✨ Sinopsis
Aluna adalah gadis cantik dan agak nakal yang tumbuh dalam kemewahan, namun yang paling berharga baginya bukan harta, melainkan dua sahabat yang selalu ada di sisinya sejak kecil: Orion — tampan, tenang, bijaksana, & pintar; serta Rexy — ganteng, tegas, sedikit tengil, namun berhati emas & menjadi pelindung setia keduanya. Ketiganya anak dari keluarga terpandang, tumbuh bersama, berjanji tak akan pernah terpisahkan.
Namun seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Baik Orion maupun Rexy sama-sama menyayangi Aluna lebih dari sekadar sahabat. Ketika hati Aluna akhirnya harus membuat pilihan sulit, ia menyadari bahwa memilih satu berarti menyakiti yang lain.
Di antara cinta & persahabatan, di antara kebersamaan & pengorbanan, ketiganya belajar: cinta sejati tidak harus memiliki, & persahabatan tulus adalah harta yang abadi selamanya. Sebuah kisah hangat tentang perjalanan hati, keikhlasan, & kebersamaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa yang Paling Aku Rindukan
Seminggu berlalu sejak hasil ujian keluar. Dan seperti yang sudah kuduga — satu mata pelajaran bikin aku harus ikut ujian susulan. Sejujurnya, aku nggak sedih banget soal itu. Yang bikin aku merasa aneh adalah… aku jadi menutup diri. Biasanya kalau ada apa-apa, aku langsung lari ke Orion atau Rexy. Tapi kali ini? Aku lebih suka ngurung diri di kamar, melamun, dan nggak mau ngomong siapa pun — termasuk ke Mama Amira sendiri.
Pagi itu, hujan turun rintik-rintik. Langit kelabu banget, pas banget sama suasana hatiku yang lagi suram. Aku baru selesai sarapan, langsung lari naik ke kamar, mengunci pintu, dan melempar diri ke atas kasur. Aku melirik jendela, menatap tetesan air yang meluncur di kaca. Rasanya dunia lagi nggak ramah sama aku.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Satu pesan masuk dari Orion:
"Aluna, kamu udah tiga hari nggak keluar rumah. Kami khawatir. Kalau kamu butuh apa pun, kami ada di sini."
Aku membaca pesannya, tersenyum tipis, tapi jari-jariku malah memilih meletakkan ponsel ke meja samping kasur tanpa membalas. Belum sempat aku menutup mata, ada ketukan pelan di pintu kamarku.
"Aluna? Sayang?" Suara Mama Amira terdengar lembut dari luar. "Ada dua tamu spesial di bawah. Katanya mereka punya 'obat ajaib' buat kamu."
Aku menghela napas panjang. "Maa… aku lagi nggak mau ketemu siapa-siapa. Bilangin mereka pulang dulu ya, nanti aku temui di sekolah."
"Eh, nggak bisa gitu dong!" Terdengar suara lantang yang sangat aku kenal dari balik pintu — Rexy! "Kita udah naik ke lantai dua, Mama Amira yang kasih izin. Jadi nggak ada jalan keluar, Nona Pemurung!"
Mata ku membelalak. Astaga, mereka benar-benar datang ke rumah! Aku buru-buru duduk, merapikan rambut yang berantakan, dan membuka pintu sedikit. Benar saja — Orion berdiri sambil tersenyum lembut, dan Rexy… dia bawa nampan berisi kotak makanan dan minuman, mukanya berseri-seri seolah nggak peduli aku sedang berantakan.
"Boleh kami masuk, atau kamu mau kita ngobrol lewat celah pintu gini?" tanya Orion tertawa pelan.
Aku tersipu malu, membuka pintu lebar-lebar. "Yaudah, ayo masuk. Tapi jangan ketawain aku ya, aku belum mandi dan bajanku masih baju tidur jelek gini."
Rexy langsung masuk, meletakkan nampan di meja belajar, lalu menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan ekspresi serius. "Hei, Aluna. Kamu itu tetap cantik walau pakai baju tidur paling jelek sedunia. Tapi kalau kamu senyum, kamu jadi sepuluh kali lebih cantik. Jadi… senyum dong!"
Aku tertawa kecil, duduk di tepi kasur, sementara mereka berdua mengambil tempat — Orion duduk di kursi belajar, Rexy duduk bersila di lantai tepat di depanku.
"Kalian ini beneran nggak ada capeknya ya ngurusin aku?" tanyaku pelan.
Orion membuka kotak makanan, mengeluarkan roti bakar keju yang masih hangat. "Kami nggak menganggap ini sebagai 'mengurus', Aluna. Ini namanya teman. Kalau kamu sedih, kami datang. Kalau kamu diam, kami tetap di sini. Sesimpel itu."
Rexy menyodorkan segelas cokelat panas. "Nah, dengerin si Pintar. Sekarang makan dulu, dengerin aku cerita. Aku punya berita paling heboh sedunia yang pasti bikin kamu ketawa sampai perutmu sakit."
Aku menggigit roti pelan. "Yaudah, cerita. Aku dengerin."
Rexy berdeham, merapikan baju seolah mau tampil di panggung. "Jadi, kemarin di kantin sekolah… kamu tahu kan si Budi si penjaga kantin yang selalu muka masam itu?"
Aku mengangguk, mulutku penuh roti. "Iya, yang selalu teriak kalau ada yang lupa bawa uang?"
"Nah itu dia!" Rexy menepuk lututnya semangat. "Kemarin ada anak baru, namanya Dito. Dia nggak tahu kalau Budi itu galak. Pas dia mau bayar, dia malah nyodorin uang mainan dari sakunya sambil bilang: 'Pak, ini uangnya kembaliannya nggak usah ya!' Kamu tahu apa yang terjadi?"
Aku menggeleng, mataku melebar penasaran.
"Budi melotot kayak mau meledak! Dia teriak: 'Hei nak, ini bukan toko mainan, ini kantin sekolah!' Tapi Dito malah senyum polos: 'Iya saya tahu Pak, tapi uang aslinya ketinggalan di rumah, uang mainan ini juga baru, nggak kusut kok!' Hahaha!" Rexy tertawa terbahak-bahak sampai badannya bergoyang-goyang.
Aku nggak tahan, akhirnya tertawa juga. Bayangkan saja, anak itu nyodorin uang mainan ke penjaga kantin yang terkenal galak! "Hahaha… nggak mungkin banget sih dia! Terus gimana kelanjutannya?"
"Terus?" Orion ikut tersenyum sambil menyambung cerita. "Budi bukannya marah lama-lama, dia malah ketawa juga. Dia kasih makan Dito gratis sambil bilang: 'Lain kali kalau lupa uang, bilang jujur. Nggak usah pakai uang mainan juga!' Sekarang Dito jadi langganan Budi, selalu dapat porsi lebih besar dari yang lain."
"Hahaha… lucu banget sih anak itu!" Aku menyeka air mata tawa yang keluar di sudut mataku. Rasanya sudah lama sekali aku nggak tertawa selegit ini.
"Nah, itu dia!" Rexy menunjukku dengan jari telunjuknya. "Itu tawa yang aku rindukan, Aluna. Tawa kamu yang tulus dan lepas. Selama kamu diam kayak gitu, rasanya sekolah jadi sepi banget. Padahal kamu cuma absen tiga hari."
Hatiku terasa hangat banget mendengarnya. "Serius… kalian merindukan tawaku?"
Orion mengangguk pelan. "Bukan cuma aku. Rexy juga. Setiap ada hal lucu di sekolah, hal pertama yang terlintas di pikiran kami: 'Wah, pasti Aluna bakal ketawa kalau lihat ini.' Lalu sadar kamu nggak ada di sana, rasanya jadi kurang seru."
Aku menunduk sedikit, suaraku melembut. "Maaf ya… aku cuma merasa malu. Kalian berdua nilainya bagus, terus aku… aku kayak nggak selevel sama kalian."
"Hei, berhenti ngomong gitu sekarang juga!" Rexy tiba-tiba suaranya tegas, matanya menatapku tajam tapi penuh kehangatan. "Kamu pikir kami berteman sama kamu karena nilai? Kamu pikir kalau nilaimu jelek, kami bakal pergi begitu saja? Kalau iya, berarti kamu salah kenal kami sejak awal, Aluna."
Orion meletakkan tangannya di bahuku pelan. "Rexy benar. Ingat waktu kamu jatuh dari sepeda waktu kelas lima? Siapa yang nangis duluan waktu kamu patah tulang? Bukan aku, bukan Rexy. Tapi kami yang duduk di samping tempat tidurmu sampai kamu bisa jalan lagi. Waktu itu kamu belum punya nilai apa pun, tapi kami tetap ada. Sekarang pun sama — nilai nggak mengubah siapa kamu di hati kami."
Air mata menetes di pipiku, tapi kali ini bukan air mata sedih. Itu air mata bahagia yang nggak bisa kutahan. "Kalian berdua… kenapa harus sebaik ini sama aku sih?"
"Karena kamu juga baik sama kami," jawab Rexy sambil menyeka air mataku dengan ujung sapu tangannya yang bersih. "Kamu ingat waktu aku berantem sama anak dari sekolah lain dan hampir dikeluarkan? Siapa yang datang ke ruang kepala sekolah dan membela aku dengan tenang sampai semua orang percaya aku nggak salah? Kamu, Aluna. Kamu yang berani bicara di depan semua orang walau kamu gemetar ketakutan saat itu."
Aku terkejut. "Kamu ingat hal itu sampai sekarang?"
"Semua hal tentang kamu, aku ingat," kata Rexy pelan, lalu dia batuk-batuk kecil seolah menyadari suaranya tadi terlalu lembut. "Maksudku… kita kan sahabat. Sahabat sejati itu ingat hal-hal kecil satu sama lain. Kan, Orion?"
Orion tersenyum melihat perubahan ekspresi Rexy yang tiba-tiba canggung. "Iya benar. Dan sekarang, rencana kita: mulai besok, sepulang sekolah kita belajar bareng di perpustakaan. Aku yang bantu kamu materi yang susah, Rexy yang bantu kamu tetap semangat dan nggak ketiduran saat belajar."
"Hei, kenapa aku yang jadi penjaga tidurnya?" protes Rexy, tapi senyumnya nggak hilang. "Yaudah, terserah kalian aja. Asal Aluna nggak ngurung diri lagi, aku rela jadi jam weker sekaligus pelawak pribadinya."
Sore itu berlalu begitu cepat. Kami tertawa, bercerita, kadang saling mengejek dengan akrab — Rexy dengan leluconnya yang kadang konyol tapi lucu, Orion dengan komentarnya yang cerdas dan menenangkan. Untuk pertama kalinya sejak hasil ujian keluar, aku merasa utuh lagi. Rasanya seperti ada pelukan hangat yang memeluk hatiku, walau tak ada yang benar-benar memelukku saat itu.
Saat mereka pamit pulang, aku berdiri di teras rumah sambil melambaikan tangan. Hujan sudah reda, langit mulai terlihat sedikit lebih terang.
"Sampai ketemu besok, Aluna! Jangan lupa senyum ya!" teriak Rexy dari dalam mobil, sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Orion membukakan jendela, tersenyum padaku. "Istirahat yang cukup. Kami temui kamu di gerbang sekolah besok pagi, seperti biasa."
Mobil mereka perlahan menghilang di ujung jalan. Aku masuk ke dalam rumah, Mama Amira sedang menungguku di ruang tengah. Dia tersenyum melihat wajahku yang sudah ceria lagi.
"Mereka anak-anak yang luar biasa, kan?" katanya lembut.
Aku mengangguk, hatiku terasa penuh. "Iya Ma. Mereka adalah anugerah terindah yang aku punya."
Malam itu sebelum tidur, aku menatap langit yang mulai bersih dari awan kelabu. Aku sadar satu hal: di dunia ini mungkin ada banyak hal yang bisa berubah — nilai, keadaan, bahkan masa depan. Tapi satu hal yang aku yakini — tawaku hanya akan terdengar paling lengkap dan bahagia kalau ada mereka berdua di sisiku. Karena tawa yang paling berharga bukanlah tawa yang paling keras, melainkan tawa yang lahir karena ada orang-orang terkasih di dekat kita.
Pertanyaan buat kamu:
Besok paginya, aku bangun pagi-pagi sekali, semangat banget mau ketemu mereka di gerbang sekolah. Aku sengaja bawa bekal spesial yang aku buat sendiri — kue cokelat buatan tangan aku, walau bentuknya agak miring-miring dan ukurannya nggak rata. Tapi saat aku sampai di gerbang, aku melihat sesuatu yang bikin aku berhenti melangkah. Orion dan Rexy sedang berbicara serius di pojok gerbang, seolah ada hal penting yang sedang mereka bahas. Wajah Rexy terlihat sedikit cemas, sementara Orion terlihat berusaha menenangkan dia. Mereka nampak nggak sadar aku sudah datang.
Kira-kira apa yang sedang mereka bicarakan? Apakah ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku? Dan bagaimana reaksi mereka saat akhirnya menyadari aku sudah berdiri di sana sambil memegang kotak kue jelek buatanku? Ceritakan kelanjutannya ya! 😊