NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengumuman, Sebuah Janji, dan Jawaban Takdir

Sejak perpisahan sore itu di parkiran sekolah, jeda panjang yang begitu hening langsung terbentang lebar di antara Alee dan Rama. Tidak ada lagi dering pesan singkat yang masuk di larut malam, tidak ada panggillan telepon yang memecah sepi, dan tidak ada sapaan canggung di media sosial. Keduanya benar-benar saling membisu, seolah menyepakati sebuah perjanjian tak tertulis untuk memberi ruang bagi waktu menjahit sisa-sisa luka, meredakan emosi, dan membiarkan takdir bekerja tanpa campur tangan mereka.

Hari-hari Alee setelah resmi melepaskan seragam putih-abu-abu dihabiskan sepenuhnya di rumah. Sejak ibunya meninggal dunia saat Alee masih duduk di bangku SMP, rumah sederhana berarsitektur lama itu dihidupkan oleh kehangatan sang Ayah dan keceriaan Kak Maya. Berbeda dengan remaja seusianya yang memanfaatkan masa libur panjang untuk nongkrong di kafe-kafe kekinian atau keluyuran hingga larut malam, Alee adalah tipikal gadis rumah. Kesehariannya cukup diisi dengan membantu Ayah menyirami tanaman di pekarangan, menemani Kak Maya yang mulai sibuk mengurus berkas dan persiapan pernikahan, atau sekadar berbaring terlentang di kamar sambil memetik gitar tua pemberian Ayahnya.

Gitar tua itu sering kali memantulkan nada-nada sumbang saat jemari Alee mencoba mengingat kembali chord yang dulu pernah diajarkan oleh Rama di saung belakang sekolah. Namun setiap kali bayangan wajah teduh sang Ketua Kelas melintas, Alee cepat-cepat menghentikan petikannya, menarik napas panjang, lalu mengalihkan perhatiannya ke hal lain. Ia bertekad untuk tidak membiarkan kenangan itu kembali menguasai hatinya sebelum pengumuman universitas keluar.

Hingga akhirnya, hari yang mendebarkan dan ditunggu-tunggu oleh puluhan ribu siswa di seluruh negeri itu pun tiba. Hari pengumuman kelulusan Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru di universitas negeri.

Sore itu, udara di dalam rumah Alee terasa begitu tegang. Jarum jam dinding seolah berdetak dua kali lebih lambat. Ayah duduk di sofa ruang tamu sambil menyeruput kopi hitamnya yang mulai mendingin, mencoba tetap tenang meski gurat kecemasan tak bisa disembunyikan dari wajah paruh bayanya. Sementara itu, Kak Maya berdiri tepat di belakang kursi kerja Alee, menyenderkan kedua tangannya di sandaran kursi sambil menatap lurus ke layar laptop yang menampilkan halaman situs resmi pengumuman.

"Pelan-pelan kliknya, Lee. Napas dulu, jangan terburu-buru," bisik Kak Maya ikut deg-degan, meremas pelan bahu adiknya.

Alee menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak untuk menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh hebat di dalam dada. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia memasukkan nomor pendaftaran serta tanggal lahirnya ke kolom yang tersedia, lalu mengarahkan kursor ke tombol hijau berukuran besar di bagian bawah layar.

Klik.

Layar laptop sempat membeku selama beberapa detik sebuah jeda singkat yang terasa seperti keabadian bagi Alee. Lalu, dalam satu hembusan napas, tampilan layar berubah total. Sebuah kotak berwarna hijau terang muncul mendominasi layar, menyapa mata Alee dengan tulisan tebal berukuran besar:

SELAMAT! ANDA DINYATAKAN LULUS SELEKSI PTN

Nama: Aleeza Putri

Program Studi: Ilmu Komunikasi

PTN: Universitas Nusa Bangsa (UNB)

"ALHAMDULILLAH! LULUS, LEE! KAMU LULUS!" teriak Kak Maya histeris seketika. Tanpa aba-aba, ia langsung memeluk leher Alee dari belakang dengan erat, menggoyangkan tubuh adiknya penuh kegembiraan.

Ayah yang mendengar teriakan itu refleks meletakkan cangkir kopinya dan bergegas mendekat. Senyum lebar terukir indah di wajah rentanya. Beliau mengusap lembut puncak kepala putri bungsu kesayangannya dengan rasa haru yang membuncah.

"Selamat ya, Nak. Ayah bangga banget sama kamu. Almarhumah Ibu kamu pasti tersenyum senang di sana melihat kamu berhasil," ucap Ayah tulus dengan suara yang agak serak.

"Makasih ya, Yah... Makasih Kak Maya," jawab Alee dengan binar mata yang berkaca-kaca. Hatinya meluap oleh rasa syukur yang luar biasa. Beban berat yang selama ini menggelayuti pikirannya mendadak terangkat menguap ke udara.

Namun, di tengah riuh kebahagiaan kecil di ruang tamu itu, ada satu jemari Alee yang secara refleks meraih ponsel di samping laptop. Ia tidak mengirim pesan pada Rama, melainkan membuka grup percakapan angkatan kelas 12 yang mulai dibanjiri oleh ratusan tangkapan layar pengumuman dari teman-temannya. Ada yang meluapkan kegembiraan, ada pula yang saling memberikan penghiburan.

Saat Alee menggeser layar ponselnya ke atas, matanya mendadak tertahan pada sebuah unggahan dari Zikri. Sebuah gambar hasil pengumuman kelulusan milik sahabat dekatnya terpampang jelas di sana. Nama lengkap sang Ketua Kelas tercetak tebal di baris atas:

Nama: Ramaditya Pratama

Program Studi: Teknik Sipil

PTN: Universitas Garuda Indonesia (UGI)

Alee terpaku mematung, menatap layar ponselnya dalam keheningan yang mendalam.

Alee diterima di Universitas Nusa Bangsa (UNB), sedangkan Rama diterima di Universitas Garuda Indonesia (UGI). Dua perguruan tinggi negeri di kota yang berbeda, dengan arah masa depan dan jalan hidup yang tak lagi bersinggungan.

Seketika itu juga, ingatan Alee melayang kembali ke sore terakhir di parkiran sekolah yang sepi saat angin sore meremas lembut rambutnya dan ia menyampaikan sebuah taruhan takdir di depan sosok pria bertatap mata teduh itu:

“Kalau misalnya nanti kita sama-sama diterima di universitas yang sama... maka itu adalah jawabannya. Tapi kalau di univ berbeda, maka itu adalah jawaban kalau aku benar-benar harus menghindari kamu selamanya... tapi untuk berteman, aku bakal selalu menjalin hubungan itu bersama kamu.”

Alee menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu. Matanya menatap menerawang ke arah langit-langit kamar. Tidak ada derai air mata yang jatuh, tidak ada kepedihan yang menyayat dada, hanya ada rasa lega yang amat sangat membuncah halus di dalam jiwanya.

Takdir telah memberikan jawabannya secara tegas, jelas, dan tanpa sedikit pun keraguan. Simfoni di antara mereka memang telah resmi selesai di bait terakhir masa SMA. Ramaditya Pratama bukan lagi seseorang yang harus ia kejar, bukan lagi sosok yang harus ia tunggu keberadaannya di ujung koridor sekolah, dan bukan lagi nama yang harus mengisi ruang pikirannya setiap kali ia menatap langit malam.

Ia akan menepati janjinya. Alee akan benar-benar menjaga jarak, membatasi diri, dan menjauhi Rama dari segala bentuk kedekatan emosional yang spesial seperti masa lalu. Jika suatu hari nanti roda kehidupan mempertemukan mereka kembali di persimpangan jalan, Rama hanyalah seorang teman masa lalu seorang teman baik yang pernah mengajarinya indahnya nada-nada kehidupan, namun tak pernah ditakdirkan untuk menyanyikan simfoni yang sama.

Alee menutup laptopnya perlahan, menyunggingkan senyum tipisnya yang paling ikhlas dan dewasa, lalu melangkah menuju jendela kamar untuk melihat langit sore yang indah.

"Terima kasih atas jawabannya, Tuhan," bisik Alee pelan dalam hati. "Aku siap membuka lembaran baru."

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!