Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bu Martha
Rosa merasa cemas setengah mati saat usahanya menghubungi Wati berujung nihil. Alisnya langsung berkerut dalam begitu salah seorang pelayan datang melapor dengan napas terengah-engah.
"Wati ke kantor polisi, Bu. Katanya Den Kenzie diculik. Sekarang Wati lagi sibuk mengurus masalah itu di sana."
Rosa spontan bangkit dari duduknya. "Terus Arkan mana? Katanya dia sudah pulang. Di mana dia sekarang?" tanyanya cemas.
"Pak Arkan langsung pergi begitu tahu Den Kenzie nggak ada di rumah, Bu." jawab pelayan itu sopan.
Rosa menghela napas kasar. Kepala dan dadanya terasa penuh oleh rasa panik. "Ya sudah." ujarnya ketus, lalu melangkah cepat meninggalkan ruangan.
Sesampainya di kamar, ia kembali mencoba menelepon Wati, tapi nomornya tidak aktif. Ponsel Arkan pun sama saja, panggilannya sama sekali tidak diangkat. Sambil mondar-mandir tak tenang dengan ponsel yang terasa dingin dan berat di tangannya, Rosa bergumam gelisah, "Gimana kalau Arkan sampai tahu semuanya? Bisa hancur urusan!"
*Tok! Tok!*
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba sukses membuyarkan lamunannya.
"Pak Arkan sudah datang, Bu." seru suara pelayan dari balik pintu.
Tanpa buang waktu, Rosa langsung membuka pintu kamarnya lebar-lebar. "Sama siapa Arkan pulang?" tanyanya dengan napas memburu.
"Beliau pulang sendiri, Bu. Sekarang Pak Arkan meminta Bu Rosa untuk segera ke ruang kerja beliau."
Jantung Rosa langsung berdegup kencang tak karuan. *Mungkinkah Arkan sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi?* batinnya ngeri.
"Arkan, ini Mommy." ujar Rosa ragu-ragu sambil mengetuk pintu ruang kerja putranya.
"Masuk, Mom!" sahut suara Arkan dari dalam, terdengar datar dan dingin.
Rosa mendorong pintu dan mendapati Arkan sedang duduk berkutat dengan ponselnya. Namun, pria itu langsung melempar benda pipih tersebut ke atas meja begitu Rosa melangkah semakin dekat.
"Aku dan anak-anak akan pindah dari rumah ini." ucap Arkan straight to the point, tanpa basa-basi sedikit pun.
Rosa terbelalak kaget. "Pindah?!"
Arkan hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.
"Kenapa?! Kamu marah sama Mommy gara-gara Mommy nggak bawa Kenzie ikut ke Bali?" tebak Rosa dengan raut wajah kecewa yang dibuat-buat.
"Ya... itu salah satunya," sahut Arkan telak, tak mau berbohong untuk menutupi kebenaran.
"Tapi anak kamu sendiri yang nolak, Ar!" bela Rosa cepat, tak mau disalahkan. "Mommy udah bujuk dia buat ikut, tapi dia malah ngamuk tantrum. Mommy kan nggak mungkin tega memaksa dia, dong!"
Arkan mengembuskan napas panjang, mencoba menahan sabar. "Kenzie itu masih kecil, Mom. Kalaupun dia tantrum, bukan berarti nggak bisa dibujuk dengan benar, kan?"
"Oke, Mommy minta maaf karena nggak bawa Kenzie ke Bali. Tapi kalian nggak harus pindah juga, kan?" protes Rosa, jelas-jelas tak rela rumah itu sepi dari cucu-cucunya.
"Keputusanku sudah bulat, Mom." tandas Arkan mutlak.
Mata Rosa menyipit curiga. "Pasti ini ulah Zidan, kan?" selidiknya cepat. "Dia yang udah ngadu yang nggak-nggak ke kamu, makanya kamu mendadak mutusin buat pindah?"
"Nggak ada hubungannya sama Zidan, Mom. Ini murni keputusanku sendiri." Arkan memilih menutupi masalah Wati untuk saat ini. Ia sebenarnya menunggu sang ibu berinisiatif menyinggungnya lebih dulu, tapi rupanya Rosa memang licik dan pura-pura lupa.
"Nggak mungkin kalau bukan karena Zidan, kamu tiba-tiba mau angkat kaki dari sini. Lagian kalau kalian pindah, siapa yang mau ngurusin anak-anak kamu setiap kali kamu sibuk dinas ke luar negeri?" cicil Rosa mencari celah.
"Aku sendiri yang akan mengurus mereka. Mommy nggak perlu khawatir berlebihan." jawab Arkan datar.
Rosa terdiam sejenak, otaknya berputar cepat mencari strategi. *Tidak boleh!* Arkan tidak boleh pergi dari rumah ini. Jika putranya itu pindah, Rosa tidak akan bisa lagi mengawasi dan memegang kendali atas kehidupan mereka.
Ah... beruntung Rosa masih punya satu kartu as untuk menahan Arkan.
"Tapi kamu harus janji sama Mommy baru boleh pindah setelah kamu menikah lagi, Ar. Selama kamu belum menikah dengan pilihan Mommy, kamu harus tetap tinggal di rumah ini bersama Mommy." putusnya mutlak.
"Aku akan menikah dalam waktu dekat." balas Arkan tanpa ragu, suaranya terdengar sangat serius.
Dahi Rosa langsung mengernyit dalam. "Menikah? Apa maksudnya kamu mau menerima Luna kembali?!"
"Tidak dengan Luna." bantah Arkan tegas.
Rosa mendengus geram. "Mommy nggak akan pernah merestui pernikahan kamu kalau bukan dengan Luna! Udah cukup kamu salah langkah sekali di masa lalu. Mommy nggak mau kamu jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya."
"Mom, berapa kali harus aku katakan kalau aku dan Luna tidak akan pernah menikah?" ujar Arkan dengan kepala dingin.
"Kenapa, Arkan?! Luna itu perempuan paling sempurna dan sangat cocok untuk kamu. Harusnya kamu bersyukur Luna masih mau sama kamu, padahal kamu statusnya duda anak dua! Dia juga udah besar hati memaafkan kesalahan kamu di masa lalu dan tetap mau nerima kamu apa adanya. Apa lagi sih yang kamu cari, Arkan?!" seru Rosa mulai frustrasi. "Di luar sana nggak akan pernah kamu temukan perempuan sebaik Luna. Hanya dia satu-satunya yang pantas mendampingi kamu!"
"Itu kan menurut versi Mommy, tapi tidak dengan cara pandangku. Aku tidak akan sudi menikahi Luna, dan itu sudah menjadi keputusan finalku. Jadi, berhenti mendesak hal konyol itu, Mom. Aku sudah punya calonku sendiri." potong Arkan tandas.
"Siapa?! Perempuan mana lagi yang lebih baik dan hebat dari Luna?"
"Ada. Aku akan mengenalkannya sendiri ke Mommy dalam waktu dekat." jawab Arkan santai.
Rosa menatap lekat putranya dengan sorot tajam, mencoba mencari tanda-tanda apakah Arkan hanya menggertak. Namun, ekspresi wajah Arkan tetap sedatar papan dan menyiratkan keyakinan penuh.
"Kamu pasti cuma bercanda, kan?" Rosa menyilangkan kedua tangannya di dada, enggan percaya.
"Aku serius, Mom."
Rosa mengembuskan napas kasar penuh emosi. "Siapa perempuan itu?!"
"Mommy akan tahu jawabannya pada waktu yang tepat." balas Arkan santai.
Rosa menggeleng tak percaya. "Jangan macam-macam, Arkan. Mommy nggak akan pernah membiarkan kamu menikahi perempuan sembarangan!"
"Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidupku sendiri, Mom." balas Arkan tak kalah sengit.
"Kamu lupa apa yang terjadi terakhir kali kamu sok tahu memilih pendamping hidup?!" suara Rosa meninggi hingga melengking. "Kamu ditinggal begitu saja menanggung dua anak yang masih kecil! Mommy juga yang akhirnya harus turun tangan membereskan semuanya! Dan sekarang kamu mau mengulangi kebodohan yang sama?!"
Rahang Arkan mengeras sempurna. "Mommy selalu melihatnya sebagai sebuah kesalahan, tapi tidak dengan diriku."
"Karena kamu keras kepala!"
"Dan Mommy terlalu ikut campur dalam ranah privasiku!" balas Arkan tajam.
Rosa terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis penuh siasat. "Baiklah. Kita lihat saja seberapa jauh kamu bisa membuktikan ucapanmu, Arkan. Mommy tetap pada pendirian Mommy, kamu hanya boleh menikah dengan Luna , titik."
Arkan menarik napas panjang, sorot matanya menyiratkan ketegasan yang tak bisa digoyahkan. "Kalau begitu, bersiaplah untuk kecewa, Mom."
Tanpa menunggu jawaban, cowok itu langsung balik badan dan melangkah keluar, ninggalin Rosa yang masih berdiri dengan muka tegang gak santai.
“Emang siapa yang mau kamu nikahi, Arkan? Kamu pikir siapa yang mau kamu tipu? Selama ini kamu sibuk kerja mulu. Mana mungkin ada wanita yang tiba-tiba mau diajak nikah sama kamu?” Rosa bergumam sambil geleng-geleng kepala kecil. “Jelas banget kamu cuma gertak Mommy doang. Dasar.”
Rosa denial. Mana mungkin Arkan tiba-tiba nikah, sedangkan anaknya itu seumur-umur gak pernah keliatan dekat sama cewek manapun. Pasti ini cuma akal-akalan Arkan biar gak jadi dijodohin sama Luna.
...****************...
“Tante, kapan Daddy-nya Kenzie jemput?”
Tanya Kenzie penuh harap. Dia lagi nemenin Rania rebahan mager di kasur sore itu.
“Nggak tahu. Tadi bapakmu itu cuma bilang nanti dijemput setelah urusannya selesai." jawab Rania datar.
Padahal awalnya Arkan mau langsung bawa Kenzie pulang, tapi dia mendadak ganti rencana setelah dengar kabar dari pelayan kalau Rosa udah pulang. Alhasil, dia malah menitipkan Kenzie ke Rania karena Kenzie ogah diajak sama Nathan.
“Kok lama, ya?” gumam Kenzie sambil menopang dagu pakai telunjuk kecilnya.
“Uurusannya belum kelar kali.” sahut Rania. “Kenapa emang? Kamu lapar?”
Rania bangun mengubah posisinya jadi duduk di pinggiran tempat tidur.
“Kenzie enggak lapar. Tapi bosan. Tante tiduran mulu.” gerutunya jujur.
Rania menghela napas, lalu ikutan rebahan lagi. “Inilah seni menikmati hidup, Kenzie. Daripada kamu protes, mending ikut tiduran sini sebelah tante,. ajak Rania sambil menepuk kasur kosong di sebelahnya.
Kenzie cemberut tapi nurut juga. Bocah kecil itu berbaring di sebelah Rania, miring sambil natap ke arahnya. “Tante nggak kerja?” tanya Kenzie.
“Nggak, kenapa?”
“Terus dapat uang dari mana?” Kenzie bingung sendiri. “Daddy-ku kerja terus. Cari uang banyak soalnya anaknya dua”.
“Tante dapat uang dari ngepet sih, Ken. Tante yang jaga lilin, terus Galang yang keliling.” jawab Rania asal banget.
Galang, Zidan, dan Arkan yang kebetulan baru nyampe dan berniat nemui Rania langsung mendadak berhenti pas di depan pintu kamar Rania yang kebetulan tidak ditutup rapat, pas sekali dengar jawaban ngawur Rania.
“Ngepet itu apa?” tanya Kenzie serius, keningnya berkerut dalam.
“Itu…”
*Ceklek.*