Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Tok tok tok.
Palu kayu diketuk tiga kali oleh hakim berambut putih di ruang sidang keluarga siang itu.
"Dengan ini, anak bernama Lula secara hukum resmi menjadi putri dari Bapak Baskoro Ayodhya dan Ibu Arini Ayodhya."
Hakim itu tersenyum ramah menatap gadis kecil yang sedang duduk di pangkuan Arini.
Baskoro langsung berdiri dan menjabat tangan hakim tersebut dengan sangat erat.
"Terima kasih Yang Mulia, ini adalah hari paling membahagiakan untuk keluarga kami," ucap Baskoro bangga.
Lula memegang selembar kertas tebal berlogo burung garuda yang baru saja diserahkan oleh petugas.
"Sekarang Lula punya kartu keluarga sendiri ya Pa?" tanya Lula polos sambil menatap kertas itu.
Baskoro mengangguk lalu mengambil alih Lula dari pangkuan istrinya dan menggendongnya tinggi-tinggi.
"Iya sayang, mulai hari ini namamu resmi terdaftar sebagai Lula Ayodhya di seluruh dunia," jawab Baskoro.
Arini mengusap sudut matanya yang sedikit berair karena terharu.
Dia ingat saat pertama kali menemukan anak ini di pinggir jalanan yang kotor dan panas.
Siapa sangka, anak jalanan itu kini resmi menjadi pewaris sah dari keluarga konglomerat terbesar di Jakarta.
"Ayo kita pulang sekarang, kakak-kakakmu pasti sudah menunggu di rumah untuk merayakannya," ajak Arini.
Lula mengangguk dengan semangat sampai topi bundarnya sedikit miring.
"Ayo Ma, Lula mau pamer kertas garuda ini ke Kak Cakra," seru Lula riang.
Perjalanan pulang dari gedung pengadilan terasa sangat cepat karena jalanan tidak terlalu macet.
Begitu mobil van hitam mereka memasuki pekarangan rumah, Lula langsung melihat Cakra sudah berdiri di depan pintu.
Cakra melambaikan tangannya dengan heboh seperti suporter bola.
"Selamat datang Tuan Putri Lula Ayodhya yang resmi!" teriak Cakra menyambut adiknya.
Bruk.
Lula berlari menubruk kaki Cakra dan memeluknya erat.
"Kak Cakra lihat, Lula punya kertas garuda," pamer Lula sambil menyodorkan akta kelahirannya yang baru.
Cakra berlutut dan membaca kertas itu dengan wajah dibuat-buat takjub.
"Wah hebat sekali, namamu sekarang sama panjangnya dengan namaku," puji Cakra sambil mengacak rambut Lula.
Mereka semua berjalan masuk ke dalam ruang tengah keluarga Ayodhya.
Langkah kaki Lula tiba-tiba terhenti saat melihat pemandangan di ruang tengah.
Ruangan luas itu kini berubah menjadi seperti gudang toko mainan.
Tumpukan kotak kardus besar berserakan menutupi karpet berbulu mahal milik Arini.
Bastian berdiri di tengah-tengah kardus itu sambil memegang sebuah papan tulis elektronik.
Pemuda berkacamata itu masih memakai jas dokter mudanya yang rapi.
"Selamat datang di rumah, ini semua hadiah dariku untuk merayakan status barumu," sambut Bastian.
Lula melebarkan matanya menatap mainan yang jumlahnya sangat banyak itu.
"Wah, ini semua buat Lula Kak Bastian?" tanya Lula kegirangan berlari mendekat.
"Tentu saja, aku membelikanmu mikroskop mini, set lego robotik, dan ensiklopedia anatomi bergambar," jelas Bastian bangga.
Cakra langsung menepuk jidatnya dengan sangat keras.
"Bastian, kau ini gila ya atau bagaimana?" protes Cakra tidak habis pikir.
"Lula itu baru lima tahun, masa kau suruh main mikroskop dan membaca anatomi tulang?"
Bastian membetulkan letak kacamatanya dengan jari telunjuknya.
"Ini namanya melatih kecerdasan otak sejak dini, orang dengan nilai pas-pasan sepertimu mana paham," balas Bastian sinis.
Cakra langsung melotot tidak terima diejek bodoh oleh kakaknya.
Dewa ikut muncul dari arah dapur sambil membawa segelas air es dan bersandar di dinding.
"Bilang saja kau memang tidak tahu cara membelikan mainan anak perempuan," ejek Dewa ikut memanasi suasana.
Gluk gluk gluk.
Dewa meminum air esnya dengan gaya sangat santai melihat Bastian salah tingkah.
"Setidaknya mainanku ini mendidik, daripada kau yang tidak membelikan apa-apa," serang Bastian ke arah Dewa.
Wajah Dewa langsung memerah hingga ke ujung telinganya.
"Siapa bilang aku tidak beli apa-apa? Aku cuma belum memberikannya saja," bantah Dewa gengsi.
Lula tidak mempedulikan perdebatan kakak-kakaknya dan langsung membuka kotak mikroskop mini itu.
"Lula mau lihat kuman kecil yang bikin sakit perut pakai alat ini!" seru Lula sangat antusias.
Bastian tersenyum menang ke arah Cakra dan Dewa karena adiknya menyukai hadiah itu. Tiba-tiba pintu utama kembali terbuka.
Adrian yang baru saja pulang dari kantor berjalan masuk ke ruang tengah.
Pria dingin itu menatap tumpukan mainan edukasi milik Bastian dengan tatapan meremehkan.
"Mainanmu sangat membosankan Bastian, persis seperti pemiliknya," komentar Adrian sambil meletakkan tas kerjanya di meja.
Adrian lalu mengeluarkan sebuah kotak kaca besar dari balik punggungnya.
Di dalam kotak kaca itu terdapat sebuah boneka beruang berbulu putih bersih.
Boneka itu memakai mahkota kecil berkilauan dan kalung mutiara asli di lehernya.
"Ini boneka beruang edisi terbatas buatan tangan pengrajin Eropa, hanya ada sepuluh di dunia," pamer Adrian dengan wajah datar.
Baskoro yang baru melepas jasnya sampai menggelengkan kepala melihat kelakuan putra sulungnya.
"Adrian, kau membelikan anak umur lima tahun boneka seharga ratusan juta?" tanya Baskoro tidak habis pikir.
"Harga bukan masalah Pa, yang penting Lula suka," jawab Adrian santai.
Lula langsung berlari meninggalkan mikroskopnya dan memeluk kotak kaca besar itu.
"Beruangnya cantik sekali, bulunya putih seperti awan!" puji Lula dengan mata berbinar-binar.
Adrian melirik tajam ke arah Bastian seolah mendeklarasikan kemenangannya.
Bastian hanya mendengus kesal dan membuang muka.
Cakra yang tidak mau kalah langsung berteriak heboh.
"Tenang saja Lula, besok Kakak akan belikan kau komidi putar asli untuk ditaruh di halaman belakang!" janji Cakra asal bicara.
Arini langsung menjewer telinga Cakra dengan cukup keras.
"Jangan macam-macam Cakra, halaman belakang Mama bisa hancur kalau kau taruh komidi putar," omel Arini.
Cakra mengaduh kesakitan sambil mengusap telinganya.
Lula tertawa lepas melihat wajah lucu Kak Cakra yang sedang dimarahi Mama.
Malam harinya meja makan keluarga Ayodhya penuh dengan hidangan lezat.
Baskoro sengaja menyewa koki dari restoran bintang lima untuk memasak di rumah hari ini.
Ada kepiting saus tiram, udang bakar madu, dan daging sapi panggang yang aromanya sangat menggugah selera.
Lula duduk di kursi tingginya dengan memakai celemek makan bergambar bebek kuning.
"Lula mau makan udang yang besar itu!" tunjuk Lula dengan tangan mungilnya ke arah piring saji.
Sret sret.
Dua garpu secara bersamaan menusuk udang bakar paling besar di atas piring itu.
Garpu pertama milik Cakra dan garpu kedua milik Dewa.