NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dafa Kesepian? 27.

Malam belum terlalu larut, tapi kamar Dafa sudah senyap. Hanya ada suara dengung rendah dari kipas angin di sudut ruangan dan ketukan ritmis jemarinya pada casing ponsel.

Cowok itu telentang, menatap langit-langit kamar yang ditempeli beberapa stiker logo klub basket NBA yang sudah mulai mengelupas di bagian ujungnya.

Dia membalikkan tubuh, bertumpu pada siku, lalu menyalakan layar ponselnya untuk yang kesepuluh kali dalam satu jam terakhir.

Kosong. Tidak ada notifikasi baru dari WhatsApp.

Dafa menggeser layar ke atas, membuka ruang obrolannya dengan Lilis.

Pesan terakhir di sana adalah kiriman dari Lilis empat belas jam lalu, lengkap dengan takarir ketus: “Bangun belum woy?!, ingat lu harus antar gue sekolah, Lo telat, gue siram pot bunga.”

Dafa terkekeh pelan membacanya.

Tapi malam ini, kebiasaan Lilis mengirim pesan—entah itu makian kasar, tagihan uang kas, atau foto tugas matematika yang sengaja disensor setengah agar Dafa mau menyonteknya—mendadak hilang.

Jempol Dafa ragu-ragu di atas papan ketik virtual. Dia mengetik beberapa kata.

‘Udah tidur? Minyak tawon lo ampuh.’

Dafa diam, memandangi kalimat itu. Dia menghapusnya.

Dia mengetik lagi.

‘Gue cuma mau mastiin lo gak pingsan di tribun tadi.’

Dafa mendengus, menghapusnya lagi dengan cepat. Kenapa juga dia harus terdengar sepeduli itu? Padahal hubungan mereka berawal dari ketidaksengajaan yang konyol. Tapi kenapa sekarang Dafa yang merasa tertahan di posisinya sendiri?

Dia melempar ponselnya ke kasur. Pandangannya beralih ke meja belajar.

Di sana, di samping botol air minum, tergeletak sisa satu lembaran plester gambar dinosaurus belum terbuka yang tadi pagi di kasih oleh Lilis diam-diam.

Dafa menyentuh hidungnya yang masih agak linu. Sensasi jemari mungil Lilis yang menekan tempelan bekas plester itu dengan canggung—dan sedikit kasar—masih terasa jelas.

Saat itulah Dafa tersadar akan sesuatu yang mengganjal hatinya sejak sore.

Saat Kinar mengajaknya pulang bersama untuk membahas proposal lapangan basket, Dafa mengiyakan karena itu logis.

Kinar adalah partner kerja yang efisien. Urusan tim basket adalah prioritasnya sebagai kapten.

Tapi, ekspresi Lilis di tribun aula tadi tidak bisa hilang dari ingatannya.

Lilis yang biasanya berisik dan galak, tiba-tiba menunduk dalam-dalam.

Cewek itu mendadak menjadi begitu kecil, seolah-olah dia sedang berusaha menghapus eksistensinya sendiri dari ruangan itu.

Dafa menghela napas berat, lengan kanannya diletakkan di atas dahi.

Dia tahu Kinar adalah sosok yang selama ini dia kagumi. Kinar pintar, tegas, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Mereka berjalan di ritme yang sama. Tapi entah kenapa, saat berada di dekat Kinar sore tadi, pembicaraan mereka terasa seperti mesin yang berjalan otomatis. Rapi, terstruktur, tapi hambar.

Sementara Lilis? Lilis adalah kekacauan. Bersama Lilis, Dafa tidak pernah tahu kapan cewek itu akan meledak atau kapan dia akan tiba-tiba memberikan perhatian kecil yang tak terduga seperti minyak tawon. Dan sialnya, Dafa mulai terbiasa dengan kekacauan itu.

Ponselnya di atas kasur tiba-tiba bergetar pendek. Bzzzt.

Dafa menyambar benda itu dengan gerakan refleks yang terlalu cepat untuk ukuran orang yang mengantuk.

Detak jantungnya sempat melonjak satu ketukan. Dia membuka layar dengan cepat.

Nama pengirimnya muncul: Kinar.

“Daf, draf revisi jadwal lapangan udah gue kirim ke email lo. Tolong lo pelajari bentar, biar besok pas rapat sama pembina jam empat, kita udah satu suara. Thanks.”

Dafa menatap pesan itu datar. Ada rasa kecewa yang menyelusup tipis, begitu halus hingga hampir tak terasa, namun berhasil merusak suasana hatinya.

Dia mengetik balasan singkat.

“Oke. Besok gue baca sebelum masuk kelas.”

Setelah mengirim pesan itu, Dafa kembali menatap ruang obrolannya dengan Lilis yang tetap bergeming di urutan bawah, tenggelam oleh obrolan grup tim basket yang ramai membahas sepatu baru.

Status Lilis Last Seen sepuluh menit yang lalu. Artinya, cewek itu terjaga. Dia sedang memegang ponselnya. Tapi, dia memilih untuk tidak mengirim apa pun pada Dafa.

Dafa melempar ponselnya lagi, kali ini agak jauh ke ujung kasur dekat bantal. Dia membalikkan tubuh menghadap dinding pembatas kamar, menarik selimut tipisnya sampai ke dada.

Kamar cowok itu mendadak terasa jauh lebih luas dari biasanya.

Suara detak jam dinding di ruang tengah yang biasanya samar, kini terdengar begitu nyata dan monoton.

Ketukan konstan yang seolah-olah sedang menghitung mundur sesuatu yang tidak Dafa ketahui.

Biasanya, jam-jam seperti ini adalah waktu di mana Lilis akan mengirimkan stiker-stiker meme absurd yang mengejek foto komok Dafa saat tanding, atau sekadar mengeluh tentang tugas sejarah yang belum selesai.

Ruang obrolan mereka selalu hidup, penuh dengan sarkasme yang entah bagaimana terasa menyenangkan.

Malam ini, keheningan itu terasa nyata.

Dafa baru menyadari betapa sepinya sudut kama rnya sendiri tanpa getaran ponsel yang membawa nama cewek menyebalkan itu.

Ada ruang kosong di dadanya yang mendadak menuntut perhatian, sebuah kesadaran bahwa skenario pura-pura yang mereka rancang mungkin sudah melangkah terlalu jauh—atau justru, Dafa yang melangkah terlalu dalam, sampai lupa jalan kembali ke garis awal yang mereka sepakati.

Dafa memejamkan mata, membiarkan rasa sepi itu menelan kamarnya perlahan, sambil menyadari satu hal, dia merindukan gangguan dari Lilis.

Belum sampai satu menit, Dafa membuka matanya lagi karena terus kepikiran, dan Ia memberanikan diri untuk menelpon Lilis.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!