Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Bertemu Cahaya (2)
Bab 7
Sudah tiga hari bekerja di cafe, sejauh ini semua lancar. Aya merasa dirinya dalam kondisi fit, tanpa ada keluhan pusing, lemah, letih dan lesu. Pengalaman menarik bekerja di cafe jauh dari bidang yang ia dalami dan ia geluti sebelumnya. Meski penghasilannya tidak besar, tapi benar kata Mardani -- kakak iparnya kalau ia butuh pengalaman dan merasakan susahnya cari uang di ibu kota.
“Saya duluan mas, mbak,” pamit Aya.
“Iya, Aya.”
“Hati-hati ya.”
“Mau diantar nggak?”
Aya hanya tersenyum dan menggeleng merespon ucapan rekan kerjanya. Saat ini Andin shift 2, tidak bisa pulang bareng. Setidaknya ia sudah hafal jalan pergi dan pulang ke rumah sakit meski menggunakan transportasi umum.
Berdiri di area lobby, fokus dengan ponsel masih ragu memilih antara ojek atau taksi online. Ada pesan masuk juga dari Andin.
...Mbak Andin...
Langsung pulang. Masih ada lauk, tinggal hangatkan saja
^^^Iya^^^
“Ojek aja deh, takut kena macet.”
“Cahaya.”
Mendengar namanya disebut, Aya pun menoleh. Macam melihat h4ntu, tubuhnya meneg4ng seolah alarm peringatan kalau pria ini harus dihindari. Ternyata sampai juga orang itu ke Jakarta.
“Cahaya.” Kembali mendengar teriakan saat ia berlari. Keluar dari lobby dan menjauh dari rumah sakit bukan pilihan yang tepat. Aya berbelok malah tiba ke parkiran mobil. Tidak ingin menoleh, tapi ia mendengar namanya masih disebut.
Pandangannya tertuju pada pria membuka pintu dan memasuki mobil, gegas Aya membuka pintu sisi satunya lalu duduk dan menunduk.
“Hei, siapa kamu?”
“Ssttt, om diam dulu. Jangan berisik, aku bukan orang jahat.” Aya mengangkat kepalanya menatap ke kaca jendela. “Jalan om, ikut sampai depan. Sumpah, aku anak baik kok,” ujarnya menoleh ke belakang. Kaget mendapati siapa pemilik mobil bahkan sampai menutup mulut dengan tangannya.
“Kamu … Cahaya. Bilang apa kamu? Om? Aku ini dokter pribadimu.”
"Om Edward,” gumamnya lirih lalu nyengir. “Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukanlah. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?" Aya menegakkan tubuhnya menyadari mobil itu dengan kaca gelap, orang yang ada di luar tidak akan menyadari ada dirinya di dalam mobil.
“Kamu kenapa?”
“Om jalan dulu, aku turun kalau sudah agak jauh. Ayo, om, nggak usah banyak tanya,” titah Aya.
Edward mendengus lalu mengikuti perintah Aya, perlahan ia melaju pelan. Menunjukan id card pada petugas parkir. Sempat melirik ke sampingnya dan Aya sibuk menatap sekitar.
“Menghindari siapa, kakakmu?”
“Bukan. Ngapain aku harus kabur dari mbak Andin.” Aya kini duduk bersandar lalu memakai seatbelt seolah ia akan pergi jauh. Mobil sudah melewati depan rumah sakit, bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya.
“Kamu kerja di café?”
“Iya, om. Untuk sementara, dari pada gabut di rumah.”
“Sementara, berarti ada rencana lain?” Katakanlah Edward kepo, tapi memang sepenasaran itu.
“Ada. Rencana aku selama di jakarta, selain cari kerja ya cari jodoh.”
Edward sampai menoleh lagi, semakin penasaran.
“Hari gini masih dijodohkan,” gumam Aya, tapi masih didengar oleh Edward. Tanpa Aya sadari mobil melaju hanya memutari rumah sakit. Edward enggan bertanya di mana Aya akan turun atau diantarkan. Biar saja dulu, entah mengapa ia suka berinteraksi dengan gadis ini.
Aya menggeser duduknya menyerong menghadap ke Edward. “Om, udah nikah?”
Ditanya begitu, Edward berdehem masih fokus mengemudi. “Sudah.”
“Istrinya om dokter juga ya?”
Edward menggeleng.
“Terus nanti dia marah, kita satu mobil. Beliau biasa duduk di sini ya?”
“Dia udah nggak bisa marah,” sahut Edward seraya menghentikan mobil karena lampu lalu lintas. Demi apa, kali ini adalah waktu gabut dan tidak berguna yang pernah ia lakukan seumur hidup. Hampir sepuluh menit, tapi ia masih mengitari rumah sakit yang memang cukup luas.
“Hah, masa sih?”
“Hm. Gimana mau marah, dia sudah tidak ada di dunia ini.”
“Hah, ya ampun. Maaf ya om, pasti sedih ya aku malah bahas tentang istri.”
Edward pun akhirnya menepi, lama-lama ia macam orang ling-lung. Sudah dua kali memutari rumah sakit. “Kamu tinggal di mana?” tanyanya lalu menoleh.
“Di … sebentar.” Aya membuka ponselnya lalu menyebutkan alamat. “Aku belum hafal alamat mbak Andin. Eh, ini maksudnya mau dianterin. Nggak usah, om.” Aya melepas seatbelt.
“Aku antar, pakai lagi seatbelt nya.”
“Tapi aku belum hafal jalan om, masih raba-raba. Lebih enak pakai ojek online.”
“Aku tahu.”
Aya menarik lagi seatbeltnya. “Jadi ngerepotin deh.”
Edward fokus pada kemudi dan jalanan yang mulai padat dan tersendat di beberapa titik. Jam pulang kerja, akan selalu begini. “Jadi, siapa yang kamu hindari tadi?”
Aya menoleh. “Mas Adit.”
Adit siapa? Menteri atau tukang kredit. Hati mungkin penasaran, tapi berusaha untuk tetap tenang.
“Di rumah ada siapa? Kalau Mas Aditmu nyusul ke rumah, gimana?”
“Mas Aditmu, hih, merinding sebadan badan tahu om. Kayak ditempelin set4n. Amanlah, tinggal panggil Pak RT. Heran deh, ada orang nggak ngerti dikasih tahu. Udah aku tolak masih aja ngejar sampe sini.”
Entah mengapa Edward agak lega mendengar Aya menolak pria bernama Adit itu. Tertarik pada gadis ini, siapa yang tidak. Secara fisik, Aya memang cantik. Malah terlihat berbeda dari saat pertama kali mereka bertemu. Sepertinya merubah gaya rambut dan gaya berpakaian, entahlah yang jelas saat ini terlihat lebih fresh.
“Ini sudah wilayah Koja, tempat tinggalmu sebelah mana?”
Aya menyebutkan patokan perumahan di mana ia tinggal. Sungguh ia belum mengenal kota itu dengan baik. Hanya datang dari arah berbeda sudah kelimpungan.
“Om hafal daerah sini, jangan-jangan rumahnya area sini juga.”
“Beberapa kali ke wilayah itu.” Edward menunjuk belokan yang baru saja dilewati. “Kampung Sawah. Ada teman di sana, masih nakes di SM. Temannya mbakmu juga.”
“Oh, temannya mbak Andin.”
Mobil yang membawa pasangan itu sudah memasuki perumahan. Berbelok ke blok tujuan dan Aya pun menunjuk rumah tempat tinggalnya.
“Aduh, makasih ya Om. Jadi merepotkan.” Aya sibuk melepas seatbelt dan mengambil tas yang sempat diletakan di dekat kakinya.
Edward menatap pergerakan Aya lalu menatap area kompleks perumahan itu.
“Aditmu itu, apa berbahaya?”
“Nggak juga sih. Kami dijodohkan, aku kabur ke Jakarta menghindari dia Om. Hari gini masih musim jodoh-jodohan,” keluh Aya. “Sekali lagi makasih ya om. Aku nggak nawarin mampir, takut digrebek warga.”
“Hm.”
Membuka pintu mobil lalu turun. Aya sempat menjawab sapaan tetangganya yang kebetulan ada di sana, mengawasi balita sambil menyuapi makan. Setelah menutup pintu mobil, ia melambaikan tangan dibalas Edward dengan menekan klakson.
“G0car ya.”
Aya mengangguk sambil tersenyum. tidak ingin membuat heboh kalau ia diantarkan oleh salah satu dokter di rumah sakit tempat Andin bekerja.
“Tapi kok mobilnya bagus, biasanya buat narik mobilnya nggak yang begitu.”
“Orang kaya lagi gabut kali bu. Saya ke dalam bu, mari,” pamit Aya.
Sedangkan di dalam mobil yang berjalan pelan, Edward masih mengawasi melalui kaca spion.
“Kabur karena dijodohkan. Menarik!”
😛😛
ini mana nih rombongan kk Darma...
kapan surat penangkapan nya datang
janji setelah ini kau masuk penjara yg bener itu 🤣🤣🤣
strategi ......kagak kongser cinta tak ada logikanya agles mo nji.......🤭