NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Rekaman Masa Lalu

Pagi hari jelang hari akad nikah yang seharusnya diselimuti oleh kelegaan setelah insiden kemarin, mendadak dikejutkan oleh sebuah getaran kecil dari ponselku yang tergeletak di atas meja rias.

Bzzzt... bzzzt...

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk tepat pukul enam pagi. Layar ponselku menampilkan sebuah file video berdurasi pendek bersama sebuah kalimat singkat yang terasa seperti hantaman palu godam di dada:

"Calon suamimu tidak sebersih yang kamu kira. Lihat apa yang dia lakukan di belakangmu."

Jantungku berdegup kencang. Dengan tangan yang sedikit bergetar, aku mengeklik tombol play pada rekaman video tersebut di dalam kamar pengantin yang masih sepi.

Kamera menangkap sudut remang-remang sebuah lounge eksklusif di Eropa dari masa lalu. Di sana, sosok Dimas yang lebih muda tampak berdiri berhadapan dengan Kartika. Wanita itu merengkuh leher Dimas dengan agresif, berniat menciumnya.

Dalam rekaman itu, Dimas sempat menepis pelan, lalu suara berat khas Dimas terdengar jelas meluncur dari bibirnya:

“Aku hanya melakukan ini sekali... dan ingat, aku tidak bisa memberikan hatiku.”

Seketika, ruangan di sekelilingku terasa berputar. Video itu terhenti di detik terakhir, namun gaung suara Dimas terus berdenging di dalam kepalaku.

Friend with benefit.

Ucapannya di masa lalu menjawab semuanya. Dulu, saat Dimas masih berada di fase hedonisme dunia bisnis dan studi di luar negeri, kedekatannya dengan Kartika bukanlah cinta yang suci atau ikatan komitmen. Itu hanyalah hubungan fisik tanpa jiwa—hubungan friend with benefit di mana Dimas dengan tegas memberikan batasan bahwa tubuhnya bisa disentuh, tapi hatinya tidak pernah tersentuh.

Namun, mengetahui fakta telanjang itu sekarang—tepat dua hari sebelum aku mengenakan kebaya pengantin dan berjalan di sisinya—membuat dadaku mendadak sesak luar biasa. Rasa nyeri menusuk tajam di ulu hatiku. Bukan cemburu pada Kartika, melainkan rasa tidak menyangka bahwa pria yang kini begitu agung dan memuliakanku di hadapan Romo ternyata pernah menapaki masa lalu yang begitu kelam dan bebas.

(Sudut Pandang: Maizara Paramita)

Siang harinya, suasana di rumah Natakusumah semakin sibuk dengan kedatangan tim perias pengantin dan dekorator. Namun, aku memilih mengurung diri di dalam kamar, menatap layar ponselku yang menampilkan video tersebut berulang-ulang hingga pandanganku mengabur oleh air mata.

Tok... tok... tok.

Ketukan pelan terdengar di pintu kamar.

"Mei... Nduk, ini Mami," suara lembut Mami menyapa dari balik daun pintu.

Aku buru-buru menghapus air matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu kamar. Mami berdiri di sana membawa kotak kayu berisi kain selendang songket. Namun, begitu melihat raut wajahku yang pucat pasi dan mata yang sembab, senyuman di wajah Mami seketika pudar.

"Ya Allah, Mei... Kenapa wajahmu pucat sekali, Nduk? Kamu sakit?" tanya Mami panik, langsung memegang kedua pipiku.

Aku menggeleng pelan, mencoba tersenyum getir. "Aku tidak apa-apa, Mami... cuma agak kelelahan saja."

Mami menatapku lekat-lekat, seorang wanita paruh baya yang sangat mengenali gerak-gerik putri angkatnya. "Jangan berbohong pada Mami, Mei. Ada apa? Apakah ini soal keributan kemarin dengan wanita bernama Kartika itu?"

Pertanyaan Mami membuat pertahananku runtuh. Aku menunjukkan layar ponselku yang menjeda rekaman video tersebut kepada Mami.

Mami mengernyitkan dahi, menonton video singkat itu hingga selesai. Helaan napas berat terdengar dari bibir Mami.

"Nduk..." panggil Mami lembut, merangkul pundakku erat-erat. "Kamu terluka karena melihat masa lalu Dimas?"

"Bukan karena masa lalunya yang kelam, Mami..." suaraku bergetar parau, air mataku akhirnya menetes deras membasahi pipi. "Tapi kenapa harus disembunyikan? Kenapa harus ada rahasia sekotor itu yang baru aku tahu sekarang lewat kiriman anonim? Aku takut... aku takut kalau ternyata apa yang kulihat hari ini hanyalah topeng dari pria yang selama ini berjanji akan menjagaku."

Mami tersenyum bijaksana, menghapus air mata di pipiku dengan ibu jarinya.

"Dengarkan Mami, Maizara," tutur Mami penuh kearifan. "Setiap manusia di dunia ini, terutama laki-laki yang hidup di kota besar dan dunia bisnis internasional seperti Dimas, pasti punya babak kehidupan yang tidak membanggakan di masa lalu. Yang membedakan antara pria bajingan dan pria sejati adalah apa yang dia lakukan setelah dia melewati masa itu."

Mami menunjuk layar ponselku. "Dimas di video itu adalah pemuda masa lalu yang hilang arah, tapi Dimas yang sekarang berdiri di hadapanmu adalah lelaki yang berani berlutut di depan Romo, yang meruntuhkan seluruh egonya, dan yang memilihmu untuk menjadi pelabuhan terakhirnya. Jangan biarkan racun dari masa lalu yang dikirim oleh orang sirik menghancurkan kebahagiaan yang sudah kamu bangun dengan susah payah."

Menjelang sore hari, seolah merespons kegaduhan batin yang melanda diriku, Dimas tiba di rumah Natakusumah. Pria itu datang dengan membawa sekotak kue tradisional kesukaanku, berniat menemuiku di pendopo belakang.

Begitu melangkah masuk ke area teras, langkah Dimas terhenti. Ia melihatku berdiri di dekat pagar kolam dengan tatapan kosong dan mata yang sembab.

Raut wajah Dimas seketika berubah tegang. Pria itu meletakkan kotak kue di atas meja, lalu berjalan mendekatiku dengan tergesa.

"Mei... ada apa?" tanya Dimas cemas, tangannya terulur hendak menyentuh bahuku. "Kamu menangis? Siapa yang membuatmu sedih?"

Aku mundur satu langkah, menepis pelan tangan Dimas. Aku mengangkat ponselku, menekan tombol putar, dan memperlihatkan rekaman video berdurasi beberapa detik itu tepat di depan wajahnya.

Suara bariton Dimas dari masa lalu menggema di pekarangan belakang yang sunyi: “Aku hanya melakukan ini sekali... dan ingat, aku tidak bisa memberikan hatiku.”

Dimas mematung seketika. Warna dari wajahnya seolah menguap dalam hitungan detik. Manik mata hitamnya membelalak lebar, menatap layar ponsel di tanganku dengan horor dan keterkejutan yang amat sangat.

"Mei... ini..." suara Dimas tercekat di tenggorokan.

"Jadi benar ya, Mas?" suaraku bergetar dingin, menatap lurus ke dalam manik matanya yang kini diliputi kepanikan luar biasa. "Video itu benar. Hubunganmu dengan Kartika dulu... hanyalah hubungan fisik tanpa hati. Friend with benefit."

Dimas menelan ludah dengan susah payah. Pria jangkung itu melangkah maju, mencoba meraih tanganku, namun aku kembali menarik tanganku menjauh.

"Mei, dengar dulu... kumohon, dengar penjelasan saya!" suara Dimas parau, kepanikan murni terpancar jelas dari sorot matanya—bukan panik karena takut ketahuan, melainkan panik karena takut kehilangan diriku.

"Jelaskan apa lagi, Mas?!" suaraku mulai meninggi, emosi yang sejak tadi tertahan akhirnya meledak. "Selama ini aku memegang prinsip hidupku mati-matian! Aku menjaga kehormatanku, aku menjaga harga diriku, dan aku mengira pria yang akan menjadi suamiku adalah seseorang yang juga menghargai kesucian komitmen! Tapi apa ini? Kamu pernah tidur dengan wanita lain tanpa ikatan cinta, lalu menutupinya rapat-rapat dariku?!"

Dimas memejamkan matanya erat-erat, menahan rasa sakit yang luar biasa akibat kesalahannya sendiri di masa lalu. Pria itu tidak membela diri, tidak mencari alibi.

Dengan perlahan, tanpa memperdulikan harga dirinya sebagai seorang CEO konglomerat, Dimas melipat kedua lututnya dan bersimpuh di hadapanku di atas lantai semen teras belakang.

"Ya... itu benar," bisik Dimas dengan suara yang sangat hancur dan patah. Air mata akhirnya menetes dari sudut mata pria tegap itu.

Aku tertegun melihat Dimas berlutut di hadapanku untuk kedua kalinya.

"Itu adalah kebodohan terbesar dalam hidup saya, Mei..." suara Dimas bergetar hebat, tangannya yang besar mencengkeram ujung kain celananya sendiri. "Tahun-tahun itu... saat saya hidup sendiri di Eropa, dikelilingi oleh lingkungan bebas, egois, dan kehilangan arah... saya melakukan hal-hal kotor yang sangat saya sesali. Kartika adalah bagian dari masa kelam itu. Kami terikat dalam hubungan tanpa jiwa. Tapi sumpah demi Allah, Mei... sejak detik pertama saya melihatmu di Jogja, sejak pertama kali saya menyadari betapa berharganya dirimu... bagian kotor dari hidup saya itu sudah mati sepenuhnya."

Dimas mendongak, menatap mataku dengan pandangan memohon yang begitu menyayat hati.

"Saya tidak menceritakannya padamu karena saya takut... saya sangat takut kamu akan jijik pada saya. Saya takut kamu membatalkan pernikahan ini dan meninggalkan saya," lanjut Dimas terbata, suaranya serak menahan isak. "Tapi hukumlah saya, Mei. Marahi saya sepuasmu. Jangan batalkan pernikahan kita... karena tanpamu, hidup saya tidak ada artinya lagi."

Aku berdiri mematung. Menatap pria yang selama ini dikenal paling berkuasa, paling angkuh, dan paling disegani di Jakarta, kini bersimpuh di lantai di hadapanku dengan air mata penyesalan yang tulus.

Kemarahan di dadaku perlahan-lahan beradu dengan rasa iba dan realitas yang terbentang.

Aku tahu betul siapa diriku. Aku bukan manusia suci tanpa cela. Dan aku juga tahu, tidak ada manusia di dunia ini yang masa lalunya bersih tanpa noda. Yang terpenting bukanlah seberapa gelap masa lalu seseorang, melainkan bagaimana ia memilih untuk bertobat dan menyerahkan masa depannya secara utuh.

Aku menarik napas panjang, meredakan debar gemuruh di dadaku.

Aku membungkuk perlahan, lalu meletakkan kedua tanganku di atas bahu Dimas yang bidang, menuntun pria itu untuk bangkit berdiri.

"Bangun, Mas..." bisikku parau, air mataku sendiri masih menetes perlahan.

Dimas perlahan bangkit berdiri, menatapku dengan penuh kecemasan. "Mei..."

"Video itu... dikirim oleh Kartika, kan?" tanyaku tenang.

Dimas mengangguk lemah. "Pasti dia. Dia tahu pernikahannya diambang kehancuran, dan dia ingin menghancurkan kebahagiaan kita."

Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman getir namun penuh ketegasan.

"Dia mau kita hancur, Mas. Dia mau aku meninggalkanmu karena cemburu dan jijik pada masa lalumu," ucapku mantap, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Dimas. "Tapi aku tidak akan memberikan kepuasan itu padanya."

Dimas membelalakkan matanya, terkejut mendengar jawabanku.

"Aku tidak peduli dengan apa yang kamu lakukan di masa lalu sebelum mengenalku, Mas Dimas," lanjutku tulus, suara mengalun tegas menembus keheningan. "Yang aku pedulikan adalah siapa kamu hari ini, bagaimana kamu memperlakukanku, dan bagaimana kamu menjagaku. Masa lalumu adalah milikmu, tapi masa depanmu adalah milik kita berdua."

Mendengar kalimat itu, pertahanan Dimas sepenuhnya runtuh. Pria jangkung itu langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya yang sangat erat, seolah aku adalah satu-satunya jangkar yang menyelamatkannya dari badai kehancuran. Ia membenamkan wajahnya di leherku, menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang menemukan rumahnya kembali.

"Terima kasih, Mei... Terima kasih..." bisik Dimas berulang-ulang di telingaku, ciumannya mendarat penuh rasa syukur di pelipis dan rambutku.

Di bawah naungan sore jelang hari bahagia kami, di antara sisa-sisa air mata dan bayangan masa lalu yang mencoba merusak, sebuah kata mutiara terukir abadi di dalam hatiku:

"Cinta yang paling agung bukanlah cinta yang menuntut kesempurnaan masa lalu, melainkan cinta yang cukup luas untuk memaafkan kesalahan kemarin dan cukup kuat untuk membangun masa depan bersama."

1
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
Adira🍓
Jebollah keperawanan anak orang 🤣🤣 btw sudah berapa wanita yang Dimas jebol perawannya 🤔
NinLugas: 😄😄😄 rahasia
total 1 replies
Adira🍓
Pada akhirnya Dimas yg pegang kendali 🤪🤪
falea sezi
😒kecewa ternyataa dimas cm ngincar perawan🤣🤣🤣 pasti abis ne di tinggalin🤭
NinLugas: hmm...gmn ya 😄✌️✌️
total 1 replies
falea sezi
tunangan uda minta ngeweee... 🤣🤣 yg bner ada dimass elu uda sering nyelup pcr pcr elu jd ketagihan lah si calon istri mu ini perawan darah keraton perawan itu barang di jaga sakral😓
NinLugas: ✌️✌️✌️ sabar2 kak🤭
total 1 replies
falea sezi
curiga pasti alya wanita jalang
NinLugas: bisa jadi kak🤣
total 1 replies
falea sezi
dimas melepas perjaka ma mbk psk apa pacar ya🤭
NinLugas: nnti ketahuan wkwk
total 1 replies
falea sezi
ya gk perjaka denggg🤣 nasib Mei dpet bekas
NinLugas: apes dia wkwk 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!