NovelToon NovelToon
DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / CEO
Popularitas:852
Nilai: 5
Nama Author: BayouDarda Novelis

“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 - Tagihan Listrik

Tagihan listrik itu tergeletak di atas meja makan ketika aku pulang dari kantor.

Kertasnya terlipat sedikit di bagian sudut, tertindih amplop lain yang belum sempat kubuka. Aku meletakkan tas, melepas sepatu, lalu menyalakan lampu ruang tengah. Cahaya putih memenuhi ruangan yang sejak beberapa hari terakhir terasa terlalu luas untuk satu orang.

Jam dinding berdetak di atas lemari.

Aku mengambil tagihan listrik, membawa gelas dari dapur, lalu duduk. Ponselku menyala ketika kuletakkan di samping amplop. Ada pesan dari Reno yang menanyakan apakah aku sudah sampai rumah.

Aku menjawab singkat bahwa aku sudah sampai.

Dia membalas dengan mengingatkanku agar beristirahat. Aku membaca pesannya, kemudian meletakkan ponsel tanpa mengetik apa-apa lagi.

Biasanya, urusan tagihan tidak membutuhkan waktu lebih dari beberapa menit. Aku memeriksa jumlahnya, membuka aplikasi pembayaran, lalu menyelesaikannya. Selama bertahun-tahun, semuanya berjalan tanpa perlu kupikirkan panjang.

Namun, malam itu aku teringat pemberitahuan pembayaran rumah yang kulihat sebelumnya.

Ada transaksi yang tercatat lunas, tetapi sumber dananya bukan rekening yang kukenal.

Awalnya aku mengira itu kesalahan administrasi. Bisa saja ada pembayaran otomatis yang lupa kuatur, atau pihak keluarga Arkan membantu menyelesaikan beberapa pengeluaran rumah. Bukankah selama ini ada banyak urusan yang diatur tanpa perlu melibatkanku?

Aku membuka tagihan listrik bulan berjalan. Nomor pelanggan tercetak jelas. Nama pemilik sambungan juga sesuai. Jumlah pemakaian tidak jauh berbeda dari bulan sebelumnya.

Yang membuatku berhenti justru bagian pembayaran.

Statusnya sudah lunas.

Aku memeriksa tanggal transaksi. Pembayaran dilakukan dua hari sebelum pemberitahuan itu masuk ke ponselku. Nomor referensi tercantum di bagian bawah, tetapi nama pengirim dana tidak muncul secara lengkap pada tampilan ringkas.

Aku membuka riwayat transaksi rekening pribadiku.

Tidak ada pengeluaran dengan jumlah yang sama.

Keningku berkerut.

Mungkin pembayaran dilakukan melalui rekening keluarga Arkan. Aku pernah melihat Ibu Retno mengurus sejumlah kebutuhan rumah tanpa menjelaskan rinciannya. Selama masih tinggal bersama, aku tidak merasa perlu memeriksa setiap transaksi. Arkan juga tidak pernah memintaku mencatat siapa membayar apa.

Dulu, aku menganggap itu sebagai pembagian urusan yang wajar. Selama kebutuhan rumah terpenuhi dan tidak ada masalah yang terlihat, aku tidak pernah bertanya terlalu jauh.

Aku mengambil tagihan air dari map tipis di laci meja. Di dalamnya ada kuitansi listrik, internet, dan biaya pemeliharaan rumah. Sebagian sudah kususun berdasarkan tanggal. Sisanya bercampur dengan dokumen yang dulu kumasukkan begitu saja setelah dibayar.

Aku mengeluarkan semuanya dan mulai membandingkan tanggal pembayaran.

Tagihan air bulan terakhir juga tercatat lunas. Pembayaran internet sudah diselesaikan sebelum tanggal jatuh tempo. Aku memeriksa beberapa catatan, tetapi tidak menemukan bukti transfer dari rekeningku yang sesuai dengan pengeluaran tersebut.

Jumlahnya memang tidak selalu sama. Namun, pola pembayarannya membuatku bertanya-tanya. Selama ini, aku mengira sebagian urusan rumah ditangani oleh keluarga Arkan. Aku tidak pernah membayangkan bahwa cara pembayarannya perlu diperiksa satu per satu.

Aku mengambil kembali bukti pembayaran listrik dan memperhatikan nomor referensinya.

Aku membuka aplikasi penyedia layanan, mencari riwayat pembayaran, lalu mengunduh rincian transaksi. Tanggalnya cocok. Jumlahnya cocok. Nomor referensinya juga sama.

Tetapi metode pembayarannya tercatat sebagai pembayaran melalui mitra.

Aku memperbesar tampilan layar, berharap ada keterangan tambahan. Yang muncul hanya kode transaksi dan identitas penyedia jasa pembayaran.

Tidak ada nama orang yang bisa kukenali.

Aku bersandar, lalu memijat pelipis.

Seharusnya perkara ini sederhana. Tagihan sudah dibayar. Tidak ada tunggakan. Tidak ada pemutusan layanan. Aku hanya perlu mengetahui sumber dana untuk memastikan tidak ada kewajiban tambahan yang diam-diam dibebankan kepadaku.

Aku membuka halaman bantuan penyedia layanan. Penjelasannya menyebutkan bahwa pembayaran tertentu dapat dilakukan melalui mitra resmi, termasuk perusahaan yang mengelola pembayaran atas nama pemilik atau pihak yang ditunjuk.

Aku membaca keterangan itu sekali lagi.

Pengelola aset?

Istilah tersebut terdengar seperti sesuatu yang biasa dipakai perusahaan untuk mengurus properti atau pembayaran dalam jumlah besar. Aku tidak memahami seluruh mekanismenya. Yang kutahu, urusan rumah selama ini tidak pernah terasa serumit ini.

Tidak ada penjelasan mengenai siapa yang menunjuk perusahaan tersebut, apalagi alasan perusahaan itu membayar tagihan rumahku.

Aku kembali melihat tagihan listrik.

Nama pelanggan tetap namaku. Alamatnya sama. Nomor sambungannya tidak berubah. Yang berbeda hanya jalur pembayaran.

Aku membuka tagihan bulan sebelumnya untuk membandingkan nomor referensinya. Kode tersebut tidak sama, tetapi formatnya serupa. Aku mencoba memasukkan kode lama pada halaman pencarian yang sama.

Hasilnya tidak dapat ditampilkan.

Mungkin data transaksi sebelumnya sudah tidak tersedia melalui menu itu. Aku memeriksa kembali dokumen, lalu mencoba sekali lagi. Hasilnya tetap sama.

Aku mengambil ponsel untuk mencari nomor pihak yang biasa mengurus kebutuhan rumah. Beberapa kontak lama masih tersimpan, tetapi tidak ada keterangan jelas mengenai siapa yang menangani pembayaran listrik.

Aku hampir menghubungi Ibu Retno.

Jempolku berhenti di atas namanya.

Kalau aku menelepon sekarang, apa yang akan kutanyakan? Mengapa tagihan listrik sudah dibayar? Siapa yang membayarnya? Apakah selama ini ada orang lain yang mengurus pengeluaran rumah?

Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi aku bisa membayangkan bagaimana percakapan tersebut akan berkembang. Ibu Retno mungkin akan menjawab bahwa semuanya sudah diurus. Bisa jadi beliau menganggapku terlalu banyak bertanya untuk perkara yang tidak perlu dipersoalkan.

Atau beliau akan mengatakan bahwa keluarga Arkan memang membantu.

Kalau begitu, aku tetap tidak akan mengetahui apa-apa.

Aku menurunkan ponsel.

Aku tidak ingin kembali berada dalam posisi menerima penjelasan setengah-setengah, lalu merasa bersalah karena meminta kejelasan.

Dulu, aku sering membiarkan hal seperti itu berlalu. Aku menganggap kepercayaan berarti tidak perlu memeriksa setiap detail. Selama kebutuhan rumah terpenuhi, aku tidak merasa harus mengetahui siapa yang mengurus setiap pembayaran.

Aku mulai memahami bahwa tidak bertanya bukan berarti mengetahui.

Aku mengumpulkan kuitansi, merapikan lembaran yang berserakan, lalu memasukkannya kembali ke dalam map. Tagihan listrik bulan ini kutaruh terpisah bersama bukti pembayaran yang baru kuunduh.

Besok aku akan menghubungi penyedia layanan dan meminta penjelasan lebih lengkap. Jika diperlukan, aku akan mendatangi kantor mereka dengan membawa dokumen. Aku hanya ingin memastikan bahwa pembayaran itu sah, tidak menimbulkan kewajiban tambahan, dan tidak berkaitan dengan rekening yang seharusnya sudah tidak kugunakan.

Aku tidak membutuhkan orang lain untuk menyelesaikan persoalan ini.

Setidaknya, itulah yang ingin kupercayai.

Pagi berikutnya, aku membuka kembali dokumen pembayaran sebelum bersiap berangkat.

Cahaya matahari masuk melalui jendela ruang tengah. Di luar, suara kendaraan mulai ramai. Rumah terasa sedikit berbeda ketika terang, tetapi tidak cukup untuk menghilangkan kesan kosong yang tertinggal sejak beberapa hari terakhir.

Aku membawa map ke meja dan menyalakan laptop.

Ada beberapa urusan pekerjaan yang harus kuselesaikan. Aku mencoba mendahulukannya, tetapi pikiranku terus kembali pada rincian transaksi. Akhirnya, aku memutuskan menyelesaikan pemeriksaan itu sebelum berangkat agar tidak membawanya sepanjang hari.

Aku masuk ke situs penyedia layanan dan mencari saluran pengaduan mengenai pembayaran pihak ketiga. Formulirnya meminta nomor pelanggan, tanggal transaksi, jumlah pembayaran, dan nomor referensi.

Aku mengisi formulir pengaduan dengan nomor pelanggan dan nomor referensi, lalu mengirimnya.

Nomor laporan muncul di layar.

Aku mencatatnya pada selembar kertas, kemudian menyimpan salinan formulir di laptop. Tidak ada jawaban langsung selain pemberitahuan bahwa permintaanku akan diperiksa sesuai prosedur.

Setidaknya, sekarang ada catatan resmi.

Aku menutup laptop dan berdiri untuk mengambil tas. Ketika melewati ruang tengah, aku teringat kebiasaan lama Arkan memperbaiki barang-barang di rumah. Aku segera mengalihkan pikiran. Aku tidak akan membiarkan kenangan mengganggu persoalan yang sedang kuhadapi.

Aku meraih gagang pintu, lalu berhenti sebentar.

Tidak. Aku tidak akan menghubungi Arkan hanya karena ada satu transaksi yang belum kupahami.

Kalau memang ada urusan yang harus diselesaikan dengannya, aku akan menghadapinya ketika waktunya tiba. Bukan sekarang, bukan karena rumah ini terasa berbeda, dan bukan karena aku baru menyadari ada hal-hal yang selama ini tidak kuperhatikan.

Aku keluar, mengunci pintu, kemudian menyimpan kunci di dalam tas.

Sepanjang perjalanan, aku mencoba memusatkan perhatian pada pekerjaan. Aku membalas pesan yang masuk, memeriksa jadwal, dan menyelesaikan beberapa hal yang tertunda. Sesekali, pikiranku kembali kepada nomor referensi pada bukti pembayaran, tetapi aku memaksanya menunggu sampai ada jawaban resmi.

Menjelang siang, pemberitahuan dari penyedia layanan masuk.

Aku membukanya saat sedang beristirahat.

Jawabannya singkat. Pembayaran telah diterima melalui mitra pembayaran yang terdaftar. Untuk mengetahui identitas pihak yang menanggung transaksi, aku diminta mengajukan permintaan lanjutan dengan dokumen pendukung yang sesuai.

Tidak ada nama.

Tidak ada nomor rekening pengirim.

Hanya keterangan bahwa pembayaran tersebut tercatat sah.

Aku membaca pesan itu sampai selesai, lalu membuka kembali lampiran bukti pembayaran. Kali ini aku memperhatikan bagian yang sebelumnya kulewati karena menganggapnya hanya keterangan teknis.

Pada bagian informasi mitra, tercantum nama sebuah perusahaan pengelola aset.

Aku tidak mengenal perusahaan itu.

Kucoba mencari namanya di antara dokumen rumah yang kusimpan. Tidak ada. Aku membuka pesan-pesan lama, berharap pernah menerima pemberitahuan mengenai pengelolaan properti atau pembayaran melalui perusahaan tersebut.

Hasilnya nihil.

Aku lalu mencari nama perusahaan itu melalui situs resmi penyedia layanan. Informasinya terbatas pada identitas mitra dan layanan pembayaran yang mereka tangani. Tidak ada keterangan yang menghubungkannya secara langsung dengan rumahku.

Aku menyimpan nama tersebut dalam catatan.

Bisa jadi perusahaan itu memang ditunjuk untuk mengurus pembayaran atas nama pemilik rumah. Bisa juga ada pengaturan lama yang tidak pernah kuperhatikan. Aku belum memiliki cukup informasi untuk menyimpulkan apa pun.

Namun, ada satu hal yang tidak bisa lagi kuabaikan.

Pembayaran itu tidak berasal dari rekening yang kukenal.

Aku menutup dokumen dan menyimpan ponsel. Di sekelilingku, orang-orang kembali bekerja setelah istirahat. Suara percakapan terdengar dari meja sebelah, disusul bunyi kursi yang digeser.

Aku mencoba kembali pada pekerjaanku, tetapi kali ini aku tahu apa yang harus kulakukan setelah pulang.

Aku akan menyusun seluruh tagihan, mencocokkan tanggal pembayaran, dan meminta rincian resmi dari pihak yang berwenang. Aku tidak akan menuduh siapa pun sebelum mengetahui faktanya. Aku juga tidak akan membiarkan orang lain menganggap pertanyaanku tidak penting hanya karena jumlah tagihannya tidak besar.

Aku berhak mengetahui apa yang terjadi pada rumah yang kutinggali.

Sore itu, sebelum meninggalkan kantor, aku memeriksa surel sekali lagi. Belum ada jawaban lanjutan. Nomor laporan masih tercatat dalam status pemeriksaan.

Aku memasukkan laptop ke dalam tas dan pulang dengan kepala penuh pertanyaan yang belum terjawab.

Sesampainya di rumah, aku langsung membuka map di atas meja makan. Bukti pembayaran listrik kuletakkan di samping tagihan air dan internet. Aku ingin melihat semuanya sekaligus, bukan lagi sebagai lembaran terpisah yang kebetulan sudah dibayar.

Beberapa pengeluaran memang berbeda tanggalnya. Sebagian memiliki keterangan yang lebih lengkap daripada yang lain. Aku belum bisa memastikan apakah semuanya berasal dari sumber yang sama.

Namun, nama perusahaan pengelola aset itu terus menarik perhatianku.

Aku mengambil selembar kertas dan menyalinnya dengan teliti, termasuk nomor referensi transaksi listrik. Setelah itu, aku menuliskan nomor laporan pengaduan dan tanggal pengajuan permintaan informasi.

Tidak ada kesimpulan yang bisa kubuat malam itu.

Aku hanya memiliki bukti bahwa tagihan telah dibayar melalui jalur yang tidak biasa kupakai, serta nama perusahaan yang tidak kukenal.

Aku menatap lembaran tersebut beberapa saat sebelum memasukkannya ke dalam map terpisah.

Ponselku tergeletak di sebelahnya. Nama Arkan masih tersimpan di daftar kontak, tidak berubah sejak hari aku memutuskan untuk tidak lagi menghubunginya.

Aku membuka daftar itu.

Nomornya ada di sana, lengkap dengan riwayat panggilan lama yang belum kuhapus.

Jempolku bergerak mendekati layar, tetapi berhenti sebelum menyentuh tombol panggil.

Aku belum tahu apa yang akan kutanyakan kepadanya. Aku juga belum tahu apakah dia mengetahui sesuatu mengenai pembayaran rumah ini.

Yang kutahu, aku tidak ingin kembali menelepon hanya karena tidak sanggup menghadapi pertanyaan yang muncul dalam pikiranku sendiri.

Aku mengunci layar ponsel, lalu meletakkannya kembali di meja.

Besok aku akan melanjutkan pemeriksaan melalui jalur resmi. Kalau memang ada penjelasan yang masuk akal, aku akan menerimanya setelah melihat bukti. Kalau ada hal yang harus kuselesaikan, aku akan menyelesaikannya berdasarkan dokumen, bukan dugaan.

Aku berdiri dan mematikan lampu ruang makan.

Jam dinding tetap berdetak di tempatnya.

Aku tidak menoleh lagi ketika berjalan menuju kamar.

Di atas meja, map berisi tagihan listrik masih terbuka sedikit. Di antara lembaran-lembaran itu, nama perusahaan pengelola aset tercatat jelas, berdampingan dengan nomor referensi yang belum memberiku jawaban.

Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa ada bagian dari pengeluaran rumah yang selama ini berjalan tanpa benar-benar kupahami.

1
BayouDarda Novelis
Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
Renjana
hadir kk
BayouDarda Novelis: Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!