Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Istana Pasir Sang Dark Lord
Deburan ombak Mediterania yang lembut membasahi jemari kaki Aira yang bertelanjang di atas pasir putih yang halus. Gelak tawa yang sejak tadi menghiasi pantai perlahan mereda, menyisakan napas Aira yang sedikit terengah-engah karena lelah berlari dari kejaran "tembakan" pistol air merah muda milik suaminya.
Aira akhirnya menyerahkan diri dengan menyandarkan tubuhnya di atas kursi santai di bawah naungan payung pantai besar. Rambutnya sedikit basah oleh percikan air, namun matanya berbinar riang memancarkan kebahagiaan yang tak ternilai.
"Menyerah?" goda Gabriel yang melangkah mendekat dengan santai. Pria tegap itu meletakkan pistol air plastiknya di atas meja kecil, lalu berlutut di samping kursi santai Aira.
"Aku tidak menyerah, aku hanya memberi kesempatan pada kontraktor istana pasirku untuk membuktikan janjinya," balas Aira sambil tersenyum manis dan merapikan helai rambut Gabriel yang basah.
Gabriel terkekeh pelan. "Janji adalah utang, dan seorang Blackwood tidak pernah ingkar janji!"
Tanpa membuang waktu, Gabriel melepas kemeja linen mewahnya, menyisakan celana pendek santai dan memperlihatkan tubuh tegapnya yang atletis. Pria yang biasanya memegang senjata api bernilai jutaan dolar itu kini dengan serius mengambil ember plastik kuning dan sekop kecil berwarna biru—bagian dari perlengkapan konyol yang dibawanya.
Aira menopang dagunya dengan kedua tangan, memperhatikan aksi Gabriel dengan senyum gemas.
Selama dua jam berikutnya, pemandangan luar biasa terjadi di pantai pribadi tersebut. Gabriel, sang ketua jaringan mafia yang ditakuti dunia bawah tanah, terlihat begitu tekun berlutut di atas pasir wet, membendung air, mencetak pasir dengan mangkuk plastik, dan mengukir dinding-dinding benteng dengan penuh ketelitian.
"Felix! Bawa air laut lebih banyak ke sebelah sini! Benteng bagian barat butuh fondasi yang lebih kokoh!" seru Gabriel memerintah tangan kanannya dengan intonasi serius—persis seperti sedang memimpin operasi militer skala besar.
Felix, yang mengenakan kemeja formal bergulung dan celana kain yang dilipat hingga betis, hanya bisa menghela napas pasrah. Dengan wajah tanpa ekspresi, Felix membawa ember plastik kecil berisi air laut dan menyerahkannya pada bosnya.
"Ini airnya, Tuan Kontraktor," ujar Felix datar.
"Bagus. Tetap siaga di perimeter timur, jangan sampai ada ombak jahat yang merobohkan istana Ratu Aira," balas Gabriel tanpa berpaling dari kreasi pasirnya.
Aira yang menyaksikan kelakuan dua pria berotot itu tak sanggup lagi menahan tawa. "Gabriel, Felix... kalian berdua benar-benar tidak ada obatnya!"
Setelah perjuangan panjang yang menguras tenaga, Gabriel akhirnya bangkit berdiri sambil mengusap keringat di dahinya dengan lengan. Pria itu menepuk-nepuk tangannya yang berpasir, memamerkan hasil karyanya dengan penuh kebanggaan.
"Selesai! Mahakarya dari Kontraktor Gabriel!" serunya antusias.
Aira beranjak dari kursi santai dan melangkah mendekat. Matanya membelalak takjub. Istana pasir itu ternyata luar biasa besar dan detail! Lengkap dengan empat menara pengawas, parit perlindungan di sekelilingnya, dan benteng pertahanan yang kokoh. Di puncak menara tertinggi, Gabriel bahkan menancapkan bendera kecil bergambar logo Blackwood yang ia buat dari daun dan ranting pohon.
"Gimana, Sayang? Bagus, kan?" tanya Gabriel dengan mata berbinar-binar memohon pujian.
Aira menatap istana pasir itu, lalu beralih menatap Gabriel yang wajahnya kini ternoda sedikit pasir. Rasa hangat memenuhin dada Aira. Di balik seluruh kekuasaan, kekayaan, dan reputasinya yang mengerikan di dunia luar, pria ini selalu rela menjadi konyol hanya demi mengukir senyum di wajahnya.
Aira melangkah mendekat, berjinjit sedikit, lalu mendaratkan kecupan hangat di pipi Gabriel.
"Sangat indah. Terima kasih ya, kontraktor istana pasir pribadi favoritku," bisik Aira lembut.
Gabriel terpaku sejenak, terkejut oleh kecupan mendadak itu. Namun detik berikutnya, senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya. Ia merangkul pinggang Aira erat-erat, menariknya ke dalam pelukan hangat tanpa peduli tubuh mereka yang kini sama-sama berpasir.
"Ini baru DP-nya, Sayang," goda Gabriel dengan bisikan bariton yang dalam di dekat telinga Aira. "Pelunasannya nanti malam di dalam villa..."
Aira mencubit pinggang Gabriel gemas, membiarkan wajahnya memerah di dalam dekapan erat sang suami di bawah senja Mediterania yang memukau.