Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Kini Anisa semakin menderita. Baru tiga hari pasca melahirkan, ia justru harus berada di rumah sakit merawat Burhan yang mengalami kecelakaan kerja di proyek bangunan, sembari menimang balita kecilnya yang baru berusia tiga hari.
Keluarga Burhan hanya datang untuk menanyakan dan meminta uang asuransi kecelakaan kerja.
Ketika tahu uang tersebut belum cair, mereka langsung melengos pulang tanpa sedikit pun berniat membantu merawat Burhan. Sementara itu, keluarga Anisa sendiri sudah tidak peduli sama sekali.
Pernikahan Anisa dan Burhan dulu berlangsung tanpa restu, membuat pintu maaf keluarga Anisa tertutup rapat. Hanya kesabaran dan keteguhan hati yang bisa Anisa sandarkan saat ini untuk merawat suami tercinta dan buah hati mereka.
Anisa membetulkan posisi gendongan telon di dadanya. Bayi mungil yang belum diberi nama lengkap itu mengeliat pelan.
Suara derit ranjang besi rumah sakit bergema tipis saat Burhan mengerang, mencoba menggerakkan kakinya yang terbalut gips tebal.
"Nis..." panggil Burhan lirih, suaranya parau dan bibirnya pecah-pecah.
Anisa bergegas mendekat, menyeka peluh di dahi suaminya dengan kain kecil. "Iya, Mas. Aku di sini. Ada yang sakit? Mau minum?"
Burhan menggeleng perlahan. Matanya menatap wajah Anisa yang pucat dan layu. "Kenapa kamu nggak istirahat? Kamu baru melahirkan, Nis. Badanmu masih basah, jahitanmu pasti masih sakit. Kenapa harus berdiri terus mengurusi aku?"
Anisa tersenyum tipis, mencoba mengikis rasa nyeri di bagian bawah perutnya yang terus menjalar setiap kali ia melangkah. "Kalau bukan aku, siapa lagi, Mas? Kamu suami aku. Bayi kita butuh ayahnya cepat sembuh."
Burhan memalingkan wajah ke samping, menahan air mata yang hendak menetes. Rasa bersalah menggerogoti dadanya lebih tajam daripada rasa sakit di patah tulang kakinya.
"Ibu sama adik-adikku... benar-benar cuma nanya uang asuransi tadi?" tanya Burhan pelan.
Anisa menghentikan gerakannya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Iya, Mas. Ibu tadi tanya apa mandor proyek sudah transfer uang kompensasi. Begitu aku bilang prosesnya butuh waktu beberapa hari dan butuh berkas dari RT, Ibu langsung pamit. Katanya ada urusan di rumah."
"Mereka nggak nanya kondisi bayi kita? Nggak nengok sama sekali?" suara Burhan gemetar.
"Nggak apa-apa, Mas. Yang penting Mas Burhan fokus sembuh dulu," sahut Anisa lembut, berusaha menghibur meski hatinya sendiri seperti diiris-iris.
Pintu kamar rawat kelas tiga itu mendadak terdorong agak keras. Seorang pria berkaos lusuh dengan celana penuh bercak semen masuk dengan tergesa-gesa
"Burhan! Anisa!" panggil Pak Slamet setengah berbisik agar tidak mengganggu pasien lain.
"Pak menejer PT kontrator.. ujar Burhan berusaha menegakkan punggungnya, namun Anisa menahannya lembut.
"Sudah, Mas, tiduran saja," kata Anisa sebelum berbalik menyapa Pak Slamet. "Bagaimana, Pak Menejer? Ada kabar dari kantor pengembang proyek?"
Pak Slamet menghela napas panjang, merogoh saku celananya dan mengeluarkan amplop cokelat yang tampak agak remuk. Wajah pria paruh baya itu penuh rasa bersalah.
"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Nis, Han," kata Pak Slamet seraya menyerahkan amplop itu ke tangan Anisa. "Ini uang santunan kerahiman dari kontraktor utama. Cuma ada tiga juta rupiah."
Anisa menerima amplop itu dengan tangan gemetar. "Tiga juta, Pak? Tapi kata dokter, biaya operasi gips dan perawatan Mas Burhan bisa sampai belasan juta. Terus uang klaim asuransi keselamatan kerja bagaimana?"
besok pagi kan sudah bisa dicairkan segala sesuatu nya sedang dalam proses " ucap pak selamet kepada Anisa.
" ooo begitu pak selamet , syukurlah kalau begitu ucap Anisa
"uang yang ku berikan ini hanya sebagian dari sosialisasi uang kemanusuian dari PT subcon saja " ucap pak selamet kepada Burhan dan Anisa.
Anisa duduk perlahan di pinggir ranjang, menyimpan amplop cokelat itu. Tangisnya yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah, runtuh bersama beban berat yang menghimpit.
"Lalu kami harus bagaimana, Pak?" bisik Anisa di antara sedu kayan. "Tampa uang asuransi dan santunan itu Burhan dan saya tak berdaya pak, Susu dan popok bayi juga sudah habis. Rumah kontrakan kami bulan depan sudah jatuh tempo..."
Pak Slamet merogoh dompet pribadinya, mengluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu lalu meletakkannya di atas meja kecil dekat ranjang. "Ini uang pribadi saya, Nis. Cuma ada lima ratus ribu. Teman-teman kuli bangunan yang lain tadi mengumpulkan patungan, dapat empat ratus ribu. Nanti sore saya bawakan. Maafkan kami ya, tidak bisa bantu banyak."
"Terima kasih banyak, Pak Mandor. Bapak dan teman-teman sudah sangat baik," tutur Anisa tulus meski matanya sembab.
Setelah Pak Slamet pamit keluar kamar, suasana ruangan kembali hening. Hanya terdengar suara napas teratur sang bayi yang tertidur pulas dalam pelukan Anisa.
Burhan menatap langit-langit kamar rawat yang mengelupas. "Nis..."
"Iya, Mas?"
"Coba kamu hubungi Ibu kamu... atau Mas Rian, kakakmu."
Anisa mendongak, matanya membelalak kaget. "Mas... Mas tahu sendiri kan gimana sikap Ibu dan Mas Rian waktu kita menikah dulu? Mereka sudah menganggap aku mati."
"Tapi coba dulu, Nis. Tolong rendahkan gengsi kita demi anak kita," pinta Burhan dengan mata berkaca-kaca. "Kalau aku nggak apa-apa tidak diobati, biarlah kaki ini pincang selamanya. Tapi bayi kita butuh tempat tinggal yang layak. Kamu butuh makan makanan bergizi supaya ASI-mu keluar."
Anisa menggigit bibir. Mengingat wajah ibunya yang dingin dan kata-kata tajam kakak kandungnya tiga tahun lalu membuat dadanya sesak. Namun, melihat wajah bayinya yang mungil dan kepasrahan di mata suaminya, Anisa akhirnya mengangguk pelan.
Ia merogoh ponsel tua berdinding retak dari dalam tas kainnya, memilah nomor kontak yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia hubungi.