NovelToon NovelToon
Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Ketos / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desty Haris Wahyuni

kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (⁠◠⁠‿⁠◕⁠)


Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?


Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN DI BALIK CERMIN.

Malam itu hujan turun halus, bunyi di atap rumah kayak bisikan yang nggak berhenti. Gue duduk di tepi tempat tidur, HP di tangan, menatap pesan yang baru masuk lima menit lalu—nomor asing, kalimat pendek yang bikin bulu kuduk berdiri:

"Lo pikir pernikahan itu cinta? Itu jembatan. Dan jembatan itu dibangun untuk dilewati, bukan untuk ditinggali."

Jari gue menegang di atas tombol balas. Mau ngetik apa? Siapa yang ngirim ini? Apakah mereka tahu soal rahasia keluarga kita? Atau... ada orang lain yang diam-diam mengamati dari jauh?

Pintu diketuk pelan. "Aluna? Belum tidur?"

Suara Bunda—Stella. Gue buru-buru hapus pesan itu, simpan HP di balik bantal. "Belum, Bun. Masih nggak ngantuk."

Bunda masuk, duduk di tepi kasur, tangannya mengusap rambut gue pelan. Wajahnya kelihatan lelah, ada garis halus di dahi yang biasanya nggak kelihatan. "Pasti berat ya... tiba-tiba harus hadapi semua ini."

Gue mengangguk pelan, lalu berani nanya: "Bun... kenapa harus Arka? Kenapa harus kita? Bukan cuma soal pertemanan dulu kan?"

Bunda menunduk, napasnya panjang keluar. "Ada hal yang Ayah sama Bunda simpan bukan karena nggak percaya sama kamu, tapi karena kita ingin kamu aman. Dulu... waktu Ayah sama Daddy Arka masih muda, mereka terlibat dalam sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang belum benar-benar selesai."

"Siapa yang nyerang?" suara gue bergetar.

Bunda mengangkat wajah, matanya tajam tapi sedih. "Itulah yang kami cari tahu. Mereka bersembunyi di balik bayang-bayang, Aluna. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk muncul. Pernikahan kalian... bukan cuma ikatan. Itu juga peringatan buat mereka—kami tahu kalian ada, dan kami siap melindungi anak-anak kami."

Dada gue sesak. Jadi selama ini, gue bukan cuma dijaga—gue juga dipakai sebagai tanda. Tapi anehnya, nggak ada rasa marah. Cuma satu hal yang gue tahu: gue nggak mau jadi orang yang cuma dilindungi. Gue mau berdiri sendiri, di samping Arka.

Keesokan paginya, gue berangkat lebih awal. Langit masih kelabu, jalanan basah mengkilap. Gue janji ketemu Arka di tempat biasa—bangku tua di pojok halaman belakang, di bawah pohon yang daunnya selalu rimbun.

Dia udah di sana, berdiri membelakangi gue, menatap kabut tipis yang masih menempel di rumput. Bahunya tegang, seolah memikul beban yang nggak kelihatan.

"Arka," panggil gue pelan.

Dia berbalik cepat, matanya sedikit terkejut, lalu melembut. "Lo datang pagi banget."

Gue mendekat, berdiri di sampingnya. "Gue mau tanya sesuatu. Jujur ya?"

Arka mengangguk, menatap gue lekat-lekat. "Selalu sama lo."

"Apakah lo setuju sama perjodohan ini... karena lo mau, atau karena lo terpaksa?"

Diam sejenak. Angin berhembus pelan, bawa bau tanah basah. Lalu dia menjawab, suaranya rendah tapi jelas:

"Dulu gue pikir itu kewajiban. Gue pikir gue cuma menjalankan janji orang tua. Tapi..." Dia berhenti, menelan ludah, lalu melanjutkan pelan, "sejak hari pertama gue ketemu lo—waktu lo nabrak gue dan malah marah-marah karena gue nggak lihat jalan—semuanya berubah. Gue nggak tahu kapan persisnya... tapi gue mulai nunggu momen ketemu lo. Gue mulai khawatir kalau lo telat. Gue mulai ngerasa tenang cuma pas lo ada di dekat gue."

Jantung gue berdegup kencang banget, sampai rasanya bisa kedengaran. "Jadi... lo beneran mau sama gue?"

Arka tersenyum—senyum yang jarang dia tunjukkan ke orang lain, hangat dan tulus. Dia meraih tangan gue, jari-jarinya menyusup di sela jari gue.

"Gue mau, Aluna. Bukan karena orang tua, bukan karena janji lama. Gue mau sama lo, karena lo bikin gue merasa hidup. Lo bikin gue tertawa, bikin gue lupa beratnya dunia. Dan... gue nggak akan biarin siapa pun—siapa pun—menyakiti lo."

Gue menahan mata yang panas, senyum sambil menepuk dadanya pelan. "Lo ini... kadang bikin gue mau nangis, tahu nggak?"

Arka tertawa pelan, lalu menarik gue pelan ke pelukannya. Wajahnya dekat sekali, napasnya hangat di telinga gue. "Tapi ada hal lain yang harus lo tahu. Sesuatu yang gue temukan kemarin."

Dia melepaskan pelukan pelan, lalu mengeluarkan selembar kertas lipat dari saku jaketnya. Kertas itu sudah tua, pinggirannya menguning. Di atasnya ada tulisan tangan yang tegap tapi tajam, dan di bagian bawah—tanda tangan dua nama: Abian Alexander dan Arga Danendra. Di samping mereka, ada nama ketiga yang dicoret kuat sampai robek kertasnya.

"Gue nemu ini di ruang kerja Daddy," bisik Arka. "Nama ketiga itu dihapus, tapi gue yakin... orang itu yang sedang mereka hindari."

Gue menatap kertas itu, merinding. "Siapa dia?"

"Belum tahu. Tapi kemarin... gue dengar Daddy sama Ayah lo ngobrol di telepon. Mereka sebut nama itu samar-samar. Dan satu hal lagi..." Arka menatap lurus ke mata gue, serius banget. "Callysta. Nama keluarganya... kemarin gue periksa, ada hubungannya sama masa lalu itu."

Dunia rasanya berhenti sedetik. "Jadi bukan dia yang suka sama lo..."

"Iya. Dia dikirim. Atau dia sendiri yang mencari balas dendam. Kita nggak tahu sejauh mana rencananya."

Gue menarik napas dalam, lalu pegang tangan Arka erat. "Gue nggak takut. Kita hadapin bareng kan?"

Arka mengangguk pelan, mengecup pelan kening gue. "Bareng. Tapi mulai sekarang, jangan pergi sendirian. Ke mana pun, bilang sama gue atau sama Sasa atau teman-teman geng. Janji?"

"Janji."

Bel masuk berbunyi dari kejauhan. Kita berjalan beriringan ke kelas, tangan saling genggam sebentar sebelum masuk ke gerbang sekolah, membiarkan orang-orang melihat—bukan pamer, tapi tanda: kita nggak lari. Kita siap.

Di balik jendela lantai dua, satu sosok berdiri diam, menatap ke bawah. Tersenyum tipis, dingin, penuh perhitungan. Saat kita hilang di balik pintu kelas, sosok itu membalikkan badan, berjalan pergi dengan langkah tenang. Permainan belum selesai. Baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!