NovelToon NovelToon
The Eternal Sovereign: Aku Mewarisi Takdir Yang Seharusnya Tidak Ada

The Eternal Sovereign: Aku Mewarisi Takdir Yang Seharusnya Tidak Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Misteri
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Di dunia tempat Surga mengendalikan takdir dan kekuatan menentukan segalanya, Gu Chenxiao adalah anomali yang tidak pernah tercatat dalam Kitab Surga.

Dengan bantuan Arsip Pengamat Abadi, ia menapaki Dao Iblis yang menentang hukum kosmos. Ia bukan pahlawan yang menyelamatkan dunia, melainkan manipulator yang mempermainkan takdir, memanfaatkan pengkhianatan, dan menjadikan musuh sebagai bidak dalam rencana jangka panjangnya.

Namun, ketika Fondasi Asal mulai mengoreksi keberadaannya, Gu Chenxiao menyadari bahwa dunia yang ia kenal hanyalah sebagian kecil dari rahasia kosmos.

**Jika Surga menentukan takdir semua makhluk, siapa yang berani menentukan takdir Surga?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog — Langit Tidak Mengenali Namanya

Di bawah langit yang luas, manusia percaya bahwa kekuatan adalah jawaban bagi segala sesuatu.

Mereka yang lemah menundukkan kepala kepada yang kuat. Mereka yang kuat mencari kekuatan yang lebih besar. Sementara mereka yang telah berdiri di puncak dunia mulai percaya bahwa tidak ada sesuatu pun yang berada di luar jangkauan mereka, sampai suatu hari mereka menyadari bahwa langit yang mereka sembah ternyata jauh lebih luas daripada yang pernah mereka bayangkan.

Dunia kultivasi tidak mengenal belas kasihan yang abadi. Sebuah keluarga dapat berjaya selama sepuluh ribu tahun, lalu lenyap dalam satu malam. Sekte yang menguasai jutaan murid dapat runtuh akibat satu keputusan yang keliru. Seorang jenius yang dipuji sebagai calon kaisar bisa mati di tangan seseorang yang bahkan tidak pernah dianggap layak untuk mengangkat pedang.

Di tempat seperti ini, bakat menentukan seberapa jauh seseorang dapat melangkah, sumber daya menentukan seberapa cepat ia berkembang, dan kecerdasan menentukan berapa lama ia mampu bertahan hidup. Namun, tidak satu pun dari ketiganya menjamin bahwa seseorang akan mencapai akhir perjalanannya.

Sebab, di atas semua itu, terdapat sesuatu yang lebih sulit dipahami daripada kekuatan.

Takdir.

Orang biasa menganggap takdir sebagai kehidupan yang telah ditentukan sejak kelahiran. Para kultivator melihatnya sebagai arus tak terlihat yang mempertemukan peluang, bencana, keberuntungan, dan kematian. Adapun para penguasa yang telah hidup selama ribuan tahun tidak suka membicarakannya terlalu lama. Mereka memahami bahwa ada beberapa hal yang lebih aman untuk dihormati daripada dipertanyakan.

Di Benua Canglan, salah satu daratan luas di wilayah timur, pemahaman tersebut telah diwariskan selama banyak generasi. Di sini berdiri kerajaan-kerajaan fana, keluarga kultivasi kuno, sekte yang menguasai pegunungan spiritual, serta peninggalan peradaban yang telah lama kehilangan pemiliknya. Manusia hidup berdampingan dengan makhluk spiritual, mencari kesempatan untuk menembus batas kehidupan, sementara para ahli saling berebut sumber daya yang dapat membantu mereka melangkah menuju alam yang lebih tinggi.

Jalan kultivasi dimulai dari Pembangunan Fondasi, ketika tubuh dan lautan spiritual disiapkan untuk menampung kekuatan. Mereka yang berhasil melangkah lebih jauh akan membangun Istana Roh, memadatkan Inti Dao, lalu mengalami transformasi jiwa yang membuat keberadaan mereka semakin berbeda dari manusia biasa. Setelah itu, jalan mereka akan bersinggungan dengan pemahaman hukum, wilayah kekuasaan, dan tingkat-tingkat yang bahkan tidak pernah diketahui oleh kebanyakan penduduk dunia.

Namun, nama sebuah tingkat kultivasi tidak pernah menceritakan keseluruhan kekuatan seseorang. Fondasi yang kokoh dapat mengalahkan fondasi yang rapuh. Teknik yang tepat dapat mengatasi perbedaan kekuatan. Pengalaman dapat menutup kekurangan bakat, dan persiapan yang matang dapat mengubah pertarungan yang mustahil menjadi kemenangan.

Tentu saja, semua itu hanya berlaku selama seseorang masih memiliki kesempatan untuk menggunakan apa yang telah dipelajarinya.

Di dunia kultivasi, kematian sering kali datang sebelum seseorang sempat menjelaskan rencananya.

Pada malam ketika kisah ini dimulai, tidak ada perang yang sedang berlangsung di Benua Canglan. Tidak ada bencana yang menghancurkan kota, tidak ada ahli yang bertarung di atas awan, dan tidak ada pusaka kuno yang memancarkan cahaya ke langit. Bulan menggantung di atas pegunungan, angin malam menyusuri atap-atap bangunan, dan ribuan lentera menerangi kediaman Klan Gu, salah satu keluarga kultivasi berpengaruh di wilayah timur.

Bagi kebanyakan orang, malam itu tidak berbeda dari malam-malam sebelumnya.

Tetapi di aula terdalam kediaman Klan Gu, sebuah lempengan giok kuno mendadak kehilangan cahayanya.

Lempengan itu telah diwariskan selama beberapa generasi. Tidak semua tetua memahami asal-usulnya, tetapi mereka mengetahui kegunaannya: mencatat informasi kelahiran anggota keluarga inti dan menghubungkannya dengan sebuah sistem pencatatan kuno yang dikenal sebagai Kitab Takdir. Selama bertahun-tahun, tidak pernah ada nama yang gagal muncul ketika upacara pencatatan dilakukan.

Sampai malam itu.

Seorang lelaki tua berjubah kelabu menatap lempengan tersebut dengan kedua tangan terlipat di belakang punggungnya. Wajahnya memperlihatkan ketenangan seorang kultivator yang telah melewati banyak badai kehidupan, tetapi kerutan di antara alisnya tidak kunjung menghilang.

“Ulangi pemeriksaannya,” katanya.

Seorang tetua yang lebih muda segera mengaktifkan formasi. Cahaya keemasan mengalir di antara simbol-simbol pada lantai, naik melalui pilar-pilar batu, lalu berkumpul di atas lempengan giok. Seluruh proses berlangsung selama beberapa tarikan napas sebelum cahaya itu menghilang tanpa meninggalkan hasil apa pun.

Tetua muda tersebut menelan ludah. “Tetua Agung, catatan kelahiran telah dikonfirmasi. Pewaris kesembilan belas memang telah lahir, tetapi Kitab Takdir tidak memberikan respons.”

“Tidak memberikan respons?”

“Benar.”

“Apakah formasinya rusak?”

“Kami telah memeriksa tiga kali.”

Lelaki tua itu mengangkat tangannya dan memerintahkan semua orang mundur. Ia sendiri menyentuh permukaan lempengan tersebut, mengalirkan sedikit energi spiritual melalui ujung jarinya. Sebagai seorang ahli yang telah mencapai tingkat Raja Dao, ia mampu merasakan perubahan yang tidak dapat ditangkap oleh kebanyakan kultivator di wilayah itu.

Akan tetapi, yang ia temukan hanyalah kekosongan.

Bukan kegelapan, bukan penolakan, dan bukan pula jejak seseorang yang menyembunyikan identitasnya. Rasanya seperti mencoba membaca sebuah buku yang halaman terakhirnya masih kosong, sementara seluruh dunia bersikeras bahwa halaman tersebut seharusnya telah berisi tulisan.

“Siapa nama anak itu?” tanyanya.

“Gu Chenxiao.”

Untuk beberapa saat, tidak seorang pun berbicara.

Kemudian lelaki tua itu menarik tangannya. “Jangan sebarkan kejadian ini. Periksa seluruh catatan kelahirannya, riwayat kedua orang tuanya, dan setiap perubahan pada formasi keluarga selama sembilan bulan terakhir. Tidak seorang pun boleh mengambil kesimpulan sebelum kita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

“Bagaimana jika keluarga lain mendengar tentang ini?”

“Kalau mereka mendengarnya, pastikan mereka tidak mendapatkan informasi yang sama dari kita.”

Perintah itu segera dilaksanakan. Para tetua meninggalkan aula melalui pintu yang berbeda, masing-masing membawa tugas yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Dalam waktu kurang dari setengah jam, kediaman Klan Gu kembali terlihat tenang. Para penjaga tetap berpatroli, para pelayan melanjutkan pekerjaan, dan lentera-lentera masih menyala seperti biasa.

Tidak ada yang menyadari bahwa sebuah penyelidikan telah dimulai.

Jauh dari aula utama, di halaman kecil yang dipenuhi pohon bambu, seorang pemuda sedang duduk di dekat meja batu sambil membaca laporan perdagangan. Jubah hitamnya sederhana, rambutnya diikat dengan pita gelap, dan secangkir teh yang telah dingin berada di samping tangannya. Ia berusia sembilan belas tahun dan bernama Gu Chenxiao.

Sebagai pewaris Klan Gu, ia tidak kekurangan makanan, tempat tinggal, atau akses terhadap sumber daya kultivasi. Keluarganya memiliki cukup banyak batu roh untuk mendukung latihan para keturunan inti, beberapa guru yang bertanggung jawab mengajarkan teknik dasar, serta perpustakaan yang menyimpan catatan mengenai sejarah dan metode kultivasi.

Namun, kekayaan keluarga tidak membuat Gu Chenxiao menjadi seorang jenius yang dapat menembus setiap batas dengan mudah. Kultivasinya masih berada pada tahap menengah Pembangunan Fondasi, sebuah pencapaian yang cukup baik bagi sebagian orang, tetapi tidak istimewa jika dibandingkan dengan para pewaris dari keluarga-keluarga besar lainnya.

Ia juga tidak memiliki reputasi sebagai pendekar muda yang tak terkalahkan. Dalam ujian antargenerasi, ia pernah kalah dari seseorang yang lebih muda darinya. Beberapa tetua menganggap perkembangannya stabil, tetapi tidak cukup luar biasa untuk menarik perhatian para ahli dari wilayah yang lebih luas.

Gu Chenxiao mengetahui semua penilaian tersebut.

Ia bahkan mengingat siapa yang pernah memujinya, siapa yang menyebutnya biasa-biasa saja, dan siapa yang sengaja menyampaikan kritik di hadapan orang lain agar kedudukannya tampak lebih tinggi.

Baginya, ucapan manusia tidak pernah hanya berupa suara. Sebuah pujian dapat menunjukkan harapan, sebuah hinaan dapat menunjukkan ketakutan, dan sebuah pertanyaan sederhana kadang-kadang mengungkapkan lebih banyak daripada pengakuan panjang.

Ia tidak menganggap dirinya mampu membaca pikiran. Ia hanya terbiasa memperhatikan hal-hal yang sering diabaikan orang lain.

Ketika seorang pelayan memasuki halaman dan memberi hormat, Gu Chenxiao tidak langsung mengangkat kepala. Ia menyelesaikan satu baris terakhir pada laporan, menutup dokumen, lalu memandang tamunya.

“Tuan Muda, Tetua Agung memanggil Anda ke aula utama.”

“Sekarang?”

“Ya.”

“Apa yang terjadi?”

Pelayan itu menundukkan kepala. “Saya tidak mengetahui detailnya. Namun, beberapa tetua inti telah berkumpul sejak tadi.”

Gu Chenxiao memperhatikan wajahnya selama beberapa detik. Pelayan itu berbicara dengan sopan, tetapi bahunya terlalu tegang. Ia juga berusaha menjaga kedua tangannya tetap diam, seolah-olah takut gerakan kecil akan mengungkapkan sesuatu.

“Apakah kau berlari ke sini?” tanya Gu Chenxiao.

Pelayan itu terkejut. “Saya hanya berjalan lebih cepat dari biasanya, Tuan Muda.”

“Begitu rupanya.”

Gu Chenxiao berdiri dan merapikan lengan jubahnya. Ia tidak bertanya lagi. Jika pelayan itu mengetahui sesuatu, pertanyaan tambahan mungkin hanya membuatnya semakin berhati-hati. Jika ia tidak mengetahui apa pun, pertanyaan itu hanya membuang waktu.

Sebelum pergi, Gu Chenxiao mengambil laporan perdagangan dari meja dan menyerahkannya kepada pelayan.

“Letakkan ini di ruang baca. Jangan biarkan siapa pun memindahkannya.”

“Baik, Tuan Muda.”

Gu Chenxiao berjalan meninggalkan halaman dengan langkah tenang. Ia tidak tahu mengapa Tetua Agung memanggilnya, tetapi ia tahu bahwa sesuatu telah berubah di kediaman keluarga. Penjaga di persimpangan utara berdiri lebih tegak daripada biasanya, dua pelayan yang melewatinya berhenti berbicara ketika ia mendekat, dan pintu menuju aula utama dijaga oleh orang-orang yang biasanya bertugas di ruang penyimpanan pusaka.

Terlalu banyak perubahan untuk dianggap kebetulan.

Namun, perubahan tidak selalu berarti ancaman. Terkadang, perubahan hanya berarti seseorang sedang berusaha memastikan bahwa sebuah rahasia tetap menjadi rahasia.

Ketika Gu Chenxiao tiba di aula utama, Tetua Agung Gu Taichu telah menunggunya. Lelaki tua itu duduk di kursi utama dengan ekspresi yang sulit dibaca, sementara enam tetua lainnya berdiri di kedua sisi ruangan.

“Chenxiao,” panggil Gu Taichu. “Kemari.”

Gu Chenxiao memberi hormat. “Tetua Agung.”

“Apakah kau pernah mengalami kejadian aneh selama latihan kultivasi?”

“Dalam hal apa?”

“Perubahan pada lautan spiritualmu. Mimpi yang berulang. Suara yang tidak dikenal. Atau sesuatu yang membuatmu merasa bahwa tubuhmu tidak lagi sama seperti sebelumnya.”

Gu Chenxiao berpikir sejenak sebelum menjawab, “Tidak ada yang saya anggap penting.”

Jawaban itu tidak sepenuhnya menjelaskan keadaan dirinya, tetapi juga tidak mengandung kebohongan yang mudah dibuktikan. Ia memang tidak pernah mendengar suara asing atau menerima warisan dari seorang ahli kuno. Selama ini, kultivasinya berjalan seperti biasa.

Gu Taichu memandangnya cukup lama. “Letakkan tanganmu di atas benda itu.”

Di tengah aula berdiri sebuah pilar hitam setinggi manusia dewasa. Permukaannya tidak memantulkan cahaya, dan simbol-simbol kuno terukir di sepanjang sisinya. Gu Chenxiao pernah melihat benda serupa di perpustakaan, tetapi tidak pernah mendengar penjelasan lengkap mengenai asal-usulnya.

“Apa fungsinya?” tanyanya.

“Memeriksa resonansi spiritual.”

“Apakah saya harus mengalirkan energi ke dalamnya?”

“Tidak perlu. Letakkan tanganmu dan tunggu.”

Gu Chenxiao menatap pilar itu sebelum melakukan apa yang diperintahkan. Ia meletakkan telapak tangan di permukaannya yang dingin, lalu menunggu.

Satu tarikan napas berlalu.

Kemudian dua.

Tidak ada cahaya, tidak ada getaran, dan tidak ada perubahan pada lautan spiritualnya. Pilar tersebut tetap hitam, seolah-olah tangan yang menempel padanya hanyalah tangan seorang manusia biasa.

Salah seorang tetua mengerutkan kening. “Mungkin formasinya sudah terlalu tua.”

“Benda ini telah berfungsi selama puluhan ribu tahun,” jawab tetua lain. “Tidak masuk akal jika tiba-tiba rusak sekarang.”

Gu Taichu mengangkat tangan, menghentikan perdebatan mereka. Ia memerintahkan seorang tetua formasi untuk memeriksa susunan di bawah pilar. Setelah beberapa saat, tetua itu berdiri dengan wajah pucat.

“Formasinya berfungsi normal.”

“Lalu mengapa tidak ada respons?”

“Saya tidak tahu.”

Kalimat itu membuat aula menjadi sunyi.

Gu Chenxiao mengangkat tangannya dari pilar. “Apakah pemeriksaannya sudah selesai?”

Gu Taichu tidak segera menjawab. Tatapannya berpindah dari wajah pemuda itu ke pilar hitam, lalu kembali lagi. Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Tetua Agung memperlihatkan sesuatu yang menyerupai keraguan.

“Belum,” katanya. “Coba sekali lagi.”

Gu Chenxiao menurut.

Kali ini, tepat ketika telapak tangannya menyentuh permukaan pilar, sebuah bunyi kecil terdengar dari dalam benda tersebut. Bukan suara ledakan atau gemuruh yang menggetarkan ruangan, melainkan bunyi retakan yang begitu halus hingga hampir tidak terdengar.

Sebuah garis tipis muncul pada permukaan hitamnya.

Cahaya di dalam aula berkedip sekali.

Lalu semuanya kembali normal.

Tidak ada gelombang energi yang menyapu ruangan. Tidak ada kekuatan misterius yang menekan para tetua. Bahkan Gu Chenxiao sendiri tidak merasakan perubahan apa pun selain dinginnya permukaan pilar pada telapak tangannya.

Tetapi para tetua melihat retakan itu.

Gu Taichu berdiri perlahan. “Semua orang keluar. Sekarang.”

“Tetua Agung, tetapi—”

“Keluar!”

Tidak seorang pun berani membantah. Dalam beberapa saat, aula itu kosong kecuali Gu Taichu dan Gu Chenxiao. Pintu ditutup, formasi pelindung diaktifkan, dan suara dari luar terputus sepenuhnya.

Gu Taichu berjalan mengitari pilar, memeriksa retakan itu tanpa menyentuhnya. “Apakah kau merasakan sesuatu?”

“Tidak.”

“Apakah kau melakukan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya?”

“Tidak.”

“Pikirkan baik-baik.”

Gu Chenxiao menatap lelaki tua itu. “Jika saya mengetahui apa yang menyebabkan pilar ini retak, bukankah saya sudah mengatakannya sejak awal?”

Gu Taichu terdiam.

Jawaban itu terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal untuk dianggap sebagai jawaban seorang pemuda yang sedang ketakutan.

Akhirnya, Gu Taichu melambaikan tangan. “Kau boleh kembali ke kediamanmu. Untuk sementara, jangan ceritakan kejadian ini kepada siapa pun.”

Gu Chenxiao memberi hormat dan berbalik menuju pintu. Sebelum ia sempat melangkah keluar, suara Tetua Agung kembali terdengar.

“Chenxiao, apakah kau percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki alasan?”

Pemuda itu berhenti sejenak. “Saya percaya bahwa setiap kejadian memiliki sebab. Namun, saya tidak percaya manusia selalu mampu menemukannya.”

“Dan jika sebab itu berada di luar pemahamanmu?”

Gu Chenxiao menoleh, menampilkan senyum tipis yang tidak menunjukkan kegugupan ataupun kesombongan. “Kalau begitu, saya akan mencari tahu apa yang bisa saya gunakan dari keadaan tersebut.”

Ia meninggalkan aula tanpa menunggu jawaban.

Gu Taichu tetap berdiri di samping pilar hitam. Setelah memastikan bahwa pemuda itu telah pergi, ia mengeluarkan sebuah jimat komunikasi dari lengan jubahnya. Cahaya redup menyala di permukaannya, lalu sebuah suara tua terdengar dari dalam.

“Apakah pemeriksaan berhasil?”

“Tidak.”

“Jelaskan.”

Gu Taichu menatap retakan pada pilar. “Kitab Takdir tidak mencatat namanya. Pilar resonansi juga gagal memberikan hasil yang dapat dijelaskan. Ketika ia menyentuhnya untuk kedua kali, permukaan pilar mengalami kerusakan.”

Di ujung komunikasi, suara itu tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian, suara tua tersebut bertanya, “Apakah kau yakin itu orang yang sama?”

Gu Taichu mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

“Tidak ada apa-apa. Hentikan pemeriksaan untuk sementara. Jangan menguji benda lain, jangan menghubungi keluarga di luar wilayah, dan jangan membuat keputusan sebelum aku tiba.”

Cahaya pada jimat komunikasi padam.

Gu Taichu berdiri tanpa bergerak. Ia tidak menyukai perintah tersebut, terutama karena orang yang memberikannya tidak menjelaskan alasan di baliknya. Namun, ia cukup mengenal suara itu untuk mengetahui bahwa larangan tersebut bukan sesuatu yang boleh diabaikan.

Ia kembali memandang pilar hitam.

Di permukaannya, retakan tadi telah menghilang.

Tidak ada bekas kerusakan, tidak ada serpihan, dan tidak ada sisa energi yang dapat diperiksa. Seolah-olah pilar itu tidak pernah mengalami perubahan.

Gu Taichu mengangkat tangannya, tetapi menghentikannya sebelum menyentuh permukaan hitam tersebut.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang panjang, ia memilih untuk tidak mencari jawaban.

Sementara itu, Gu Chenxiao telah kembali ke halaman bambunya. Ia duduk di depan meja batu, membuka laporan perdagangan yang tadi ditinggalkannya, lalu membaca kembali baris terakhir yang belum sempat ia selesaikan.

Di luar halaman, angin malam bergerak melewati dedaunan. Seorang penjaga berjalan melintasi jalan setapak, tidak menyadari bahwa pemuda di balik jendela sedang menyusun ulang informasi yang diperolehnya malam itu.

Tetua Agung memanggilnya tanpa menjelaskan alasannya. Para tetua inti berkumpul sebelum kedatangannya. Sebuah benda kuno gagal berfungsi, kemudian rusak ketika ia menyentuhnya. Setelah itu, ia diminta merahasiakan kejadian tersebut.

Ada banyak kemungkinan penjelasan, tetapi belum cukup bukti untuk memilih salah satunya.

Gu Chenxiao tidak menyukai kesimpulan yang dibangun dari informasi yang belum lengkap. Ia lebih memilih menunggu, mengamati, dan membiarkan orang lain menunjukkan niat mereka melalui tindakan berikutnya.

Ia menutup laporan perdagangan, lalu memandang langit di antara dedaunan bambu.

Bintang-bintang tampak seperti biasa.

Tidak ada tanda bahwa sesuatu telah berubah. Tidak ada suara yang memanggil namanya, tidak ada kekuatan baru yang muncul di dalam tubuhnya, dan tidak ada petunjuk yang menjelaskan mengapa para tetua bersikap begitu aneh.

Gu Chenxiao tersenyum kecil.

“Menarik,” gumamnya. “Sepertinya seseorang mengetahui sesuatu yang tidak ingin mereka katakan kepadaku.”

Ia tidak merasa takut. Ia juga tidak merasa terpilih.

Untuk saat ini, ia hanya memiliki sebuah pertanyaan yang belum terjawab, beberapa orang yang menyembunyikan informasi, dan sebuah keluarga yang tiba-tiba menganggapnya sebagai masalah yang harus diperiksa.

Itu sudah cukup untuk memulai penyelidikan kecil.

Jauh di tempat yang tidak diketahui oleh penduduk Benua Canglan, sebuah catatan kuno berubah selama satu saat yang sangat singkat. Tidak ada manusia yang melihatnya, tidak ada kultivator yang merasakan perubahannya, dan tidak ada suara yang mengumumkan bahwa sesuatu telah terjadi.

Sebuah ruang yang selama ini kosong menampilkan satu garis yang hampir tidak terlihat.

Kemudian garis itu lenyap.

Tidak ada nama yang tertinggal.

Tidak ada penjelasan yang muncul.

Dan jauh di atas dunia yang dikenal manusia, sesuatu yang telah tertidur begitu lama hingga batas antara tidur dan kematian tidak lagi dapat dibedakan, perlahan membuka kesadarannya.

Ia tidak berbicara.

Ia tidak bergerak.

Ia hanya mengamati.

Untuk pertama kalinya setelah waktu yang tidak terhitung, sebuah pertanyaan muncul di dalam keheningan yang abadi.

Bukan tentang siapa yang telah lahir, bukan tentang siapa yang akan mati, dan bukan pula tentang siapa yang akan mencapai puncak kultivasi.

Melainkan tentang sebuah kemungkinan yang seharusnya tidak pernah ada.

Mengapa, di antara seluruh makhluk yang tercatat dalam tatanan dunia, terdapat satu kehidupan yang tidak meninggalkan jejak?

Dan mengapa, ketika jejak itu dicari, bahkan pencarian itu sendiri seolah-olah tidak pernah terjadi?

Tidak ada jawaban.

Belum.

Di Benua Canglan, malam terus berlalu. Gu Chenxiao kembali membaca laporannya, para tetua menyimpan rahasia mereka, dan kehidupan di kediaman Klan Gu berjalan seperti biasa. Tidak seorang pun mengetahui bahwa sebuah penyelidikan kecil telah dimulai, atau bahwa keputusan-keputusan yang tampak sepele malam itu kelak akan bersinggungan dengan kejadian yang jauh lebih besar daripada urusan satu keluarga.

Pada malam itu, Gu Chenxiao belum menjadi penguasa.

Ia belum memiliki kekuatan untuk menantang para ahli, belum memahami hukum yang mengatur dunia, dan belum mengetahui bahwa di luar cakrawala Benua Canglan terdapat wilayah-wilayah yang bahkan namanya tidak pernah didengar oleh orang-orang di sekitarnya.

Ia hanyalah seorang pewaris muda dengan kultivasi yang biasa-biasa saja, pikiran yang tajam, dan rasa ingin tahu terhadap rahasia yang tersembunyi di balik tindakan manusia.

Namun, terkadang sejarah tidak dimulai ketika seorang pahlawan menghunus pedangnya.

Terkadang, sejarah dimulai ketika seseorang mengajukan pertanyaan yang salah kepada dunia yang salah.

Dan terkadang, hal paling berbahaya bukanlah seseorang yang ingin menghancurkan tatanan dunia, melainkan seseorang yang belum memutuskan apakah tatanan itu layak dipertahankan.

Malam itu berakhir tanpa jawaban.

Langit tetap berada di tempatnya.

Takdir tetap berjalan.

Dan nama Gu Chenxiao tetap tidak tercatat.

1
Nanik S
Hadir... dan awal yang berbeda
ARTHUR
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!