Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 — Perangkap di Balik Dendam
.
Bagaikan petir menggelegar menyambar tepat di atas kepala Bara dan Vanya. Keduanya membeku, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka tidak percaya pada apa yang baru saja didengar.
Bara menatap Mentari, lalu beralih kepada Titan yang berdiri tenang di samping perempuan itu. Pria yang Baru beberapa jam yang lalu dihina oleh Vanya, ternyata adalah pemilik Danuarta Global Corporation, perusahaan besar yang selama ini selalu menolak proposal kerjasama mereka.
Dan yang lebih membuat Bara tak percaya, Mentari mengatakan bahwa Titan Danuarta adalah tunangannya. Bara menekan dadanya yang terasa sesak. Semua perkataan yang baru saja diucapkannya untuk meminta kesempatan kedua mendadak terasa begitu memalukan.
Sementara itu, Vanya berdiri kaku dengan wajah pucat. Ia masih mengingat bagaimana dirinya merendahkan dengan mengatakan bahwa Titan hanyalah pria sewaan. Kini, semua penghinaan itu berbalik menghantam dirinya sendiri.
Mentari yang melihat perubahan wajah mereka hanya tersenyum tipis. Tidak perlu baginya menjelaskan mengenai hubungannya dengan Titan.
“Bara, apa menurutmu aku sama sekali tidak tahu apa-apa?” tanya Mentari sambil menatap pria itu lekat-lekat. “Dengan dalih menguji mental, kamu selalu membiarkan Vanya menginjak-injak dan menindasku. Apa menurutmu aku tidak tahu semua itu? Serius, kamu menganggapku sebodoh itu?” tanya Mentari dengan ujung jari menunjuk ke dadanya sendiri.
Bara langsung menggeleng, tetapi Mentari mengangkat tangannya, meminta pria itu tidak menyela.
“Selama ini aku hanya memilih diam bukan karena takut kehilangan dirimu, tetapi karena aku ingin melihat sejauh mana kamu akan sanggup melukai hatiku. Aku ingin tahu apakah pria yang kucintai selama ini masih memiliki hati nurani dan mampu membedakan mana yang benar dan salah.”
Senyum Mentari perlahan menghilang saat teringat semua pengorbanan yang pernah dilakukannya untuk Bara. Sayangnya, semua itu justru membuat Bara merasa dirinya hebat dan berhak memperlakukan dirinya sesuka hati.
“Aku hanya ingin memberikan kesempatan kepada cinta yang selama ini kupupuk,” lanjutnya dengan suara tenang, meskipun sorot matanya semakin dingin. “Membiarkannya sedikit demi sedikit terkikis oleh sikapmu sendiri sampai akhirnya habis tanpa tersisa. Terima kasih karena sudah membuka mataku yang selama ini buta. Sekarang aku tidak perlu lagi membuang waktu untuk mempertahankan seseorang yang bahkan tidak mampu menghargai ketulusan.”
Bara menunduk tidak mampu mencari alasan untuk membela dirinya sendiri.
Mentari kemudian menoleh kepada Vanya yang masih berdiri dengan wajah tegang. “Dan kamu. Sekarang kamu bisa menguasai pria pecundang itu sepuas hatimu. Kamu sudah berusaha keras untuk mendapatkannya, bukan? Silakan nikmati hasil perjuanganmu. Aku sama sekali tidak akan berebut denganmu.”
“Mentari, jangan bicara seperti itu!” Bara akhirnya bersuara, berusaha meraih tangan perempuan itu. Namun, sebelum ia sempat menyentuhnya, Titan sudah bergeser dan berdiri di antara mereka.
“Kurasa tunanganku sudah cukup jelas menyampaikan keputusannya,” ujar Titan dengan tatapan tajam. “Jangan memaksanya mengulangi perkataan yang sama. Karena itu hanya akan semakin memperlihatkan bahwa kamu sama sekali tidak memiliki harga diri.”
Bara mengepalkan tangannya, tetapi tidak berani melakukan apa pun di hadapan Titan. Ia sadar kedudukannya jauh berbeda dengan Titan. Apalagi perusahaannya saat ini sedang kesulitan, kekalahan tender. Ia tidak boleh mencari masalah baru. Meskipun kenyataan bahwa Mentari telah memilih pria lain yang kekuasaannya berada jauh di atasnya membuatnya kehilangan kepercayaan diri.
Tak ingin berlama-lama Mentari menggenggam tangan Titan dan mengajaknya pergi. Ia bahkan tidak menoleh lagi ketika Bara memanggil namanya. Bagi Mentari, semua sudah berakhir dan dia tak ingin lagi menoleh ke belakang.
Namun, tidak demikian dengan Vanya. Perempuan itu menatap punggung Mentari yang semakin menjauh dengan kedua tangan terkepal. Selama ini, ia selalu merasa dirinya lebih unggul karena mampu membuat Bara mengabaikan kekasihnya sendiri. Akan tetapi, sekarang Mentari justru pergi dengan pria yang jauh lebih berkuasa daripada Bara. Sementara dirinya hanya bisa berdiri di samping seorang pria yang perusahaannya sedang terancam kehancuran.
“Awas saja, Mentari,” gumam Vanya dengan mata menyipit. “Kamu pikir aku akan diam saja setelah kamu mempermalukanku?”
Dendam mulai memenuhi pikirannya. Ia tidak mungkin melawan Mentari secara langsung, tetapi ia juga tidak ingin menerima kenyataan bahwa kini Mentari malah lebih bahagia daripada dirinya.
“Aku tidak akan diam saja. Kalau aku bisa merebut Bara darimu, aku juga bisa mengambil Titan. Saat itu terjadi nanti kamu hanya akan menjadi keset yang akan aku injak-injak.”
*
*
*
Malam harinya, Vanya berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Selama ini berusaha keras mendekati Bara dan menyingkirkan Mentari. Tetapi kenapa bahkan sebelum dia bisa mendapatkan Bara sepenuhnya sekarang ia harus menyaksikan pria itu nyaris hancur dan terus mengejar mantan kekasihnya.
Vanya mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya menekan telapak tangan merasa semua ini tidak adil baginya. Mentari sudah mendapatkan segalanya, sedangkan dirinya seolah tidak pernah beruntung.
“Kenapa harus Mentari?” gumamnya dengan tatapan penuh kebencian. “Apa istimewanya perempuan itu sampai semua orang selalu berada di pihaknya? Dulu Bara selalu sekarang Titan Danuarta juga ada di sisinya. Apa aku harus terus mengalah dan membiarkannya hidup bahagia?”
Vanya mengambil ponsel dan membuka ruang percakapan dengan seorang kenalannya. Ia harus memberikan pelajaran kepada Mentari agar perempuan itu tidak merasa dirinya paling hebat. Vanya menekan tombol panggilan selalu menunggu beberapa saat sampai orang di seberang mengangkatnya.
“Siapa ini?” terdengar suara pria berat dari seberang.
“Aku Vanya. Jangan bilang kamu lupa dengan suaraku atau bahkan kamu sudah menghapus kontakku” jawab Vanya dengan suara menggeram tertahan.
“Oh, kamu?" tanya orang di seberang acuh. “Ada apa?"
“Dengarkan aku! Aku punya satu pekerjaan untukmu. Selesaikan tugas itu dan jangan banyak bertanya.”
Pria itu tertawa kecil. “Tergantung masalahnya. Aku bukan orang yang bisa kamu suruh melakukan apa saja hanya dengan modal bicara. Jadi, langsung saja, apa yang kamu inginkan?”
Vanya melirik ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat sebelum menjawab dengan suara lebih rendah. “Aku ingin kamu dan orang-orang mu memberikan pelajaran kepada seorang perempuan bernama Mentari. Dia baru saja mempermalukanku di depan banyak orang.”
“Memberikan pelajaran seperti apa?” tanya pria itu lagi.
Vanya terdiam sesaat seolah memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan pada Mentari.
“Buat dia ketakutan,” jawabnya akhirnya. “Kalau perlu, lukai sedikit supaya dia tahu bahwa dia baru saja berurusan dengan orang yang salah. Atau… Bagaimana kalau kalian melecehkan dia saja? Atau apapun itu terserah kalian yang penting kalian tidak membunuhnya. Aku masih ingin melihatnya menderita.”
“Kalau begitu, kamu harus membayar kami dengan pantas. Kami tidak akan mempertaruhkan diri hanya untuk membantu kamu melampiaskan amarah.”
“Aku akan membayar kalian,” sahut Vanya cepat. “Berapa pun yang diperlukan, selama kalian bisa membuatnya menyesal.”
Pria di seberang menyebutkan jumlah uang yang harus dibayarkan sebagai uang muka. Vanya sempat terdiam karena nominal itu lebih besar daripada yang diperkirakannya, tetapi ketika mengingat wajah Mentari yang tersenyum sinis kepadanya tadi. Kemarahan kembali menguasai pikirannya.
“Oke. Aku akan transfer uang mukanya sekarang,” katanya. “Setelah pekerjaan kalian selesai, sisanya akan kubayar. Tapi aku ingin semuanya dilakukan dengan rapi. Jangan sampai menyeret namaku.”
“Serahkan saja kepada kami. Kirimkan foto perempuan itu dan informasi yang kamu punya. Kami akan mencari waktu yang tepat untuk mendekatinya.”
Vanya mengakhiri panggilan, lalu membuka galeri ponselnya. Ia menemukan beberapa foto Mentari yang pernah diambilnya diam-diam. Ia segera mengirim foto itu pada nomor yang baru saja ia hubungi.
Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk yang menyatakan bahwa mereka akan menghubunginya kembali setelah pekerjaan selesai.
Vanya menatap layar ponselnya dengan senyum tipis. Ia kemudian menghapus riwayat panggilan dan meletakkan ponselnya ke atas nafas seolah tidak baru saja melakukan apapun.
“Mentari, jangan bangga dulu,” gumamnya sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur. “Kamu boleh memiliki keluarga kaya, perusahaan besar, dan pria seperti Titan Danuarta. Tapi aku ingin melihat apakah kamu masih bisa tersenyum setelah semua orang menganggapmu kotor.”
.