah masuk ke meja kerjaku. Kepala kepolisian kota menghubungiku secara pribadi dan mengatakan bahwa dokumen digital yang kau berikan berhasil membongkar separuh jaringan pencucian uang Viktor Tan."

"Itu hanya konsekuensi logis dari tindakan mereka sendiri, Tuan," jawab Rian dengan nada datar namun santai. "Orang yang menyalakan api di atas jerami pada akhirnya akan membakar diri mereka sendiri."

Hartawan tertawa pelan di ujung sambungan, meskipun ada nada kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan dari suaranya. "Kau benar, Rian. Tapi kau harus berhati-hati. Viktor Tan bukan penjahat sembarangan; dia memiliki pengaruh yang mengakar kuat di berbagai lini birokrasi kota ini. Kepolisian memang sudah bergerak, tapi orang-orang seperti Viktor selalu memiliki rencana cadangan di ujung tanduk."

"Saya tahu persis apa yang sedang mereka rencanakan," balas Rian tenang. "Mereka tidak akan tinggal diam setelah kehilangan muka di hadapan para pejabat publik."

"Apakah kau membutuhkan pengawalan khusus atau perlindungan dari pihak korporasiku?" tanya Hartawan menawarkan bantuan penuh.

"Tidak perlu, Tuan. Terima kasih atas tawarannya," tolak Rian halus. "Masalah ini harus diselesaikan sampai ke akarnya, dan cara terbaik untuk mengakhiri sebuah permainan adalah dengan mendatangi langsung papan catur mereka."

Hartawan terdiam sejenak di ujung telepon, merasakan ketegasan mutlak yang terpancar dari suara remaja tujuh belas tahun tersebut. Ia menghela napas panjang penuh kekaguman. "Baiklah, Rian. Jika itu keputusanmu, aku menghormatinya. Tapi ingat, pintu perlindunganku dan seluruh fasilitas yayasan akan selalu terbuka lebar untukmu."

"Terima kasih, Tuan Hartawan. Selamat malam."

Rian menutup panggilan tersebut, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Ia berdiri dari posisi duduknya, merapikan kemeja kasual yang ia kenakan, lalu melangkah ke dekat jendela kamarnya untuk memandang langit malam yang bertabur bintang redup di balik polusi kota.

Keesokan harinya, matahari tenggelam digantikan oleh malam yang pekat. Di kawasan pelabuhan tua distrik utara, suasana tampak sunyi dan mencekam. Deretan kontainer kargo raksasa berkarat berjejer membentuk labirin gelap di bawah naungan lampu dermaga yang berkedip-kedip lemah.

Di sebuah gudang penyimpanan logistik terbengkalai di ujung pelabuhan, puluhan pria berbadan tegap berpakaian serba hitam berdiri mengelilingi ruangan dengan senjata api terselip di balik jaket mereka. Di tengah-tengah ruangan, di atas kursi besi tua, Viktor Tan duduk menyilangkan kakinya sambil menikmati kepulan asap cerutu, ditemani oleh kepala keamanannya dan tiga orang penasihat hukum bayangan.

"Apakah anak itu sudah terlihat di gerbang depan?" tanya Viktor dingin tanpa menoleh ke arah pengawal di sampingnya.

"Belum, Tuan. Tapi sensor gerak perimeter luar melaporkan ada satu orang pejalan kaki yang melangkah masuk melewati pos pemeriksaan pos 3 tanpa rasa takut," jawab sang kepala keamanan dengan nada tegang.

Viktor tersenyum tipis, membuang abu cerutunya ke lantai semen yang kotor. "Bagus... Biarkan dia masuk. Mari kita lihat seberapa besar keberanian anak SMA ini ketika berhadapan langsung dengan singa di sarangnya."

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki yang tenang dan teratur bergemerincing pelan menggema di koridor beton masuk gudang.

Tap... tap... tap...

Semua mata pasang penjaga bayangan langsung menoleh ke arah pintu masuk gudang yang terbuka lebar. Dari balik keremangan malam, sesosok remaja berserta ransel hitam di bahunya melangkah masuk dengan postur tubuh yang sangat santai, seolah-olah ia sedang berjalan-jalan sore di taman kota alih-alih mendatangi sarang sindikat kriminal paling berbahaya di wilayah ini.

Rian berhenti tepat di tengah-tengah gudang, berjarak sekitar sepuluh meter dari posisi duduk Viktor Tan. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya, lalu menatap sekeliling ruangan yang dipenuhi oleh puluhan pria bersenjata dengan sorot mata yang dingin dan datar.

Viktor Tan perlahan berdiri dari kursi besinya. Ia merapikan jas mahalnya, lalu menatap Rian lekat-lekat dengan campuran rasa penasaran dan kebencian yang mendalam.

"Selamat datang, Rian," ucap Viktor dengan nada suara yang dibuat ramah namun penuh ancaman terselubung. "Aku harus memuji nyalimu. Datang seorang diri ke tempat ini di tengah malam menunjukkan bahwa kau adalah anak muda yang sangat percaya diri... atau justru sangat bodoh."

Rian tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju dua langkah pelan, tatapannya tetap lurus menghujam mata Viktor. "Percaya diri dan kebodohan sering kali hanya dibatasi oleh garis tipis pemahaman tentang realitas, Tuan Viktor. Dan sepertinya, orang yang duduk di kursi itu adalah pihak yang paling salah memahami realitas."

Wajah Viktor sedikit mengeras mendengar jawaban santai tersebut. Ia mendengus dingin. "Anak sombong! Kau pikir karena kau berhasil meretas beberapa dokumen busuk kami dan menjatuhkan beberapa anak buah bodoh, kau bisa meruntuhkan seluruh kerajaan yang kubangun selama puluhan tahun ini?"

"Kerajaan?" Rian tersenyum tipis, sebuah senyuman sarkasme yang membuat suhu di dalam gudang itu mendadak terasa turun beberapa derajat. "Bangunan yang didirikan atas dasar pemerasan, darah, dan pencucian uang bukanlah sebuah kerajaan, Tuan Viktor. Itu hanyalah tumpukan sampah besar yang kebetulan belum dibakar."

"Cukup!" teriak kepala keamanan Viktor geram, tidak tahan lagi melihat bosnya diremehkan oleh seorang anak remaja. Ia menghunus pisau taktis dari pinggangnya dan melangkah maju mengancam. "Akan kuiris mulut lancangmu itu sekarang, bocah sialan!"

Sebelum kepala keamanan itu sempat melangkah lebih jauh, Rian mengangkat tangan kanannya perlahan tanpa mengeluarkan senjata apa pun.

Whush!

Sebuah gelombang tekanan gravitasi mikro yang tak kasat mata meledak dari tubuh Rian, menghantam seluruh ruangan seketika. Puluhan preman bersenjata di sekeliling gudang langsung merasakan lutut mereka lemas seketika. Senjata api yang merekapegang terlepas dari tangan dan jatuh bergemerincing ke lantai semen, sementara tubuh mereka terdorong paksa berlutut ke tanah tanpa mampu melawan sedikit pun.

Kepala keamanan yang tadinya memegang pisau taktis terhempas hebat ke belakang, membentur kontainer besi dengan suara benturan keras sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri.

Viktor Tan, yang berdiri paling dekat dengan pusat gelombang energi tersebut, merasakan tekanan yang begitu masif menimpa dadanya hingga ia sulit bernapas. Wajahnya memucat pasi, keringat dingin bercucuran membasahi kemejanya. Ia mencengkeram tepi meja kayu di depannya dengan kedua tangan yang bergetar hebat.

"K-kekuatan apa ini...?" cicit Viktor dengan suara terengah-engah, matanya melotot lebar menatap Rian yang berjalan mendekatinya dengan langkah tanpa suara. "Kau... bukan manusia biasa..."

Rian berhenti tepat di depan meja Viktor. Ia menatap pria paruh baya yang selama ini menjadi penguasa bayangan kota itu dengan sorot mata yang memancarkan keagungan mutlak seorang kultivator tingkat tinggi.

"Dunia ini berjalan dengan hukum sebab dan akibat, Tuan Viktor," ucap Rian dengan suara tenang yang menggema di seluruh sudut gudang yang sunyi. "Apa yang kau tabur, itulah yang akan kau tuai."

Rian mengangkat jari telunjuknya, menyentuh ringan permukaan meja mahoni tebal di depan Viktor.

K Crack...!

Dalam satu detik, retakan halus bercabang memenuhi seluruh permukaan meja marmer dan kayu tersebut, sebelum akhirnya seluruh meja itu hancur berkeping-keping menjadi serbuk halus di hadapan Viktor yang terduduk lemas di lantai karena ketakutan yang luar biasa.

"Kepolisian federal dan dokumen lengkap tentang seluruh jaringanmu sudah berada di tangan yang tepat," lanjut Rian tenang sambil membalikkan badan, melangkah berjalan keluar meninggalkan gudang pelabuhan yang gelap. "Malam ini, permainan caturmu telah berakhir secara resmi, Tuan Viktor."

Di bawah langit malam pelabuhan yang dingin, Rian melangkah pulang dengan tenang. Di dalam tubuhnya, inti energi Qi berputar semakin selaras dengan alam semesta, menandakan bahwa babak baru dalam perjalanan kultivasinya baru saja dimulai.

1
expant
lanjut
expant
bagus ceritanya
Serly Can
siap kk
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!